
* PANTHOUSE.
Dengan langkah yang sedikit di percepat, Ayuka melangkah masuk menuju ruang keluarga dengan perasaan bahagia, tubuh Ryeon di gendongnya dengan sangat erat saat melihat ke dua sosok yang sangat Ayuka rindukan tengah duduk di sana dengan senyum yang terkembang di bibir mereka masing-masing, hingga air mata Ayuka kembali menitik tampa ia sadari.
"Glannnpaaaa... "
Teriakan Ryeon yang langsung turun dari gendongan Ayuka sambil berlari kecil kearah tuan Kaiden yang sedikit membungkuk sambil mengulurkan tangannya menyambut Ryeon. Dengan tawa bahagia tuan Kaiden meraih tubuh kecil Ryeon untuk di gendongnya sambil menghujani beberapa ciuman di wajah Ryeon.
"Yon lindu glanpa. kenapa glanpa lama pulangnya? Yon bocan tiap hali mesti main cendili cama angkel Aka," Tanya Ryeon yang mulai berceloteh sambil memeluk erat leher tuan Kaiden.
"Benarkah? Grandpa juga sangat merindukan Yon, maafkan Grandpa karena terlambat mengunjungi Yon,"
"Hem, Apa kalna glanpa cibuk?"
"Iya, Grandpa sangat sibuk," Balas tuan Kaiden mengusap-usap punggung Ryeon lembut.
"Apa Yon tidak merindukan Aunty?" Tanya Ziyi dengan ekspresi merajuk sebab sejak tadi Ryeon nampak terlalu sibuk kepada kakeknya, bahkan melupakan Ziyi yang sudah sejak tadi sangat ingin menciumi dan memeluk Ryeon yang terlihat sangat menggemaskan di mata Ziyi, Bahkan tingkah Ziyi saat ini terlihat lucu hingga membuat Ayuka dan Tuan Kaiden tertawa dan menurunkan Ryeon yang langsung berlari ke arah Ziyi yang sudah duduk untuk menjejeri tubuh Ryeon.
"Yon juga lindu Aunty," Balas Ryeon memeluk leher Ziyi,
"Anak pintar, Aunty menyayangimu." Balas Ziyi memeluk tubuh Ryeon erat.
"Di mana Daddy?" Tanya Ryeon lagi yang sontak membuat Ayuka tiba-tiba terdiam, matanya mulai berkabut meski sekarang ia sedang berusaha untuk tetap tersenyum.
"Apa Daddy maci cibuk? Daddy maci kelja? apa Daddy tidak melindukan Yon?" Tanya Ryeon lagi, hingga nampak jelas terlihat mata bulat kebiruannya mulai berkaca dengan bibir yang mulai mengerucut. Dengan cepat Ziyi meraih tubuh Ryeon dan langsung membawa tubuh kecil itu dalam gendongannya.
"Yuka.. Bisakah kau menolong kakak?" Tanya Ziyi sambil mengusap punggung Ayuka yang hanya bisa mengangguk menahan kesedihan di hatinya.
"Aku menaruh sebuah hadiah untuk Ryeon di kamar utama, bisakah kau mengambilnya untuk kakak?" Tanya Ziyi lagi, yang hanya di balas anggukkan dan senyum oleh Ayuka yang langsung melangkah menuju kamar utama.
Untuk beberapa detik tubuh Ayuka mematung di depan pintu, dengan air mata yang mengalir deras dari sudut matanya. Tangannya yang sedikit bergetar menggenggam erat gagang pintu dan mendorongnya lebih lebar lagi.
"Kau kembali," Gumam Ayuka perlahan yang masih enggan untuk melangkahkan kakinya, sebab ia sangat takut jika apa yang di lihatnya hanyalah halusinasinya saja.
"Ka.. Kau kembali.. " Ucap Ayuka dengan suara bergetarnya saat melihat sosok Radika yang tengah duduk di kursi pianonya sambil tersenyum dengan begitu manis. Sedang Ayuka masih terdiam di tempatnya, menundukkan kepalanya sambil memejam berusaha membendung air matanya yang terus saja mengalir sejak tadi. Hingga akhirnya Ayuka tersadar saat membuka mata, tubuhnya sudah berada di dalam pelukan erat suaminya.
"Aku merindukanmu kucing kecilku." Bisik Radika semakin mengeratkan pelukannya, tampa ia sadari jika pelukannya tersebut membuat Ayuka semakin terisak, membenamkan wajahnya di dada bidan suaminya sambil menghirup aroma tubuh yang sudah sangat lama dirindukannya, tubuh yang tidak pernah ia peluk selama ini.
