
Musim panas di bulan Agustus, dan sudah enam bulan berlalu sejak Ayuka terbangun dari komanya. Namun kondisinya tidak menunjukkan perubahan apapun. Ayuka masih belum bisa merespon apapun, selain menitikkan air mata saat ia mendengar nama Radika. Bahkan Ayuka bisa terus menangis tanpa berhenti. Dan hal itu membuat Arka enggan menyebutkan nama Radika lagi di hadapan Ayuka. Arka lebih memilih untuk diam, dan tidak berbicara satu kata pun jika itu menyangkut soal Radika.
Bahkan Tuan Kaiden dan Ziyi pun yang mengetahui kondisi Ayuka tidak pernah sedikitpun membahas soal Radika, Apalagi untuk menyebutkan nama itu. Sebab mereka sudah pernah sekali melihat Ayuka yang terus menagis saat dengan tidak sengaja mereka menyebutkan nama Radika dalam panggilan video Call, Bahkan mereka juga memperlihatkan sosok Radika yang sedang terbaring di atas tempat tidur dengan tubuh dan wajah yang masih di penuhi alat bantu pernafasan dan oksigen, dengan harapan kondisi Ayuka akan cepat membaik jika melihat wajah Radika, namun perkiraan mereka salah.
"Tuan Arka, waktunya nyonya muda untuk minum susu." Ucap Bibi Shu dan langsung menghampiri Ayuka yang masih terdiam di dalam kamarnya. Dengan membawa segelas susu hangat, yang di ikuti dua orang perawat sambil membawa beberapa vitamin, Bibi Shu mengembangkan senyumnya dan meletakkan nampan di atas nakas samping tempat tidur Ayuka.
"Selamat pagi Nyonya Yuka," Sapa Bibi Shu lembut seraya membelai rambut panjang Ayuka yang masih betah dengan mulut bungkamnya.
"Saatnya minum susu," Sambung Bibi Shu sambil membantu Ayuka untuk meminum susunya.
"Bagaimana kabar dede bayi? apa dede bayinya tidak rewel?" Tanya Bibi Shu sambil menyentuh perlahan perut buncit Ayuka.
Bibi Shu adalah asisten rumah di keluarga Zaferino yang sengaja di kirim oleh Tuan Kaiden untuk merawat Ayuka yang masih belum pulih dari sakitnya.
"Bagaimana keadaan janinnya?" Tanya Arka perlahan saat kedua perawat usai memeriksa kondisi janin Ayuka.
"Sampai sejauh ini, janin nyonya muda baik-baik saja Tuan." Jawab Bibi Shu dengan senyum bahagianya.
"Syukurlah.. Aku hanya sedikit khawatir, ini sudah enam bulan sejak Ayuka sadar, tapi sedikitpun dia belum menujukan reaksi apa-apa selain hanya terus diam." Lanjut Arka dengan kekhawatirannya sambil terus menatap Ayuka yang kini sedang memegangi perutnya.
"Saya mengerti Tuan, kita hanya bisa menunggu dan bersabar, selagi nyonya muda tidak menunjukkan respon yang dapat membahayakan janin da tubuhnya sendiri, semua akan baik-baik saja." Terang Bibi Shu yang berusaha untuk menghilangkan sedikit kekhawatiran Arka.
"Saya harap juga seperti itu."
"Tuan.. Bagaimana kondisi Tuan Muda saat ini?" Tanya Bibi Shu yang kembali membuat Arka hanya bisa terdiam sambil menarik nafas dalam, untuk sesaat tatapan matanya tertuju ke arah Ayuka yang masih terdiam, dan kembali menunduk sambil mengusap wajahnya kasar. Hari ini ia baru mendapatkan kabar dari Belanda jika kondisi Radika kembali drop.
"Kondisi Tuan Radika semakin memburuk."
