
Ch 16 - In The Past
22 Tahun yang lalu…
Di sebuah desa di perbatasan kota yang terletak di bawah bukit yang bernama Gunung Tugel.
Gunung Tugel konon pernah menjadi sebuah gunung yang utuh. Padahal sebenarnya gunung itu tidak seluas gunung pada umumnya.
Dilihat dari ukurannya, tempat itu hanyalah sebuah bukit kecil dengan permukaan rata. Namun oleh orang desa sekitarnya disebut demikian.
Di bawah bukit itu mengalir sungai yang mengelilingi separuh bukit. Anak-anak desa sering menceritakan bahwa sungai itu di huni oleh kakek-nenek berwujud ular raksasa bernama Mbah Njabung yang merupakan anak buah Nyi Roro Kidul yang legendaris dari Laut Selatan Jawa padahal desa itu terletak di bagian utara pulau Jawa.
Konon sebuah selendang putih yang oleh masyarakat desa disebut Wiyonggo sering muncul mengapung di sungai untuk menangkap manusia.
Di seberang bukit berdiri bangunan sekolah dasar saderhana tanpa pagar.
Mungkin kisah itu diceritakan agar tidak ada anak-anak yang bermain di sungai.
Karena pada dasarnya sungai itu sangat dangkal dengan banyak batu akan berbahaya jika tiba-tiba ada banjir kiriman datang tanpa hujan.
Selama bertahun-tahun kisah itu di ceritakan tanpa ada yang tau kebenarannya.
“Elsa! Ayo lompat!” Teriak seorang anak dari dam bagian sungai terdalam, karena hanya di tempat ini mereka bisa berenang.
“Ayo lompat!” Teriak yang lain ikut memprofokasi gadis kecil yang masih tetap berdiri di atas dam.
Gadis kecil itu tidak takut, hanya sedikit ragu bila neneknya yang ketat memarahinya karena pulang dengan baju basah, walaupun neneknya lah yang memerintahkannya untuk ikut bermain ke sawah.
Selama ini dia berhasil menjaga sikap baik di depan neneknya, tak pernah nakal maupun menimbulkan masalah.
Sebagai keturunan lurah desa, dia tumbuh seperti bangsawan yang tidak pernah menggembala kambing, bermain di sawah, maupun mandi di sungai.
Selama ini dia selalu menghabiskan waktunya untuk membaca buku dari perpustakaan keliling yang datang ke desanya seminggu sekali.
Tubuhnya yang lemah tidak bisa mengikuti kelincahan anak-anak desa yang lain.
Dia bersyukur karena tidak pernah pingsan karena sebenarnya dia harus minum obat untuk paru-parunya tiap hari. Sejak kecil dia menderita paru-paru basah.
Beberapa waktu lalu, neneknya mulai sakit-sakitan dan mulai mengajarinya banyak hal yang selama ini tidak pernah dilakukannya, dari memasak, mencuci, membersihkan rumah, juga memerintahkannya untuk mengikuti teman-temannya mengembala kambing dan pergi ke sawah.
Pada dasarnya dia cukup senang, karena menemukan beberapa kesenangan bermain bersama teman-temannya, berburu buah, keong, belalang dan ikan.
Ya, keluarganya memang tidak memiliki kambing maupun sawah.
Hanya kebun luas berbentuk bukit di belakang rumah.
Keluarganya juga telah memiliki sumur, kamar mandi dan toilet sehingga tidak perlu mandi maupun mencuci di sendang atau sungai seperti keluarga lain.
Bahkan kakeknya akan membuatkannya sendang atau kolam renang kecil khusus untuknya di samping rumah setiap musim hujan.
Pada akhirnya dia memutuskan untuk melompat ke sungai dan berenang seperti teman-temannya dengan hanya memakai kaos dalam dan celana pendek.
Biarpun dia sudah kelas enam SD, tubuhnya masih sangat kecil dan belum berkembang.
Bukan karena kekurangan gizi, tapi karena penyakitnya dan memang umurnya lebih muda dua tahun dibandingkan teman-teman sekelasnya.
Dia memasuki sekolah dasar pada usia lima tahun. Jadi saat ini umurnya masih sebelas tahun.
Sepulang dari bermain. Neneknya memarahinya.
“Nenek tidak marah, hanya memberi nasihat. Besok lagi kalau kamu bermain di sungai, jangan lupa untuk membawa baju ganti. Sekarang sana cepat mandi, ganti baju! Jangan lupa itu yang basah di cuci sekalian.” Begitulah nadanya kalau neneknya marah.