"Maafkan aku, karena sudah membuatmu menunggu terlalu lama, maafkan aku karena sudah membuatmu bersedih dan menangis, mulai hari ini, aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan putra kita lagi." Ucap Radika, sedang Ayuka hanya bisa terdiam dalam isaknya, bahkan ia sudah tidak mampu berucap lagi, hanya kata rindu yang ada di pikiran Ayuka saat ini, kata yang mewakili perasaan hatinya selama ini.
"Aku mencintaimu Ayuka, sangat mencintaimu," Bisik Radika yang perlahan melepaskan pelukannya, dan langsung menangkup wajah istrinya sambil mengusap air mata yang masih tersisa disudut mata istrinya.
"Aku mencintaimu Yuka."
Ucap Radika yang terus berbisik dengan suara seraknya yang langsung mengecup bibir istrinya, menciumnya dengan sangat lembut, dengan tangan yang mengusap lembut punggung istrinya, melingkarkan tangannya di pinggang ramping itu untuk menariknya hingga tubuh istrinya menempel sempurna di tubuhnya. Untuk sesaat mereka terlarut dalam suasana yang begitu hangat dan menggairahkan, Ayuka yang terhanyut oleh sentuhan dan ciuman hangat suaminya membuatnya tubuhnya serasa melayang oleh rasa bahagia yang tidak bisa ia utarakan lagi.
"Aku tidak bisa menahannya lagi," Bisik Radika dengan suara beratnya yang ternyata menginginkan lebih dari sebuah ciuman, bahkan ia sendiri merasa heran dengan reaksi tubuhnya yang sudah sangat ingin menjamah tubuh istrinya, sungguh suatu reaksi yang membuatnya gelisah dan dengan gerakan cepat ia mulai membuka kancing kemeja sang istri.
"Daaaaaddyyy...... "
Teriak Ryeon yang tiba-tiba muncul dari balik pintu sambil berlari ke arah Radika yang masih sedikit pucat karena terkejut, namun tidak berlangsung lama, dengan cepat ia meraih tubuh mungil putranya, memeluknya dengan sangat erat, menciumnya, dan langsung membawa Sang putra dalam gendongannya.
"Daddy sangat merindukanmu," Ucap Radika dengan matanya yang nampak berkaca, bahkan tampa jedah sedikitpun ia terus menghujani wajah putranya dengan ciuman.
"Hhuuaaaa... Daddy jangan pelgi lagi, Yon tidak mau daddy pelgi lagi, Huuuaaa..."
Tangis Ryeon pecah di pelukan Ayahnya sambil memeluk ayahnya dengan sangat erat.
Radika mengusap-usap lembut punggung putranya yang masih sesegukan, dan membalas pelukan putranya, hingga tangisan itu mereda.
"Daddy janji, tidak akan meninggalkan Yon juga mommy lagi, dan mulai sekarang, Daddy akan menjaga kalian seumur hidup Daddy."
Balas Radika kembali memeluk tubuh anaknya, sambil meraih tangan istrinya untuk di genggamnya.
"Aku mencintaimu." Ucap Radika yang seolah tidak pernah bosan untuk mengucapkan kata tersebut, dengan perlahan ia mengusap air mata yang membasahi wajah istrinya.
Sedang di ruang keluarga, tuan Kaiden nampak terlihat gelisah, bahkan sesekali ia melihat pintu kamar utama yang masih tertutup rapat.
"Apa mereka masih di dalam? Apa yang sedang mereka lakukan?" Tanya tuan Kaiden yang kembali mengalihkan pandangannya ke arah kamar utama.
"Biarkan saja Ayah,mereka kan sudah lama tidak bertemu." Balas Ziyi tersenyum saat melihat reaksi sang Ayah yang tidak seperti biasanya.
"Yon masih terlalu kecil untuk memiliki adik lagi." Ucap tuan Kaiden dengan mulut frontalnya yang membuat Ziyi kembali terkekeh.
"Itu bukan masalah Ayah, bukankah itu bagus?" Timpal Ziyi yang sedang berusaha menahan tawanya, begitupun dengan Arka yang memilih untuk tidak mendengar dan berpura-pura tuli.
"Setidaknya keluarkan dulu cucuku dari dalam kamar itu." Omel tuan Kaiden yang sebenarnya masih ingin memeluk Ryeon sampai puas.
"Ayah,"
Seru Ziyi pada tuan Kaiden yang kembali duduk dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Sedang Arka yang sedari tadi menyimak pembicaraan tuan Kaiden hanya bisa tersenyum sambil menggeleng pelan saat mendengar perdebatan mereka yang terdengar begitu frontal. Bahkan Arka tidak bisa berpura-pura bodoh, sebab posisinya yang berada di antara Ziyi dan tuan Kaiden mau tidak mau membuatnya harus mendengarkan semuanya.
"Arka, apa semua berjalan dengan lancar?" Tanya tuan Kaiden sambil mengarahkan pandangannya ke arah Arka.
"Iya Tuan, semuanya baik-baik saja," jawab Arka perlahan.
