
Masih dengan obrolan ringan bersama sang kakak ipar, bahkan hari ini Ayuka sampai lupa, sudah seberapa banyak ia tertawa lepas, sejak kedatangan Ziyi untuk berkunjung satu jam lalu di Panthouse mereka.
"Iya sudah, aku ke kamar dulu untuk menaruh tas pakaian"
Balas Ziyi yang sontak membuat Ayuka panik. Ia hanya tidak ingin jika Ziyi sampai mengetahui kalau selama ini dirinya dan Radika sebenarnya tidur di kamar yang terpisah. Hingga ia mulai memikirkan berbagai alasan yang tepat, namun sepertinya otak Ayuka sedang tidak bekerja dengan baik hari ini.
"Oh iyaa.. Kakak bisa tidur di kamar tamu, aku akan membersihkannya untuk kakak." Ucap Ayuka dengan berbagai macam alasan.
"Tidak perlu, aku sudah terbiasa tidur di kamar utama, kau tidak perlu repot seperti itu." Balas Ziyi yang bahkan langsung melangkah menuju kamar utama. sedang Ayuka hanya bisa terdiam menatap punggung Ziyi yang melenggang masuk ke dalam kamar Utama yang sudah beberapa hari ini menjadi kamar Radika. Dan seperti dugaan Ayuka, Ziyi yang nampak sangat terkejut saat melihat kamar utama yang di dalam satu ruangan bahkan sudah di penuhi dengan barang barang pribadi milik Radika.
"Apa apaan ini?"
Gumam Ziyi saat membuka ruangan yang dipenuhi pakaian Radika, dan lemari berikutnya yang juga terdapat beberapa koleksi jam tangan juga sepatu. Hingga lima menit berlalu, Ziyi keluar dari kamar utama dengan wajah masamnya.
"Yuka.. Apa Selama ini Dika bersikap buruk padamu?" Tanya Ziyi saat kembali ke ruang tengah dan mendapati Ayuka yang masih duduk di sana dengan perasaan gelisah. ia bahkan tidak berani menatap wajah Ziyi yang kini tengah duduk di hadapannya.
"Yuka, kakak bertanya padamu," Tanya Ziyi sekali lagi.
"Tidak, Tuan Dika selalu bersikap baik padaku," Sangkal Ayuka yang berusaha untuk memasang senyum di wajahnya yang jelas di selimuti kegelisahan.
"Jangan menutupi sikap buruk Radika, dan apa selama ini kalian tidur terpisah?"
"............. "
"Jangan diam saja Ayuka, bahkan kakak sudah bisa menebaknya dari awal, ini pasti terjadi, selama ini Dika tidak memperlakukanmu dengan baik bukan?"
"Tidak kak, kita...... "
"Ayuka sayang, kakak tidak ingin kau menyembunyikan apapun dari kakak, termasuk menyembunyikan sikap buruk Radika terhadapmu."
".............. "
"Maafkan aku, karena terlambat mengetahuinya." Ucap Ziyi lagi dengan nada yang di penuhi rasa penyesalan.
"Ini bukan salah kakak, Tuan Dika juga tidak salah, mungkin dia belum terbiasa dengan pernikahan ini, tapi selama ini aku baik baik saja kak." Balas Ayuka yang masih tetap membela suaminya.
"Jangan terus membelanya hanya karena dia suami kamu, sebab biar bagaimanapun yang dilakukannya itu adalah salah."
"Kak, aku mohon.. " pinta Ayuka dengan mata yang mulai berkaca.
"Apa yang harus kakak lakukan untuk hubungan kalian?" Balas Ziyi yang langsung memeluk tubuh Ayuka, mata kebiruan yang sudah nampak berkaca itu membuat hati Ziyi merasakan sakit, perasaan marah seolah hilang saat melihat Ayuka memohon untuk suaminya yang bahkan selalu memperlakukannya dengan sangat buruk.
* * * * *
Jam menunjukkan pukul 01:30 dan Ayuka masih termenung di sofa ruang tengah rumahnya, kebiasaan baru yang selalu ia lakukan dalam beberapa hari ini adalah menunggu kedatangan suaminya yang akhir-akhir ini selalu pulang larut malam.
