I Still Want You

I Still Want You
Sikap dingin Radika.



* MANSION UTAMA.


Masih dengan suasana yang meriah di sebuah kediaman seorang Kaiden Zaferino, bukan hanya para pengusaha dan pejabat penting yang hadir pada malam ini, namun juga beberapa wartawan turut menghadiri acara istimewa keluarga Zaferino pengusaha ternama yang saat ini sudah menjadi perbincangan hangat di setiap media juga kalangan pengusaha dan kalangan masyarakat yang mengenal namanya, berita atas pernikahan putra sulungnya Zaferino Radika bahkan sudah menjadi tranding topik saat ini, begitu juga dengan istrinya Elvan Ayuka Bagaskara, gadis yang membuat kebanyakan para wanita menjadi iri dengan keberuntungannya yang sudah berhasil membuat sang anak sulung jatuh hati padanya dan menjadikannya seorang Ratu di Kerajaan Zaferino, pengusaha kaya raya yang sangat terkenal. setidaknya itulah isi pemberitaan dari para media dan wartawan yang tidak mengetahui sama sekali jika pernikahan itu terjadi karena adanya sebuah perjodohan. Bahkan wajah manis Ayuka sudah banyak bermunculan di setiap sosial media dan menjadi pencaharian nomor satu.


"Selamat atas pernikahan anda, Nyonya Radika." Ucap Bian dengan senyumannya.


"Bian,"


"Tidak seharusnya kau sendirian di sini, kemana suamimu?" Tanya Bian sambil mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Radika yang sejak tadi tidak di lihatnya.


"kemana dia?"


"Sedang mengobrol dengan beberapa tamu undangan di sana," Jawab Ayuka sambil melayangkan pandangannya ke arah suaminya dan Arka yang tengah mengobrol serius dengan beberapa relasi bisnis mereka di sana. Begitupun dengan Tuan Kaiden yang di dampingi anak pertamanya Ziyi yang juga tengah mengobrol dengan beberapa tamu penting juga rekan bisnisnya.


"Apa kau tidak makan? Sejak tadi aku memperhatikanmu, kau hanya melamun dan tidak menyentuh makanan sedikitpun." Tanya Bian sambil menyodorkan sepiring cake stroberi favorit Ayuka.


"Ah tidak, aku tidak lapar." Tolak Ayuka sambil menggeleng pelan.


"Yuka, ini sudah berjam-jam, kau bisa sakit nanti." Ucap Bian dengan nada kekhawatiran.


"Hmm, aku tidak apa-apa. Sebentar lagi, aku masih harus menyapa dan menemani beberapa tamu undangan." Balas Ayuka tersenyum sambil menyapa paru tamu undangan yang mulai berpamitan untuk pulang, juga para tamu yang baru saja datang.


"Baiklah, sepertinya aku juga harus pulang, tapi ingat, kau jangan sampai lupa makan."


"Sekarang?"


"Hmm," Jawab Bian mengangguk, dan kembali menarik nafas dalam saat melihat ekspresi murung Ayuka.


"Ada apa dengan ekspresi itu? Ayolah.. Kau bisa membuat para tamu di sini jadi salah faham, mereka akan mengira jika aku sedang membuat pengantin wanita ini bersedih." Goda Bian terkekeh.


"Hei.. Berhenti bercanda." Balas Ayuka sambil memukul lengan Bian yang sedikit meringis sambil mengusap lengannya.


"Baiklah.. Aku akan menemui Tuan Kaiden untuk berpamitan, dan kau Beby, seharusnya kau berada di samping suamimu, bukannya di sini seorang diri, aku khawatir bisa-bisa pengantin wanita yang cantik ini di culik seseorang." Ucap Bian setengah berbisik, tampa menyadari tatapan tajam seseorang yang sejak tadi mengamati mereka berdua.


"Berhentilah bercanda, Pergilah.." Balas Ayuka tertawa yang masih menatap punggung Bian yang dalam sekejab telah menghilang di balik kerumunan para tamu undangan.


"Selamat atas pernikahan Anda Tuan muda."


"Ucap Dokter Rafindra sambil menepuk pundak Radika yang hanya di sambut anggukan oleh Radika dan kembali melemparkan pandangannya ke Ayuka yang masih betah memasang senyum manisnya untuk menyapa para tamu, bahkan ia bisa dengan jelas melihat wajah lelah istrinya saat ini.


"Seharusnya kau berdiri di sampingnya, bukan malah berdiri di sini dan menatapnya dari kejauhan." Goda Bian yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping Radika.


"Tutup mulutmu." Balas Radika yang langsung mengalihkan pandangannya.