"Justru itulah Ayah selalu mengandalkanmu," Balas tuan Kaiden mengangguk dengan senyuman puas, begitupun dengan Arka yang terlihat bahagia saat mendengar kata "Ayah" terlontar dari mulut tuan Kaiden.
Bahkan hanya dengan kata sederhana itu, sudah membuatku bahagia. Batin Arka.
"Glaaaanpaaa.. Aunty.. Angkellll..."
Teriak Ryeon yang tiba-tiba keluar dari kamar bersama Radika dan Ayuka.
"Cucu Grandpa, ayo sini, biar grandpa yang gedong" Pinta tuan Kaiden yang langsung berdiri sambil mengulurkan tangannya dan meraih tubuh mungil Yon dari gendongan Radika.
"Malam ini Yon tidurnya bersama Grandpa saja bagaimana?" Tanya tuan Kaiden berharap. Sebab sudah sangat lama ia membayangkan bisa tidur bersama sang cucu kesayangannya itu.
"Tapi Yon pengen tidul cama daddy," Balas Ryeon sambil menatap wajah Radika yang langsung tersenyum sambil mengangguk.
"Oh benarkah? "
"Apa Glanpa cuka memeluk Yon?" Tanya Ryeon saat tuan Kaiden kembali memeluknya.
"Benar, mulai hari ini Grandpa akan selalu memeluk Yon."
"Tadi juga daddy memeluk mommy, daddy juga mencium mommy." Balas Ryeon dengan wajah polosnya.
Ayuka yang mendengar perkataan Ryeon nampak tersipu, dengan rona merah di wajahnya, begitupun juga dengan Ziyi dan Arka yang hanya menggeleng sambil tersenyum, namun tidak dengan Radika yang nampak santai, bahkan dengan cepat ia merangkul tubuh istrinya, melingkarkan lengannya di pinggang ramping itu dan kembali mengecup pipi merona istrinya.
"Karena Daddy sangat menyayangi mommy Yon," Ucap Radika tersenyum.
"Apa perlu Ayah membawa Yon ke Mansion malam ini? Sepertinya kau sudah tidak sabar, dasar anak ini," Balas tuan Kaiden menggeleng.
"Tidak perlu ayah, biar Kak Ziyi atau Arka yang menginap di sini, lagi pula aku juga masih bisa melakukannya meskipun ada Yon di rumah ini," Timpal Radika santai.
"Yaakk.. anak ini, sejak kapan kau menjadi sangat terbuka begitu." Protes tuan Kaiden sambil menutup kedua telinga Ryeon. Sedang Ayuka yang semakin memerah dengan reflek mencubit pinggang Radika yang langsung meringis menahan perih.
"Biar Yon bersama saya malam ini, Agar Nona Ziyi dan fuan besar bisa beristirahat."
"Nah.. Aku selalu suka dengan sikap pengertianmu Arka," Balas Radika sambil tersenyum dan langsung menatap Ayuka dengan tatapan lapar, layaknya singa yang siap untuk menerkam mangsanya.
"Tapi yon pengen Tidul cama daddy,"
Sambung Ryeon yang langsung bergegas turun dari pangkuan Tuan Kaiden dan berlari kecil menuju ke Arah Radika dan langsung duduk di pangkuannya.
"Tentu saja sayang, kita akan tidur bertiga bersama Mommy," Jawab Radika pasrah sambil memeluk tubuh mungil putranya.
"Yon ngantuk daddy.. Yon ingin Tidul cekalang," Rengek Ryeon sambil menyandarkan kepalanya di bahu lebar ayahnya.
"Baiklah Sayang, ayo kita tidur, Ayah akan menemani Yon tidur," Ucap Radika yang langsung beranjak dari duduknya.
"Apa tidak ada ucapan selamat malam buat Grandpa?" Tanya Tuan Kaiden perlahan.
"Celamat malam glanpa, celamat malam aunty," Ucap Yon melambai dengan mata yang sudah nyaris tertutup.
"Selamat malam jagoan Grandpa,"
"Selamat malam Yonnya Aunty,"
"Baiklah, aku akan menemani Yon tidur, Dear tunggulah sebentar. Kita masih ada urusan yang belum di selesaikan,"
Balas Radika mengecup pipi istrinya yang nampak sudah sangat memerah dan langsung melangkah menuju ke kamar yang terletak di lantai atas. Sementara Tuan Kaiden yang juga beranjak dari duduknya dan langsung menuju ke ruang tamu bersama Arka untuk membicarakan hal penting menyangkut soal pekerjaan. Dan hanya menyisahkan Ayuka juga Ziyi yang masih berbincang..
"Yuka.. Ada apa, apa ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya," Tanya Ziyi seraya menghampiri Ayuka sambil mengusap punggung Ayuka lembut.
