
Entah mengapa, akhir-akhir ini Elsa memikirkan "I want to have baby, wiht out husband" dia ingin memiliki bayi tapi malas berurusan dengan mahluk berlabel lelaki. Mengingat ada begitu banyak lelaki yang tidak bertanggungjawab dan suka cari enaknya sendiri sehingga membuat wanita menderita tanpa sedikitpun rasa bersalah menjadikannya trauma untuk terikat dengan pernikahan.
"Mom, kenapa ya? Aku tiba-tiba ingin punya bayi, tapi aku tak ingin punya suami." Kata Elsa setengah bergumam. Sebenarnya dia serius dalam perkataannya tapi tampaknya tidak ada yang percaya kepada-nya. Karena setiap kali dia mengatakan itu dengan nada manja dan kekanak-kanakan.
"Oo, wong edan!" Umpat Mom Fatty, salah satu sahabat Elsa yang gemar ngatain Elsa. Namun Elsa tak terpengaruh, justru tersenyum bangga karena sudah membuat sahabatnya frustasi. Dia memang sudah terbiasa dengan berbagai julukan gila dari Mom Fatty. Hanya Fatty yang berani terang-terangan mengatakan dia gila. Bahkan Fatty memiliki panggilan kesayangan untuk Elsa, Mbak Tho alias Mbak Gentho. Sebutan untuk penjahat di Jawa yang menurut Elsa memang cukup sesuai dengannya.
Ya, Elsa merasa dirinya semakin menjadi gila. Dia benar-benar menginginkan seorang bayi. Bayi yang benar-benar terlahir dari rahimnya. Biarpun Elsa memiliki beberapa anak yang dia rawat dan dia besarkan sepenuh hati di rumah miliknya. Namun rasanya hal itu belum bisa memuaskan rasanya, Elsa masih merasa cemburu jika melihat ibu-ibu hamil dan menyusui. Biarpun anak-anak angkat Elsa mencintai Elsa sepenuh hati, layaknya ibu mereka sendiri, tapi dia merasa seperti ada yang kurang.
Tiap kali dirinya melihat bayi-bayi yang imut Elsa selalu merasa gemas hingga ingin memakannya. Elsa bahkan dengan kegilaannya sering kali menganggap dirinya hamil dan berbicara dengan dedek dalam perutnya dengan bahasa anak-anak yang tentu saja tidak ada. Teman-teman yang ada di sekitarnya bahkan sudah tidak masalah lagi dengan kegilaannya itu.
Berumur 33 tahun memang sudah cukup tua untuk bisa dibilang gadis. Kalau dia hidup di desa pasti sudah di cap sebagai Perawan Tua. Namun karena dia hidup nyaman dan bahagia dikelilingi anak-anak, seringkali dia lupa umur. Di tambah lagi wajahnya dan bentuk tubuhnya yang sama sekali tidak berubah, sama seperti saat dia berusia dua puluh tahun membuat orang lain yang tidak mengenalnya sering salah memperkirakan umurnya. Dia masih seperti anak kuliahan yang manja dan kekanak-kanakan. Bukan berarti Elsa tak pernah ingin menikah, tapi dia merasa trauma untuk menjalin hubungan dengan lelaki karena tiga kali patah hati. Baginya, lelaki itu makhluk tak bertanggung jawab yang hanya menuruti nafsu. Atau makhluk yang tak tahu malu, yang merasa dirinya sudah sangat bertanggung jawab hanya dengan memberikan sedikit uang untuk biaya hidup. Bahkan sekarang banyak juga lelaki yang matre. Membayangkan hidup terikat dengan makhluk seperti itu benar-benar membuat dirinya ingin muntah.
"Edan ki yo edan Tho, tapi sing lumrah wae!" Kata Mom Fatty yang artinya "gila ya gila, tapi yang standar-standar saja" kembali melihat ponselnya. Seolah kata-kata Elsa hanya angin lalu. Bagaimana pun juga Mom Fatty alias Mak Fatty alias Tomblok sudah sangat terbiasa dengan kegilaan Elsa. Sehingga dia terlalu lelah untuk terkejut.