"Apa dia akan pulang terlambat lagi malam ini? Semoga dia bisa makan tepat waktu." Gumam Ayuka yang merasa cemas, bahkan sudah beberapa kali Ayuka terus melirik jam tangan yang melingkar di lengannya.
"Jein.. Istirahatlah, ini sudah sangat larut." Ucap Ziyi saat masih melihat Ayuka terdiam di ruang tengah sendirian.
"Sebentar lagi kak, biar aku menunggu sebentar lagi." Balas Ayuka.
"Baiklah.. Aku akan ke kamar dulu." Ucap Ziyi yang sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, selain membiarkan Ayuka dengan keinginannya sendiri.
"Iya kak."
Balas Ayuka mengangguk sambil memperlihatkan senyum manisnya yang seolah tidak pernah hilang dari wajahnya.
Hingga setengah jam berlalu senyum Ayuka kembali terlihat menghiasi wajah ngantuknya kala mendengar suara langkah kaki yang sudah di kenalinya. Dengan semangat Ayuka bergegas beranjak dari duduknya untuk menyambut kedatangan Radika dengan senyum manisnya. Dan di sana Ayuka dapat melihat wajah suaminya yang nampak sangat kelelahan. Dengan tatapan yang selalu sama setiap harinya. Tatapan dingin tanpa senyum sedikitpun di sana.
"Kenapa tidak tidur?" Tanya Radika sambil terus melangkah sambil melonggarkan dasinya.
"Aku sedang menunggu Anda." Jawab Ayuka yang terus mengikuti langkah Radika dari belakang.
"Seharusnya kau tidak perlu melakukannya."
"Aku hanya khawatir, Anda....."
"Berhentilah bersikap konyol. Kau membuatku sangat muak sekarang." Balas Radika yang seketika menghentikan langkah kakinya sambil berdiri menatap tajam Ayuka yang masih berdiri di hadapannya.
"Maafkan aku.. "
Balas Ayuka tertunduk sambil terus meremat jari-jari tangannya dengan sangat kuat hingga menimbulkan kemerahan di permukaan kulitnya yang hampir berdarah.
"Apalagi yang kau tunggu?" Tanya Radika mengernyit.
"Apa Anda sudah makan?" Tanya Ayuka perlahan.
"Hmm." Jawab Radika seadanya.
"Aku akan membuatkan Teh madu untuk anda."
"Tidak perlu."
"Baiklah, istirahatlah, aku sudah..... "
Kalimat Ayuka terhenti sebab Radika sudah berlalu pergi tampa mendengarkannya. Radika langsung menuju kamar Utama tampa mempedulikan Ayuka yang masih berdiri menatapnya.
Hal itu terus ia lakukan sampai menimbulkan kemerahan di permukaan kulitnya. Bahkan ia tidak pernah merasakan sakit apapun di tubuhnya, sebab rasa sakit di hatinya sudah teramat besar hingga ia sudah tidak bisa merasakan yang lain lagi.
* * * * *
Angin malam menyelusup masuk lewat sela jendela. Udara dingin di awal bulan April yang sudah memasuki musim semi. Angin malam itu menyapa wajah Ayuka yang tengah duduk menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, tatapannya kosong mengarah ke luar jendela. Sudah berjam jam ia terus duduk dengan posisi seperti itu, angin malam seolah menjadi teman terbaiknya saat ini yang setia menemani keterdiamannya.
Sudah satu bulan sejak pernikahannya dengan Radika. Dan selama satu bulan itu juga Ayuka terus mendapatkan perlakuan dingin dari Radika, apapun yang ia lakukan tidak pernah mendapat pengakuan dari Radika yang terus mengabaikannya, bahkan untuk bertemu Radika pun sekarang sudah sangat jarang di karenakan Radika yang disibukkan oleh pekerjaan hingga membuat Radika jadi jarang pulang kerumah.
Namun hal itu tidak membuat Ayuka merasa kesepian sebab ia sudah terbiasa sendiri, seolah kesepian sudah menjadi teman akrab baginya, dan meskipun Radika berada di rumah toh mereka juga tidak pernah saling berkomunikasi satu sama lain, sebab Radika hanya akan menghabiskan waktunya di Ruang kerjanya begitu juga dengan Ayuka yang akan tetap berdiam diri di kamarnya. Dan hal itu sudah berlangsung selama beberapa minggu, sejak pertengkaran Radika dengan kakaknya Ziyi terakhir kali yang sempat membuat Ayuka merasa sangat terpukul.
