I Need A Baby

I Need A Baby
Ch 13 - Day 1



Ch 13 - Day 1




Akhirnya semua pekerjaan pun selesai pas dhuhur. Rifki dan Elsa mengucapkan terima kasih dan pamit untuk pulang. Rifki menyetir sendiri dan Elsa duduk di co-pilot.



Rifki mengendarai mobilnya ke arah Tembalang. Elsa ingat bahwa salah satu adik angkat Rifki pernah bercerita bahwa Rifki memiliki rumah sendiri di Tembalang tapi Elsa tak tahu dimana tepatnya.




Hari ini akhirnya dia tahu bahwa rumah itu tak jauh dari rumah kos yang dia tempati saat kuliah. Elsa bahkan sering memilih jalan yang melewati rumah itu karena lebih dekat dengan kampus.



Rumah itu terletak di tengah kebun. Besar, tingkat dua dan memiliki banyak kamar. Rifki keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Elsa, kemudian dia mengambil tas dari bagasi dan mengajak Elsa masuk.



Rumah sudah saya bersihkan semua Mas. Kata seorang ibu paruh baya gemuk yang menyambut mereka.



"Makasih ya bu."



"Ya mas, sama-sama. Besok kalau butuh apa-apa tinggal bilang saja."



"Kenalin, ini istri saya, Elsa."



"Ini bukannya mbak Elsa yang adiknya mas To itu kan?" Kata ibu itu.



"Iya bu." Jawab Elsa membenarkan sambil mengingat-ingat. Sudah tiga belas tahun berlalu dan ibu ini masih juga mengingatnya. Elsa ingat, ibu ini dulu yang merawat kos tempat kakak angkatnya tinggal saat kuliah.




Sementara Rifki mengerutkan kening dan berpikir karena Elsa anak pertama, siapa orang yang disebut kakak Elsa? Sepupu kah?  Apakah dia salah satu mantan Elsa?



"Oh iya, kabarnya mas To gimana?"



"Sekarang dia di Jakarta bu, sudah punya anak dua." Elsa menjelaskan.



Elsa dan ibu itu pun larut dalam obrolan ringan mengabaikan Rifki yang penuh dengan rasa penasaran.



Rifki mengantarkan Elsa ke kamarnya. Setelah Elsa selesai menata pakaiannya di lemari, Rifki memanggilnya untuk makan.




“Alhamdulillah akhirnya kulo bisa merasakan masakan pak Bos.” Teriak Elsa senang melihat steak sapi, sup, salad dan squash lemon.




Dari dulu Elsa maupun Rifki lebih suka menggunakan kata Njenengan sebagai ganti kata “anda”. Karena kata Njenengan memberikan kesan lebih menghormati.




Jadi jangan heran jika dia masih tetap menggunakan kata Njenengan walaupun memakai bahasa Indonesia. Juga kata “Kulo” sebagai kata ganti “aku” sebagai bentuk kerendahan hati.




“Bagaimana Njenengan tahu bahwa kulo yang memasak ini semua?” Tanya Rifki heran. Karena dia merasa tidak meninggalkan peralatan kotor dan sampah di dapur.




“Rahasia.” Pada kenyataannya Elsa tahu karena dia masih bisa mencium aroma bumbu dari tubuh Rifki. Aroma itu begitu khas dan tidak akan mudah hilang walaupun sudah mandi.




Elsa menikmati makanan yang ada di depannya dengan lahap dan gembira. Semua makanan itu adalah favoritnya. Ditambah standar masakan Rifki tak kalah dengan masakan Chef Juna.




Di masa lalu, saat Rifki masih suka nongkrong di cafe kak Ely, hanya masakan Kak Ely yang sesuai dengan standar rasanya.




Tiap kali Elsa yang memasak selalu saja ada yang salah.



Sekalipun itu adalah mi instan yang sudah sangat standar cara masaknya.




Bukan berarti Elsa tidak bisa memasak, hanya saja Rifki yang terlalu menerapkan standar perfect padanya.




Ketika makan, Rifki sebenarnya ingin bertanya Siapa sebenarnya Mas To?




Hal ini tampaknya cukup membuatnya penasaran.



Tapi dia tidak ingin menimbulkan kecurigaan.



Ehm, maksudnya dia tidak ingin Elsa menjadi besar kepala karena dirinya merasa cemburu. Sehingga dia akhirnya bertanya.




“Mantanmu berapa, Yu?” Berapakah jumlah mantan pacar Elsa, hal ini juga salah satu hal yang cukup memembuatnya penasaran.




Rifki terbiasa memanggil teman ngaji wanita dengan sebutan Yu, yang berarti Mbak Yu untuk lebih menghormati orang lain. Dan memanggil teman ngaji laki-laki dengan sebutan Kang.




