
Cahaya matahari pagi masuk menyelusup melalui cela jendela yang tidak sepenuhnya tertutupi tirai, hingga sinar matahari pagi yang hangat dengan leluasa bisa masuk menyapa wajah lembut Ayuka yang enggan membuka kelopak matanya yang memang masih sangat berat dan mengantuk, hingga suara langkah kaki yang sangat ia kenali mendekati pintu kamarnya, membuka knop pintu dan terus melangkah ke arah jendela, membuka tirai itu hingga cahaya matahari pagi dengan leluasa masuk ke dalam ruangan kamar nuansa biru muda tersebut.
"Morning kak."
Sapa Ayuka dengan suara seraknya, sambil terus mengerjapkan kedua matanya yang terkena cahaya matahari dari balik tirai, sambil menyesuaikan sinar yang masuk dalam retinanya.
"Morning, apa tidurmu nyenyak? Bangunlah untuk sarapan, kita punya tamu di bawah, tidak sopan jika kita membuatnya menunggu lama." Jawab Arka sambil duduk di samping tempat tidur adiknya yang masih terbungkus selimut tebal.
"Tamu? Siapa kak?" Tanya Ayuka yang masih enggan untuk menggerakkan tubuhnya. Sepertinya ia masih betah di dalam selimut hangatnya.
"Atasan kakak di perusahaan."
"Oh.. Atasan.. "
Sepersekian detik Ayuka mencerna ucapan kakaknya, hingga matanya membulat sempurnah saat ia tersadar jika tamu yang di maksud Arka adalah atasannya Radika.
"What? Maksud kakak yang itu.."
Ayuka tidak mampu lagi melanjutkan kata katanya dan langsung bangkit dari pembaringannya, menyibakkan selimut yang membungkus tubuhnya dan bangkit dari pembaringan nyamannya. Seketika itu juga Ayuka langsung merasakan gugup dengan jantung yang mulai berdebar.
"Ada apa? Sepertinya kau terlihat gugup?"
Tanya Arka saat melihat reaksi adiknya yang sungguh tidak seperti biasanya.
"Ahh tidak, tidak apa apa kak." Jawab Ayuka menggelengkan kepalanya cepat dengan senyum gugupnya yang semakin membuat Arka bingung.
Aku hanya gugup karena terlalu bahagia.
Batin Ayuka dengan senyum.
"Iya sudah, ayo kita sarapan."
"Kakak duluan saja, biar Yuka ganti baju dulu, ahh tidak, mandi dulu, atau... "
"Ayuka.. Kita hanya sarapan biasa di bawah, tidak kemana mana."
"Ahh iyaa kak, hahahaha.." Balas Ayuka tertawa renyah sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. berusaha menutupi rasa gugupnya, sedang Arka yang sudah sejak tadi memperhatikan gerak-gerik aneh dari Ayuka hanya bisa menggeleng, sungguh ini bukanlah sikap Ayuka sehari-hari.
"Berhentilah bertingkah aneh, dan cepatlah bersihkan wajahmu, kakak akan menunggu mu di bawah." Ucap Arka dan langsung meninggalkan adiknya yang masih terdiam dalam pikirannya.
"Astaga bantu aku Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku tidak yakin bisa menyembunyikan semuanya dari kakak, dan lagi kenapa mesti bertamu di pagi hari."
Gumam Ayuka yang masih tertunduk lesu sambil terus memikirkan segala macam cara untuk menghindari sarapan bersama itu. Hingga akhirnya terulas senyum di wajahnya sambil melihat meja riasnya.
"Selamat pagi" Sapa Ayuka.
Arka terdiam memandang wajah kedua pria yang sedang menatapnya dengan tatapan heran sekaligus kaget saat melihat penampilan Adiknya sekarang yang tiba-tiba menggunakan masker dan hoodie merah muda untuk menutupi kepalanya.
Ayuka mengintari meja makan dan memilih duduk di samping kakaknya untuk menghindari tatapan Radika yang sudah sejak tadi mengikutinya sejak ia turun dari lantai atas hingga Ayuka sudah berada tepat di hadapannya. Ayuka mendudukkan pantatnya dengan perlahan seolah takut menimbulkan suara brisik yang akan menggangu mereka bedua.
"Apa yg terjadi? Masker ini? Kamu sakit?"
Tanya Arka sambil terus menatap wajah adiknya yang masih menundukkan kepalanya sambil menggeleng pelan, bahkan sejak tadi Arka sudah merasakan keanehan pada adiknya.
Apa karena Yuka merasa malu dengan keberadaan Tuan Muda? Tapi bukankah ini tidak terlalu berlebihan dengan berpenampilan seperti itu?
Batin Arka semakin bingung.
"Dia adikmu?" Tanya Radika sambil terus menatap lekat wajah Ayuka yang masih tertutup masker.
Astaga, ternyata adik si robot ini lebih aneh lagi, sungguh keluarga yang sempurna.
Batin Radika sedikit menggeleng sambil menatap Arka dan Ayuka secara bergantian, hingga tatapannya kembali tertuju kepada Ayuka.
