
Ch 9 - Contract
Saat detak jantung Rifki perlahan tenang dan kesadarannya mulai terkumpul. Dia mencoba untuk memeriksa rahim Elsa dengan menyalurkan energinya ke dalam rahim Elsa di tengah hubungan mereka. Karena baru seminggu, sangat sulit untuk di deteksi apakah ada kehidupan kecil di dalam sana.
Namun Rifki bisa merasakan adanya energi kecil yang tumbuh dan selaras dengan energinya. Hal itu membuat dirinya yakin kalau Elsa saat ini tengah mengandung anaknya.
Ingin rasanya Rifki mengumpat. Tapi tentu saja mengumpat bukan gaya Rifki.
Elsa yang masih tak berdaya tengah menutup matanya menikmati momen indah bersama Rifki.
"Buka matamu!" Kata Rifki menyadarkan Elsa. Matanya tampak penuh ejekan dan kepuasan.
Melihat Elsa yang menutup matanya Rifki yakin bahwa saat ini pikiran Elsa pasti menikmatinya juga.
Berharap dirinya kembali memberi hukuman yang menyenangkan.
Sayangnya Rifki sedang tidak tertarik untuk melakukannya. Saat ini Rifki sedang benar-benar marah pada Elsa, tapi Elsa sama sekali tak menyadari hal itu. Dan itu membuat Rifki semakin ingin marah pada Elsa. Rifki mengambil nafas panjang, mencoba untuk menenangkan diri.
Percuma marah pada orang yang tidak peka dan tak merasa bersalah.
"Apakah kamu tidak penasaran mengapa kamu tidak bisa mengalahkan ku? Mengapa kamu bisa mengetahui apa yang ku katakan padamu walaupun aku tidak berbicara langsung padamu. Atau bagaimana aku bisa selalu memergokimu?" Tanya Rifki mencoba membuat Elsa penasaran.
Ya, tentu saja Elsa sangat penasaran, bagaimana Rifki selalu memergokinya saat dia menyelinap pergi ataupun saat dia melakukan suatu kesalahan.
Dan anehnya mengapa hatinya begitu peka terhadap apapun yang dikatakan Rifki pada teman-temannya sehingga dia menganggap hal itu sebagai sindiran halus padanya. Seolah Rifki berbicara padanya.
"Itu karena kita telah terikat kontrak jiwa." Kata Rifki menjelaskan.
Tak perlu dijelaskan lagi, Elsa tahu apa itu kontrak jiwa. Secara umum, hal itu hanya ada dalam novel Cina yang membahas tentang kultivasi. Bagi para praktisi beladiri yang memiliki tingkat ilmu tinggi biasanya menggunakan kontrak jiwa untuk mengikat jiwa soulbeast atau makhluk gaib sebagai budak.
Sebenarnya di dunia ini pun ada yang namanya kontrak jiwa. Sayangnya tidak banyak orang yang mengetahui adanya kontrak itu.
Karena banyaknya persyaratan yang harus dipenuhi dan betapa berbahayanya orang yang bisa menyalahgunakan kontrak tersebut untuk kepentingan mereka sendiri, maka keberadaan kontrak manusia sangat dirahasiakan.
Umumnya para praktisi hanya mengenal kontrak soulbeast atau makhluk gaib demi mendapatkan kepatuhan mutlaknya. Sebenarnya tidak semua makhluk gaib mau menjadi budak manusia, oleh karena itu biasanya mereka hanya mau patuh jika mereka mendapatkan imbalan yang layak. Saat ini sangat jarang makhluk gaib yang masih memiliki kontrak dengan manusia.
Elsa mengetahui hal itu karena Elsa pernah bertemu dengan penjinak mahluk gaib sebelumnya dan dirinya juga tahu bahwa ayah Rifki adalah seorang master penjinak makhluk gaib.
Kontrak jiwa manusia berlaku seperti akad nikah yang memungkinkan majikan menyentuh atau bahkan menyetubuhi budak tanpa dosa secara agama.
Namun umumnya hal itu jarang terjadi, dikarenakan adanya aturan alam yang melindungi.
Berbeda dengan kontrak jiwa soulbeast atau makhluk gaib, untuk melakukan kontrak dengan manusia, selain membutuhkan persyaratan yang tinggi dari master pemilik kontrak, juga membutuhkan persetujuan pihak wali (orang tua/penanggung jawab awal) yang juga harus memiliki ilmu tinggi karena kontrak jiwa manusia mengikat mereka dunia sampai akhirat.
