
Ch 11 - Elsa Diary
Elsa mencoba untuk bangkit dan menyingkirkan tangan Rifki. Rifki yang merasakan pergerakan Elsa pun mulai tersadar dan bangun dari tempat tidur.
Sebenarnya sejak semalam Rifki belum tertidur. Ada beberapa masalah yang harus dia selesaikan malam itu juga. Sehingga dirinya merasa sedikit lelah. Rasa kantuknya pun datang setelah dirinya mentransfer energi pada Elsa.
Dirinya pun terlelap sebentar hingga Lady Viona datang. Dan nampaknya dirinya telah melewatkan sesuatu. Karena dirinya masih dapat merasakan adanya jejak energi dan aroma Master. Namun dia tidak dapat mengidentifikasi siapa yang datang.
"Ki, di cari asisten mu di depan." Kata Lady Viona pada Rifki. Perkataan Lady Viona membuat Rifki bergegas masuk ke kamar mandi tanpa mengatakan apa-apa.
"Hei kak Elsa!" Teriak Jack yang tiba-tiba ikut masuk ke dalam kamar. Jack adalah sepupu Elsa.
"Kapan sampai, kak?" Dengan santainya pemuda jangkung nan cantik itu mendaratkan bokongnya ke atas kasur menyapa Elsa dan mengajak Elsa untuk ber hi-five.
"Hei Jack!" Sahut Elsa seraya berhi-five dengan Jack. "Kamu tambah putih aja sekarang." Elsa sangat suka menggoda Jack. Karena Elsa memang pecinta cowok cantik. Bagi Elsa, menggoda Jack adalah kesenangan tersendiri.
"Kak, itu namanya meledek. Mentang-mentang aku cantik bukan berarti kakak bisa membullyku." Kata Jack dengan nada malu-malu.
"Ya, aku jadi ingin coba make in kamu gaun." Kata Elsa sambil tertawa. Di ikuti oleh Lady Viona.
“Ayo makan dulu!" Kata Lady Viona seraya menghapiri Elsa dengan nampan berisi sup jagung dan air putih.
Lady Viona meletakkan nampan di nakas dan menyentuh kening Elsa untuk memeriksa suhu badan Elsa.
"Memangnya apa yang terjadi dengan ku?" Tanya Elsa heran. Dia tidak merasa ada yang salah dengan tubuhnya.
"Tadi pagi ibu menemukanmu demam dan tidak sadarkan diri." Kata Lady Viona seraya mendaratkan bokongnya ke tempat tidur.
"Aku demam?" Tanya Elsa heran. Karena sekarang dirinya tidak merasa sakit sama sekali. Elsa akhirnya ingat bila semalam dirinya sempat tanpa busana selama enam jam di bawah suhu AC, tubuh manusianya memang rentan terhadap AC, sehingga tiap kali dia naik pesawat dia harus meminta selimut pada pramugari dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut agar tetap hangat.
"Ya, sekarang kamu sarapan dulu. Setelah itu istirahat lagi." Lady Viona mencoba untuk menyuapkan sesendok sup ke mulut Elsa tetapi Elsa kemudian mengambil mangkuk dan sendok yang dipegang Lady Viona. Elsa memang suka memanjakan, tapi dirinya sendiri tidak suka dimanjakan.
Selesai makan dan mengobrol dengan mereka, Elsa mengambil handphone dan menghidupkannya kembali. Tak lama kemudian permintaan video call pun masuk. Permintaan itu datang dari Fara, adik kandung Rifki.
“Kak, ku dengan kamu dan kakak ku mau menikah. Aku senang, akhirnya kak Elsa benar-benar akan menjadi kakakku." Mata Fara tampak berbinar melihat Elsa yang seperti malu-malu mengakui hubungannya dengan kakaknya.
Sudah lama Fara menginginkan Elsa menjadi kakaknya karena baginya Elsa lebih perhatian dari pada kakaknya sendiri.
"Memangnya sejak dulu aku tidak menganggapmu adik?" Tanya Elsa heran.
Sekalipun sudah beberapa tahun mereka tak pernah bertemu, tetapi Elsa masih menganggap Fara sebagai adiknya. Perasaannya pada Fara benar-benar murni, terlepas dari identitas Fara.
"Tapi kan beda." Kata Fara merajuk manja.
"Hhh..." Elsa malas untuk menjelaskan perasaannya pada Fara.
“Kapan kalian bertemu lagi?” Tanya Fara penasaran.
