I Still Want You

I Still Want You
Ryeon Zaferino. * PANTHOUSE.



Dengan air mata yang terus mengalir dari sudut matanya, Ayuka terus memeluk tubuh mungil sang bayi dengan erat, sudah satu jam lebih Bayi Ayuka terus menangis, bahkan Ayuka sudah melakukan berbagai macam cara untuk menghentikan tangis Sang Bayi, namun tetap saja, suara tangisan bayi Ayuka semakin kencang.


Sudah satu minggu sejak Ayuka kembali ke Panthouse, Bayinya selalu saja menangis tiap malam menjelang, bahkan Ayuka sendiri kadang merasa kewalahan jika Sang bayi mulai rewel dan menangis. Bahkan karena seringnya sang bayi menangis justru mengakibatkan kondisi sang bayi menjadi drop dan harus mendapatkan perawatan khusus di rumah sakit sebab suhu tubuh sang bayi yang selalu saja panas.


Begitupun dengan malam ini, sang Bayi kembali menagis saat usai di susui oleh Ayuka, entah apa yang salah dengan kondisi Sang Bayi, bahkan gendongan dan pelukan Ayuka tidak mampu membuat sang Bayi tenang, Hingga jam sudah menunjukan pukul 2 pagi, masih terdengar suara tangisan Sang bayi yang membuat Ayuka ikut terisak.


"Mommy mohon, berhentilah menangis.. "


Ucap Ayuka dengan isakannya, bahkan beberapa babysitter yang bertugas untuk menjaga Sang bayi tidak satupun dari mereka yang mampu menenangkannya.


"Dika.. apa yang harus aku lakukan sekarang, anak kita terus saja menagis sepanjang malam, aku bahkan tidak tau lagi mesti berbuat apa... aku mohon Dika.. kembalilah.. " Gumam Ayuka seraya mengusap air matanya yang terus saja mengalir.


"Yuka, mungkin si Baby merindukan Ayahnya," Ucap Arka yang membuat Ayuka semakin terisak.


"Lalu apa yang harus Aku lakukan sekarang Kak, hatiku terasa sakit saat melihat baby terus menangis seperti ini," Balas Ayuka yang masih terus menimang sang Bayi.


"Bawalah dia di kamar Ayahnya, mungkin dia bisa lebih sedikit tenang di sana saat ia menghirup aroma Ayahnya," Ucap Arka yang langsung di balas anggukan oleh Ayuka, yang dengan langkah kaki yang sedikit melebar, Ayuka langsung memasuki kamar utama yang dulu pernah di tempati oleh Radika. Dan benar saja, saat Ayuka membuka pintu dan memasuki kamar tersebut, aroma Radika yang masih tersisa di kamar tersebut menyeruak menyapa indra penciuman Ayuka, aroma yang otomatis membuat sang bayi berhenti menangis, bahkan Bayi mungil tersebut langsung memejamkan mata birunya dan terlelap dengan sangat pulas saat Ayuka merebahkan tubuh mungil itu di atas tempat tidur sang Ayah.


"Ternyata anak kita sangat merindukanmu, bahkan hanya dengan mencium aroma mu saja bisa membuatnya terlelap." Gumam Ayuka sambil mengusap air matanya, dan kembali menciumi kedua belah pipi merah sang Bayi yang sudah terlelap.


Ayuka mendudukkan tubuh lelahnya di pinggiran ranjang, sambil menatap keseliling ruangan tersebut, yang di mana ia masih dapat melihat beberapa baju kaos Radika yang masih menumpuk di keranjang cucian, sepatu kerja yang terlihat sedikit berantakan, dan juga beberapa jam tangan yang masih terletak di atas nakas.


Ayuka berjalan mendekati Nakas tersebut, meraih sebotol parfum yang sering di pakai oleh Radika. Rasa rindu kembali memenuhi pikiran dan hati Ayuka. Air matanya kembali menetes kala aroma yang selalu ia hirup dulu kembali ia hirup sekarang.


"Dikaa." Gumam Ayuka lirih saat memandang pigura yang berukuran besar yang terpampang di dinding tepat di hadapannya. Dengan tangan yang sedikit bergetar Ayuka mengusap pigura tersebut yang di sana terlihat dengan jelas wajah Radika yang tengah tersenyum.