“Yang sudah sampai ke tahap mengenal orang tua tiga.” Bagi Elsa sampai ke tahap ini berarti menjalin hubungan yang serius.



Elsa pun melanjutkan, “Yang lain belum sebanyak mantane Njenengan sih, tapi kulo lupa berapa, yang jelas ada yang khusus buat isi ATM, ada yang khusus isi in pulsa, ada yang khusus antar jemput, ada yang cuma sehari langsung besoknya putus.”




“Trus Mas To itu termasuk yang mana?” pada akhirnya Rifki tidak bisa menahan rasa penasarannya.




“Kalau Mas To beda lagi, dia kakak angkat ku.” Jelas Elsa.




“Apa bedanya?”




“Kayak Njenengan gak punya adik angkat aja. Jelas beda lah. Kalau pacar bisa putus, kalau kakak selamanya tetap kakak!” mendengar hal itu Rifki menjadi sedikit cemburu. Karena secara tidak langsung atu berarti suami istri juga bisa bercerai.




Kemudian Elsa balik bertanya. “Njenengan nggak bertanya kapan terakhir kali kulo pacaran? Trus ngapain aja?” Biasanya hal itu yang akhirnya para cowok tanyakan padanya. Elsa sadar itu topik yang cukup sensitif baginya.




“Kalau memang tidak ingin bercerita, kulo tidak memaksa.” kata Rifki dingin.




Sudah lama sejak Rifki pindah kota, dia tak lagi mengikuti perkembangan hubungan Elsa dengan lawan jenis.



Terakhir kali adalah saat dimana Elsa membawa pacarnya ke cafe kak Ely dan memperkenalkan lelaki itu padanya.




Hal itu pula yang membuatnya merasa bahwa Elsa cukup serius untuk berhubungan dengan orang lain. Sehingga Rifki tak lagi memiliki niat untuk menjaganya lagi.




“Ya, ku harap Njenengan gak kecewa atau cemburu aja. Coz, biasanya kan Njenengan lebih suka cewek yang pure, bening, polos. Ya maaf, kalau kulo gak sesuai harapannya Njenengan.” canda Elsa.




Tentu saja dalam hati Rifki ada rasa cemburu. Tapi dia tidak akan pernah mau mengakuinya di depan Elsa.



Lagi pula semua itu adalah masa lalu dan pada akhirnya dia pulalah yang mendapatkan keperawanan Elsa untuk yang pertama kali.




Keberanian Elsa membuatnya berpikiran buruk padanya.



Entah berapa banyak lelaki yang telah menikmati tubuh istrinya. Pikiran itu membuat Rifki sedikit menelan kepahitan.




“kulo tahu, gak usah diperjelas.” kemudian Rifki meneruskan



“Ngomong-ngomong sejak kapan Njenengan stalking kulo?” tanya Rifki sedikit penasaran.



Mengetahui bahwa istrinya ternyata juga memperhatikannya di masa lalu membuatnya sedikit bersemangat.




“kulo stalking Njenengan? Oh, No! Itu semua Kak Ely, sama adik-adik angkat mu yang cerita sendiri ke kulo.” Elak Elsa. Elsa tak ingin Rifki tahu bahwa dirinya sempat menjadi fans berat nya.




“Yang mana?”




“Cilek, Anggi, Puput… Dhea, Gina….” Elsa mencoba mengingat satu persatu.




Rifki memiliki banyak adik angkat yang entah bagaimana mereka bisa dekat dengan Elsa dan menceritakan tentang Rifki padanya.




“kulo heran, bagaimana orang seperti Njenengan bisa dekat dengan artis terkenal.” Elsa yang aneh bisa dekat dengan Anggi?




Rifki benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana cerewetnya Anggi mengomentari penampilan Elsa yang tidak modis sama sekali.




“Oh itu, kebetulan saja kami lahir di hari yang sama.” Jawab Elsa enggan menerangkan lebih lanjut.




“Yu, Bisakah kita bicara tanpa perlu menggunakan bahasa kromo Inggil?” Tanya Rifki. Mengingat dari tadi mereka menggunakan kromo inggil dalam berdialog.




(Karena author males traslate lagi dan lagi jadi langsung author translate ke bahasa Indonesia)




“Njenegan yakin kulo gak harus pakai kromo Inggil teng Njenengan?” Elsa merasa tidak percaya.




“Kalau Njenengan pakai kromo Inggil rasanya seperti ngomong sama pemain ludruk. Njenengan sekarang istriku, jadi kalau bisa Njenengan jangan memakai topeng kepribadian di depan ku? kulo tidak ingin selamanya menjalani hidup dengan orang munafik.” Rifki mencoba menjelaskan.