"Baiklah, aku akan menutup rapat mulutku. Aku harus pulang sekarang."


"Secepat itu?" Tanya Radika mengernyit.


"Hmm, atau kau ingin aku menemanimu sepanjang malam disini?" Jawab Bian yang lagi-lagi menggoda Radika.


"Maka aku akan membunuhmu." Balas Radika yang kembali membuat Bian terbahak, begitupun dengan Arka yang hanya tersenyum saat mendengar percakapan di antara keduanya.


"Arka, bisakah kau mengurus para tamu undangan untukku? aku akan ke dalam sebentar." Tanya Radika kepada Arka yang langsung mengangguk paham.


"Baik Tuan Muda, saya akan mengurus semuanya."


"Trimakasih Arka," Balas Radika yang langsung melangkah pergi sebelum berpamitan terlebih dahulu, dan meninggalkan mereka juga para tamu undangan untuk menhampiri istrinya yang sudah nampak kelelahan setelah berjam-jam berdiri menyambut para tamu yang terus berdatangan.


"Kau nampak kelelahan." Ucap Radika sambil menatap wajah istrinya yang memang sudah sangat kelelahan.


"Ah.. Aku tidak apa apa" sangkal Ayuka seraya menggeleng perlahan dengan senyum manisnya.


"kita akan istrahat sebentar." Balas Radika lagi.


"Tapi masih banyak tamu yang berdatangan."


"Jangan khawatir Arka dan kak Yi yang akan mengurusnya." Balas Radika seraya mengalihkan pandangannya ke arah Arka yang tengah mengangguk padanya.


"Tapi bagaimana kalau Ayah mencari kita?" Tanya Ayuka sedikit khawatir yang membuat Arka sedikit jengah dengan kebawelan Ayuka.


"Itu lebih baik dari pada melihatmu pingsan di sini karena kelelahan." Jawab Radika yang langsung melangkah meninggalkan tempat tersebut. Hingga langkah kakinya kembali terhenti di tengah perjalanan.


"Kenapa masih di sana?" Tanya Radika lagi saat menyadari Ayuka tidak berada di belakangnya, tidak mengikutinya, dan masih terdiam di sana.


"Ahh maaf." Jawab Ayuka yang perlahan berjalan mendekati Radika yang masih berdiri menunggunya. Tampa mengucapkan satu kata pun, Radika langsung meraih tangan Ayuka untuk di gandengnya dan terus berjalan melewati para tamu undangan dengan senyum yang masih tergambar di wajah keduanya. Untuk sesaat Ayuka dapat merasakan saat tangannya di genggam erat oleh Radika.


"Genggaman tangannya masih sama seperti dulu, masih terasa dingin"


Batin Ayuka yang terus mengikuti langka lebar Radika masuk ke dalam lift untuk menuju ke lantai tiga letak kamar mereka.


Begitu keduanya sampai ke Mansion yang di sana hanya ada beberapa pelayan yang bertugas menjaga Mansion, Radika langsung melepaskan genggaman tangan mereka dan berjalan mendahului Ayuka yang langsung berlari kecil mengikuti langkah lebar Radika.


"Istirahatlah dulu"


Ucap Radika saat mereka tina di sebuah kamar yang sangat luas dengan nuansa biru muda yang menjadi warna Favorit Ayuka. Bahkan tampa menunggu jawaban dari Ayuka, Radika langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sedang Ayuka masih tertegun sbil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan kamar mereka.


"Kamar yang terlihat sangat indah." Gumam Ayuka.


"Ada apa?" Tanya Radika tiba-tiba membuyarkan lamunan Ayuka.


"Ahh ti..tidak apa-apa."


Jawab Ayuka sedikit tersentak karena terkejut mendengar suara suaminya yang baru keluar dari kamar mandi dan sudah berdiri tepat di hadapannya.


"Bahkan sudah 15 menit kau terus melamun, hingga tidak menyadari kedatangan ku." Ucap Radika.


Ucap Ayuka dengan bola matanya yang melebar sempurna juga detak jantung yang ikut berdebar saat melihat penampilan suaminya yang hanya menggunakan handuk putih yang terlilit di pinggangnya dengan rambut yang masih setengah basah menutupi dahinya, hingga pemandangan di depannya saat ini sontak membuat wajahnya memerah.


"Kenapa masih menggunakan gaun itu? Apa kau berniat tidur sambil menggunakan gaun pengantinmu?"