Hingga dua minggu berlalu, Sang bayi sudah tidak pernah menagis lagi seperti hari-hari kemarin, sejak Ayuka sering membawa Sang bayi di kamar sang Ayah, bahkan Ayuka sengaja mengambil sebuah sweater yang terletak di dalam lemari pakaian Radika untuk di jadikan selimut buat sang Bayi. Hingga beberapa bulan berlalu, semakin hari Sang Bayi semakin tumbuh sehat, dan perkembangan Sang Bayi cukup membuat Ayuka bahagia.


"Apa dia sudah tidur?"


Tanya Arka perlahan saat ia sudah tidak mendengar suara celotehan sang bayi lagi.


"Hmm, dia tertidur dengan sangat pulas, lihatlah.. bukankah dia terlihat sangat lucu." Balas Ayuka tersenyum sambil mengelus pipi gembul sang bayi.


"Yuka,"


"iya kak,"


"Usia Baby sudah menginjak 3 bulan, bukankah sudah waktunya dia punya nama sendiri?" Tanya Arka lagi yang membuat Ayuka berfikir sejenak.


"Iya, tenang saja, aku sudah menyiapkan nama untuknya,"


"Benarkah?"


"Hmm.. " Balas Ayuka mengangguk pelan.


"Siapa?" Tanya Arka sedikit penasaran.


"Ryeon, Ryeon Zaferino."


"Teratai?" Tanya Arka saat mendengar Ayuka menyebutkan nama bayinya.


"Hmm.. bukankah itu nama yang bagus?"


"Yah, sangat bagus." Balas Arka tersenyum sambil mengelus rambut tipis Baby Ryeon lembut sebelum mengecupnya.


Dengan sangat hati-hati Ayuka membaringkan Baby Ryeon yang sedang terlelap ke dalam boxnya seraya menyelimuti bayi mungil itu dengan sweater hangat sang Ayah.


Sejak Baby Ryeon sering menangis di tiap malamnya, ia selalu melakukan hal itu, hingga sekarang yang bahkan sudah menjadi kebiasaannya, menyamankan Baby Ryeon dengan baju sang ayah yang masih menempel Aroma khas yang mampu membuat baby Ryeon tenang, apalagi di saat bayi mungil itu mulai menagis, yang sebenarnya Ayuka tau jika tangis keras bayinya karena sedang merindukan sang Ayah yang hingga sampai saat ini ia belum mendapat kabar sama sekali sejak beberapa minggu lalu.


Dimana pada malam itu Ayuka dengan tidak sengaja mendengar percakapan Bibi Shu di telfon yang mengatakan bahwa kondisi Radika yang tengah kritis. Meskipun demikian, Ayuka masih percaya dan yakin bahwa suatu saat nanti suaminya akan kembali padanya.


Meskipun tiap waktu Tuan Kaiden dan Ziyi selalu menghubunginya lewat panggilan video call, namun sedikitpun Tuan Kaiden ataupun Ziyi tidak pernah memberitahunya soal keadaan dan kondisi Radika saat ini. Mereka hanya akan berkomunikasi dengan Baby Ryeon tampa mengatakan apapun meski Ayuka sudah berulang kali menanyakannya.


Hingga setelah tiga bulan berlalu, Ayuka lebih memilih untuk merawat baby Ryeon seorang diri. Meskipun di rumah ada seorang Beby sister dan perawat khusus untuk membantu merawat bayinya, Ayuka akan selalu menolaknya secara halus, dan lebih memilih merawat bayinya sendiri, menyuapi, memandikan ataupun menggendongnya.


Hingga sekarang usia Baby Ryeon yang sudah menginjak delapan bulan, Ayuka masih belum mendengar kabar soal Suaminya. Dan hal itu membuatnya putus asa, bahkan ia sudah tidak pernah menanyakannya lagi, seolah sudah pasrah dan ikhlas menerima semuanya.


Ayuka selalu menampakan senyum dan sikap cerianya untuk menyembunyikan kesedihannya, bahkan tidak ada yang tau, sakit yang di rasakan Ayuka setiap harinya. Dimana tiap malam saat baby Ryeon terlelap ia akan mulai menangis menghabiskan sisa malamnya di dalam kamar utama yang dulu di tempati Suaminya, kamar yang selama ini selalu di jaga oleh Ayuka agar tidak ada seorang pun yang memasuki kamar tersebut. Sambil terus menatap foto suaminya, menghirup aromanya yang semakin hari semakin menghilang, air mata Ayuka akan mulai menagis terisak.


"Dika.. Apa yang harus aku lakukan sekarang.. Aku bahkan tidak bisa melupakan mu, aku masih sangat merindukanmu." Gumam Ayuka dalam tangisnya, yang tengah berbaring di atas tempat tidur suaminya sambil terus memeluk foto itu.


