
Ch 17 - Flash back
Karena kebiasaan ngantuknya dan karena kedekatannya dengan seorang santri yang memiliki sejarah buruk sehingga orang itu melarikan diri dari pondok, Elsa mendapatkan fitnah.
Saat itu Elsa masih duduk di bangku SMA. Sepulang dari acara kemah sekolah, Elsa dipanggil dan dibawa ke rumah salah seorang santri yang terpencil. Di sana dia diminta untuk menunggu atau bahasa polisi nya di amankan.
Seorang santri putra tiba-tiba datang dan memperingatkannya untuk berhati-hati. Ada kemungkinan Elsa di tuduh menjadi pemakai dan bandar narkoba.
“Kalau aku jadi bandar, buku aku tidak menyewa, tapi beli!” Jawab Elsa sambil tertawa geli dan sedikit tidak terima.
Setelah orang itu pergi, seorang tentara yang Elsa kenal datang. Awalnya dia datang untuk mencari rumah kontrakan.
Sorenya orang itu datang kembali untuk menemuinya dan dia bercerita.
“Tadi saya menghitung di rumah ini ada enam jin. Kemudian saya menangkap mereka semua. Saat sampai di rumah, saya hitung kembali ada tujuh. Ketika saya bertanya, katanya dia jin yang ikut kamu. Kemudian saya tanya kembali sejak kapan? Dia menjawab dia sudah mengikuti mu sejak kamu masih dalam kandungan.”
Elsa tidak terlalu terkejut mendengar hal itu. Karena dia sudah mengetahui bahwa ada jiwa lain dalam dirinya.
Akan tetapi dia tidak yakin dengan jenisnya.
Elsa juga tahu bahwa beberapa orang memiliki jin baik atau yang biasa disebut khadam atau makhluk penjaga.
Umumnya hal itu di dapatkan karena perlindungan dari para sesepuh yang memiliki kesaktian atau dari orang sakti yang masih hidup (dukun atau kyai-kun or kyai-dukun).
“Aku hanya berpesan, kamu jangan terlalu percaya pada mereka. Karena mereka memiliki sifat suka menipu. Mereka hanya bisa jujur saat dipaksa. Walaupun saya bisa menyiksa mereka dan memaksa mereka untuk bekerja pada saya, saya sendiri tidak sepenuhnya percaya pada mereka.”
Orang itu pun bercerita banyak hal tentang makhluk itu. Yang membuat pikiran Elsa terbuka.
Jadi selama ini dia berbagi energi dengan makhluk tersebut sehingga dia selalu membutuhkan lebih banyak makanan dan selalu merasa lemas.
Orang itu juga bercerita bahwa pondok juga disinyalir terkena narkoba dan dirinya diminta untuk berhati-hati.
Tentu saja Elsa sudah tahu karena dia yang menjadi tersangka utamanya.
Beberapa hari kemudian, Elsa pun dibawa ke laboratorium untuk cek urin. Adapun bagaimana hasilnya dia tidak diberi tahu.
Pada akhirnya kasus itu pun selesai dan dilupakan begitu saja. Beberapa tahun kemudian Elsa tahu bahwa saat itu ada santri yang menderita psikopat.
Santri itu menyukai sahabat Elsa, karena Elsa tidak mau membantunya Elsa pun difitnah.
Suatu hari di bulan Ramadhan, Elsa membaca sebuah buku psikologi yang berjudul Tujuh Kecerdasan Manusia.
Dalam buku itu diterangkan tentang berbagai macam indra manusia dan potensi pikiran manusia.
Di terangkan bahwa ada dua jenis pikiran yaitu pikiran terbuka dan pikiran tertutup.
Pikiran terbuka adalah suatu kondisi dimana manusia dapat melihat segalanya dan dapat berinteraksi dengan semua hal.
Sebagai perbandingan pikiran tertutup seperti komputer tanpa internet dan pikiran terbuka seperti komputer dengan internet yang memungkinkan pikiran tersebut dapat menerima informasi dari luar dirinya.
Dengan berlatih pikiran terbuka, Elsa tiba-tiba secara ajaib dapat melihat beberapa dimensi yang ada di sekitarnya dimana pada awalnya Elsa sama sekali tidak bisa melihat hantu.
Dia dapat melihat banyak sekali hantu dan jin yang ikut ngaji di tempat Mbah Yai.
Elsa tidak takut dengan hantu yang tinggal di pondok karena mereka memakai ‘mode cantik’ bukan memakai 'mode mengerikan’ seperti yang biasa mereka gunakan untuk menakut-nakuti orang.
Elsa juga dapat melihat bahwa di alam lain pondok memiliki banyak tingkat dimana setiap tingkatan memiliki penghuni yang berbeda.
Semakin tinggi tingkatannya semakin tinggi tingkat keilmuan penghuninya.