* FLASBACK.
"Ada apa denganmu? Tidak seharusnya kau memperlakukan istrimu dengan cara seperti itu." Ucap Ziyi dengan nada yang mulai meninggi.
"Aku tidak melakukan apapun padanya." Balas Radika yang masih bisa menekan emosinya, kendatipun saat ini hatinya sedang merasa marah atas sikap Ziyi yang selalu menyalahkannya atas semua yang terjadi.
"Tidak melakukan apapun? Lalu dengan mengabaikannya, bersikap dingin padanya? Itu yang kau maksud tidak melakukan apapun?" Timpal Ziyi yang semakin jengah dengan sikap Radika yang seolah tidak pernah melakukan kesalahan kepada istrinya.
"Sudahlah kak, aku capek dan tidak ingin berdebat." Balas Radika yang langsung beranjak dari duduknya.
"DIKA," Bentak Ziyi yang sepertinya sudah benar-benar marah.
"Jangan paksa aku untuk melakukan hal yang tidak ingin aku lakukan, dari awal aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini, kakak tau sendiri kan akan hal itu? karena inilah yang aku takutkan." Balas Radika yang sudah tidak mampu lagi menahan rasa amarahnya.
"Dika... Kenapa kau jadi sangat egois seperti ini?"
"Egois??? Aku?? Apa kakak lupa kalau akulah satu satunya yang menjadi korban dalam pernikahan ini? Aku bahkan tidak bisa menolak dan memberikan pendapatku sendiri. Dari awal juga aku tidak pernah menginginkannya, dan itulah kenyataannya."
"RADIKA.."
"Jika ada yang ingin di salahkan dalam hal ini, maka salahkan Ayah, dia yang telah membuatku terjebak dalam pernikahan ini."
"Dika.. Kakak mohon, jangan seperti ini, Yuka tidak berhak mendapatkan perlakuan seperti ini darimu, dia melakukan semuanya karena dia mencintaimu." Balas Ziyi dengan nada suara yang mulai melemah.
"Sudahlah kak. Aku sudah menjadi pria yang sangat bejat sekarang, aku tidak pantas mendapatkan cinta dari siapapun, begitupun sebaliknya. Cinta hanya akan membuat kita terluka dan akhirnya kita harus kehilangan semuanya. dan biarkan aku terus seperti itu, dari awal aku memang bukan pria yang baik, dan sampai kapanpun tidak akan pernah menjadi suami yang baik untuknya. Jadi jika dia ingin menyerah, sekarang lah saatnya, sebelum semuanya menjadi terlambat."
Ucap Radika yang langsung berlalu menuju kedalam kamarnya dan membanting pintu dengan sangat keras. Meninggalkan Ziyi yang masih duduk di sofa ruang tengah dengan mata yang mulai berkaca.
Sedang di sudut pantry air mata Ayuka yang sudah menganak sungai, tubuhnya bergetar menahan suara isakannya agar tidak terdengar. Kenyataan bahwa Radika yang tidak akan pernah menginginkannya sangat membuatnya terpukul. Ia melangkah perlahan menuju kamarnya dengan air mata yang terus mengalir. Ayuka menangis dalam diam, memukuli dadanya dengan sangat keras berulang kali.
Hingga sampai saat ini, sebulan telah berlalu, tidak ada kehangatan sedikitpun di rumah itu, Ayuka hanya akan berbicara jika Ziyi berada di sampingnya untuk menanyakan apa dia sudah makan, atau pertanyaan lain seperti menanyakan keadaannya, apa ia baik baik saja. Dan jawaban yang sama pun akan selalu keluar dari mulut Ayuka, seolah ia tidak pernah bosan untuk mengatakan "iya aku baik-baik saja" kalimat yang akan membuat Ziyi terdiam dan berhenti untuk bertanya lagi.
bahkan Ayuka sendiri sudah lupa bagaimana rupa Radika di saat ia tersenyum, Ayuka bahkan mulai menutup dirinya, sekalipun ia tidak pernah keluar rumah, bahkan untuk keluar kamar pun Ayuka enggan. Dia hanya akan keluar di saat Radika pulang kerja, atau menyiapkan makan malam dan sarapan untuk Radika, sekalipun Radika tidak pernah menyentuh makanan itu sedikit pun dengan alasan tidak merasa lapar ataupun sudah makan di luar.