"Baby Ryeon sudah bisa duduk dan makan sendiri, apa kau tidak ingin melihat betapa lucunya dia sekarang? Dia bahkan sudah bisa memanggilku. Dia juga memiliki senyum yang manis sepertimu." Gumam Ayuka lirih yang masih terus terisak.


* * * * *


"Selamat siang Bibi Shu"


Sapa Arka sambil mengedarkan pandangannya di seluruh ruangan sambil mencari sosok mungil yang sudah sangat dirindukannya.


"Di mana mereka?" Tanya Arka lagi saat ia tidak bisa menemukan baby Ryeon di manapun.


"Di halaman belakang Tuan, hari ini kan ulang tahun Tuan Muda." Jawab Bibi Shu sambil mengalihkan pandangannya ke arah halaman belakang.


"Iyaa Bi, saya tau, saya akan menemui mereka." Ucap Arka yang langsung melangkah menuju ke halaman belakang. Ia menarik nafas dalam saat melihat Ayuka yang tengah berdiri di depan danau sambil menggendong Baby Ryeon dengan sebuket bunga mawar di tangannya. Bahkan kue Tart strawberry dengan lilin berbentuk nomor 32 di biarkan menyalah begitu saja, bahkan sudah meleleh dengan sendirinya.


"Yuka.. "


Panggil Arka perlahan sambil menghampiri Ayuka yang lansung tersentak dari lamunannya.


"Kakak."


"Halo Baby Ryeon," Sapa Arka sambil meraih tubuh mungil Ryeon yang sudah nampak girang untuk di gendongnya.


"Yuka.. Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Arka lagi saat sudah puas bermain dengan Ryeon, dan kembali mengalihkan pandangannya ke arah Ayuka yang masih terdiam dengan lamunannya.


"Tidak.. Aku tidak sedang memikirkan apa-apa kak."


"Apa kau masih merindukannya?" Tanya Arka lagi, yang membuat Ayuka terdiam untuk beberapa saat, matanya jauh menerawang, dengan ingatan yang tiba-tiba tertuju ke pada Radika.


Aku merindukannya, Batin Ayuka tertunduk.


"Aku berbohong jika aku menjawab tidak, kakak benar, aku masih sangat merindukannya." Ucap Ayuka yang masih tertunduk.


"Yuka.. Mau sampai kapan?"


"Sampai Dikaku kembali." Jawab Ayuka.


"Tapi... "


"Kak.. Aku yakin.. Dikaku pasti akan kembali, dia bahkan belum melihat Ryeon, dia....... "


"Yuka... Kau tidak bisa seperti ini terus."


"Jadi aku harus seperti apa kak? Meskipun aku harus menghabiskan waktuku untuk menunggu, aku akan tetap melakukannya, sebab hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang."


"Bagaimana jika dia tidak kembali?"


"Dia pasti kembali, Ryeon menunggunya, dia pasti kembali untuk melihat Ryeon, dia pasti kembali." Gumam Ayuka tertunduk sambil menutupi wajahnya yang sekarang bahkan sudah di penuhi oleh air mata. Begitupun dengan baby Ryeon yang tiba-tiba saja menagis dengan sangat kencang, seolah ia bisa merasakan kesedihan ibunya saat ini. Sedang Arka hanya bisa memeluk tubuh mungil itu erat untuk menenangkannya.


* 10 BULAN KEMUDIAN.


Siang ini Ayuka di jemput oleh Arka untuk membawa Ryeon kecil ke taman seperti permintaan Ayuka. Biar bagaimanapun Ryeon kecil yang sekarang ini sudah berusia satu tahun lima bulan. Sudah saatnya Ayuka membawanya untuk melihat dunia luar. Meskipun ide tersebut baru mendapat izin dari Tuan Kaiden yang awalnya sempat menolak jika sang cucu di bawah keluar rumah, kekhawatiran Tuan Kaiden yang terlalu berlebihan membuat Ayuka hanya bisa pasrah, dan baru kali ini, ia bisa membawa Ryeon melihat dunia luar dengan pengawalan ketat sang pengawal yang meskipun tidak mengikuti mereka secara langsung dan hanya memantau dari kejauhan, mengingat kenyamanan sang cucu yang pasti akan merasa terganggu jika banyak orang asing yang mengikuti mereka.


"Mommy.... "


Teriak Ryeon kecil sambil berlari kecil memeluk ibunya yang sedang duduk temanggung di sebuah kursi taman. Ayuka mengulas senyum di wajahnya saat melihat putranya yang siang ini nampak terlihat bahagia dan tidak seperti biasanya.