Jawab Arka perlahan, namun ia tidak menyangka jika jawaban yang keluar dari mulutnya bisa sampai di pendengaran Ayuka yang sontak membuat Ayuka kembali merespon, ia mulai menagis memeluk perutnya yang sudah membuncit. Arka yang melihat hal tersebut langsung beranjak dari duduknya dan dengan cepat berlari kearah Ayuka yang semakin terisak.
"Yuka.. Berhentilah menangis." Bujuk Arka lembut seraya meraih tubuh adiknya yang masih terus menangis, sambil terus mengusap punggung yang masih bergetar karena sesegukan itu, Arka terus berbisik sambil mengucapkan kata, jika semua akan baik-baik saja.
"Semua akan baik-baik saja, berhentilah menagis, kasian si kecil juga pasti akan bersedih di dalam sana jika ibunya terus menangis." Bujuk Arka sebisanya.
"Di..Dika.."
Gumam Ayuka yang untuk pertama kalinya ia mengeluarkan suara dari mulutnya sendiri, dan hal itu sontak membuat Arka dan Bibi Shu yang mendengarnya langsung terkejut. Sebab baru saja mereka mendengar Ayuka berbicara dan langsung menyebut nama Radika setelah 6 bulan Ayuka menderita Amnesia.
"Tu.. Tuan... Apa barusan nyonya muda menyebut nama tuan muda??" Tanya Bibi Shu yang seolah tidak percaya dengan pendengarannya, dan pertanyaan itu hanya di balas anggukkan pelan oleh Arka yang masih terus mengusap punggung Ayuka yang mulai tenang, nafasnya mulai beraturan dan tenang, tubuhnya melemas di pelukan Arka yang terus mendekap tubuh adiknya.
"Sepertinya bayi yang berada di dalam kandungan nyonya muda sedang merindukan Ayahnya sekarang." Ucap perawat Ling seraya mendekati Ayuka yang sudah tertidur dengan pulas.
"Semoga saja ini kabar baik, dengan Nyonya muda menyebut nama tuan muda saja itu sudah perkembangan yang sangat pesat, semoga nyonya muda cepat pulih" Jelas perawat Ling lagi sambil menyelimuti tubuh Ayuka.
Perlahan Arka mengusap sisa air mata yang masi tersisa di wajah Ayuka yang sudah pulas, hingga suara Bian kembali terdengar di telinga Arka.
"Apa dia menangis lagi?" Tanya Bian saat melihat Arka yang tengah mengusap wajah Ayuka.
"Hmm.. Tapi kabar baiknya, Yuka barusan menyebutkan nama Tuan muda di sela tangisnya." Jawab Arka.
"Benarkah?"
"Iya.. Setidaknya Yuka sudah mulai merespon dengan memanggil nama Tuan muda." Balas Arka terus menatap wajah adiknya dengan tatapan sendu.
Begitupun dengan Bian yang sore ini kembali mengunjungi Ayuka. Tidak ada waktu yang di lewati Bian, pria itu akan selalu menghabiskan waktunya hanya untuk sekedar mengajak Ayuka bercerita, menyanyikan semua lagu lagu favorite Ayuka dan juga memainkan gitar untuk Ayuka, meskipun apa yang dilakukan Bian tidak pernah mendapat respon sedikitpun dari Ayuka, namun semua hal yang Bian lakukan sangat membuatnya bahagia. Dan seperti di sore ini, Bian kembali mengunjungi Ayuka dengan sebuket bunga mawar merah Vaforit Ayuka.
* * * * *
Masih seperti hari-hari sebelumnya, di pagi ini Arka kembali terbangun dari tidurnya dengan perasaan yang selalu di penuhi dengan kecemasan, bahkan selama ini Arka nyaris tidak pernah tidak pernah tidur dengan nyenyak, masalah yang tengah ia hadapi saat ini seolah membuat beban hidupnya semKin bertambah sulit.