“Oke, kulo memang ambivalen, tapi tapi kulo gak munafik.” sanggah Elsa




“Apa bedanya?” Rifki menyipitkan matanya yang memang sudah sipit.




“Beda lah! Kepribadian ku memang kadang bertolak belakang. Tapi kulo jujur. Semua ekspresi ku dari hati.” terang Elsa dengan nada sombong.






“Ya, Njenengan tidak perlu bersikap baik di depan ku. Bersikaplah seperti biasa.” Rifki mencoba meyakinkan.




“Njenengan tak akan marah kalau kulo tak sopan pada mu?” tanya Elsa penasaran.




“Tidak.”




“Masalahnya kulo sendiri kadang tidak bisa mengontrol diri.” kata Elsa mencoba mengingatkan bertapa berbahayanya dirinya.




“Ya, kulo tahu. Tidak masalah kalau Njenengan mau marah padaku.” Rifki tak ingin Elsa merasa canggung padanya. Bukan hanya satu dua tahun dia mengenal Elsa.




“Masalahnya kalau kulo marah, hawanya kulo ingin memperkosa Njenengan.” kata Elsa dengan ekspresi malu-malu sok imut.




“Uhuk!” Rifki langsung tersedak mendengar kalimat Elsa yang begitu vulgar. “Yu, Njenengan punya malu gak sih?!”



(Author: kenapa justru kamu yang memerah Ki?)




“Hehehe, enggak. Makanya kulo tanya, Njenengan yakin kulo gak harus sopan pada mu?” Elsa kembali mengubah ekspresinya menjadi wajah tanpa dosa.




“Ya,” mau tak mau, Rifki pun meng-iya-kan.




“Iyes!!!” Teriak Elsa sambil melompat. Rifki menggelengkan kepalanya, istrinya benar-benar seperti anak kecil, tidak ingat bahwa umurnya sudah kepala tiga.




Jika diperhatikan, walaupun istrinya sudah berumur lebih dari tiga puluh tahun tapi wajah istrinya tetap tampak seperti anak umur dua puluhan. Tubuhnya pun masih tetap langsing, entah nanti kalau sudah melahirkan.




Di tambah lagi perangainya yang seperti anak kecil, tak ada yang menyangka kalau dirinya sudah tua mengingat teman-teman sekolahnya yang sudah menjadi Mak-mak dan sudah 'malih rupo’ menjadi terlihat seperti orang tua.




Elsa pun berjalan ke arah Rifki dan duduk di pangkuannya.




Kedua tangan Elsa melingkari leher Rifki dan mencium Rifki kuat-kuat  “Terimakasih!” katanya seraya menyandarkan kepalanya ke pundak Rifki.




Elsa tersenyum  merasakan bahwa tubuh Rifki mulai memerah dan menegang tapi orang itu masih menahan diri.




“Kau tahu, sudah lama kulo ingin melakukan hal ini pada mu.” Bisik Elsa sambil menciumi leher Rifki. Bibir lembut gadis itu telah mengenai saraf sensitifnya hingga tubuhnya bergetar hebat.




Seolah-olah kini seluruh tubuhnya dialiri arus listrik yang berpusat pada perut bagian bawah.



Pikirannya mulai kabur.




Rifki sudah lama tahu bahwa Elsa adalah kelemahannya, itulah sebabnya mengapa dia memilih untuk menjauh beberapa tahun lalu.




Hanya bersama Elsa dalam satu ruangan saja bisa membuat Rifki mabuk hingga pernah suatu ketika Rifki menyalah gunakan kekuatannya untuk memasuki mimpi Elsa dan bercinta dengannya.




Akibatnya dia sangat menyesalinya karena pada akhirnya dia menjadi gila karena bercinta dengan Elsa. Sedangkan saat itu di dunia nyata mereka tidak ada hubungan sama sekali dan mungkin Elsa hanya menganggapnya mimpi basah biasa.




Rifki pun mencoba untuk mengembalikan kesadarannya dengan menarik nafas dalam-dalam.



Sekuat tenaga menghapus keinginannya untuk menghisap kuat-kuat bibir lembut Elsa.




“Elsa! Lepaskan!” Kata Rifki geram karena tubuhnya yang mulai tak terkendali akibat kelakuan Elsa.




Aroma harum tubuh Elsa memasuki indera penciumannya, membuatnya ingin menghirup lebih banyak lagi dan lagi.




Belum lagi kelembutan tubuh Elsa yang kini berada di atasnya telah membangkitkan naluri binatangnya.




“Tidak! Njenengan suami ku, kulo hanya bisa melakukan hal ini padamu. Tidak mungkin Njenengan mengijinkan kulo bermain dengan yang lain.” kata Elsa manja seraya semakin mengeratkan pelukannya.




