I Still Want You

I Still Want You
Maaf untuk Arka.



* CAFE AND RESTO.


Suasana ruang yang tidak seperti biasanya, tidak ada suara nyanyian di sana, ataupun suara ketikkan keyboard yang biasa Giovano dengar saat memasuki ruangan Ayuka. hari ini terlalu sepi, bahkan sangat sepi, dan hal itu cukup membuat Giovano sedikit terkejut, sebab ia bisa melihat keanehan dari asistennya saat ini yang hanya duduk terdiam sambil menatap layar laptopnya, bahkan tampa melakukan apapun.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Giovano yang tiba-tiba saja langsung membuyarkan lamunan Ayuka.


"Ahh kak Ge, sejak kapan anda berdiri di sana?" Balas Ayuka balik bertanya,alih-alih menjawab pertanyaan Giovano. Ia hanya tersenyum sambil menatap Giovano yang masih berdiri di depan pintu, menyandarkan tubuhnya di samping pintu masuk sambil menyedekapkan tangannya di atas dadanya.


"Sejak lima menit yang lalu, aku bahkan mengetuk pintu beberapa kali, dan sepertinya kau tidak mendengarnya sama sekali karena kau terus saja melamun, Ada apa Ayuka?" Tanya Giovano yang terus melangkah masuk dan langsung duduk di sofa tepat di hadapan meja kerja Ayuka, hingga posisi mereka saling berhadapan meski dengan jarak yang tidak begitu dekat.


"Tidak apa apa." Jawab Ayuka tersenyum, yang hanya di balas anggukan pelan oleh Giovano yang sepertinya sudah enggan untuk bertanya lagi, dan cukup yakin jika memang Ayuka baik-baik saja.


"Ada yg ingin aku sampaikan, dan aku harap kau tidak bersedih."


Balas Giovano mulai menatap wajah Ayuka dengan tatapan yang cukup dalam, hingga membuatnya sedikit penasaran dengan apa yang akan di sampaikan Giovano, dan dengan memasang wajah yang seriusnya Ayuka sedikit membenarkan posisi duduknya dan siap mendengarkan apa yang akan di ucapkan Giovano. Meski akhirnya Ayuka kembali merasa kesal saat Giovano mulai tertawa sebelum ia mengucapkan kata-katanya.


"Dari awal aku sudah sangat menyukai wajah seriusmu, bukankah aku sudah pernah mengatakan itu padamu? dan jujur aku selalu menyukainya."


"Ish, apa kak Ge sengaja datang ke sini untuk menggoda saya? bahkan ini masih siang untuk mengeluarkan kata-kata seperti itu."


"Mungkin, sebab aku lebih senang melihat wajah seriusmu di bandingkan dengan wajah kebingunganmu seperti tadi. Sebab wajah kebingunganmu itu cukup membuat aku khawatir, meskipun kau selalu mengatakan jika kau baik-baik saja." Ucap Giovano yang membuat Ayuka hanya terdiam sambil menatap Giovano dengan bibir yang sedikit mengerucut.


"Baiklah, aku akan serius."


"hmm, saya mendengarkan."


"Mulai besok Cafe ini akan memiliki Manager baru. untuk menggantikanku."


"Apa? jadi maksud Kak Ge, akan ada orang lain yang menggantikan kakak di sini?" Tanya Ayuka terkejut.


"Iya, seperti yang kau dengar. Besok akan ada yang menggantikan posisiku sebagai Manajer tertampan di kota ini" Balas Giovano santai sambil memasang senyum khasnya dengan alis yang di naikkan secara bergantian, sungguh tingkah lucu yang malah membuatnya terlihat begitu tampan.


"Kenapa sangat mendadak? maksud saya kenapa secepat itu, apa ada masalah?"


"Sebenarnya ini bukan hal yang mendadak, Dan seharusnya juga Manager yang baru sudah harus berada di sini dari satu bulan yang lalu, tapi berhubung orangnya masih belum siap, jadi yah, aku bisa bertahan lebih lama di sini" Jelas Giovano lagi.