"Kalau bayi tabung gimana mak?" Tanya Elsa kembali menggoda Fatty, menyenangkan rasanya membayangkan melihat Fatty jadi gemas dan marah karena ocehannya. Elsa sempat kepikiran juga untuk membuat bayi tabung. Tapi karena berbagai alasan, dia belum menemukan donor yang cocok dengan kriteria yang diinginkannya.
"Karepmu Mbak Thoo..." Terserah kamu Mbak Thoo Kata Fatty menyerah. Agaknya dia sedang malas menanggapi ocehan Elsa seraya kembali fokus pada handphonenya. Membuat Elsa tersenyum undur diri, berjalan mencari orang yang bisa dia goda lagi.
Melihat Nak Uu, remaja 15 tahun yang biasanya ceria dan manja padanya terbaring tanpa daya di ranjang membuat Elsa ingin menggodanya.
"Ibu... Sakiit..." Gerutu Nak Uu. Sudah dua hari ini dia terbaring lemah di ranjang nya. Elsa tengah duduk di samping ranjang sembari memperhatikan gadis itu dengan wajah penuh senyum dan semangat.
"Makannya, kalau disuruh makan jangan susah. Ini dimakan dulu, aaa..." Kata Elsa sambil menyuapkan sesendok bubur ke mulutnya. Kata-katanya memang kasar, tapi anak-anaknya tau bahwa itu hanya bercanda.
"Gak mau bu... Pahiiit..." Rajuk gadis itu dengan wajah memelas manja, membuatnya terlihat lucu.
"Ya pahit, tapi harus dipaksa makan." Kata Elsa sambil melotot. Biarpun Elsa sudah melotot menakuti Nak Uu tapi anak itu tetap tidak ketakutan, anak itu yakin ibu angkatnya tak akan bisa benar-benar marah padanya.
"Lidahku pahit mam..." Nak Uu masih saja merengek manja. Entah apa yang diinginkannya, membuat Elsa pusing. Sedari kecil, Nak Uu memang susah makan dan lebih suka ngemil sehingga badannya lebih kecil diantara saudara-saudaranya.
"Kalau kamu tak mau makan, tak doblag lho!" Ancam Elsa dengan ekspresi sadis. Sayangnya Nak Uu sendiri sudah hafal betul tabiat Elsa, ibu angkatnya itu tak akan pernah kejam atau main tangan untuk menghukum anak-anaknya.
"Tapi pahiit..." Rengekan anak itu membuat Elsa ingin melakukan hal ekstrem. Seperti mengikat anak itu dan memaksa membuka mulut. Tapi tentu saja, dia tak bisa berbuat kejam.
"Kamu mau, tak panggilkan mbah dukun biar disembur nanti." Ancam Elsa dengan menggoda.
"Gak mau... Mbah dukun mulutnya bau..." Jawab Na'u dengan ekspresi manja.
Suara dering handphone membuat Elsa merasa terganggu, dia pun meletakkan piring dan mengangkat panggilan. Elsa berbicara sebentar kemudian kembali melihat Nak Uu.
"Ya sudah, kalau kamu mau terus sakit. Ibu mau keluar kota dulu. Nit, kamu paksa dia makan dan minum obat." Nita yang sedari tadi duduk di samping Nak Uu dengan senang hati menerima piring dari Elsa. Dia pun mulai tertawa menggoda saudara angkatnya itu.
Nita dan Nak Uu seumuran. Sama-sama kelas satu SMA. Keduanya sudah seperti saudara kembar yang berbeda sifat. Sangat gemar membuat Elsa pusing dengan kelakuan mereka. Keduanya sekolah di sekolah yang berbeda. Nak Uu yang serius memilih SMA favorit, tempatnya anak orang-orang kaya berkumpul. Sedangkan Nita yang santai memilih sekolah swasta pinggiran yang bebas aturan, sekolah yang isinya anak-anak golongan ekonomi bawah yang tidak peduli muridnya masuk atau tidak dimana kebanyakan muridnya memiliki slogan "sekolah tidak penting, yang penting lulus". Sebenarnya Nita tak terlalu bodoh, cukup cerdas malah, hanya saja dia lebih suka santai dan bersenang-senang. Elsa sendiri tak masalah dengan berbagai kepribadian anak-anaknya yang terkesan sulit diatur, yang penting dia sudah berusaha memberi mereka pondasi pendidikan agama, budi pekerti, dan tanggungjawab. Elsa juga tidak terlalu menuntut mereka mematuhi aturan-aturan yang telah dia tetapkan. Karena dirinya menyadari anak-anak butuh kebebasan untuk dapat menemukan jati diri mereka.