Untuk sesaat Arka menarik napas dalam, mengusap wajahnya perlahan sambil mengarahkan pandangannya ke atas jendela dengan tirai yang sedikit terbuka, hingga cahaya di pagi hari membuat Arka sedikit menyipitkan matanya, untuk menghalau cahaya yang menyapa retinanya. Dengan perlahan Arka turun dari tempat tidurnya, melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya, hingga 10 menit berlalu,ia kembali keluar dengan wajah yang sudah nampak segar, meski lingkaran hitam di bawah matanya masih sangat jelas terlihat menghiasi wajah tampannya.
Dengan perlahan Arka melangkah keluar kamar, dan menuju kamar Ayuka untuk memeriksa kondisi adiknya di hari ini, namun matanya kembali melebar saat ia melihat kamar Ayuka yang kosong, dengan langkah lebar Arka memasuki kamar kosong Ayuka, memeriksa semua ruangan, kamar ganti juga kamar mandi, bahkan perasaannya kembali kalut saat ia tidak melihat sosok Ayuka di manapun, hingga indra pendengarannya tiba-tiba mendengar sesuatu di Pantry.
Dengan perasaan gelisah Arka keluar dari kamar Ayuka, berlari dengan cepat menuju pantry, hingga langkah kakinya terhenti saat pandangannya tertuju ke konter pantry. Arka di kejutkan oleh satu pemandangan yang tidak biasa, bahkan membuatnya tercengang dan tidak bisa berkata apa-apa, saat melihat sosok Ayuka yang sedang berada di pantry dengan segelas susu di tangannya. Bahkan ia bisa melihat senyum dari wajah itu, senyum yang sudah sangat lama tidak di lihatnya.
"Kak,"
Panggil Ayuka dengan suara yang masih terdengar parau tapi sangat jelas terdengar di telinga Ayuka. Tampa menunggu lama, Arka yang sedikit berlari langsung mendekati sosok dengan perut buncit itu untuk di peluknya, pelukan Arka yang sangat erat bersamaan dengan air mata yang manitik di sudut matanya.
"Terimakasih Yuka.. Terimakasih karena sudah kembali, kakak sangat merindukanmu." Ucap Arka yang masih terus memeluk tubuh adiknya.
"Apa kakak menangis? Ada apa kak? Apa aku sudah membuat kak Arka sedih lagi?"
Tanya Ayuka dengan wajah polosnya yang masih nampak kebingungan, dan itu adalah hal wajar, reaksi itu timbul sebab Ayuka yang belum mengingat semuanya, ia bahkan tidak mengingat jika selama 6 bulan ini ia menderita amnesia. Yang ada di dalam ingatan Ayuka saat ini hanya sebuah kecelakaan yang menimpanya, dan membuatnya koma. Ayuka bahkan sempat terkejut saat melihat perut buncitnya namun rasa terkejut itu seketika berubah menjadi rasa bahagia yang teramat besar saat mengetahui jika sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu, dan melahirkan seorang bayi kecil dari seorang pria yang sangat di cintainya. Meski saat terbangun dari tidurnya di pagi ini, ia kembali mencari sosok yang sangat di rindukannya itu.
"Kak.. Maafkan aku.. " Ucap Ayuka perlahan yang masih berada di dalam pelukan Arka.
"Maaf untuk apa?" Tanya Arka yang langsung melepaskan pelukkannya seraya menangkup wajah Ayuka yang masih terlihat pucat.
"Apa selama ini tuan Dika... Tidak pernah mengunjungiku?" Tanya Ayuka perlahan yang sontak membuat Arka terdiam untuk beberapa saat, tatapannya berubah nanar, perlahan ia mendudukkan Ayuka di sebuah sofa dan Arka sendiri yang berlutut di hadapan Ayuka sambil menggenggam tangan Adiknya itu lembut.
apa yang harus aku katakan padamu. maafkan kakak Ayuka, kakak tidak ingin membuatmu bersedih.