Tanya Radika lagi saat melihat Ayuka yang masih memakai gaun pengantinnya. Melihat tidak ada respon sedikitpun dari Ayuka yang masih tediam, dengan cepat Radika membalikkan tubuh ramping itu hingga membelakanginya dan langsung menurunkan resleting gaun itu hingga membuat punggung mulus istrinya terekspos sampai ke atas pinggul tepat di hadapan Radika yang sudah menahan rasa mual sejak tadi. Sedang jantung Ayuka kembali berdetak sangat kencang sambil meremas gaung pengantinnya saat di rasakan jari-jari dingin suaminya menyentuh kulit punggungnya saat membuka resleting gaunnya.


"Jangan salah paham, aku hanya membantumu melepaskannya. Aku tau kau tidak nyaman dengan gaun berat ini, kau bisa membukanya di ruang ganti." Ucap Radika yang tidak ingin Ayuka berfikiran buruk tentangnya.


"Iy.. Iyaa... "


Jawab Ayuka terbata, dan langsung melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. 20 menit berlalu, Ayuka keluar dari kamar mandi dengan menggunakan piyama yang sudah di siapkan di ruangan ganti.


"Kau sudah selesai?". Tanya Radika yang sedang duduk di tepi ranjang seraya menatap istrinya yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi, bahkan tidak bergerak sedikitpun dari sana.


" Kau baik-baik saja?" Tanya Radika dengan kening yang menyatu.


"Aku baik-baik saja, akku hanya..." kalimat Ayuka menggantung saat melihat ekspresi dingin dari Radika yang kini telah menjadi suaminya.


"Istirahatlah, malam ini kita menginap di Mansion utama dulu, besok pagi kita bisa pulang ke rumah." Balas Radika uang langsung beranjak dari duduknya sambil meraih tablet yang terletak di atas nakas samping tempat tidur mereka dan melangkah menuju pintu keluar


"Apa Anda tidak.." Pertanyaan Ayuka kembali menggantung.


"Ada apa?" Tanya Radika yang seketika menghentikan langkahnya sambil berbalik menatap Ayuka yang masih berdiri di posisinya sejak tadi.


"Ahh tidak apa-apa."


"Aku juga akan tidur, di kamar seblah, Apa kau keberatan?" Tanya Radika lagi.


"Kamar seblah?"


"Hmm.. Ada apa? Apa kau ingin aku tidur bersamamu?" Tanya Radika sekali lagi yang hanya bisa membuat Ayuka terdiam.


"................ "


"Mungkin aku bisa saja melakukan sesuatu hal yang buruk padamu jika kita tidur bersama. Apa kau tidak memikirkan hal itu? atau kau tidak takut padaku?"


Ucap Radika dengan tatapannya yang semakin dingin, dan membuat jantung Ayuka seolah membeku, hingga membuat nafasnya seolah tercekik, ia hanya bisa tertunduk dalam sambil meremas ujung piyamanya dan menggigit bibir bawahnya.


"Ta... Tapi kita kan sudah.."


"Sudah menikah? Yah aku tau, kau istriku sekarang. Tapi maaf, kita tidak bisa tidur dalam satu kamar."


"Bi.. Bisa aku tau apa alasannya?" Tanya Ayuka yang terlihat ragu dengan pertanyaannya, apalagi saat melihat wajah Radika yang semakin dingin.


"Aku hanya tidak ingin menyentuhmu." Jawab Radika dengan nada datar.


"Ta.. Tapi... "


"Aku tidak bisa melakukannya, karena aku memang tidak menginginkanmu."


"Maaf.. Aku juga tidak memintanya, tapi setidaknya... "


"Aku lelah dan ingin beristirahat." potong Radika yang langsung melangkah keluar, namun kakinya kembali terhenti tepat di depan pintu kamar mereka.


"Dan satu lagi, jangan menuntut banyak dariku, kita menikah bukan karena aku yang menginginkannya. Dan aku rasa kau cukup mengerti kan? meskipun aku tidak menjelaskannya padamu?"


Lanjut Radika dengan segala pertanyaannya yang cukup membungkam mulut Ayuka, bahkan tampa menunggu jawaban dari Ayuka ia langsung beranjak pergi meninggalkan Ayuka yang masih terdiam menatapnya dengan mata berkaca. Ayuka menarik nafas panjang, mencoba menahan rasa sesak di hatinya.


Perlahan ia melangkahkan kakinya menuju tempat tidurnya, merebahkan tubuh lelahnya di sana, Ayuka membalikkan badannya dengan posisi menyamping, sambil menatap bantal yang seharusnya di pakai suaminya saat ini, menatap sisi ranjang seblahnya yang seharusnya ada suaminya untuk menemaninya. Ayuka berusaha keras untuk memejamkan matanya yang sudah mulai berkaca, namun mengapa begitu sulit, bahkan butiran bening yang sejak tadi di tahannya malah menitik dari sudut matanya.