Tapi tunggu, mata biru itu, kenapa sangat tidak asing, apakah dia.. Ah tidak mungkin, aku pasti salah orang, dia bukan si kucing kecil itu.
Batin Radika masih terus menatap Ayuka yang masih tertunduk sambil memegangi sendok garpunya.
"Yuka, bagaimana kau bisa makan jika terus menggunakan masker?" Tanya Arka lembut.
"Ahh ini.. maaf kak, Yuka lupa." Jawab Ayuka dengan suara yang sangat pelan bahkan nyaris tidak terdengar oleh mereka.
kenapa aku lupa kalau harus makan, aahh.. padahal aku sudah berharap ini akan menjadi ide yang sangat brilliant, dasar bodoh.
Batin Ayuka sambil terus merutuki dirinya, yang dengan perlahan membuka maskernya dan langsung menatap wajah terkejut Radika yang sudah sedari tadi menatapnya.
"Hai kucing kecil, ternyata itu kamu?" Tanya Radika tersenyum miring sambil berusaha untuk menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Tu.. tunggu, Anda mengenal adik saya?"
Tanya Arka yang malah tidak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Jadi yang semalam itu adik saya, bukan Dokter?"
"Tsk, luka sekecil ini apa perlu ke Dokter, lagi pula kau tidak perlu khawatir, adik kamu bisa melakukanya dengan baik."
Jawab Radika yang sedikitpun tidak memalingkan pandangannya. ia masih terus menatap Ayuka yang akhirnya memasukkan sepotong Sandwich di dalam mulutnya, bahkan hanya butuh beberapa kunyahan saja Ayuka langsung menelan Sandwich tersebut yang otomatis langsung membuatnya tersedak, bahkan hanya untuk meraih segelas air putih di hadapannya saja ia enggan, ia hanya bisa mengelus dadanya tampa mempunyai niat sedikitpun untuk membalas tatapan Radika yang sebenarnya ia sadari jika sejak tadi pria itu terus menatapnya. Dan untuk beberapa saat Radika hanya bisa terdiam dalam pikirannya.
Ternyata itu benar dia, dan kenapa mesti adik Arka, dan bodohnya aku yang tidak mengetahuinya. Aahh sial..apa yang harus aku lakukan sekarang.
Batin Radika yang lebih memilih menundukkan kepalanya sambil terus mengunyah makanannya. Dan yang anehnya,tiba-tiba saja muncul rasa kecewa di sudut hatinya. Ia bahkan sempat berfikir jika Ayuka hanyalah seorang wanita biasa seperti kebanyakan yang bisa ia jadikan teman untuk bersenang-senang. Sedang Arka yang sejak tadi memperhatikan reaksi keduanya hanya bisa terdiam. ia sesekali menatap wajah adiknya, memperhatikan gerak gerik adiknya yang sangat jelas terlihat gugup dengan rona merah diwajahnya.
Apa Tuan Dika pria yang Yuka sukai? kalau memang benar, kenapa mesti Tuan Dika yang bahkan tidak ingin memberikan hatinya kepada siapapun.
Batin Arka prustasi, dan bahkan ia mulai merasakan gelisah juga rasa takut yang tiba-tiba mulai menyelimuti hatinya.
"Yuka.. Kau baik baik saja?"
Tanya Arka lagi yang hanya di balas anggukan oleh Ayuka, dan hal itu cukup bisa membuat Arka tersenyum sambil mengusap pucuk kepala adiknya lembut.
Arka bahkan masih berusaha keras untuk menyembunyikan rasa ketakutannya, dan hanya bisa berharap jika apa yang dipikirkannya kali ini adalah salah.
Dan saat usai dengan sarapan mereka, Ayuka bergegas merapikan beberapa piring dan gelas di atas meja, untuk di bawah ke wastafel, dan saat Ayuka akan mulai mencuci gelas dan piring tersebut, dengan cepat Arka melangkah menghampiri Ayuka dan langsung mengambil spons yang berada di tangan Ayuka.
"Biar kakak yang melakukannya, masuklah ke kamarmu sekarang." perintah Arka tersenyum yang langsung di balas anggukkan oleh Ayuka.
"Ahh baiklah."
ucap Ayuka masih tersenyum, lalu melangkah meninggalkan kakaknya. Namun belum sempat langkah kaki Ayuka menginjak ujung anak tangga untuk menaikinya, tiba-tiba ia mendengar suara bariton dari Radika yang memanggilnya, dan ia yakin itu ditujukan untuknya, sebab ada kata "Kucing kecil" yang keluar dari mulut Radika.
"Ada apa?" Tanya Ayuka sambil berjalan menghampiri Radika yang sedang duduk di sofa, menyilangkan kakinya sambil memainkan tablet miliknya.
"Apa kau bisa tidak se gugup itu saat melihatku?" Tanya Radika menekankan kata "gugup" sambil mendongakkan kepalanya menatap Ayuka yang tengah berdiri tepat di sampingnya.
"Siapa bilang aku gugup!" Jawab Ayuka menyangkal sambil melemparkan pandangannya ke arah lain, berusaha untuk menghindari tatapan tajam Radika yang langsung menyeringai.