Sehabis magrib, seperti biasa dia mengikuti pengajian di rumah ustadz Sa'rozi.
Mungkin karena dulu dirinya malas belajar mengaji.
Sekarang dia sering dimarahi ustadz karena salah membaca. Kecepatan membacanya sangat lambat jika dibandingkan dengan teman-temannya.
Ibunya dan keluarga dari ibunya memang ahli dalam bidang agama. Tapi Elsa merasa dirinya tidak cocok dan merasa minder jika dibandingkan dengan para sepupunya.
Bagaimana tidak jika mereka semua adalah orang yang multitalenta, pandai bermain musik, memiliki suara bagus, memiliki berbagai ketrampilan memasak, menjahit, organisasi, juara olahraga, jenius di sekolah dan di pesantren.
Elsa buta musik, buta nada, tak bisa memasak, tak pernah memegang jarum, tak bisa olahraga, tidak terlalu pintar di sekolah, dan tidak bisa ngaji.
Setiap kali Elsa diajak ibunya pulang kampung, dia selalu bersembunyi di kamar, dia terlalu malu menampakkan diri karena tidak memiliki keahlian apapun yang bisa dibanggakan.
Sejak kecil, ibunya suka membacakannya dongeng sebelum tidur, mulai dari cerita rakyat, kisah para Rasul, sampai kisah seribu satu malam sehingga setelah kedua orang tuanya berpisah Elsa sangat tertarik dengan buku.
Setelah kedua orang tuanya berpisah, Elsa memilih untuk tinggal di desa bersama kakek neneknya.
Sebelum tidur, tak lupa Elsa akan selalu meminta neneknya untuk menceritakan kisah masa kecilnya.
Neneknya yang sekarang sebenarnya bukan nenek kandung Elsa, nenek kandungnya telah meninggal saat bibinya masih kecil, kemudian kakeknya menikah lagi dengan Nenek Las.
Walaupun nenek Las tidak memiliki anak, namun dia sangat mencintai anak-anak tirinya.
Sehingga anak-anak tiri dari suami -suami terdahulunya masih begitu perhatian dan menganggapnya ibu hingga saat ini.
Nenek Las memiliki beberapa kebiasaan, diantaranya jika ada tamu, siapapun orangnya dia akan selalu menghabiskan minuman sisa tamu.
Konon itulah alasannya sehingga dia sangat pandai walaupun tidak bersekolah karena minuman itu menyerap ilmu sang Tamu.
Baginya minuman itu adalah sumber ilmunya.
Setiap orang memiliki ilmu yang berbeda sehingga alangkah baiknya jika dia memiliki banyak ilmu.
Tanpa sadar, Elsa kecil begitu tertarik dengan ajaran nenek tersebut dan selalu mempraktekkannya.
Tak ada rasa jijik meminum bekas orang lain, yang ada justru kesenangan hingga seperti kecanduan.
Dia bahkan tidak peduli jika orang lain melihatnya menjijikkan. Walaupun dia tidak tahu alasannya untuk saat ini.
Namun di masa depan dia akan sangat bersyukur karena dia telah mengembangkan kebiasaan itu sebelum dia mengetahui alasannya. Karena ternyata air dapat menyimpan berkah doa dan ilmu.
Elsa memiliki sebuah rahasia. Beberapa ingatan muncul dalam benaknya tentang kehidupan seseorang yang beberapa kali bereinkarnasi.
Ingatan itu tidak begitu jelas dan akan menjadi lebih jelas saat dia membaca cerita yang sama.
Karena reinkarnasi yang dia tahu selama ini hanya kepercayaan orang China dan tidak menemukan konsep ini dalam agama yang diwarisinya dari orangtuanya, sehingga dia tidak berani mengungkapkannya pada siapapun.
Dalam ingatannya, dia adalah seorang bangsa naga yang terlahir dari Bunda Cahaya. Jangan bertanya kepadanya siapa Bunda Cahaya, karena dia sendiri tidak tahu siapa orang itu.
Dia hanya tahu bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini terlahir dari Bunda Cahaya.
Begitu banyak waktu dimana dia hidup adalah di Dunia Cahaya dan setiap reinkarnasinya berhubungan dengan tugas dari Dunia Cahaya.
Karena pengetahuannya dari Dunia Cahaya, dia tahu bahwa setiap hal seperti pohon, air, tanah memiliki jiwa dan bisa berbicara, hanya saja mereka tidak berbicara seperti manusia tetapi lewat pikiran dan hati.