“Minggu lalu.”
“Bagaimana kalian bisa begitu cepat memutuskan untuk menikah?” Tanya Fara lagi.
“Tanyakan hal itu pada kakakmu!” kata Elsa malas menjelaskan.
“Ah, kak Elsa menyebalkan.”
“Aku memang menyebalkan, jadi apakah kamu yakin kamu senang kalau aku jadi kakakmu?” goda Elsa.
“Baiklah, terserah kakak. Aku mau menyiapkan undangan dulu buat kalian. See you kak.,”
“See you.”
Setelah Fara menutup panggilannya, Elsa kemudian menghubungi Ve.
"Ve, posisi?"
"Ya bos, ini saya sedang di laut Jawa. Ada apa?"
"Tunda rencananya. Tunggu kabar dari ku."
"Ada masalah?" Ve heran karena rencana itu sudah matang. Sudah dia persiapkan semua.
"Aku tertangkap oleh Rifki." Kata Elsa kemudian menjelaskan secara rinci.
"Hahahaha..." Ve pun menertawakan Elsa. Tampak nya dia begitu senang bila ada orang yang bisa menghentikan Elsa.
Karena jarang ada orang yang bisa menghentikan Elsa.
"Jadi kau sudah tertangkap bos? Apakah aku perlu menculikmu kembali?" Tawar Ve setengah bercanda. Menculik Elsa dari Rifki, itu sama saja menculik anak harimau dari sarangnya. Menculiknya mudah, larinya yang susah, karena harimau akan segera mencium keberadaannya dan menemukannya lagi.
"Tak perlu, dia bilang kami akan menikah secepatnya. Untuk sementara kalian jangan berbuat apa-apa." Kata-kata Elsa membuat hati Ve lega. Setidaknya dirinya terbebas dari misi tingkat tinggi konyol yang di usulkannya sendiri.
"What? Menikah bos? Aku gak salah dengar nih? Yes, nanti aku bilang ke Na'U dan Nita. Mereka pasti senang punya papa sekarang." Elsa memutarkan bola matanya mendengar suara berisik dan membayangkan ekspresi terkejut dan bahagia Ve.
"Lu bisa diem gak, Ve?!" Kata Elsa menahan kemarahannya. Karena Ve tampaknya terlalu terkena virus bahagia di atas penderitaan orang lain.
"Gak bisa!" Kata Ve sambil masih menahan tawa. Dia terdengar begitu bahagia hingga sulit untuk diam.
"Ya sudah. Lebih baik ku tutup telepon nya saja." Ancam Elsa.
"Iya deh. Iya, aku diam." Kata Ve memaksakan dirinya untuk menahan diri dan diam.
"Bagus" kata Elsa "Kamu cari posisi Deshi sekarang. Hubungi dia. Suruh dia kembali. Aku ada tugas untuknya." Elsa sudah mencoba menghubungi Deshi sebelumnya, tapi karena tiap kali Deshi berburu selalu meninggalkan identitasnya termasuk segala kontak dengan dirinya hingga perburuannya selesai, Elsa tak bisa menghubungi Deshi.
Hanya Ve yang bisa menemukan keberadaan Deshj dengan memanfaatkan jaringan CCTV dan program yang telah dibuat sebelumnya.
Itupun jika Deshi berada dalam jangkauan CCTV. Karena ada kalanya dia pergi ke daerah pedalaman yang tidak dapat dijangkau sinyal.
"Baik bos." Jawab Ve serius.
"Dan satu lagi. Seperti biasa, aku tidak mau kabar pernikahan ku bocor ke publik."
"Siap bos!" Kali ini Ve menjawab dengan menahan tawanya.
Elsa kembali merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Pikirannya lelah. Dia tidak bisa berpikir jernih.
---++
Terlalu banyak kejutan untuk Elsa hari ini. Kenyataan yang baru dia ketahui ini terasa sulit untuk di terima. Kakek buyutnya lah yang ternyata telah menjodohkan dan mengikat dirinya dengan Rifki.
Baiklah, Elsa dan Rifki memang sudah lama kenal. Dengan keluarganya juga baik. Walaupun terkadang Rifki menyebalkan, Elsa juga mengaguminya. Tapi Elsa cukup tau diri kalau dirinya bukanlah tipe cewek ideal Rifki.
Jadi, Elsa sangat penasaran, kenapa Rifki mau dijodohkan dengannya? Jangan-jangan Rifki punya rencana sendiri untuk mempermainkan dan mengerjai dirinya.