"Tuan Dika harus menyelesaikan beberapa kerjaan penting di Belanda. jadi belum bisa mengunjungi mu." Ucap Arka setelah terdiam untuk beberapa saat sambil memikirkan kata yang tepat untuk Ayuka agar bisa menerima alasan yang di katakan Arka padanya.
"Benarkah? Apa dia tau, kalau sekarang aku sedang mengandung anaknya?" Tanya Ayuka sambil mengusap perutnya.
"Apa dia bahagia?"
"Hmm.. tuan Dika sangat bahagia, karena sebentar lagi kalian berdua akan menjadi seorang Ayah dan ibu."
"Aku merindukannya." Balas Ayuka dengan mata yang berkaca.
"Kakak tau, bersabarlah.. Tuan Dika juga pasti sangat merindukanmu."
"Tapi kenapa dia tidak pernah menghubungiku selama ini? Apakah dia sesibuk itu?" Tanya Ayuka lagi yang kembali membuat Arka terdiam.
"Kak Arka.. "
"Iya sayang"
"Aku benar-benar merindukannya." Gumam Ayuka kembali terisak sambil memeluk perut buncitnya.
"Yuka.. Berhentilah menangis, itu tidak baik untuk perkembangan janinmu, dan Tuan Dika pasti akan sangat sedih jika mengetahuinya." Bujuk Arka.
"Benarkah? Apa tuan Dika sudah tidak membenciku lagi?"
"Tidak, Tuan Dika tidak pernah membencimu sedikitpun, tuan Dika sangat mencintaimu, Bahkan selalu mengirim salam untukmu, menanyakan keadaanmu, dan dia sangat menginginkan agar kau selalu sehat." Balas Arka yang terpaksa berbohong.
Bukan tampa alasan ia melakukan ini, sebab kondisi Ayuka belum stabil untuk saat ini, Ayuka masih terlihat sangat rapuh dan hal itu membuat Arka takut bila sewaktu-waktu kondisi Ayuka akan drop bila mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Yang ada di pikiran Arka untuk saat ini hanya cukup melihat senyum di wajah Ayuka saja itu sudah cukup bagi Arka.
Dan sejak Ayuka pulih dari amnesianya, seluruh orang-orang yang berada di sekitar Ayuka tidak di perbolehkan untuk mengungkit tentang kejadian yang menimpa Tuan Muda Radika, meskipun hal itu tidak adil buat Ayuka, namun apa yang mereka lakukan demi kesehatan Ayuka, sampai kesehatan Ayuka benar-benar pulih dan siap untuk mengetahui semuanya. Meskipun Arka tidak bisa memastikan, kapan kesehatan Ayuka akan benar-benar pulih, bahkan ia tidak membayangkan akan sesedih apa Ayuka nanti jika mengetahui segalanya. Itulah yang menjadi bahan pertimbangan Arka saat ini. Mengingat sebesar apa rasa cinta Ayuka ke pada Radika.
* * * * *
* AMSTERDAM HOSPITAL.
"Ayah, ada kabar baik."
Seru ziyi sambil berlari kecil menghampiri tuan Kaiden yang sedang duduk di sofa tepat samping tempat tidur Radika.
"Ingatan Ayuka sudah pulih." Ucap Ziyi dengan senyuman lebar yang terkebang di bibirnya.
"Benarkah? Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Tuan Kaiden yang tidak kalah bahagianya saat mendengar kabar tersebut.
"Dia sehat sekarang, meskipun ingatannya belum pulih sepenuhnya," Balas Ziyi.
"Bagaimana dengan kehamilannya?"
"Sangat sehat, perawat Ling mengatakan, janin yang berada di dalam kandungan Yuka sangat aktif, tapi ada satu masalah lagi Ayah," Balas Ziyi dengan wajah yang kembali di selimuti kekhawatiran.