Sehingga selain berteman dengan manusia, Elsa juga berteman dengan alam.
Dengan mengandalkan ingatannya yang tidak terlalu jelas sebagai seorang pendekar, dia berlatih ilmu pernapasan, dan beberapa jurus di bukit belakang rumahnya.
Walaupun dia masih tergolong lemah diantara teman-temannya, namun setidaknya dengan beberapa latihan dia masih bisa mengejar stamina mereka dengan tubuhnya yang lemah karena penyakit paru-paru.
Di Dunia Cahaya, dia memiliki seorang pasangan yang akan selalu mengikutinya di setiap reinkarnasinya.
Elsa hanya tahu bahwa orang itu di sebut Ling Zhan.
Adapun apa artinya, siapa dia sebenarnya atau mengapa orang itu disebut demikian, dia tidak tahu.
Seiring berjalannya waktu, di bawah pelatihan Nenek Las yang ketat, Elsa mulai bisa mandiri, memasak dan membersihkan rumah.
Dengan latihan pernapasan, Elsa tidak lagi memiliki masalah dengan paru-parunya.
Pada tahun terakhir sekolah dasar, Nenek Las meninggalkannya dengan senyuman.
Elsa mengantar kepergian sang nenek dengan senyuman dan ciuman yang dalam di pipinya yang dingin.
Karena Elsa yakin bahwa neneknya akan tetap hidup di alam sana dan Elsa juga yakin bahwa Tuhan pasti akan memberikannya guru pengganti yang lebih baik dari neneknya.
Elsa menghabiskan tahun terakhirnya di sekolah dasar dengan merawat sang kakek dan sedikit bersantai.
Dia memutuskan untuk mengikuti saran ibunya, melanjutkan sekolah dan tinggal di pesantren.
Biarpun nilai akademiknya cukup tinggi di desa, namun hal itu tidak cukup berarti di kota.
Ada begitu banyak anak jenius di kota.
Pesantren itu adalah tempat dimana ibunya mengaji.
Jadi biarpun dia tinggal di pesantren tapi dia bisa setiap hari bertemu dengan ibunya dan mendapatkan perawatan ekstra dari ibunya.
Sehingga Elsa tidak pernah kekurangan makanan.
Setiap malam Minggu di pesantren diadakan latihan silat asma’ yaitu serangkaian latihan pernafasan dengan gerakan yoga yang di ikuti dengan bacaan khusus yang diciptakan oleh Mbah Yai.
Setiap Minggu pagi, selesai sholat subuh, semua santri wajib lari mengelilingi bukit sebelum melakukan latihan silat.
Dengan latihan tersebut, Elsa menyadari bahwa kini tubuhnya semakin sehat dan kuat.
Menyadari manfaat tersebut, Elsa pun menjadi lebih giat berlatih, dalam setiap kesempatan dia akan tetap menjaga nafasnya dengan latihan asma’.
Selain mengikuti silat di pesantren, Elsa juga mengikuti ekskul silat di sekolahnya.
Setiap malam dia bahkan berlatih pedang dalam mimpinya.
Dalam mimpi itu, dia berlatih tanding dengan seorang lelaki yang sangat kuat.
Elsa tidak bisa melihat wajahnya, dia bahkan tidak tahu namanya karena orang itu akan berlari dan menghilang setiap kali dia menanyakannya.
Elsa berpikir dia harus menjadi lebih kuat untuk bisa menghadapi musuh-musuhnya di masa depan.
Dari ingatan masa lalu nya, Elsa sadar bahwa dia memiliki musuh yang sangat kuat.
Biarpun dirinya tidak yakin dapat menghabisi musuhnya dengan kemampuannya, setidaknya dia bisa menjaga diri.
Biarpun dia berlatih dengan keras setiap hari, Elsa masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan Guse, putranya Mbah Yai yang juga pelatih silat.
Hanya dengan menjentikan batang korek api Guse dapat melukai orang dengan jarak sepuluh meter.
Mbah Yai sendiri konon telah menaklukkan pendekar hebat hanya dengan satu peragaan, berdiri di atas tongkat bambu hanya dengan satu ujung jempol kakinya.
Pendekar itu membayangkan jika jempol kaki itu mengenai perutnya, bisa dipastikan perutnya bakalan jebol.
Hal itu sesuai dengan falsafah yang selalu di pegang Mbah Yai “Menang tanpo ngasorake.” yang artinya kemenangannya diraih tidak dengan mengalahkan atau merendahkan lawan.
