
Kaiden yang masih menunggu kedatangan Ken untuk memanggil sekretarisnya Cukup membuatnya gelisah, Hingga 25 menit berlalu nampak bayangan Ken yang tengah berjalan mendekati meja Kaiden bersama Narha di sampingnya.
"Silakan duduk." Ucap Kaiden yang langsung mempersilahkan Narha untuk duduk di hadapannya.
"Iya Tuan," Balas Narha mengangguk pelan dan langsung mendudukkan dirinya di kursi tepat di hadapan Kaiden yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan tajam.
"Berapa usia kandunganmu sekarang?"
Tanya Kaiden tampa basa basi yang langsung membuat Narha terkejut, wajah wanita itu berubah menjadi pucat pasi, alih alih menjawab pertanyaan Presdirnya, ia hanya terisak sambil meremas jari-jari tangannya.
"Aku tidak menanyakan kapan kau siap untuk aku mencabut nyawamu, kenapa kau menangis?" Tanya Kaiden datar dengan tatapan yang tetap sama, dingin dan menakutkan.
"Ma.. Maafkan saya Tuan." Balas Narha terbata dengan air mata yang masih menetes dari pelupuk matanya.
"Maaf? Apa kau merasa sedang berbuat salah padaku sekarang?" Tanya Kaiden yang lagi-lagi membuat Narha semakin ketakutan.
"Ma.. Maaf."
"Selain kata maaf, apa ada lagi yang ingin kau katakan Narha?"
"............. "
"Apa kau tau sekarang pria yang sangat kau cintai itu sudah lenyap di telan bumi?" Tanya Kaiden lagi yang sontak membuat Narha terbeliak kaget, matanya membulat sempurna sambil sedikit menggeleng, seolah tidak mempercayai perkataan presdirnya.
"Dia bahkan sudah menghilang sebelum aku membunuhnya." Balas Kaiden yang kembali membuat Narha terisak, tubuhnya bergetar sambil mencengkram kuat perutnya yang di dalam sana ada satu nyawa yang telah tumbuh, dan melihat hal itu cukup membuat Kaiden geram sambil menarik nafas dalam dan reflek menggeprak meja yang sontak membuat Narha dan Ken terkejut.
"APA INI RENCANA KALIAN? MENJEBAK KU DENGAN KEHAMILAN ITU? JAWAB!! "
Teriak Kaiden yang langsung berdiri dari duduknya, kedua tangannya bertumpu di atas meja, dan mencondongkan tubuhnya ke arah Narha yang masih tertunduk dalam isakkannya.
"JAWAB NARHA, JANGAN DIAM SAJA." Bentak Kaiden yang sepertinya nyaris kehilangan kesabaran.
"Tidak Tuan, saya tidak mengetahui jika ternyata Tuan Chris sudah merencanakan ini semua, saya.... Saya.. benar-benar tidak tau, dia akan menjebak saya seperti ini." Jawab Narha terbata.
"Benarkah? Apa kau berharap aku mempercayai mu sekarang?" Balas Kaiden dengan senyum smirknya.
"Sekali lagi saya minta maaf Tuan, dari awal saya sudah tidak setuju dengan rencana Tuan Chris, dan saya lebih memilih untuk mengakhiri hubungan kami"
"Lalu bagaimana dengan anak yang sedang berada di dalam kandunganmu sekarang?" Tanya Kaiden lagi yang membuat Narha bungkam untuk beberapa menit.
"Saya.. Saya mungkin akan menggugurkan bayi ini Tuan." Jawab Narha perlahan setelah lama berfikir, dan tentu saja jawaban yang ia keluarkan membuat Kaiden dan Ken yang mendengarnya jadi sangat terkejut.
"APA KAU GILA? WANITA SEPERTI APA YANG TEGA MEMBUNUH DARAH DAGINGNYA SENDIRI?" Balas Kaiden dengan nada meninggi.
"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang Tuan?" Tanya Narha dengan air matanya yang kini tengah mengalir deras di wajahnya.
"Dan kau bertanya kepadaku sekarang? Jika aku menjawab akan mencari dan membunuh Ayah dari bayi itu apa yang akan kau lakukan?" Jawab Kaiden dengan tatapan tajamnya dan membuat Narha kembali tertunduk.