Dengan kata lain, kontrak manusia hanya bisa berlaku untuk para master saja. Karena sang wali juga harus seorang master.
Karena adanya hukum alam yang melindungi, kontrak manusia membuat master atau guru secara otomatis menanggung semua dosa dan kesalahan dari murid, budak atau orang yang dikontraknya.
(Seperti praktek imprit pada werewolf mungkin mirip seperti itu tapi lebih rumit lagi.)
Master dapat memutuskan kontrak atau memberikan kebebasan kepada murid atau budak untuk memilih pasangan hidupnya.
Namun murid atau budak yang terikat kontrak harus mendapatkan persetujuan masternya untuk bisa menikah. Namun selama ini Elsa tidak menyadari hal itu.
Karena kontrak jiwa manusia hanya bisa dilakukan oleh wali yang memiliki kemampuan master, jelas kontrak antara Elsa dengan Rifki tak mungkin dilakukan oleh orang tua Elsa karena kedua orangtua Elsa jelas tidak memiliki kemampuan tersebut.
Elsa mencoba berpikir keras, siapa gerangan yang telah melakukan kontraknya dan kapan hal itu terjadi.
"Tak perlu bingung, kau harusnya ingat kalau beberapa tahun yang lalu kakek buyutmu mendatangimu dalam mimpi dan memasrahkan dirimu padaku." Elsa terperangah mendengar penjelasan Rifki.
Ya, Elsa ingat dirinya memang pernah bermimpi kakek buyut nya memasrahkan dirinya pada Rifki. Karena saat itu dia sangat membenci Rifki, tentu saja Elsa tak akan percaya pada mimpinya begitu saja.
Walaupun Elsa tahu bahwa ada beberapa mimpi yang nyata dan dirinya juga memiliki kemampuan untuk bertemu dengan beberapa jiwa master yang telah meninggal dunia lewat mimpi.
Tapi Elsa masih tak percaya diri. Setiap kali dirinya bermimpi bertemu master, dia masih menganggap bahwa itu hanya mimpi. Elsa tahu diri, dirinya masih terlalu kotor dan tak layak untuk di temui oleh para master.
Tak mungkin kakek buyut nya datang dalam mimpinya hanya untuk memberitahu bahwa beliau memasrahkan dirinya pada Rifki.
Walaupun Elsa tahu bahwa bagi seorang yang benar-benar berilmu tinggi, yang oleh Elsa biasa di sebut sebagai Master, mereka tak pernah mati. Hanya berpindah dimensi dari tubuh fana menjadi roh abadi.
Mereka juga masih bisa berkomunikasi dengan manusia dengan berbagai cara. Tentu saja manusia yang bisa diajak bicara bukanlah manusia biasa, tapi sesama Master. Yang jelas tidak semua keturunan Master bisa menjadi Master. Dan tidak semua keturunan Master mengetahui tentang keistimewaan para Master.
Biarpun Elsa tidak memiliki kemampuan khusus, tapi setidaknya Elsa sering mendengar cerita-cerita tentang Master dari gurunya yang juga merupakan guru Rifki. Dia juga tahu dari gurunya bahwa kakek buyutnya adalah seorang Master.
Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana bisa kakek buyut nya setega itu padanya, memasrahkan dirinya pada Rifki begitu saja tanpa meminta persetujuan dari dirinya. Terlepas dari betapa pun hebatnya Rifki. Elsa masih sulit untuk menerima Rifki sebagai guru atau masternya.
Biarpun orang lain mungkin akan sangat menginginkan agar bisa menjadi murid Rifki. Tapi tidak dengan Elsa. Dirinya tak pernah mengharapkan hal itu.
Walaupun Elsa tahu, kakek buyut nya tidak mungkin melakukan hal yang merugikan dirinya, dan kakek buyut nya melakukan hal itu demi kebaikan dirinya.
Tapi... Mengapa harus Rifki???!!
Orang yang paling menyebalkan bagi Elsa.
Selama ini Rifki terlalu kejam dan tidak berperasaan padanya. Sering menyiksa hatinya dengan berbagai sindiran. Siapa juga yang mau memiliki master yang kejam.
Jika memang mereka berdua memiliki kontrak, bukankah itu berarti dia tidak berdosa jika dia melakukan sesuatu pada tubuh Rifki. Karena ikatan kontrak manusia sama dengan ikatan suami-istri. Jadi bukankah seharusnya Rifki tak perlu marah padanya. Lantas mengapa Rifki begitu marah padanya?
Tunggu sebentar, jika kakek buyut nya bisa melakukan kontrak dengan Rifki, bukankah itu berarti Rifki juga seorang Master?