"............... "


"Kenapa diam saja? Apa kau sudah merasa kehilangan? Ayolah Ayuka, aku bahkan masih di sini."


Ucap Giovano dengan nada candaan yang di balas tarikan nafas panjang oleh Ayuka yang jujur dia memang merasa sedih sekarang, sebab biar bagaimana pun dia sudah sangat dekat dengan Managernya sekarang ini, dan untuk membayangkan akan ada orang asing yang sama sekali tidak ia kenal untuk menjadi Manajer barunya cukup membuat Ayuka sedikit merasa gelisah, apalagi saat ia mulai menebak-nebak, orang seperti apa Manager barunya nanti.


"Hei, berhentilah melamun, sejak kau datang dari pagi sampai saat ini kau sudah terlalu banyak melamun, apa kau memang sedang merasa sedih karena akan kehilangan ku?" goda Giovano yang justru di jawab serius oleh Ayuka.


"Hmm, tentu saja saya merasa sedih, biar bagaimana pun kak Ge atasan saya, dan saya sudah terlanjur nyaman menjadi Asisten kak Ge." Balas Ayuka yang nampak terlihat murung.


"Tenanglah.. Manager kamu yang baru adalah orang yang sangat baik, yahh meskipun dia sedikit pemalu, tapi aku yakin, kau akan menyukainya, percayalah."


"Tapi kak Ge juga orang yang baik dan juga menyenangkan."


"Benarkah? Haruskah kita berkencan?"


"Kak Ge.. " Seru Ayuka dengan wajah Datarnya.


"Ah baiklah, aku hanya bercanda, lagian aku juga tidak terlalu buruk untuk di jadikan seorang pacar kan?"


"Kak Ge, berhentilah bercanda."


"Iya.. Iya.. Astaga, aku hanya mengatakan kebenaran saja."


"Ah.. Semoga Manager Baru saya tidak mempunyai hobi yang sama dengan kak Ge, selalu bermain-main." Gumam kecil Ayuka yang terdengar jelas di telinga Giovano.


"Heii.. Aku mendengarnya, aku ini pria yang romantis asal kau tau." protes Giovano.


"Iya, saya tau," Balas Ayuka sambil memutar bola matanya keatas.


"Tapi.. Jika kak Ge sudah tidak di Cafe ini lagi, kak Ge akan kerja di mana?"


"Mungkin untuk sementara waktu aku aku kembali ke Belanda. Tapi tidak sekarang, aku masih ingin melihat mu." Goda Giovano lagi yang seolah-olah sangat menikmati ekspresi datar Ayuka saat ia terus menggoda asistennya itu.


"Ah saya serius, saya akan kehilangan kak Ge."


"Iya aku tau." jawab Giovano penuh percaya diri.


"Lalu, siapa nama Manager saya yang baru? Apa dia orang yang kaku? Atau dia juga banyak bicara seperti kak Ge, atau apa dia seorang yang kolot?" Tanya Ayuka sedikit penasaran, dan berharap Giovano menjawab semua pertanyaan dan bisa memuaskan rasa penasarannya saat ini.


"Kau juga pasti akan tau sendiri besok, aku tidak boleh spoiler kan?"


"Kak Ge pikir ini sebuah film." Balas Ayuka mangatupkan bibirnya.


"Hahaha.. Yang jelas dia pria yang sangat baik. Sejauh yang aku ketahui, dia tidak pernah menggigit orang selama ia menjadi seorang Manager."


"Kak Ge." Teriak Ayuka kesal.


"Baiklah.. Baiklah.. Berhentilah cemberut. Sore ini aku akan pulang lebih awal untuk menjemput saudara di Bandara. Dan kau, persiapkan dirimu untuk bertemu dengan Manager barumu."


Ucap Giovano yang langsung beranjak dari duduknya dan melangkah keluar ruangan meninggalkan Ayuka yang masih terdiam dengan pemikirannya, orang seperti apa Manager barunya itu, itulah yang baca di dalam pikiran Ayuka saat ini, dan ia juga sangat berharap, jika Manager barunya nanti akan sama menyenangkannya seperti Giovano.


* KZR GRUP.


