
Ch 29 - Pelayaran
Rifki dan Elsa terbelalak melihat kapal layar seukuran telapak tangan yang kini berada di telapak tangan Yu Lei.
“Serius?! Kapal sekecil itu bagaimana bisa dinaiki? Di injak saja bisa hancur.” kata Elsa terkejut tanpa sadar dengan bahasa Indonesia.
“Ah, kalian pasti terkejut. Ya, ini memang sesuatu yang sangat mahal harganya. Hahaha.” Kata Yu Lei bangga, dia tidak tahu apa yang dikatakan Elsa sebenarnya tapi dia menganggap Elsa terkejut karena dia bisa memiliki kapal terbang yang biasanya hanya dimiliki oleh kerajaan dan perusahaan transportasi di benua itu.
Elsa dan Rifki saling memandang dan mengedipkan mata. Tampaknya senior Yu Lei salah faham lagi pada mereka. Tapi setidaknya mereka bersyukur karena Yu Lei tidak tahu apa yang telah Elsa katakan sebenarnya.
Walaupun Yu Lei tampak seperti orang gila yang lebay, mereka yakin bahwa Yu Lei bukan orang gila.
Ya, mana mungkin orang gila memiliki begitu banyak harta.
Ah, mungkin saja dia memang gila karena tidak ada orang normal yang akan memberikan setumpuk harta di pertemuan pertama mereka.
“Ehm, bisakah senior Yu Lei menunjukkan cara kerjanya?” Tanya Rifki tanpa menyembunyikan rasa penasarannya. Bagaimana kapal sekecil itu bisa dinaiki manusia?!
Bagaimanapun juga, ini adalah dunia yang masih sangat asing baginya. Walaupun dia bisa memanipulasi energi dan atom, pengetahuan tentang hukum ruang adalah hal yang belum pernah dia pelajari.
“Ah, kalian lihat, tombol ini adalah untuk mengatur ukuran kapal. Kalian bisa mengaturnya sesuai dengan kebutuhan.” Kata Yu Lei seraya menggerakkan tombol itu ke ukuran bagian tengah dan meletakkannya di atas tanah.
Kapal itupun tumbuh menjadi besar hingga mereka harus menyingkir karena kapal itu memakan ruang diantara pepohonan sehingga terjebak di antara pepohonan.
Melihat hal itu, membuat Elsa teringat akan teknologi kapsul kapal dan rumah yang dibuat Bulma dalam film Dragon ball.
“Ups maaf, ku pikir ini sudah cukup kecil, tapi ternyata masih sangat besar” Kata Yu Lei tersenyum polos. Dia memang tidak pernah memakai kapal itu sejak dia menerimanya dari Xiao Hu. Karena dia lebih suka pergi kemanapun dengan terbang secara langsung dari pada menaiki kapal. Baginya menaiki kapal terlalu mencolok dan merepotkan.
Kemudian Yu Lei pun kembali mengatur tombol agar kapal itu menjadi sedikit lebih kecil lagi agar tidak terjebak di antara pepohonan.
Kini kapal itu berukuran sekitar panjang sepuluh meter, lebar lima meter, dan tinggi enam meter. Terbuat dari kayu dan beberapa ornamen dari logam yang membuatnya tampak seperti kapal zaman kuno milik kerajaan.
Yu Lei pun mengajak mereka berdua memasuki kapal. Terdapat sebuah pintu di bagian lambung kapal sehingga mereka tidak perlu repot-repot melompat ke atas dek.
Sampai di dalam, Yu Lei membawa mereka ke atas dan menunjukkan cara kerja kapal. Sekalipun dia nyaris tidak pernah menaiki kapal ini sendiri, tapi dia masih ingat bagaimana caranya Xiao Hu dan anak buahnya terbiasa mengemudikan kapal.
“Kapal ini menggunakan kristal spiritual seperti ini sebagai sumber energi penggeraknya. Aku sudah menyiapkan sejumlah kristal di sini untuk persediaan jika kristal ini habis.” Kata Yu Lei seraya menunjukkan tempat kristal energi itu bekerja dan kotak penyimpanan kristal yang ada di bawahnya.
Kristal yang ada di kotak penyimpan adalah sesuatu yang dipersiapkan Xiao Hu sebelumnya.
“Kalian bisa menentukan arah, ketinggian dan kecepatan kapal di sini…” kata Yu Lei menerangkan satu persatu bagian kapal.