Elsa secara pribadi tak suka menyebut rumahnya sebagai panti. Rumah itu terletak di tengah perumahan elit, seperti rumah pada umumnya, tanpa papan pengenal panti asuhan. Tak ada yang tahu bila mereka yang tinggal disana anak-anak yatim-piatu. Elsa sendiri tak suka bila anak-anak asuhnya di panggil atau di anggap anak yatim. Karena menurutnya anak-anak yatim seringkali mendapat perlakuan yang berbeda, direndahkan, dipandang sebelah mata.
Elsa mencoba memenuhi kebutuhan anak-anaknya seperti anak-anak pada umumnya, bahkan terkesan terlalu memanjakan. Dia menyediakan uang saku, makanan, pakaian bermerek, pembantu, guru privat, handphone, laptop, bahkan kendaraan pribadi yah walau hanya sepeda motor second dan sepeda. Sejak mereka masih kesil, setiap anaknya dilatihnya untuk mandiri dan bisa beladiri. Sehingga Elsa tidak khawatir bila dia pergi begitu lama untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Elsa menyerah, dia harus berangkat ke Surabaya hari ini juga. Ada transaksi yang harus dia tangani sendiri. Negoisasinya sudah mencapai kesepakatan, tapi belum sampai tanda tangan kontrak. Sebelum berangkat, Elsa menyempatkan dirinya untuk pergi ke dapur, biarpun sudah ada Mbak Sa yang bertanggung jawab di dapur Elsa tak segan untuk membantu dan memeriksa kebutuhan rumahnya.
"Mbak Sa, masak apa?" Tanya Elsa menyapa seorang wanita di dapur. Wanita itu sudah berumur setengah abad lebih, namun mungkin karena sedikit keterbelakangan mental, sampai sekarang belum menikah. Sayangnya walaupun rambutnya sudah memutih semua dia begitu rajin mengecat rambut karena dia tak mau dibilang tua, sehingga Elsa menghormatinya dengan mengajarkan anak-anak untuk tetap memanggilnya "Mbak Sa".
"Bos, Bos, Ada bos kok disuruh-suruh!" Jawab Elsa geli. Anak buahnya yang satu ini memang suka minta tolong dan manfaatin semua orang, tak terkecuali bosnya sendiri.
"Ya ampun Bos... Tolong ya bos ya!" Ekspresi Mbak Sa memelas seolah dia memang sedang sibuk dan teraniaya.
Elsa tidak menjawab, hanya berguman "Hhmmmmh" sambil membawa baskom berisi sayuran cincang ke kandang kalkun di samping parkiran motor.
Setelah selesai memberi makan kalkun, Elsa mengambil helm, dia berencana naik motor ke stasiun kereta, menitipkan motornya disana dan berangkat ke Surabaya naik kereta. Biarpun Elsa mampu, akan tetapi dia lebih suka hidup sederhana. Baginya naik mobil dan pesawat itu pemborosan. Kecuali kalau memang harus ke luar pulau atau ke luar negeri.
Sesampainya di Surabaya. Dengan hanya berbekal ransel kecilnya dia berdiri di pinggir jalan mencoba untuk menghadang truck. Dalam rangka melestarikan hobinya yang somplak, yaitu jadi penumpang truk. Karena menurutnya itu adalah alat transportasi yang gratis, aman, dan bisa untuk menambah teman. Jangan ditanya betapa herannya para supir truk. Ada cewek cantik yang mau naik truk. Itu seperti kelinci yang suka naik harimau.
Tentu saja, Elsa selalu mendapat pertanyaan "Gak takut diculik/diperkosa/ dirampok/ dibunuh mbak?!" Atau "Gak takut ketemu penjahat Mbak?" Tentu saja, bagi orang normal truck mungkin memang identik dengan sopir yang suka mabuk. Tapi Elsa selalu berpikir positif, tersenyum dan menjawab dengan penuh kerendahan hati.
"Wong iku ngunduh wohing pakerti"
Orang itu akan menuai kebaikan dan keburukan yang ditanam. Atau "Gali niku rak njih menungso, wong podho menungsone kok wedi." Penjahat itu manusia, sesama manusia untuk apa merasa takut.