"Saya.. Saya hanya tidak tau harus berbuat apa sekarang." Balas Narha dengan air mata yang terus mengalir dari sudut matanya, suaranya bahkan bergetar menahan tangis.
"Saya belum siap untuk menghadapi kedua orang tua saya, menghadapi orang-orang di sekitar saya yang pasti akan menghakimi saya dengan seenaknya, saya tidak ingin anak ini lahir tanpa seorang Ayah." Lanjut Narha.
"Lalu kenapa kau tidak memikirkan semua konsekuensi itu sebelumnya di saat kalian melakukannya?"
"Itulah kesalahan terbesar saya Tuan, saya pikir Tuan Chris tulus mencintai saya, ternyata saya salah, sekali lagi saya minta maaf Tuan,sedikitpun saya tidak punya niat untuk menghianati Anda dan juga perusahaan."
"Baiklah, kali ini aku percaya dengan semua ucapanmu, tapi aku belum bisa memaafkanmu." Ucap Tuan Kaiden datar.
"Terima kasih Tuan Kaiden, saya hanya butuh Anda percaya kepada saya, meskipun Anda blum memaafkan saya."
"Hem.. Dan satu hal, aku tidak setuju kau menggugurkan bayi itu, bayi itu tidak tahu apa-apa, dia hanya tidak beruntung karena sudah memiliki Ayah bejat seperti Chris" Ucap Kaiden.
"Ta.. Tapi Tuan, saya tidak punya pilihan lain." Balas Narha kembali tertunduk dengan perasaan kalutnya.
Lama mereka saling terdiam, untuk beberapa menit, tidak ada percakapan yang terdengar di antara mereka, seolah sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, Hingga akhirnya Kaiden menggeprak meja hingga membuat Narha kembali tersentak.
"Lahirkan saja anak itu, aku yang akan merawatnya nanti, kau cukup mengeluarkan anak itu saja." Ucap Kaiden yang kembali membuat Ken dan Narha terkejut, bahkan Ken sampai menatap dalam wajah presdirnya, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan presdirnya tersebut.
"Apa kau dengar?" Tanya Kaiden lagi, saat ucapannya tidak mendapatkan respon dari Narha.
"Maksud Tuan?" Tanya Narha tersentak.
"Aku tau kau mengerti maksudku, lahirkan anak itu, rawat janin itu dengan baik selagi janin itu berada di dalam kandunganmu. Aku akan memberi uang di setiap bulannya untuk membiayai segala keperluan mu selama mengandung, dan juga sebuah Panthouse yang akan kau tempati. Lakukan semua itu jika kau ingin aku memaafkan mu, kau mengerti?"
Ken dan Narha lagi-lagi terkejut atas perkataan Kaiden barusan bahkan ken sampai melongo, ia tidak habis fikir dari mana Presdirnya mendapatkan ide yang bisa di bilang suatu waktu bisa menghancurkan rumah tangga yang sangat di lindunginya itu, sebab keputusan Kaiden saat ini belum tentu di Terima baik oleh Nyonya Adena.
"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda sekarang?" Balas Kaiden yang terlihat sangat serius.
"Tapi Tuan... Bagaimana dengan Nyonya Adena, saya yakin Nyonya besar tidak akan menyetujui ini, saya... " Kalimat Narha terhenti, nampak kecemasan dan rasa takut tergurat jelas di wajah pucatnya.
"Kau tidak perlu memikirkan itu, kau cukup melakukan hal yang aku suruh." Balas Kaiden.
"Baik.. Baik Tuan." Ucap Narha yang terlihat pasrah, bahkan wanita itu sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang, selain diam dan menurut.
"Baiklah.. sekarang kau boleh pergi, persiapkan semuanya, kita akan kembali malam ini." Ucap Kaiden lagi yang hanya di balas anggukan oleh Narha sebelum wanita itu beranjak dari duduknya dan langsung meninggalkan mereka.
"Tuan.. "
"Iya aku tau," Balas Kaiden yang seolah sudah paham dengan apa yang akan di katakan oleh Ken.
"Aku hanya tidak tega jika janin yang digunakan dalam kandungan Narha itu mati sia-sia."
"Saya juga mengerti Tuan, tapi bagaimana dengan Nyonya Besar?"