"Masalah?" Tanya Tuan Kaiden mengernyit.
"Yuka belum mengetahui kondisi Dika yang sebenarnya."
"Maksudnya?"
"Sampai saat ini Yuka masih mengira, Dika sedang menyelesaikan pekerjaan penting di sini, dan tiap hari yuka selalu bersikeras meminta untuk menemui Dika." Jawab ziyi sambil mengarahkan pandangannya ke arah Radika yang masih terbaring di sana. Begitupun dengan tuan Kaiden yang juga kembali mengalihkan pandangannya ke arah putranya dengan tatapan nanar.
Sudah hampir 7 bulan Radika terbaring di sana tampa menunjukkan tanda tanda untuk terbangun dari komanya. Meskipun demikian, tuan Kaiden tidak pernah hilang harapan, ia masih sangat yakin jika suatu saat nanti putranya akan segera terbangun dari tidur panjangnya.
"Tapi kita tidak bisa menyembunyikan masalah ini lebih lama lagi kan? Cepat atau lambat Yuka pasti akan mengetahui keadaan suaminya yang sekarang." Ucap tuan Kaiden yang masih terus menatap nanar wajah putranya.
"Ziyi tau, tapi untuk kali ini mungkin kita harus terus menyembunyikannya, sampai kondisi Yuka benar-benar pulih. Ditambah sebentar lagi si kecil akan lahir. Kita harus benar-benar menjaga Yuka agar kondisinya tetap stabil hingga di hari persalinannya nanti" Jelas ziyi.
"Dan tidak lama lagi Dika akan menjadi seorang Ayah, dia akan segera memiliki seorang putra yang sangat tampan seperti dirinya." Sambung Ziyi dengan senyum dan mata yang berkaca.
"Putra? Jadi cucu Ayah seorang laki laki?" Tanya Tuan Kaiden dengan wajah berseri.
"Iya Ayah, Calon cucu Ayah seorang laki-laki." Balas ziyi lagi, yang hanya di balas anggukkan pelan dari tuan Kaiden yang langsung beranjak dari duduknya untuk mendekati tempat tidur putranya.
"Apa kau dengar itu Nak, sebentar lagi kau akan memiliki seorang putra yang lucu, apa kau tidak ingin melihat kelahiran putramu nanti? Ayah mohon.. Bangunlah.. Mereka pasti sudah sangat merindukanmu."
Bisik tuan Kaiden sambil mengusap dahi putranya lembut. Bahkan tangan tuan Kaiden tiba-tiba bergetar saat melihat butiran bening keluar dari sudut mata Radika yang bersamaan dengan suara ventilator yang berbunyi dengan nada panjang.
Tiiiiiiiiiiiiiiiit
"ZIYI PANGGIL DOKTER MICHAEL SEKARANG."
Teriak Tuan Kaiden panik dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya sambil memencet tombol hijau di samping tempat tidur Radika saat melihat garis panjang di layar ventilator.
Ziyi terisak di sudut ruangan sambil menutupi mulutnya saat melihat Dokter Michael merobek baju yang di kenakan Radika, dan mulai menghitung untuk memberi aba aba pada Asisten perawatnya yang sedang memegang alat bantu pernapasan di hidung Radika, menggesekkan dan menempelkan alat Defibrilator di dada polos itu secara berulang-ulang.
Ziyi semakin menagis saat ia dengan jelas melihat tubuh Radika terangkat ke atas sampai beberapa kali hingga tidak ada pergerakan lagi dari Radika maupun Dokter Michael. Sedang Tuan Kaiden hanya terdiam dengan tubuh yang terasa kaku menatap tubuh putranya yang tidak bergeming bersamaan dengan air mata yang terus keluar dari sudut matanya.
"Dika akan baik-baik saja.. Dia akan baik baik saja.. SELAMATKAN NYAWA PUTRAKU... "
* * * * *
* TO BE CONTINUED.