Karena penasaran, Elsa membentangkan kesadarannya untuk melihat setiap tingkat dengan lebih detail.
Elsa melihat kakeknya dan kakek buyutnya yang telah tiada ikut ngaji dengan Mbah Yai.
Elsa dapat melihat bahwa para penghuni dimensi lain lebih rajin belajar dan membaca Al Qur'an daripada santri yang manusia.
Saat mengaji, Elsa memperhatikan bahwa ada beberapa dimensi yang bertumpuk.
Dia melihat orang yang duduk bersamanya, di dimensi yang berbeda, buku tulis yang digunakannya berbeda dengan buku yang ada di dunia ini, kertasnya berwarna kuning polos tanpa garis seperti kertas yang biasa digunakan untuk kitab kuning.
Nampaknya itu seperti perkamen tapi sangat tipis.
Penanya juga menggunakan pena bulu, seperti dalam film Harry Potter.
Setiap jam satu malam, di pesantren ada kegiatan yang di sebut mujahadah bersama di masjid dimana isinya adalah bacaan dzikir yang disusun oleh Mbah Yai secara pribadi.
Para santri penghuni dimensi lain sangat rajin, mereka sudah siap sejak jam dua belas malam.
Yang ikut mujahadah sangat banyak sekali.
Dengan Divine Sense (begitulah para penggemar LPN dan JTI menyebutnya) Elsa memperkirakan seluruh bukit dan perumahan sekitar pondok penuh sesak oleh mereka.
Di tengah mujahadah tersebut, tiba-tiba datang rombongan arwah memasuki masjid dan langsung masuk ke bagian terdalam dengan dipimpin oleh seorang yang memakai jubah hijau.
Elsa memperkirakan mereka adalah para wali Allah yang berkedudukan tinggi.
Dia merasa takut, tidak berani melihat dan menebak siapa mereka.
Karena itulah Elsa yakin bahwa Aby memiliki kedudukan yang tinggi diantara wali Allah.
Dirinya yang bukan siapa siapa saja bisa melihat dengan Divine Sense, apalagi Mbah Yai yang lebih hebat darinya.
Elsa tidak heran jika Mbah Yai bisa muncul tiba-tiba di Makkah untuk menemui santrinya di sana saat mereka haji.
Seperti yang sering diceritakan para santri yang pulang haji.
Saat rombongan itu keluar, tiba-tiba mereka mendekat dan berhenti di depan Elsa.
Elsa menundukkan kepalanya, tidak berani menatap.
Elsa mencengkeram erat tangan santri yang duduk di sebelahnya, karena santri itu juga bisa melihat, mereka mencoba untuk saling meyakinkan apa yang dilihatnya.
Elsa mengucapkan salam kepada orang itu dalam hatinya.
Orang itu pun mengatakan sesuatu pada Mbah Yai sambil menunjuk dirinya.
Elsa tidak tahu apa yang mereka katakan tapi dirinya merasa takut bila dirinya akan menjadi lebih diperhatikan.
Hal yang paling ditakutkan Elsa adalah jika dia menjadi terlalu GR, merasa bahwa dirinya di sayang lalu ternyata semua itu hanyalah ilusi.
Bagaimanapun juga dirinya tidak memiliki keberanian untuk bertanya langsung kepada Mbah Yai tentang hal itu.
Elsa takut dirinya menjadi gila karena biasanya mereka yang memiliki ilmu tinggi dan tidak kuat akan menjadi gila. (Dia tidak sadar kalau dirinya sebenarnya sudah lama gila)
Elsa tidak percaya kalau dirinya bisa mendapatkan kemuliaan seperti para wali karena Elsa sadar diri, dia masih terlalu gholah (lupa mengingat Allah) atau sering tak sadarkan diri karena mengantuk.
Elsa tahu bahwa untuk menjadi wali setidaknya orang tersebut bisa selalu terjaga untuk mengingat Allah.
Karena hal itu sangat mustahil baginya, Elsa memilih untuk melupakannya.
Di hari Idul Fitri, Elsa berdoa agar kemampuannya untuk bisa melihat alam lainnya ditutup.
Karena Mbah Yai berkata bahwa di hari itu semua doa dikabulkan, Elsa yakin doanya terkabul.
Sejak saat itu, Elsa kembali tidak bisa melihat makhluk lain.
Sejak awal masuk pondok, Elsa paling malas untuk melakukan prosedur ijin untuk pulang karena surat ijin tersebut harus ditandatangani oleh ketua gotaan (kamar), Lurah (pemimpin pondok), dan Guse.
Sehingga Elsa sering pergi tanpa pamit alias minggat dan sering mendapatkan hukuman karena itu.
Tak diragukan lagi jika para pengurus memberikan cap pada dirinya sebagai biang masalah. (Jangan ditiru!)