Suara Elsa membuatnya sadar bahwa kini dia bisa bebas mengeksploitasi tubuh Elsa. Membuat seluruh tubuhnya lemas tak berdaya menahan tubuh bagian bawahnya yang semakin tegang.




Dia hanya bisa bersyukur Elsa tidak mengetahuinya karena bagian itu sedang menghadap bawah terjebak diantara pahanya.




“Apakah kau tahu akibatnya jika memprovokasi ku?” Rifki mencoba untuk mengancam Elsa dengan tatapan matanya yang tajam. Nafas yang begitu tenang seolah tidak terpengaruh oleh gerakan Elsa.




“Bukankah Njenengan bilang kulo harus menjadi diriku sendiri di depan Njenengan?” balas Elsa menatap mata Rifki tanpa rasa takut sama sekali.




“Kalau Njenengan bertingkah seperti itu kulo jadi mau muntah.” kata Rifki meyakinkan Elsa mencoba untuk mengingkari ketertarikan pada tubuhnya.




Bagaimanapun juga Elsa memiliki dua bukit kembar yang besar yang saat ini menekan dadanya.



Belum lagi pantat Elsa yang berada di kakinya telah memicu detak jantungnya untuk bekerja lebih keras karena membayangkan dirinya di dalam sana.




“Ugh! Menyebalkan! Dasar cowok gak normal!” ejekan Elsa membuat Rifki semakin panas. Namun Elsa justru berdiri melepaskan pelukannya.




“Apa Njenengan bilang? Ulangi!” tentu saja Rifki tidak terima dibilang gak normal.



Dia merasa normal, sangat normal, bahkan saat ini pun dia ingin menekan tubuh Elsa dan memberinya pelajaran.



Tapi dia mencoba untuk menahan diri, karena sekarang belum waktunya.




“Njenengan mboten normal.” Elsa memutar mata sambil berkacak pinggang.




Rifki pun menarik Elsa untuk tengkurap di pangkuannya dan menampar pantat Elsa.




“Plak! Plak! Plak!” suara tamparan Rifki terdengar begitu kuat.




Namun bukannya kesakitan, Elsa malah senang. Bagi Elsa tamparan seperti itu tidak ada artinya baginya. Tubuhnya sudah terlalu kebal dengan segala macam penyiksaan.




“Ya, terus! Pukul lagi!” Kata Elsa memberi Rifki semangat sambil menopang dagu, seolah bukan dirinya yang dipukul. Mendengar hal itu Rifki menahan diri dan berhenti memukul Elsa.




“...” Rasanya Rifki semakin sulit untuk mempertahankan kewarasannya di depan Elsa.




Karena mendengar suara Elsa yang bersemangat saat dipukul justru membuat pikirannya semakin kotor karena membayangkan teriakan semangat Elsa saat melakukan hal-hal cabul dengannya.




“Kenapa berhenti?” tanya Elsa heran dengan sedikit kecewa.




“Assalamualaikum!” Teriakan anak-anak membuat keduanya tertegun. Keduanya saling memandang dengan wajah memerah. Keduanya bangun  dan bergegas mengintip pintu depan.




Di luar Nak Uu, Nita, Mak Senul, Mak Fatty dan beberapa anak lainnya berdiri di depan pintu.




“Wa Alaikum salam. Monggo mlebet, Yu.” Rifki membuka pintu sedangkan Elsa berlari ke dapur menyiapkan makanan dan minuman untuk mereka.




“Kok bisa tau sini mak?” Tanya Elsa penasaran. Dia merasa belum memberikan alamat rumah Rifki pada mereka.




“Ooo Cah kene omahe kono ok rak reti.” Jawab Mak Senul bangga sambil menepuk dada. Maksudnya adalah bahwa dia bisa mudah menemukan rumah ini karena rumah mereka dekat. Ya, dekat. Hanya tiga kilometer.




“Selamat ya, Mbak Tho.” Mak Fatty menyalami Elsa.




“Selamat ya, Kang!” Katanya saat menyalami Rifki.




Mereka pun bergantian memberi keduanya selamat sambil memberikan kado.




Sudah menjadi adat kebiasaan di pesantren tempat Elsa menikah untuk datang ke rumah mengirimkan kado pada pasangan yang baru menikah karena saat akad nikah biasanya mendadak jadi jarang yang menyiapkan kado saat akad. Jadi kado biasanya dikirim langsung ke rumah pasangan.




Mereka pun berbincang-bincang dan bercanda sampai sore dan berpamitan. Tak lama kemudian rombongan yang lain datang silih berganti membuat keduanya kewalahan menghadapi tamu. Beruntung Rifki selalu siap sedia camilan dan buah di dalam kulkas.





---