"Ah.. Tidak.. Tidak apa-apa," Jawab Ayuka sedikit terbata sambil mengusap tengkuk Lehernya.
"Apa ini ada hubungannya dengan sikap Radika?" Tanya Ziyi lagi yang langsung menebak isi kepala Ayuka, bahkan Ayuka sempat berfikir jika hanya dia yang merasakan perubahan sikap dari suaminya, ternyata yang lain juga merasakannya.
"Iy.. Iya.. Dika nampak sedikit.. "
"Agresif?"
"Haa??" Tanya Ayuka sedikit melongo apalagi saat Ziyi tersenyum. Wajahnya semakin memerah, ia mengakui, perbuhan sikap Radika sekarang memang sangat jauh berbeda dengan yang dulu. Jika mengingat bagaimana sikap Radika dulu yang begitu dingin terhadapnya, sangat jauh berbeda dengan sekarang yang terlihat hangat dan sedikit frontal.
"Itulah sifat sebenarnya dari Radika, dia seorang yang posesif juga cemburuan, dan akan terus menempel padamu, siap siap saja menerima sikap manja dan bawelnya, bahkan sikap Yon saat ini tidak jauh beda dengan sikap Ayahnya saat kecil dulu."
"Benarkah?"
"Hmmm.. Sangat manis, lucu dan ceria,"
Balas Ziyi tersenyum, seolah ia sedang melihat sosok Radika kecil di hadapannya saat ini.sampai akhirnya mata Ziyi mulai berkaca. Dan dengan perlahan Ayuka meraih tubuh Ziyi untuk di peluknya.
"Kak Yi.. Ada apa?" Tanya Ayuka perlahan.
"Apa kau tau? Waktu itu kita nyaris kehilangan nyawa Dika?" Tanya Ziyi dengan suaranya yang terdengar bergetar.
"Kakak.. "
"Bahkan malam itu Dika sudah tidak bernafas lagi, dan ternyata Tuhan masih memeberikan Dika kesempatan untuk hidup, dan kembali bernafas, hingga seminggu setelah itu, Dika tiba-tiba terbangun." Ucap Ziyi, "Dan saat pertama kali membuka nama, nama kamu yang langsung keluar dari mulut Dika," Lanjut Ziyi, sedang Ayuka masih terdiam dengan air matanya.
"Dan saat itu juga, Dika mulai melakukan terapi dan pengobatan lainnya untuk menghilangkan penyakit traumatis dan philophobianya. Awalnya tidak ada yang mengira itu akan berhasil, namun karna niat Dika yang ingin sembuh dari penyakitnya sangat kuat, Dika terus berusaha selama beberapa bulan ini." Ucap Ziyi.
"Dan alasan kami tidak memberitahumu soal keadaan dan kondisi Dika saat itu, sebab dia tidak ingin kau semakin khawatir dan bersedih karena memikirkannya. Percayalah.. Saat berada di sana dia sangat merindukanmu juga Yon kecil. Dia selalu menghabiskan waktu untuk menatap foto kalian berdua, dan kalian berdualah yang menjadi semangatnya hingga ia bisa melewati semuanya dan sampai sembuh total hingga sekarang." Jelas Ziyi tersenyum dengan mata yang berkaca sambil mengusap punggung Ayuka dengan lembut.
"Maaf, jika kakak dan Ayah sudah membuatmu sedih selama ini, kita semua tidak bermaksud untuk melakukannya."
"Iya kak, aku juga sangat bersyukur, Dikaku bisa kembali dalam keadaan baik-baik saja sekarang. Dan terimakasih karena sudah menjaganya untukku selama ini." Balas Ayuka mengusap air matanya yang menetes.
"Sebaiknya kau istirahat, Dika pasti sudah menunggu mu."
"Hmm.. " Balas Ayuka mengangguk pelan, sambil meremas jari-jari lentiknya. Ziyi yang melihat reaksi Ayuka yang nampak terlihat khawatir, langsung menggenggam tangan Ayuka. sebab Ziyi paham dengan apa yang di khawatirkan Ayuka saat ini.
"Apa kau masih merasa takut jika Dika menyentuhmu?" tanya Ziyi perlahan.
"Kak.. Aku... "
"Aku tau, kau masih trauma dengan perlakuan Dika waktu itu, tapi Dika yang sekarang sudah bukan Dika yang dulu lagi, percayalah." Balas Ziyi yang berusaha menenangkan Ayuka.
"Iya kak, aku tau, aku jelas bisa merasakannya, tapi.. "
"Dia sangat mencintaimu sekarang, dia tidak akan menyakitimu."
"Hmm.. Aku tau, Terimakasih Kak,"
"Iyaa sayang," Jawab Ziyi mengangguk, menatap punggung sempit Ayuka yang terus berjalan, menaiki anak tangga menuju kamarnya.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.