"Aku juga sedang memikirkannya, semua akan baik-baik saja. Kau cukup membantuku saja untuk menyiapkan semuanya,jangan lupa, siapkan juga beberapa pengawal untuk menjaga Panthouse tersebut." Jelas Kaiden lagi dan langsung beranjak dari duduknya dan kembali menuju ke kamar Hotel untuk menyiapkan kepulangannya kembali.
* * * * *
* PANTHOUSE KAIDEN.
Sejak kepulangan mereka dari Belanda, Narha langsung menempati sebuah Panthouse yang di berikan oleh Tuan Kaiden padanya. Meskipun Narha berulang kali menolaknya, dan meminta agar Tuan Kaiden mengizinkannya untuk menempati rumahnya yang dulu, namun tetap saja, Kaiden menolaknya.
Hingga kandungan Narha menginjak usia 3 bulan, Tuan Kaiden pikir semua akan baik-baik saja, namun ia salah, semakin hari kondisi Narha semakin memburuk, Narha yang mengalami stres juga mengidam membuat tubuhnya sering drop, bahkan dalam waktu sebulan Narha sampai dua kali masuk rumah sakit yang di sebabkan oleh kondisi janin juga tubuhnya yang rentan. Dan hal itu cukup membuat Tuan Kaiden khawatir, hingga membuat Tuan Kaiden sering menghabiskan waktunya untuk memantau kondisi Narha. Tuan Kaiden juga sampai menyiapkan Dokter khusus untuk mengontrol kondisi janin Narha.
Selang berapa bulan, Tuan Kaiden jadi sering mengunjungi Narha di Panthouse yang telah ia siapkan khusus untuk sekretarisnya itu, tentunya Tuan Kaiden tidak pernah sendiri saat ia akan menemui Narha, dia selalu di temani oleh asistennya Ken. Dan hal itu ia lakukan hanya untuk memastikan jika kondisi janin Narha baik-baik saja.
Awalnya semua berjalan dengan lancar, sebab Tuan Kaiden yang masih menutup rapat masalah itu tidak pernah memikirkan jika suatu saat semua pasti akan terkuak cepat atau lambat. Tuan Kaiden hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuknya memberitahu masalah ini kepada istri dan anaknya.
Bahkan Nyonya Adena sendiri juga tidak pernah menaruh rasa curiga terhadap Tuan Kaiden yang sering keluar kota dengan alasan pekerjaan bisnis. Sampai akhirnya di hari itu Nyonya Adena melihat dengan mata kepala sendiri saat Narha sedang berada di dalam ruangan Tuan Kaiden. Bahkan ia menyaksikan pemandangan yang cukup membuatnya syok, di mana Narha sedang berada di dalam pelukan Tuan Kaiden yang pada saat itu juga membelai rambut Narha dan juga mengusap perut buncit sekretarisnya itu. Yang sebenarnya adalah Narha yang pada saat itu dalam posisi tertekan karena masalah kehamilannya yang sudah di ketahui oleh keluarganya tanpa di sengaja. Dan pada saat itu Narha benar-benar merasa stres hingga tidak sadar ia memeluk Presdirnya yang sudah ia anggap sebagai satu satunya seseorang yang bisa melindunginya untuk saat ini.
Dan sejak kejadian saat itu, rumah tangga Tuan Kaiden mulai renggang, Nyonya Adena yang tidak Terima dengan penghianatan Tuan Kaiden sangat merasa terluka, ia bahkan sampai menginginkan perceraian, dan itu adalah hal yang tidak bisa di kabulkan oleh Tuan Kaiden yang sangat mencintai Nyonya Adena juga kedua anaknya. Hingga semakin lama kebencian Nyonya Adena yang semakin besar membuat Tuan Kaiden merasa terpuruk, hingga mengalami depresi karena stres berat.
Hingga satu minggu kemudian Tuan Kaiden tiba-tiba mendengar kabar jika Narha mengalami kecelakaan mobil yang membuat wanita itu tewas di tempat bersama dengan janinnya. Saat Narha akan kembali ke Panthouse. Bukan tanpa alasan juga malam itu Narha mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi, rasa bersalahnya pada Nyonya Adena dan Tuan Kaiden membuatnya merasa depresi dan nekat mengendarai mobil dalam kecepatan tinggi, hingga mengakibatkan kecelakaan tunggal. Mobil Narha terperosok ke dalam jurang dan langsung terbakar habis. Bahkan polisi datang ke TKP 2 jam usai kecelakaan tersebut.