"Hari ini kau bisa pulang lebih awal." Ucap Radika sambil tetap fokus pada laptopnya, tampa menatap wajah lawan bicaranya yang membalas ucapannya dengan anggukkan setuju.


"Baik Tuan, apakah Anda akan menginap di sini lagi?"


"Tidak, aku akan pulang ke Panthouse."


"Baiklah Tuan, saya akan mengantarkan Anda."


"Tidak perlu, kau pulanglah, ini sudah sangat larut, kasian kuc..... " kalimat Radika menggantung, sebelum akhirnya ia kembali terdiam dan lebih memilih untuk tetap fokus pada laptopnya.


Kucing kecil sendirian di rumah.


Batin Radika melanjutkan kalimat yang tidak bisa ia ucapkan langsung.


"Apakah Anda tidak apa-apa sendirian Tuan?"


"Baiklah Tuan, tapi kalau.... " kalimat Arka menggantung.


"Kalau ada apa-apa aku akan lansung menghubungimu." Balas Radika melanjutkan kalimat Arka yang belum sempat Arka ucapkan, sebab Radika sudah sangat hafal dengan kalimat Arka yang satu itu. Arka hanya tersenyum tipis sambil memegang tengkuk lehernya.


"Baiklah, saya permisi Tuan." Ucap Arka pamit dan langsung membungkuk, sebelum ia berjalan menghampiri pintu keluar.


"Arka." Panggil Radika, yang membuat langkah Arka seketika terhenti tepat di depan pintu.


"Iya Tuan" Jawab Arka berbalik, dan langsung mendapati wajah murung Radika yang cukup membuatnya khawatir.


"Maaf." Ucap Radika pelan.


"Apa yang harus saya maafkan Tuan? bahkan Tuan Dika tidak pernah berbuat kesalahan apapun untuk saya maafkan."


Maaf karena aku pernah berniat untuk mendekati adikmu.Tapi aku janji tidak akan pernah melakukannya lagi.


Batin Radika sambil menatap lekat ke arah Arka yang masih dengan ekspresi bingungnya.


"Aku hanya ingin meminta maaf, itu saja." Ucap Radika tersenyum.


"Tuan, apa yang sedang Anda pikirkan?" Tanya Arka lagi yang kembali melangkah menjauhi pintu dan duduk ke sofa sambil menatap Radika yang masih terdiam.


"Kucing kecil, maksudku adik kamu, kita hanya bertemu dua kali dan kita hanya berteman biasa, jadi..." Radika menghentikan kalimat terakhirnya, sebab dengan secara tiba tiba ia merasakan ada sesuatu hal yang aneh di dalam hatinya.


"Kau tidak perlu khawatir." Lanjut Radika lagi yang masih mempertahankan senyumnya.


"Iya Tuan, saya tau. Lagi pula gadis seperti adik saya bukanlah type Anda." Balas Arka merasa sedikit lega dengan pernyataan Radika, sebab sejak pagi tadi ia sudah di selimuti dengan rasa kekhawatiran atas kedekatan Ayuka dengan Radika yang seharusnya tidak ada.


"Hahahaha.. Ternyata kau jauh lebih memahamiku Arka." Balas Radika terbahak, berusaha untuk menutupi kecemasannya.


"lagi pula, tidak lama lagi aku akan menikah." Lanjut Radika yang tiba-tiba terdiam, bahkan saat ini Arka dapat melihat jelas kesedihan di dalam mata Presdirnya itu.


"Tuan Muda, Anda akan baik-baik saja?"


"Iya, aku harap begitu."


"Apa perlu saya menemani Anda malam ini?" Tanya Arka lagi yang merasa khawatir saat melihat Radika yang mulai merasa gelisah.


"Tidak perlu, aku baik-baik saja, pulanglah."


Jawab Radika tersenyum untuk meyakinkan Arka, yang hanya di balas anggukan oleh Arka, dan langsung beranjak dari duduknya, membungkuk dan langsung melangkah keluar meninggalkan Radika yang masih terdiam di kursi besarnya.