Apa sebenarnya rencana Kakek? Mengapa Kakek menjodohkan dirinya dengan Rifki?
Dan sekarang, ada apa lagi ini? Kenapa Rifki mengajak Elsa menikah lagi kalau memang mereka sudah menikah?
Berbagai pikiran buruk muncul dikepala Elsa. Tentu saja, Elsa masih belum bisa mempercayainya begitu saja.
Elsa tertarik untuk kembali membuka buku hariannya beberapa tahun lalu. Elsa pun membuka file buku harian di handphonenya. Dan memasukkan password nya.
Walaupun Elsa tahu hal itu mungkin tak akan berarti bagi hacker seperti Rifki ataupun Ve. Tapi setidaknya tak ada orang lain yang tahu rahasia hatinya termasuk Fara.
Karena biasanya Elsa tidak pernah mengunci handphone, laptop, almari, kamar, rumah.
Elsa percaya bahwa Tuhan akan menjaga barang-barangnya dan hanya orang yang takut kehilangan yang akan mengalami kehilangan.
Elsa membebaskan siapa pun untuk memakai dan meminjamnya. Karena itu ia tidak pernah menyimpan data rahasia di dalamnya.
Ingatan Elsa melayang ke masa lalu. Hari itu seperti hari biasa dimana Elsa masih suka menulis diary tentang Rifki. Di sebuah file, dia membaca...
Ku bercinta dalam sunyi
Bercinta dalam imajinasi
Indahnya ku nikmati waktu bersamamu
Dalam tawa, dalam diam, dalam syahdu
Tanpa kata, tanpa sentuhan
Hanya getaran jiwa
Hanya rasa
Seperti punguk merindukan bulan
Begitulah kata teman-teman,
Tapi biarlah, toh cintaku tak ingin memiliki
Belum
Atau tak berani...
Di satu saat,
Aku bisa merasa tenang dan yakin kalau dia sekarang tak punya pacar.
Salahkah aku bila aku merasa demikian karena selama beberapa tahun terakhir dia tidak pernah kemana-mana. S
etiap hari tinggal di pesantren.
Di saat itu, aku benar-benar merasakan perhatiannya padaku, dan aku juga merasakan keinginannya untuk selalu di sisiku. Ah, mungkin itu hanya perasaanku saja.
Aku merasa aku bisa membaca sinar matanya, aku bisa membaca gerak-geriknya, aku juga bisa melihat semburat warna merah muda di wajahnya, aku bisa membaca ketulusannya, aku bisa membaca siasatnya, aku juga bisa membaca kegugupannya, dan aku yakin sekali dengan hatinya padaku. Ah, mungkin aku yang salah baca.
Di saat yang lain lagi,
Saat dia tak disampingku, aku merasa seolah dia menghindariku, karena dia juga sengaja tidak mengajakku bicara agar aku tak GR padanya, dia sengaja sibuk agar tak kelihatan, seolah dia membuat benteng bertulikan "Do not Distrub" dan aku mengartikannya sebagai "Kamu jangan dekat-dekat aku". Kalau ini aku yakin aku tak salah menafsirkan.
Di saat yang lain lagi,
Dia seolah bersikap sombong memperlihatkan bahwa dirinya kini telah tobat untuk tidak pacaran lagi sama cewek.
Seperti berkata, "aku serius padamu, karena itu ku tinggalkan semua cewek dan duniaku". Dan imajinasiku inilah yang sangat membuatku tertawa.
Di lain waktu,
Dia seolah sengaja membuatku cemburu atau khawatir dengan menyebar berita bahwa dirinya akan pergi lama, atau mau menikah sama cewek di sana, SMS-an sama cewek-cewek di sekitarku dengan kata-kata manis, sok perhatian, sok imut, yang tentu saja hal itu justru membuatku merasa semakin geli dibuatnya.
Mendengarnya saja bisa membuatku tertawa terbahak-bahak, yang jelas itu tak akan membuatku merasa cemburu.
Dia orang yang tidak bisa dibaca dan diduga, dia tak seperti orang pada umumnya, dia memiliki kehidupan yang jauh lebih luar biasa dari yang ku bayangkan. Jujur, aku pun percaya kalau dia sudah punya calon, cewek yang tak ku kenal sama sekali.
Tapi, dalam hati aku tak bisa menerima hal itu.
Aku lebih percaya pada kemampuan ku membaca mata orang.