Dia pun mencontohkan bagaimana cara mengendalikan kapal. Kapal pun mulai naik secara perlahan, menerobos dedaunan yang rimbun tanpa mengalami kesulitan karena Yu Lei telah menyibakkan cabang-cabang pohon yang ada di atas mereka untuk memberikan jalan keluar bagi kapal.
Pemandangan cabang-cabang pohon besar yang dapat bergerak bebas seperti tentakel yang menyingkir dan memberi jalan memang sudah seringkali mereka lihat dalam film-film animasi, tetapi melihat secara langsung cukup membuat Elsa sedikit terkejut. Mengapa tampaknya pepohonan itu seperti pelayan yang sedang memberi hormat? Mungkinkah ini hanya imajinasi ku saja?
Karena Yu Lei adalah roh hutan, sangat mudah baginya untuk menggerakkan cabang tanaman tanpa merusak mereka.
Kapal itu pun terus naik sampai di atas awan.
“Kemana kalian akan pergi?” Tanya Yu Lei untuk menentukan arah yang harus mereka tuju.
Rifki pun menunjukkan sebuah tempat dalam peta, dan Yu Lei pun mengatur agar kapal menuju kesana dengan kecepatan normal.
Setelah selesai, Yu Lei kemudian mengajak mereka mengelilingi kapal dan menunjukkan hal-hal yang perlu diperhatikan.
“Ada dapur dan beberapa bahan makanan di bagian belakang kapal. Ada beberapa kamar yang di lengkapi dengan kamar mandi. Kapal ini memiliki beberapa tempat yang berfungsi seperti cincin penyimpanan untuk menyimpan air, cadangan makanan dan kotoran. Jadi jangan lupa untuk mengisi kembali air jika kalian menemukan sumber air...” Makanan dan air yang ada juga merupakan hal-hal yang telah dipersiapkan Xiao Hu sebelumnya karena sebagai roh hutan, Yu Lei sama sekali tidak membutuhkan makanan atau minuman sama sekali untuk mengisi energinya. Baginya makan hanyalah hobi tersendiri. Karena pada dasarnya dia malas memasak, jadi dia hanya mau menikmati makanan yang dibuatkan oleh orang lain.
Elsa melihat ruang tempat penyimpanan makanan tersebut seperti lemari pendingin raksasa yang penuh dengan berbagai bahan daging, ikan, unggas dan sayuran segar yang ditanam dengan hidroponik. Hal itu membuat dirinya serasa memasuki supermarket pribadi.
“Baiklah, aku akan menemani kalian sampai di tepi hutan.” Kata Yu Lei pada akhirnya.
“Terima kasih banyak senior Yu Lei.” Kata Rifki tulus.
“Ah, tidak perlu merasa tidak nyaman. Kalian adalah pewaris dari sahabat ku, tentu saja aku harus membantu kalian.”
Kemudian mereka pun mengobrol dan bercerita tentang kehidupan di dunia ini dan dunia asal mereka. Sementara arah dan kecepatan kapal terasa begitu stabil melaju di atas awan.
Dari cerita Yu Lei, mereka dapat menyimpulkan bahwa dunia ini dihuni oleh beberapa ras manusia, binatang iblis, dan ras naga.
Rata-rata mereka semua adalah kultivator sehingga mereka memiliki umur yang sangat panjang.
Mata uang yang digunakan adalah koin perunggu, perak, emas dan kristal.
“Ah, jadi kalian berasal dari dunia lain. Pantas saja pakaian yang kalian kenakan berbeda.” kata Yu Lei bersemangat.
Mendengar hal itu, Elsa pun berencana untuk mengganti pakaiannya dengan model pakaian yang biasa digunakan disini. Elsa nampaknya ingat bahwa ada banyak pakaian dalam dimensi cincin yang diberikan oleh Yu Lei.
“Bisakah saya mengikuti kalian saat kalian kembali ke dunia kalian?” Tanya Yu Lei bersemangat.
“Tentu!” Jawab Elsa senang. Kepribadian Yu Lei sangat energik dan Elsa cukup bersemangat untuk mengobrol dengannya
“Baiklah, aku tunggu kalian. Ini adalah pinggiran hutan. Maaf, aku hanya bisa mengantarkan kalian sampai di sini.” Yu Lei akhirnya berpamitan, sambil tersenyum sosok tersebut kemudian hilang dalam sekejap seolah tidak pernah ada di sana sekali.
Jika bukan karena keberadaan kapal dan cincin penyimpanan yang diberikan Yu Lei, pasti mereka akan berpikir bahwa semua itu hanya mimpi.