Saat kuliah, Karena seringnya dia pulang dan pergi tanpa pamit, Mbah Yai berkata “Keluar masuk seenaknya sendiri memangnya ini pondok miliknya kakek kamu?!”
Mbah Yai tahu bahwa Kakek Elsa dari pihak ibu memang memiliki pondok, tapi Elsa tidak mau tinggal disana.
Pada akhirnya Elsa pun diusir dari pondok.
Elsa sangat terpukul.
Dia pun lebih sering tinggal di game center dan menghabiskan waktunya dengan bermain game untuk melatih konsentrasinya.
Elsa mencoba untuk membagi kesadaran dan konsentrasinya antara nafas, tasbih dan game.
Ya, Elsa memang gila dia suka mencampur kebenaran dan kejahatan.
Elsa menjadi satu satunya cewek yang ada di sana.
Latihan Elsa sedikit membuahkan hasil.
Kini dia bisa kuat mempertahankan kesadarannya semalaman.
Dari latihan itu, Elsa bahkan dapat menentukan waktu malam dari tekanan udara yang dirasakan tanpa melihat jam.
Di siang harinya, Elsa melakukan latihan langkah untuk memperkuat kakinya, tentunya dia masih mempertahankan nafas dan tasbihnya.
Hari-harinya dihabiskan untuk latihan dan latihan tanpa perasaan seperti orang gila.
Elsa adalah wanita tanpa moral dan etika yang telah mencampurkan antara perbuatan baik dan buruk. Elsa menganggap dirinya adalah pelacur yang suka menari, mencuri perhatian alam dengan kepiawaiannya mempermainkan nafsu tanpa melukai tubuhnya.
Ya, Elsa adalah orang yang suka bermain di atas bara api nafsu dengan tetap menjaga agar hatinya tetap dingin.
Hati Elsa adalah milik Tuhan-Nya, Sang Penguasa Alam Raya ini dan hanya di depan-Nya lah dia melakukan pertunjukan ini.
Sejak kecil, karena ingatan tentang kehidupan masa lalunya, tubuhnya terlatih untuk menjadi pelacur.
Namun bersamaan dengan itu, hatinya terlatih untuk selalu menyebut nama-Nya dalam setiap kelacurannta.
Hatinya menangis-merintih setiap kali melihat kelacuran tubuhnya. Namun, Elsa tak bisa menahan kerinduan setiap sel tubuhnya yang terlatih untuk melacur.
“Syakir”... ah, kata itu terlalu indah baginya. (Syakir adalah sebutan untuk orang yang gila/ mabuk karena kecintaannya pada Tuhannya)
“Salahkah aku yang selalu merindukan “Horny” dengan menyebut namaNya dalam setiap desahan nafasku?” begitulah pikiran Elsa berjalan.
Elsa tahu, ilmu dan amalnya memang belum cukup pantas untuk menjadikannya sebagai Kekasih Tuhan-Nya.
Elsa menyebut dirinya pelacur-Nya karena bagi Elsa seorang kekasih akan selalu mengingat-Nya, Sedangkan dirinya hanya mengingat-Nya disaat dia horny.
Tapi Elsa sadar, dia bukanlah Aulia’, dia bukanlah kekasih sejati-Nya. Dirinya belum pantas menerima kedudukan mulia itu.
Elsa tahu, secara ajaran syariat (hukum Islam) dia bersalah karena mencampurkan perbuatan hak dan batil dalam satu waktu.
Jika kalian menganggap Elsa gila, dia tidak akan marah, karena dia memang gila.
Karena kegilaannya, untuk melupakan kesedihannya Elsa akan mengajak alam di sekitarnya untuk menjadi gila.
Dia akan menari dan menyanyi dengan tubuh rohnya mengekspresikan perasaan cintanya bersama alam, menciptakan panggungnya sendiri.
Tanpa sengaja, dia pun bertemu dengan Arya. Saat pertemuan pertama mereka, tiba-tiba jiwa lain yang selama ini selalu tertidur dalam diri Elsa bereaksi.
“Siapa kamu sebenarnya?” Tanya Elsa lewat SMS. Saat itu belum ada ponsel Android, jadi komunikasi mereka lebih banyak dilakukan dengan SMS.
“Aku Swarna Bumi.”
“Jika kamu Swarna Bumi, maka aku titip salam untuk Dewi bumi.”
“Memangnya kamu siapa? Mengapa aku harus menyampaikan salam mu?” tanya Arya heran.
“Bilang saja, aku putri dari sahabatnya.” Kata Elsa mencoba berpura-pura.
“Kalau kamu Wulung, tidak mungkin kamu tidak mengenaliku kemarin.” Elsa tidak percaya, bahkan Arya bisa menebaknya dengan benar.