Padahal aku sendiri tahu kalau mataku sudah minus, alias blawur.
Mungkin mataku memang minus dan aku enggan memakai kaca mata sehingga tak bisa melihat dengan jelas dalam jarak yang agak jauh.
Mungkin kemampuanku memang tak seperti dulu lagi.
Dan ku akui, imajinasiku memang tinggi.
Terlalu tinggi hingga membuat ku gila.
Tapi, ku rasa kemampuanku membaca alam dan membaca getaran masih baik-baik saja. Walau tak se-detail dulu. Ya, itulah yang membuat ku terlalu percaya diri.
Maksudku, mungkin dia memang sudah berusaha bersikap netral padaku dalam artian tak peduli dimana, kapan dan siapapun yang dihadapi, dia akan selalu memancarkan energi yang positif dan menggembirakan.
Dimana energi yang dipancarkannya ke segala arah begitu penuh cinta dan mungkin konsentrasi cinta itu sama dengan energi yang dipancarkan oleh sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta, atau bahkan lebih. Sehingga bila beberapa orang, termasuk diriku bisa saja salah mengartikan cinta dan perhatiannya itu benar-benar sesuatu yang wajar.
Ku dengar jantungku mulai mengalunkan nada-nada gembira.
Saat aku menulis catatan ini, tiba-tiba dia datang untuk memesan makanan dan bercanda bersama beberapa orang yang ada disitu.
Ah, hatiku jadi tambah tak karuan rasanya.
Sedang membicarakan orang itu, eh malah dia datang tiba-tiba.
Coba bayangkan betapa malunya diriku bila dia bisa membaca pikiranku.
Wajahku pun langsung jadi semerah tomat.
Sesaat ku lihat dia memejamkan matanya sejenak, seperti orang tertidur untuk melepas lelah, meluruskan kaki pada lantai dan bersandar pada tembok.
Dengan kemampuannya, dia selalu bisa merubah cafetaria sederhana ini menjadi sebuah panggung sandiwara.
Hanya dengan beberapa pancingan kata saja, orang-orang di sekitarnya langsung aktif meramaikan suasana.
Sandiwaranya tak pernah membuatku bosan.
Lewat sandiwaranya itulah aku banyak belajar dan tertarik untuk belajar kembali.
Dengan sandiwaranya dia menghiburku, membuatku tertawa, membuatku mengintrospeksi diri tanpa disuruh.
Dan dengan sandiwaranya aku tahu bahwa begitulah cara dia berbicara padaku.
Di atas panggung tak kasat mata yang dia ciptakan, di depan para penonton, kami berdua adalah pasangan yang kompak, saling mendukung dan saling melengkapi satu sama lain.
Seolah tak ada masalah diantara kita.
Mungkin hanya aku saja yang merasa aneh karena kami sama-sama terdiam saat kami hanya berdua.
Malam ini, di mataku dia terlihat seperti orang yang tengah jatuh cinta.
Menari-nari dan melompat-lompat sambil tertawa.
Mungkin dia memang tertawa, tertawa dengan hatinya, tapi dimataku tawa itu hanyalah topeng. Sebuah topeng yang dia ciptakan untuk menutupi kepenatan jiwanya.
Mungkin tawa itu memang tawa yang berasal dari hati, tapi di telingaku tawa itu terdengar kosong dan tak bermakna.
Sebagai orang yang sudah terbiasa bermain watak, aku tahu betapa hebatnya artis yang satu ini. Sehingga aku benar-benar tertarik untuk bisa seperti dirinya.
Tapi, kali ini dia benar-benar tertawa, tawa yang tak sekedar sandiwara.
Elsa tersenyum sendiri membaca tulisannya saat itu. Ada rasa geli tersendiri membayangkan kepolosannya saat itu. Tata bahasanya waktu itu benar-benar parah.
Entah mengapa, kini hatinya mulai tenang... Elsa tak lagi peduli dengan siapa dirinya akan dijodohkan atau menikah dan mulai dapat menerima keputusan Kakek.
"Kakek, ku terima dia untuk menjagaku dan mendidikku. Aku tak peduli lagi apakah dia punya perasaan padaku atau tidak." Bisik Elsa dalam hatinya.
Elsa juga mulai bisa menerima sikap Rifki, semua itu karena Rifki ingin melindunginya dari fitnah. Elsa mengerti karena di dunia memang banyak fitnah.
Ketenangan hatinya membuat Elsa kembali terlelap ke alam mimpi.