"Apa Yon menyukai tempat ini?"


"Cuka mommy, palagi lo ada daddy di cini," Balas Ryeon yang sontak membuat Ayuka terdiam sambil menatap Arka saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut kecil Ryeonnya. Dengan senyuman yang terlihat sangat manis Ayuka mengusap rambut Putranya yang sekarang sedang berada di pangkuannya.


"Anak Mommy.. Sabar yah, untuk kali ini Yon di temani paman Arka dulu, nanti kalau Daddy sudah pulang Yon bisa bermain sepuasnya sama Daddy," Ucap Ayuka.


" Tapi Yon uda lindu cama daddy," Balas Ryeon yang kini sudah nampak cemberut sambil mengerucutkan bibirnya, yang malah membuat Ryeon terlihat sangat menggemaskan.


"Iya sayang, sabar yah, Yon anak pintar kan?" Rayu Ayuka yang langsung membuat Ryeon kembali tersenyum.


"Baik mommy." Balas Ryeon kecil tersenyum sambil mengagguk seraya memeluk tubuh ibunya. Sedang Arka hanya bisa terdiam saat menatap wajah sendu Ayuka dengan mata yang mulai berkabut. Akhir-akhir ini Ryeon kecil memang selalu menanyakan keberadaan Ayahnya. Saat usai melihat foto-foto sang Ayah, Ryeon pasti akan merengek meminta untuk bertemu sang Ayah. Dan hal itu cukup membuat Ayuka tertekan dan sedih, tidak jarang pula hal itu  membuatnya selalu menangis. 


Perlahan Arka menghampiri Ryeon yang masih memeluk tubuh ibunya untuk di gendongnya.


"Sekarang Yon mainnya sama Uncle dulu yah, Uncle punya sesuatu, dan pasti Yon sangat menyukainya."


"Tapi Yon aus.. "


"Haus? Baiklah.. Sekarang ikut Uncle okey.. "


"Ocee..  Bay mommy.. Yon pelgi dulu cama angkel..." Balas Ryeon melambai ke arah Ayuka yang juga sejak tadi melambai dengan senyuman bahagianya. Ayuka akan selalu merasa bahagia saat melihat tawa  dari Ryeon yang sekarang sudah tumbuh menjadi anak yang cerdas, bahkan pemikiran Ryeon kadang membuat Ayuka kaget, sebab sebagai anak yang masih berumur satu tahun lima bulan kadang Ryeon menunjukan sikap dan pemikiran yang tidak sesuai dengan usianya sekarang. Ryeon yang lebih penurut, kadang membuat Ayuka merasa jauh lebih tenang.


Drrrtttt


Ayuka tersentak dari lamunannya saat suara ponsel yang berada di dalam saku tasnya bergetar. Mata kebiruan itu membulat sempurna saat melihat panggilan telfon dari dalam ponselnya yang di sana tertera nama Ziyi.


"Halo kak Yi,"


"Aku dan Ayah sedang berada di rumah sekarang."


"Benarkah? Baiklah, aku akan pulang sekarang."


Sambungan terlpon pun terputus menyisahkan Ayuka dengan senyum bahagianya dengan mata yang berkaca. Akhirnya Ryeon bisa bertemu dengan Bibi dan Kakeknya secara langsung dan bukan lewat ponsel lagi seperti sebelum sebelumnya.


"Ada apa?"


Tanya Arka saat melihat Ayuka yang masih menatap layar ponselnya sambil menitikkan air mata. Perlahan Ayuka mengusap air matanya dan langsung mengambil Ryeon dari gendongan Arka dengan senyum yang terulas di bibirnya.


"Kak Zi dan Ayah, mereka pulang dan sekarang sedang menunggu di rumah." Ucap Ayuka terlihat berbinar.


"Hmm.. Kakak sudah mengetahuinya." Balas Arka santai sambil mengusap rambut Ryeon.


"Kakak sudah tahu? Kenapa tidak memberitahuku?"


"Glenpa ada di luma yon?" Tanya Ryeon yang langsung menyela pembicaraan Ayuka, dan dengan tiba-tiba langsung menangkup wajah ibunya.


"Iyaa sayang.. Bibi Ziyi juga."


"Benalka? Aunty juga?"


"Iyaa sayang.. Apa anak mommy senang?"


"Hum.. Yon cenang." Balas Ryeon dengan smile box yang membuatnya terlihat sangat menggemaskan. Dan kembali membuat Arka mengusap pucuk kepala kemenakannya gemas.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.