"Mengapa aku marah padamu?!" Tanya Rifki menegaskan apa yang ada dalam pikiran Elsa.
Sejak dirinya terikat kontrak dengan Elsa, terkadang dirinya bisa membaca pikiran Elsa.
Rifki heran, bagaimana bisa Elsa tidak tahu mengapa dirinya marah pada Elsa. Apakah Elsa terlalu bodoh atau terlalu pintar.
Bagaimana Rifki tidak marah mengetahui kehamilan Elsa. Biarpun janin itu adalah anaknya, tapi janin itu bukan hal yang diharapkannya. Setidaknya belum.
Elsa yakin ekspresi wajahnya saat ini sangat tidak elegan karena begitu shock, heran dan kini matanya berubah jadi hijau karena melihat Rifki.
(Di jawa orang menyebut mata love-love dengan mata hijau)
Ya, hijau karena mengetahui bahwa Rifki adalah seorang Master. Itu artinya anaknya kelak juga memiliki khans atau peluang untuk menjadi Master. Tentu saja hal itu membuat Elsa sangat bahagia.
Cttak! Rifki menjitak kening Elsa. Rifki benar-benar gemas dengan pikiran Elsa yang unik. Ini anak bukannya menyadari kesalahannya Elsa malah bersyukur atas kesalahannya. Gerutu Rifki.
Rifki tak bisa membayangkan bagaimana jika Elsa sampai melakukan hal itu dengan orang lain. Karena secara otomatis dirinya akan menanggung dosa Elsa. Bagaimana bisa gadis dihadapannya ini begitu mudah berbuat dosa.
"Tapi kan aku hanya melakukan itu padamu..." Cicit Elsa mencoba membela diri. Elsa memang terkadang juga bisa membaca pikiran Rifki, walaupun dirinya terkadang masih tak yakin akan kebenarannya.
Karena sekarang dirinya mengetahui adanya kontrak tersebut, Elsa otomatis tahu bahwa mereka terkadang bisa berkomunikasi tanpa harus mengatakannya.
Rifki kembali menjitak kening Elsa. Dirinya tak habis pikir, Elsa begitu mudah membuat alasan.
"Tapi kan kamu awalnya tidak tahu kontrak jiwa itu. Bagaimana jadinya jika kita tidak terikat kontrak?! Apakah kamu memang sengaja mempermalukan diri sendiri? Apa kamu tega anakmu terlahir tanpa ikatan?!" Cerca Rifki.
Mendengar hal itu mau tidak mau Elsa membayangkan jika anaknya lahir bagaimana dia akan menjelaskan pada anaknya jika nantinya anak itu mempertanyakan tentang ayahnya, hal itu membuat dirinya takut dan sedikit merasa bersalah juga.
Belum lagi jika keluarga besarnya tahu bahwa dirinya hamil diluar nikah. Tak hanya kekecewaan, tapi kemarahan seperti apa yang harus ditanggung olehnya. Membayangkan hal itu membuat tubuh Elsa bergidik.
"Baguslah kalau kamu mengerti." Sindir Rifki.
"Tapi ingat, mengerti saja tidak cukup untuk menebus kesalahmu. Aku akan menghubungi keluarga mu. Secepatnya kita akan menikah. Aku tidak mau kamu melakukan kesalahan lagi. Mulai sekarang kamu adalah tanggung jawab ku." Kata Rifki tegas seraya beranjak meninggalkan Elsa yang masih sulit untuk mencerna kenyataan.
Rasanya Rifki bisa gila jika dirinya terus berhadapan dengan Elsa. Rifki sedikit merasa bersalah karena telah melepaskan Elsa begitu saja selama tiga tahun ini. Awalnya Rifki menganggap Elsa sudah cukup berubah karena berbagai sindiran pedasnya.
Karena selama ini di matanya Elsa sudah cukup berkelakuan baik. Rifki tak menyangka bahwa Elsa akan lebih berani bertingkah lagi. Memperkosa laki-laki, menyerahkan keperawanannya bahkan sampai sengaja membuat hamil dirinya, jelas itu hal terbodoh yang tidak pernah terpikirkan oleh wanita waras.
Padahal Rifki selalu mengajarkan Elsa untuk lebih menghormati dirinya sendiri, walaupun hal itu tidak dilakukan secara langsung, tapi dengan menggunakan contoh, cerita dan sindiran. Tapi orang secerdas Elsa jelas bisa menangkap apa yang dimaksud Rifki.