Atau "Wong kulo riyin njih gali." Dulu saya juga penjahat.
Trick yang Elsa gunakan rata-rata cukup berhasil membuat para sopir kagum dan segan padanya, membuatnya memiliki banyak kenalan sopir truk.
Kali ini, Elsa berencana menginap di rumah pamannya. Bagi Elsa selama masih ada rumah teman atau saudara yang bisa ditinggali, untuk apa membayar lebih untuk tinggal di hotel.
"Hai, Zidniiii.... Ziddaaan... " Teriak Elsa sambil berlari menghampiri kedua keponakan kembarnya yang tengah bermain di teras rumah.
Dia langsung menghujani keduanya dengan ciuman. Aroma bayi yang menyegarkan selalu dapat membuatnya bahagia. Itulah yang membuatnya ingin memiliki bayi sendiri. Tapi tentu saja Elsa masih memikirkan resiko bila dirinya sampai memiliki anak diluar nikah. Bisa dihujat sana-sini, belum lagi pandangan keluarga, anak-anak angkatnya. Elsa tak siap menanggung kekecewaan ibunya bila itu sampai terjadi.
Lagipula Elsa juga tak ingin punya anak yang bibitnya gak jelas. Setidaknya bapak dari anaknya kelak harus merupakan bibit unggul. Bukan sembarang cowok yang asal suka padanya.
"Eh Elsa, kapan datang? Naik apa tadi?" Sambut seorang lelaki paruh baya dengan rambut sudah setengah botak namun wajahnya masih cukup tampan. Adik ibunya ini adalah yang paling mengenalnya dan dekat dengannya diantara keluarga besar ibunya.
"Naik kereta, Om." Trus naik truck, kata Elsa dalam hati.
"Ayo masuk, kapan kamu nikah?" Mendengar pertanyaan itu, Elsa hanya tersenyum kecut. Oh, no!! Tak adakah topik lain?! gerutu Elsa dalam hati.
"Kamu itu sudah kepala tiga, nanti kalau kamu punya anak, anakmu umur 20 tahun kamu sudah tidak produktif lagi. Apalagi kamu itu cewek, gak baik nikah terlalu tua." Nasehat Om Qofal masih berlajut panjang. Namun Elsa memilih untuk mengabaikannya, masuk telinga kiri mental ke tembok, dari pada sakit hati. Elsa sedikit menyesal, jika saja dia tau bakal di omeli pamannya, maka dia lebih memilih tinggal di hotel atau di rumah temannya.
Dalam hati Elsa menjawab, bukannya dulu bulik juga ada yang nikah umur 40 tahun?! Toh bulik juga bisa punya anak. Memangnya siapa juga yang mau tiga kali patah hati?! Menyakitkan rasanya punya saudara tapi seperti mereka tak mengerti dirinya.
Untuk menenangkan dirinya,, Elsa selalu ingat kata-kata almarhum Mbah Yai "Apa yang ku terima hari ini, itulah yang terbaik untukmu saat ini." Sayangnya kata-kata itu justru menjebak Elsa dalam zona Nyaman sehingga terlalu malas untuk bekerja lebih keras.
"Bagaimana kabar ibumu?" tanya Om Qofal setelah melihat wajah Elsa yang semakin tidak enak dipandang.
"Alhamdulillah sehat. Ya paling kadang-kadang masuk angin." Jawab Elsa menjelaskan. Mengingat keadaan ibunya, dia bersyukur bahwa ibunya tidak memaksanya untuk cepat menikah. Ibunya juga tidak ingin Elsa buru-buru menikah dengan orang yang tidak baik. Ya, ibunya justru bersyukur Elsa putus dengan mantannya yang terakhir karena kelakuan mantannya yang buruk. Sehingga Elsa yang memang sudah malas untuk mencari pasangan pun semakin nyaman dengan keadaan nya yang benar-benar free.
Malam itu Elsa menghabiskan waktunya dengan bermain dengan kedua keponakannya. Tak lupa sebelum tidur dia melihat obrolan grup chat dan pembaruan novel favoritnya LPN dan JTI. Elsa sangat salut dengan orang itu karena author itu bisa membagi waktunya sehingga selalu update setiap hari.
---o-oO@Oo-o--