Meskipun demikian Ayuka masih akan terus memasak dan menyiapkan makanan untuk Radika, tidak peduli dengan penolakan ataupun sikap dingin Radika padanya.
Melihat perubahan sikap Ayuka sangat membuat Ziyi khawatir, hingga ia memutuskan untuk tinggal di Panthouse mereka. Ia terus menguatkan Ayuka, selalu memberikan semangat dan terus menghibur Ayuka. Bahkan hal yang paling sulit adalah ia harus menyembunyikan semuanya itu dari Arka atas permintaan Ayuka yang tidak ingin membuat kakaknya merasa khawatir. Biarlah Arka mengira bahwa selama ini Ayuka Baik baik saja dan hidup sangat bahagia bersama suaminya.
Meski kenyataannya berbeda. Tapi itulah keinginan Ayuka yang menjadi permintaannya kepada Ziyi. Ayuka hanya beruntung karena Arka tidak pernah menanyakan kabarnya kepada Radika.
* MANSION UTAMA.
"Bagaimana perkembangannya Ken?"
Tanya Tuan Kaiden kepada asistennya Ken.
"Seperti yang Tuan Besar duga, tidak ada yang berubah, yang saya lihat hubungan Tuan Muda dan istrinya semakin buruk." Jelas Ken.
"Dasa anak kurang ajar, sebenarnya apa yang di inginkan anak kurang ajar, ini bahkan sudah 1 bulan sejak pernikahan mereka," Balas Tuan Kaiden yang terlihat geram, apa yang ia dengar saat ini cukup membuatnya geram.
"Apa saja yang di lakukan Dika selama ini? apa dia masih suka menghabiskan waktunya di klab?" Tanya Tuan Kaiden lagi.
"Tidak Tuan, selama Tuan Muda menikah, Tuan muda tidak pernah lagi ke klab malam, ia bahkan selalu menolak untuk ke klab bersama rekan-rekan kerjanya. saya rasa ada hal lain yang terjadi kepada Tuan muda, entah selama ini yang saya lihat, Tuan muda sepertinya sedang berusaha menutup dirinya kepada istrinya sendiri." Jelas Ken lagi.
"Apa kau yakin tidak ada masalah lain?"
"Maksud Tuan Besar?" Tanya Ken yang belum memahami pertanyaan Tuan Kaiden.
"Apa tidak ada wanita lain di sekitar Dika?"
"Sepertinya tidak Tuan, saya bisa menjaminnya, bahkan yang saya lihat selama ini, Tuan muda tidak pernah memiliki seorang kekasih, ataupun seorang wanita yang dekat dengannya. dan Nona Ayuka adalah wanita pertama yang hadir dalam kehidupan Tuan Muda."
"Syukurlah.. jika bukan itu alasannya," Balas Tuan Kaiden masih merasa khawatir, dan hal yang wajar jika Tuan Kaiden mencemaskan hal tersebut, sebab ia tidak ingin kesalahan yang pernah terjadi dulu terulang lagi ke pada anaknya.
"Tuan tidak perlu mengkhawatirkan hal tersebut, sebab sikap dingin Tuan muda selama ini hanya karena Tuan muda belum bisa menerima pernikahannya." Balas Ken yang sepertinya paham dengan kekhawatiran Tuan Kaiden saat ini.
"Saya mengerti, tapi mau sampai kapan anak itu akan bersikap dingin kepada istrinya,"
"Maaf Tuan, mungkin kita harus lebih bersabar lagi untuk menunggu hati Tuan muda melunak."
"Saya khawatir, rumah tangga mereka akan semakin kacau, dan berakhir buruk. kau tahu kan, hal itu yang paling saya takutkan." Balas Tuan Kaiden dengan wajah yang di penuhi dengan kecemasan.
* * * * *
* TO BE CONTINUED.