Tak heran jika kakek buyut Elsa sampai angkat tangan menghadapi Elsa. Tetap saja, Rifki tak bisa lepas dari tanggung jawab begitu saja. Dia telah berjanji untuk menjaga Elsa.
Awalnya Rifki berencana memberikan Elsa kebebasan dan menyerahkan Elsa pada suaminya kelak jika Elsa menikah. Tapi sekarang hal itu tidak mungkin dilakukan. Mau tak mau, dirinya harus bertanggung jawab atas anak yang dikandung Elsa.
Bagaimana pun juga anak itu adalah anaknya. Dia tidak ingin kehilangan jiwa yang bisa mewarisi ilmunya. Dari energi janin itu, Rifki tahu bahwa anaknya kelak memiliki kemampuan khusus. Anak dengan kemampuan khusus harus disiapkan dan dididik secara khusus pula.
Padahal sekarang ini dia sedang menjalani hubungan yang cukup serius dengan Sinta, dokter spesialis muda yang cantik dan solehah. Elsa jelas jauh dari kata solehah. Mana ada wanita solehah yang melecehkan dirinya sendiri.
Rifki pun segera menghubungi keluarganya dan keluarga Elsa untuk membahas tentang pernikahannya.
Rifki tahu, biarpun hubungan antara kedua keluarganya cukup baik tapi semua ini terlalu mendadak dan sulit untuk diterima. Namun bukan Rifki namanya kalau tidak bisa meyakinkan mereka untuk setuju.
Masalahnya tinggal bagaimana dirinya membuat Sinta mau mengikhlaskannya. Malam itu juga Rifki mencoba untuk menghubungi Sinta dan berharap Sinta tidak akan terlalu patah hati.
----
"Ada masalah?" Tanya Sinta memecah keheningan karena melihat Rifki malam ini tidak seperti biasanya. Tampak begitu pendiam dan seperti memendam banyak pikiran. Berhubungan begitu lama dengan Rifki membuat dirinya begitu peka terhadap perubahan suasana hati Rifki.
"Sin, aku mau minta maaf." Kata Rifki penuh penyesalan.
"Memangnya kamu salah apa?" Tanya Sinta heran.
"Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita lagi." Mendengar hal itu Sinta tidak merasa heran. Sinta tahu bahwa ada banyak wanita yang dekat dengan Rifki. Dirinya tak pernah berharap dirinya menjadi salah seorang yang cukup istimewa bagi Rifki.
"Boleh aku tahu alasannya? Apakah aku melakukan suatu kesalahan?" Sejak awal memang mereka bersahabat dan Sinta berharap dirinya bisa tetap bersahabat dengan Rifki walaupun tidak lagi menjadi kekasihnya.
"Tidak, semua ini bukan salah mu. Sebenarnya sudah lama aku dijodohkan dengan seseorang. Selama ini aku selalu berusaha menghindar. Tapi sekarang aku tidak bisa menghindar lagi. Minggu depan kami akan menikah." Kata Rifki mencoba menjelaskan. Tentu saja dia tidak mungkin menjelaskan bahwa sekarang wanita itu tengah hamil anaknya.
"Secepat itu? Apakah kamu membuatnya hamil?" Sinta tahu bahwa Rifki tak mudah jatuh cinta, karena hubungannya dengan Rifki selama ini pun tidak berdasarkan rasa cinta tapi berdasarkan rasa nyaman dan komitmen.
“Maaf jika aku mengecewakanmu.” jawab Rifki mengkonfirmasi.
“Apakah kau mencintainya?” Sinta mengerti bahwa Rifki adalah orang yang sangat bertanggung jawab. Jadi dia bisa mengerti alasan itu.
"Entahlah, aku tak tahu apakah aku mencintainya, tapi yang jelas aku sangat pusing dibuatnya, karena dia selalu membuat ulah." Jelas Rifki. Mendengar hal itu, air mata Sinta pun mengalir tanpa henti tapi dia mencoba untuk tetap tersenyum bahagia.
“Kalau begitu aku hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan mu.” Kata Sinta berusaha untuk senormal mungkin.
Sinta tahu, tak banyak orang yang bisa membuat Rifki merasa khawatir. Hanya ibu dan Fara adik kesayangan Rifki saja yang bisa membuat Rifki benar-benar khawatir.
Jadi jika ada wanita yang bisa membuat Rifki pusing dan khawatir, jelas Rifki memiliki perasaan khusus pada wanita itu. Hanya saja mungkin Rifki sendiri tidak menyadarinya.
Setelah menutup telepon. Tangis Sinta pun akhirnya pecah juga.
----