"Tidak, aku tidak boleh menangis, ini hanyalah masalah kecil, tenang Ayuka.. kau pasti bisa melewatinya," Gumam Ayuka yang sedang berusaha keras menghibur kekalutan hatinya. Namun tetap saja, kesedihannya saat ini tidak mampu membuatnya terpejam, hingga akhirnya ia beringsut turun dari tempat tidurnya, dan langsung melangkahkan kakinya keluar kamar. Meski akhirnya ia kembali terdiam di ujung tangga kamarnya, sebab ukuran Mansion yang sungguh tidak masuk di akal Ayuka membuatnya hanya bisa terpaku dengan rasa bingung yang membuatnya terlihat bodoh.


"Kenapa ruangan ini begitu luas?" Guman Ayuka menyapu tiap sudah ruangan dengan mata birunya, yang di sana nampak beberapa pintu ruangan, ruangan keluarga, dan juga entah pintu kamar atau ruangan lain. Hingga akhirnya ia bisa bernafas lega saat netranya melihat dua wanita yang menggunakan seragam yang sama, berwarna hitam putih yang sepertinya seorang pelayan di Mansion tersebut. Bahkan masih berjarak beberapa meter saja dari tempat Ayuka berdiri sekarang, mereka sudah membungkuk untuk memberi hormat, dan tentu saja, Ayuka yang belum terbiasa dengan perlakuan seperti itu tentunya langsung merasa canggung.


"Selamat malam Nyonya muda, apa ada yang bisa kami bantu?" Tanya salah seorang pelayan tersebut yang masih membungkuk.


"Ah tidak, aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar." jawab Ayuka tersenyum.


"Nona Muda Ayuka, ada apa?" Tanya Bibi Choi, yang tiba-tiba datang dan langsung menghampiri mereka.


"Maaf, Nona Muda ingin mencari udara segar." Jawab Salah satu pelayan tersebut sebelum Ayuka yang menjawab pertanyaan Bibi Choi.


"Benarkah Nona?" Tanya Bibi Choi lagi kepada Ayuka.


"Iya Bibi, Apa aku boleh keluar sebentar?" Tanya Ayuka penuh harap.


"Tentu saja Nona, dengan izin Tuan muda Dika." Jawab Bibi Choi yang langsung melunturkan senyum di wajah Ayuka. tentu saja dia tidak akan mendapatkan izin, bahkan sejak tadi mereka sudah tidak saling bertemu sama lain. Adapun Ayuka harus meminta izin tentu saja ia sudah tau jawaban apa yang akan ia dapatkan, dengan melihat sikap dingin Radika saat ini, bahkan Ayuka ke Neraka pun, Radika tidak akan peduli, justru dengan senang hati Radika mengizinkannya. Dan entah mengapa, Ayuka menjadi sangat sedih dengan pemikirannya sendiri.


"Ada apa Nona muda?" Tanya Bibi Choi saat melihat Ayuka terdiam dengan wajah kusut.


"Tidak apa-apa, hanya saja aku tidak bisa untuk meminta izin, sebab Tuan Dika sudah tertidur karena kelelahan, aku tidak mungkin kan membingungkannya," Jawab Ayuka mencari alasan yang sekiranya bisa di Terima oleh Bibi Choi. meskipun ia belum menyadari jika jawabannya terdengar ambigu dan mebuatkan kedua pelayan tersebut terbatuk pelan secara bersamaan, apalagi saat melihat penampilan Ayuka sekarang yang hanya menggunakan piyama.


"Tapi, Nona Muda tidak bisa keluar tampa seizin Tuan Muda, atau Nona bisa keluar tapi harus dengan pengawalan Bodyguard." Jelas Bibi Choi yang membuat Ayuka menelan ludah kasar dengan peraturan ketat di Mansion ini.


"Bukankah ini terlalu berlebihan? aku hanya akan ke taman mencari udara segar." Jawab Ayuka perlahan.


"Maaf Nona Muda, ini sudah peraturan Mansion, dan Tuan Besar langsung yang membuat peraturan ini." Jelas Bibi Choi yang langsung membuat Ayuka mengangguk, apalagi saat mendengar jika peraturan ini di buat langsung oleh Tuan Kaiden.


"Baiklah, mungkin lain waktu saja, aku akan kembali ke kamar." Jawab Ayuka dan langsung melangkahkan kakinya kbali menuju ke kamarnya.


* * * * *


* TO BE CONTINUED.