Elsa tertegun sesaat. Ketika Rifki memanggilnya dirinya masih sedikit linglung.
“Mari kita mempersiapkan makanan!” Kata Rifki seraya menarik tangan Elsa ke dapur.
Elsa pun tersadar dan mengikuti Rifki ke dapur.
“Apa yang ingin kamu makan?” tanya Elsa saat melihat begitu banyak daging dan sayuran segar di ruang penyimpanan.
Melihat ruangan itu, Elsa memiliki keinginan untuk membuat rumah mereka menjadi swalayan yang penuh dengan sayuran hidroponik.
Membayangkan bagaimana seluruh rumah dipenuhi dengan sayuran segar nampaknya sangat menyenangkan.
Tanpa banyak berpikir, Rifki mengambil daging sapi dan bahan-bahan untuk membuat steak.
“Apa? Kamu ingin memindahkan seluruh ruangan ini ke dalam rumah kita?!” Kata Rifki mencoba menebak pikiran Elsa.
“Hehehe… “ Elsa hanya bisa memasang senyum manis untuk menutupi rasa malunya. Berharap Rifki mengijinkannya mewujudkan hal itu.
Elsa juga berencana untuk membuka restoran yang bahannya berasal dari sayuran yang ditanam sendiri. Restoran yang hanya buka enam jam sehari, saat sarapan dua jam, saat makan siang dua jam dan saat makan malam dua jam.
Menjalani hidup yang sederhana dan sehat serta menghasilkan sedikit uang di rumah.
“Ya, nanti kalau kita sudah pulang, kita minta tolong senior Yu Lei untuk mengaturnya.” Kata Rifki sambil tersenyum.
“Yes! Mmuach!” Sangking bahagianya, Elsa langsung mencium pipi Rifki.
Rifki pun memerah dan tertegun sejenak. Dia tak menyangka bahwa hal kecil seperti itu bisa membuat Elsa begitu bahagia.
Rifki tersenyum melihat Elsa yang kembali sibuk dengan berbagai bahan makanan seperti tidak terjadi apa-apa.
“Ehm…, Sa.” panggil Rifki mencoba untuk membuat Elsa yang bahagia kembali memperhatikannya.
“Ya?” jawab Elsa dengan serius menangani bumbu tanpa melihat Rifki.
“Hadap sini!” Bujuk Rifki.
Elsa pun menghentikan tangannya dan menghadap Rifki.
Sedetik kemudian, Rifki langsung mencium bibir Elsa.
Elsa tertegun sejenak dan kemudian membalas ciuman tersebut.
Elsa merasakan seluruh tubuhnya ikut serta menikmati ciuman Rifki.
Elsa merasa sedikit malu merasakan kelembaban yang mengalir di antara kedua kakinya hanya karena ciuman Rifki.
Wajahnya memerah dan dia sedikit mabuk oleh kedua bibir basah Rifki.
Walaupun mereka telah melakukan berbagai macam kontak intim, namun ciuman seperti ini adalah sesuatu yang terasa baru baginya.
Tubuh dan jiwanya seolah terpuaskan hanya dengan ciuman.
Elsa merasa linglung saat Rifki melepaskan bibirnya, seolah jiwanya terjebak dalam pusaran rasa.
"Lain kali, tak perlu malu jika kau ingin mencium bibirku." Kata Rifki menyadarkan Elsa yang tentu saja membuat Elsa semakin memerah.
Wajah Elsa tampak semakin menggemaskan bagi Rifki, membuatnya ingin menciumnya lagi dan lagi. Tanpa berpikir panjang, Rifki pun mencium Elsa lagi dan lagi. Sampai tiba-tiba terdengar suara.
"Ehm, maaf mengganggu sebentar. Aku lupa mengingatkan kalian." Yu Lei tiba-tiba muncul membuat keduanya malu.
Elsa menenggelamkan wajahnya yang merah di dada Rifki.
"Aku lupa untuk memberikan kalian ini." Yu Lei pun mengeluarkan dua buah batu yang diukir dengan beberapa rune kuno.
Apakah ini semacam tanda pengenal? Pikir Elsa heran saat dirinya menerima dan mengamati batu itu dengan lebih seksama. Ekspresi heran juga muncul di wajah Rifki.
"Ini adalah alat komunikasi jarak jauh di dunia ini. Kalian cukup meneteskan darah kalian agar alat ini dapat mengenali kalian sebagai pemiliknya." Mendengar kata meneteskan darah lagi membuat Elsa ingin muntah darah. Walaupun dia sudah terbiasa melihat darah tapi sangat tidak nyaman jika dia harus melukai dirinya sendiri lagi dan lagi.