Dan hanya berselang dua hari, Nyonya Adena juga ditemukan meninggal dunia yang di sebabkan bunuh diri di kediamannya. Dan hal itu benar-benar membuat Tuan Kaiden hampir gila. Kehilangan sosok yang sangat di cintainya adalah hal yang paling menyakitkan. di tambah lagi Tuan Kaiden harus menerima kebencian dari Dika anaknya sendiri yang masih berusia 5 tahun.
"Tuan.. Kita harus kerumah sakit sekarang."
Ucap Ken membungkuk yang sontak membuat tuan Kaiden terbangun dari lamunan panjangnya. Ingatan masa lalu yang pernah membuatnya hampir depresi.
"Baiklah." Jawab Tuan Kaiden mengusap wajahnya kasar dan langsung meraih sebuah mantel hangan yang tersampir di sofa dan langsung beranjak dari duduknya.
"Tuan tidak apa-apa?" Tanya Ken perlahan, saat melihat Tuan Kaiden yang terus terdiam dengan sorot mata yang di penuhi oleh kesedihan.
"Hmm.. aku baik-baik saja." Balas Tuan Kaiden yang langsung melangkah keluar meninggalkan Mansion, lalu masuk ke dalam mobil yang di sana sudah Ada Ken yang menunggunya.
"Tuan Kaiden, apa ada yang mengganggu pikiran anda?" Tanya Ken sekali lagi,
"Entahlah Ken, penyakit yang di derita Dika selama ini, semua itu sepenuhnya karena diriku." Jawab Tuan Ken perlahan sambil mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil.
"Tuan Kaiden, itu bukan sepenuhnya kesalahan anda, sebab anda juga korban." Balas Ken.
"Tetap saja Ken, semua berawal dari kesalahanku."
"Tidak Tuan, dan sebaiknya Tuan jangan memikirkan banyak hal."
"Sekarang kondisi Dika sedang kritis, bahkan Dokter sudah memvonis bahwa Dika mengalami koma permanen, dan hanya ada 10 persen kemungkinan dia akan kembali sadar, apa kau tau, aku merasa hampir gila saat memikirkan hal itu, rasanya nafasku akan berhenti sekarang Ken? Saya bahkan tidak akan memaafkan diri saya sendiri jika terjadi sesuatu dengan Dika." Ucap Tuan Kaiden dengan nada prustasi.
"Tuan Kaiden, pasti akan ada keajaiban untuk Tuan Muda, Nyonya Besar pasti akan melindunginya." Balas Ken yang terus fokus pada kemudinya.
"Yah, aku tau, bahkan saat aku melihat Adena terbaring di lantai dingin dengan darah yang memenuhi tubuhnya aku masih berharap ada keajaiban agar dia kembali bangun, saat itu aku masih percaya, jika dia hanya tertidur, dan saat Anak-anaknya meneriakkan namanya dia akan terbangun. Tapi kenyataannya semua keajaiban dan keberuntungan tidak sedang berpihak padaku Ken, semua seolah pergi meninggalkanku," Ucap Tuan Kaiden dengan mata yang terlihat memerah, sudah sangat jelas jika saat ininTuan Kaiden sedang berusaha menahan air matanya. Ken bisa melihat dengan jelas, saat Tuan Kaiden berusaha mengatur nafasnya, bahkan suaranya terdengar bergetar.
"Tidak seperti itu Tuan Besar,"
"Itu benar Ken, bahkan semua orang yang ingin aku lindungi semua pergi. Apa yang salah denganku Ken? kenapa semua orang seolah-olah tidak ingin berada di dekatku." Ucap Tuan Kaiden yang membuat Ken tidak bisa berkata apapun lagi. Ia sangat paham jika saat ini perasaan Tuan Kaiden benar-benar rapuh. ia bahkan kembali melihat ekspresi Tuan Kaiden saat dulu Nyonya Adena meninggalkannya. Ken hanya bisa menarik Nafas dalam dan membiarkan Tuan Kaiden memejam untuk sesaat. Bahkan ia bisa melihat setitik air mata menetes dari sudut mata Tuan Kaiden yang saat ini masih memejam.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.