“Oh, jadi kalau di Jawa namanya Wulung. Memangnya apa hubungannya kamu dengan Wulung?”
“Wulung adalah cucuku.”
“Bagaimana kamu tahu kalau itu aku?” Tanya Elsa heran.
“Tentu saja, karena kamu adalah gadis yang ku latih pedang beberapa tahun yang lalu.”
“Oh, lalu apakah kamu pernah mendengar tentang Ling Zhan?” tanya Elsa kembali, dia mencoba untuk tetap tenang dan pura-pura tahu.
“Ling Zhan saat ini tidak bereinkarnasi menjadi manusia, dia saat ini bereinkarnasi menjadi paus biru di samudera Pasifik.”
Pengetahuan Arya tentang alam itu membuat Elsa ingin kembali mencari tahu siapa dirinya di masa lalu dan mendapatkan kembali kekuatannya.
Walaupun dia tahu, mustahil baginya untuk menemukan Ling Zhan secara langsung.
Tapi setidaknya dia tidak gila sendirian.
Ehm, maksudnya jika semua itu hanyalah imajinasi.
Tapi tidak mungkin kan jika beberapa orang memiliki imajinasi yang saling berhubungan?!
Pada pertemuan kedua mereka. Tanpa sadar, Elsa membuka segel kekuatan Arya dan menyerap seluruh kekuatan itu ke dalam dirinya sehingga Arya cidera.
Elsa sendiri tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi.
Elsa juga tiba-tiba memiliki kemampuan untuk mengcopy paste ilmu atau kekuatan.
Arya bercerita bahwa dirinya sejak kecil sudah memiliki kekuatan dan seringkali tidak bisa mengendalikannya.
Sebagai salah satu contohnya, jika dia ingin bertemu dengan Nyi Roro Kidul yang merupakan ratu penguasa alam gaib di Laut selatan Jawa, maka Arya akan memindahkannya beserta istananya.
(Fiks! Ini benar-benar gila!)
(Author: aku tak pingsan dulu, nanti aku bangunin, ya!)
Bahkan penguasa lautan (yang tidak ingin disebut namanya) mengakui Elsa sebagai cucu.
Karena lautan adalah kekuasaannya.
Maka dengan uang hasil menjadi makelar emas dia pun mendirikan sebuah perusahaan ekspor impor bersama Arya dan teman-temannya.
Dengan berbekal pengalamannya di dunia underground Jakarta, Arya pun mulai menaklukkan beberapa kelompok tentara bayaran dan mendirikan pangkalan militer di lautan.
Sebagai tangan kanan Arya, Elsa menerima kecemburuan dari istri Arya sehingga Elsa pun memutuskan untuk memisahkan diri.
Karena itu, Elsa menjaga jarak dari Arya dan lebih dekat dengan Surya dan keluarganya.
Setahun kemudian, Elsa mendapat kabar bahwa kesehatan Aby mulai memburuk.
Elsa tahu, bahwa Aby tak pernah makan, hanya minum kopi, tak pernah tidur, selalu sesak nafas, tiap hari kerokan, selalu drop tapi Aby selalu memaksakan diri untuk mengajar.
Sampai posisi tangan di infus dan memakai selang oxigen pun Aby tetap bersikeras mengajar.
Dengan ilmunya saat itu, sangat mudah bagi Elsa untuk mengerti apa yang akan di ajarkan Aby. Setiap kali melihat bahasa Arab, Elsa otomatis tahu arti dan maksud nya.
Aby tak pernah lagi marah padanya. Elsa justru merasa pandangan Aby padanya sedikit hormat padanya akan tetapi hal itu tidak di tunjukkan secara terang-terangan.
Aby bahkan berkali-kali memujinya tanpa menyebutkan namanya.
Tapi Elsa tahu bahwa yang dimaksud Aby adalah dirinya.
Saat itu lah dia mulai mengenal dan memperhatikan Rifki.
Elsa tahu bahwa Rifki memiliki kekuatan untuk melihat hal-hal yang tidak bisa di lihat.
Karena itu, Elsa sangat menyembunyikan kekuatannya.
Elsa merasa hanya di depan Aby dia tidak akan pernah bisa bersembunyi.
Setidaknya Elsa bersyukur dia masih bisa menyembunyikan kekuatannya di depan Rifki dan Guse.
Selama dia tinggal di pondok, Elsa menyerahkan semua urusan di luar pada Ve dan Deshi. Sampai akhirnya Aby pindah dimensi. Elsa pun kembali ke luar negeri.
Namun, biarpun Elsa memiliki ilmu tinggi dan kekuatan yang besar dia masih tidak percaya jika dirinya seorang master sejati seperti Aby.
Elsa masih merasa dirinya tidak pantas dan menganggap dirinya gila.