"Tapi yang aku lihat memang seperti itu, bukannya kau sendiri yang mengatakan bahwa kau tidak jatuh cinta padaku, tapi rasa gugupmu yang berlebihan itu bisa membuatku salah faham."
"Aku tidak bermaksud membuat Anda untuk salah paham."
"Benarkah? Lalu masker itu?" Tanya Radika kembali menatap wajah Ayuka, melihat masker yang masih menempel, menutupi dagu lancip Ayuka.
"Ahh.. Ini.. Aku hanya ingin memakainya saja, aku sedang flu." Jawab Ayuka terbata. Sungguh sebuah alasan yang tidak masuk di akal Radika yang mengernyit.
"Tsk, kau memang sesuatu." Balas Radika yang langsung beranjak dari duduknya dan melangkah masuk kedalam kamar utama, meninggalkan Ayuka yang masih berdiri menatap punggungnya sambil merutuki dirinya sendiri atas ide yang sudah membuatnya merasa malu sendiri.
Sedang Arka masih terdiam di depan wastafel dengan kegelisahannya, ia yang tidak sengaja mendengarkan percakapan mereka membuatnya semakin yakin dengan apa yang dipikirkannya. Bahkan sudah cukup yakin dengan gerak gerik adiknya yang selalu menggigit bibir bawahnya bila merasa gugup, dan malu, rona merah di wajah adiknya saat Radika tersenyum padanya, juga tatapan mata adiknya yang tidak biasa kepada Radika. Perasaan Radika semakin gusar. memikirkan adiknya yang suatu saat akan tersakiti dan menangis membuatnya semakin takut. Sebab, meskipun ia sudah berusaha meyakinkan hatinya jika apa yang dipikirkannya saat ini salah, namun kenyataan yang ia lihat tidaklah seperti itu.
Dan 15 menit berlalu setelah sarapan yang penuh dengan ketegangan usai, nampak Ayuka termenung di kursi taman samping rumahnya, tatapan matanya tertuju pada jejeran rumput semanggi yang tumbuh subur di taman bunganya.
"Semoga kakak tidak mengetahui perasaanku pada pria itu, aku yang terlalu biasa, bukankah itu hal yang mustahil. Sementara pria itu lebih berhak di cintai oleh wanita yang sepadan dengannya. Bahkan memikirkan keluarganya saja membuatku takut. Tapi ada apa dengan hatiku, yang sedikitpun tidak bisa melupakan tatapan dan senyum manis itu." Gumam Ayuka yang tiba-tiba merasakan sakit di dalam hatinya, sebab hatinya sekarang seakan menolak untuk melupakan pria itu.
"Kak Arka maafkan aku yang ternyata sudah jatuh cinta padanya." Lirih Ayuka menghela nafas panjang.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Tanya Radika yang ternyata sudah sejak tadi berdiri di sampingnya dengan setelan jas seperti biasa yang selalu membuat Arka terlihat tampan di mata Ayuka.
"Kakak akan berangkat sekarang? Bukankah ini masi pagi?" Tanya Ayuka melirik jam tangannya yg masih menunjukkan pukul 07:00.
"Iya, kakak harus ke Panthouae Tuan Muda dulu. Dan hari ini jadwal cukup padat. Sepertinya kakak akan terlambat untuk pulang, kau tidak apa apa kan?"
"Iya kak, tidak apa apa."
Balas Ayuka tersenyum. Dan saat ia akan beranjak dari duduknya, kembali netranya tertuju pada Radika yang baru saja keluar dari rumah mereka, bahkan Ayuka sampai tertegun saat melihat pemandangan indah di hadapannya saat ini.
Radika dengan baju kaos panjang hitam berleher tinggi di tambah jaket dan jam tangan dengan warna senada. Dan jangan lupa dengan rambut yang di sisir ke atas, meski sedikit berantakan tampa sentuhan pamode, tapi itu malah membuat Radika terlihat semakin tampan. Hingga bisa membuat Ayuka tersenyum tampa di sadarinya. Dan saat melihat hal itu ukup membuat Arka semakin yakin dengan dugaannya.
Ternyata dia pria yang kau sukai, apa yang harus kakak lakukan sekarang Yuka? Kakak bahkan tidak tega menghilangkan senyuman di wajahmu itu, senyuman tulus untuk pria yang bahkan tidak membutuhkannya.
Batin Arka menatap sendu wajah adiknya.
"Kakak berangkat sekarang."
Ucap Arka seraya mengecup jidat adiknya lembut, sedang Radika yang melihat sikap lembut Arka pada adiknya hanya bisa tersenyum tipis. Apalagi saat matanya beradu pandang dengan Ayuka yang tiba-tiba membuat hatinya gusar dan ingin pergi secepatnya dan menghilang dari pandangan Ayuka. Radika mengangguk pelan sebelum akhirnya ia berjalan menuju ke mobilnya, yang di sana sudah ada Arka yang tengah menunggunya sambil membukakan pintu mobil untuknya. Ayuka menatap kedua pria tersebut sambil melambaikan tangannya. Hingga mobil mereka hilang dari pandangan mata Ayuka.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.