* * * * *


Mobil sport hitam berhenti di sebuah taman yang nampak terlihat sepi. Hanya ada satu sosok di sana, yang sedari tadi duduk termenung menengadah keatas dengan rambut yang di biarkan terurai. untuk sesaat Radika terdiam dan menatap sosok itu.


"Tsk, dasar kucing kecil, Bahkan aku selalu melihatmu, bagaimana caraku untuk menghindarimu." Gumam Radika sambil melangkah perlahan menuju kursi dan langsung menyandarkan tubuh lelahnya.


"Kau di sini?"


Tanya Radika pada sosok yang menyambutnya dengan sebuah senyum manis.


"Aku selalu disini."


Jawab Ayuka tersenyum menatap wajah Radika yang masih mengamati jejeran bintang dan jejeran pohon maple yang terus bergerak karena terpaan angin malam. Dan seperti kebiasaannya, Radika akan terus terdiam membiarkan wajahnya di sapa oleh dinginnya angin malam.


"Sepertinya akhir-akhir ini kita sering bertemu." Ucap Radika perlahan.


"Iya, aku rasa begitu. Aku tau Anda pasti akan ke sini."


"Apa kau menungguku? bukankah seharusnya ini tidak boleh terjadi?" Balas Radika dengan tatapan datar menatap lekat wajah Ayuka yang tiba-tiba terdiam dengan ekspresi terkejutnya.


"Apa maksud Anda?"


"Kita tidak seharusnya berada di tempat romantis seperti ini, berdua, kita bahkan tidak sedekat itu."


"Tuan, aku... "


"Seharusnya aku menghindarimu saat melihatmu tadi, tidak, seharusnya dari awal aku menghindarimu." Balas Radika beranjak dari duduknya dan terus melangkah, sampai suara panggilan dari Ayuka menghentikan langkanya.


"Kenapa Anda harus menghindariku? Apa aku berbuat salah? Katakan.." Tanya Ayuka perlahan.


"Iya, kau salah karena telah menyukaiku."


"Apa?"


"Aku sudah pernah bilang, aku bukan pria yang baik, aku tidak pernah benar-benar tertarik kepada wanita."


"Dan aku tidak peduli, aku menyukai Anda, aku.. "


"Kau jatuh cinta padaku?" Tanya Radika menatap wajah Ayuka lekat, yang membuat Ayuka tertunduk dalam diamnya.


"Benar, aku jatuh cinta pada Anda, bahkan sejak awal aku sudah jatuh cinta pada Anda." Jawab Ayuka menatap wajah Radika yang tiba-tiba saja balik menatapnya dengan tatapan dingin.


"Maka kau harus melupakan Perasaanmu itu." Balas Radika dengan suara datar.


"Apa? Kenapa aku harus... "


"Kucing kecil, aku bukan pria sempurna seperti apa yg ada di dalam Imajinasimu. Ini salah, bahkan sejak awal kita bertemu itu sudah salah, dan aku tidak mau melanjutkan kesalahan itu. Jadi, lupakan semuanya."


"Kenapa Anda begitu egois," Ucap Ayuka bergumam lirih dengan suara yang mulai bergetar.


"Yah aku pria yang egois, dan semakin hari kau akan melihat betapa egois dan buruknya aku, aku juga pria yang sakit. Percayalah, kau akan menderita bila mengenalku." Ucap Radika dengan senyum smirknya sambil melangkah meninggalkan Ayuka yang masih terdiam menunduk.


"Sebaiknya kau pulang sekarang, ini sudah sangat larut, dan jika kau masih bersikap keras kepala, sepertinya aku tidak akan pernah ke taman ini lagi." Ucap Radika dan benar-benar pergi meninggalkan Ayuka sendiri. Hingga butiran bening kembali menetes dari sudut mata Ayuka tampa ia sadarinya.


"Kenapa aku merasa sakit di sini?"


Gumam Ayuka sambil mencengkram dadanya yang mulai mereka sesak, isakkan tangisnya semakin jelas terdengar. Ia terduduk sambil menutupi wajahnya, berusaha menghentikan air matanya yang terus saja mengalir.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.