Mau tak mau, Elsa dan Rifki pun mencoba untuk meneteskan darahnya ke batu aneh yang ada di tangan mereka. Seketika muncul cahaya dari dalam batu.
Kemudian Yu Lei mengeluarkan sebuah batu lagi yang nampaknya merupakan batu komunikasi miliknya.
"Karena kalian sudah memiliki batu komunikasi, aku akan mengidentifikasi batu kalian agar kita bisa saling menghubungi."
Dia pun mulai menunjukkan cara mengidentifikasi batu tersebut dengan menumpuk dua batu hingga keduanya bersinar dalam sekejap.
Setelah ketiga batu itu saling mengidentifikasi, Yu Lei menerangkan bagaimana cara batu itu bekerja.
Tiba-tiba saja Elsa teringat akan istilah "HP pathak asu" atau "HP mbalang asu" alias "HP buat melempar anjing". Istilah untuk HP jaman dulu yang masih menggunakan teknologi 2G yang biasanya ukurannya cukup besar dan berat sehingga jika digunakan untuk melempar anjing cukup untuk membuat anjing tersebut sekarat.
Sambil menimbang-nimbang batu komunikasi itu Elsa berpikir untuk mencobanya sesekali karena dirasa berat batu itu cukup mantap dan juga karena terbuat dari batu jadi cukup kokoh untuk dilempar berkali-kali. Dia pun mulai tersenyum lebar ketika memikirkan hal itu. Nampaknya orang pun akan pingsan jika kepalanya terkena batu tersebut.
Apalagi mengingat batu itu memiliki fungsi bisa terbang kembali ke pemilik batu. Ya, nampaknya itu sangat cocok untuk dijadikan sebagai senjata. Elsa terkadang cukup iri saat melihat pedang terbang di dalam film bela diri China. Sekarang dia sangat puas karena akhirnya dia bisa memiliki senjata terbangnya sendiri yang unik, batu terbang.
Melihat senyum Elsa saat menimbang-nimbang batu, Rifki tahu apa yang ada dalam pikirannya sehingga dia terpaksa memukul kepala Elsa untuk menghentikan imajinasi liarnya.
"Hubungi aku jika kalian dalam masalah. Tak peduli dimana saja kalian berada, aku akan mencoba untuk datang secepatnya." Kata Yu Lei menghangatkan hati Elsa.
"Hei, ngomong-ngomong apa yang kalian masak? Baunya harum sekali!" Tanya Yu Lei ketika mencium aroma steak. Dia pun berlari menghampiri steak dan memakannya langsung dengan tangan seolah steak panas itu tidak panas sama sekali.
"Hei, aku baru tahu, ternyata daging bisa seenak ini." Katanya sambil menjilati jari-jarinya setelah melahap semua daging steak dalam panci ukuran besar dengan sangat cepat.
Karena keduanya sangat menyukai steak dan karena hanya ada alat masak besar di dapur kapal Rifki sengaja membumbui cukup banyak daging agar nantinya mereka tidak terlalu repot saat memanggangnya.
Elsa dan Rifki saling berpandangan. Kemana perginya daging satu panci? Kenapa perut Yu Lei sepertinya tidak berubah ukuran sama sekali?!
"Ah, rasanya sudah lama sekali aku tidak makan sepuas ini. Terima kasih! Aku akan mengunjungi kalian lagi lain kali." Kata Yu Lei sambil menepuk pundak Elsa dan Rifki yang masih shock. Kemudian dia pun menghilang lagi.
Hati Elsa terasa berdarah menghadapi perampok makanan tak tahu malu seperti Yu Lei.
Sayangnya keduanya tidak berhak marah. Bagaimanapun juga semua itu awalnya pemberian Yu Lei. Jika dibilang untuk membalas rasa terima kasih pun hal itu masih belum sepadan dengan apa yang telah diberikan Yu Lei pada mereka.
Nampaknya mereka harus memasak lebih banyak lagi di masa depan untuk mengantisipasi kedatangan perampok makanan yang tidak bisa diduga.
Elsa bersyukur setidaknya masih ada sisa sedikit kuah bumbu dalam panci sehingga mereka tidak perlu membuat bumbu lagi, cukup menambahkan irisan daging sapi untuk makanan mereka kali ini.
Note:
Maaf telah membuat kalian semua menunggu sangat amat lama. Terima kasih, komentar kalian membuat saya kembali bersemangat untuk menulis lagi.