Setelah itu, sang pendekar itu pun mengakui Mbah Yai sebagai guru dan mengabdikan dirinya untuk membantu mengajar silat di pesantren.
Tentu saja, Elsa masih tak lupa membaca banyak buku cerita.
Dia menghabiskan uang sakunya untuk menyewa buku di persewaan buku dekat sekolah.
Sayangnya hanya sedikit kemajuan yang dicapai dengan bacaannya. Karena ingatan itu berputar di sekitar negeri cina, waktu itu novel wuxia masih belum begitu tenar seperti saat ini.
Namun Elsa bersyukur karena banyak membaca dapat membantunya mengkorelasikan ilmu pengetahuan yang di dapatnya dengan ngaji Mbah Yai yang multi dimensi.
Elsa masih ingat, saat itu Mbah Yai banyak mengeluarkan teori yang nampaknya mustahil untuk dicapai.
Diantara teori tersebut mengatakan bahwa
“Dunia ini memiliki 18.000 dimensi”
“Ilmunya Allah yang diberikan kepada para kekasih Nya bukan tidak bisa di nalar, hanya saja ilmu pengetahuan kita belum bisa mencapainya”
“Para kekasih Allah jika ingin berbicara, bisa langsung berhadapan (seperti hologram?). Lebih canggih dari pada HP (yang saat itu yang tercanggih baru sinyal 3G)”
“Jika manusia dapat memecah atom dalam tubuhnya maka tidak mustahil untuk berjalan menembus tembok. Karena pada dasarnya segala sesuatu terdiri dari atom.”
“Jika manusia dapat mengurangi masa tubuhnya, manusia dapat berjalan di udara.”
Dan masih banyak lagi teori yang nampaknya sulit untuk dicerna anak SMP yang saat itu belum mempelajari ilmu kimia atom.
Karena Mbah Yai berkata bahwa dunia ini terdiri dari 18000 dimensi, Elsa memiliki semangat untuk menelusuri ingatannya.
Mungkin saja ingatan itu berhubungan dengan dimensi lain.
Karena memang ingatan itu menceritakan kisah antar dimensi.
Dari Mbah Yai, Elsa juga tahu bahwa dalam Islam juga ada ilmu seperti ilmu sihir dan kesaktian yang untuk mengaktifkannya di butuhkan amalan khusus atau bacaan khusus yang juga berasal dari ayat-ayat Al Qur'an.
Namun Mbah Yai melarang murid-muridnya untuk mempelajari ilmu tersebut karena ilmu tersebut dapat menghalangi masuknya ilmu Haq atau ilmu yang sejati.
Ilmu hakikat lebih kuat dari pada ilmu ilmu yang lain.
Dalam bayangan Elsa, ilmu haq itu seperti sihir tanpa mantra. Saat itu, Elsa menetapkan bahwa itulah tujuannya. Ilmu paling kuat yang dapat mengalahkan semua ilmu dan sihir.
Sayangnya ilmu itu tidak dapat di pelajari. Ilmu itu memiliki beberapa syarat untuk bisa mendapatkannya diantaranya yaitu “TIDAK BOLEH NGANTUK!”
Itu adalah syarat paling mustahil bagi Elsa. Bagaimana pun juga, ngantuk sudah seperti panggilan alam baginya.
Apalagi saat mengaji sudah seperti kebiasaan “pindah tidur” bagi Elsa. Apapun yang dia lakukan tidak bisa menghilangkan rasa kantuknya.
Bukan berarti Elsa kehilangan konsentrasi, tapi setiap kali dia berkonsentrasi dan menenangkan diri rasa itu otomatis membuat tubuhnya nyaman dan tidak sadarkan diri.
Dia terkadang masih bisa mendengarkan dan mengerti apa yang sedang di bahas dalam mimpinya.
Terkadang Elsa merasa dirinya mencatat semua itu dalam mimpinya, saat sadar ternyata catatannya masih kosong.
Mandi air dingin yang konon dapat menghilangkan rasa kantuk justru membuat Elsa semakin nyenyak tidur.
Kopi yang umumnya bisa menghilangkan kantuk dan membuat orang sulit tidur justru membuat Elsa semakin tak sadarkan diri.
Wudhu yang biasanya membuat orang lain merasa segar juga tidak berpengaruh padanya.
Karena itu jalan yang harus di tempuh Elsa untuk menghilangkan kantuk sangat sulit dan panjang.
Secara otomatis tujuannya untuk bisa mendapatkan ilmu Haq juga masih sangat jauh.