
Ch 7 - Meet Again
Langit sudah gelap saat Elsa membuka matanya. Tubuhnya masih terasa remuk redam seperti habis di gilas truck. Elsa benar-benar ingin mengutuk dirinya sendiri karena lupa minum obat.
Hipertiroid yang di deritanya membuatnya sangat mudah lelah dan tidak bertenaga.
Hal yang patut di syukuri dari penyakit ini adalah bahwa dia tidak perlu khawatir gemuk walaupun nafsu makannya besar karena makan sebanyak apapun tidak akan berpengaruh pada berat badan dan tenaga, semua makanan yang di cernanya tidak bisa terserap sempurna.
Kemudian penyakit ini juga membuat kulit tubuhnya menjadi lebih tipis, yang berarti semua kapalan di tangan dan kakinya akibat latihannya menghilang tanpa bekas.
Kini kulitnya semakin halus seperti bayi.
Yang menyebalkan dari penyakit ini adalah semua otot yang telah di bentuknya dengan latihan bertahun-tahun habis dengan sendirinya.
Walaupun tubuhnya masih bisa mempertahankan kecepatan gerakannya. Tapi karena tidak adanya dukungan otot, dia akan langsung kesakitan jika terbentur sesuatu.
Kulitnya juga menjadi lebih mudah tergores.
Hanya karena menangkap peluru seperti kemarin saja kulitnya jadi melepuh seperti terkenal luka bakar. Elsa meringis melihat dua luka lepuh di jarinya.
Padahal sebelumnya dia punya penyakit ini, bola api atau bola durian saja tidak akan menjadi masalah untuk dijadikannya pengganti bola voli.
Operasi tidak bisa menyembuhkannya seratus persen. Setelah operasi dia juga harus tetap minum obat pengontrol hormon tiroid.
Di setiap musibah pasti ada berkahnya pikir Elsa, ya pasti akan ada lebih banyak lagi berkah yang akan diterimanya karena penyakit ini. Hohohoho…
(Plak! Abaikan saja pikiran orang gila)
Melihat ke sekelilingnya. Kamarnya telah di cat ulang. Dia tidak terlalu memperhatikan awalnya, dirinya langsung tertidur begitu sampai di sini. Walaupun dia sudah tidur di pesawat, tetap saja dirinya masih belum merasa puas.
Elsa pun bangkit dan mencari obatnya. Setelah meminum obatnya, dia pun membuka lemari es yang ada di kamarnya untuk memakan roti dulu sebelum pergi mandi.(Kebiasaan buruk. Jangan di tiru!)
Syukurlah para pelayan tidak lupa mempersiapkan berbagai macam cake dan buah-buahan untuknya mengingat keadaan perutnya yang sangat mudah lapar karena penyakitnya.
Selesai mandi dan menyegarkan diri, Elsa membuka lemari pakaiannya dan melihat banyak gaun telah di tambahkan ke dalamnya. Dia nyaris tidak pernah membeli baju sendiri karena ibu angkatnya telah menyiapkan semuanya.
Dia memilih long dress berwarna biru muda untuk dipakainya. Gaun itu cukup tertutup dan panjangnya sampai bawah lutut. Modelnya simpel dan elegan sesuai dengan gayanya. Tidak terlalu mencolok tapi cukup sopan jika dikenakan untuk acara resmi.
Elsa cukup puas karena gaun itu begitu pas di tubuhnya sehingga dapat menonjolkan kedua payudaranya yang besar, pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang besar. Dengan sedikit belahan yang membuat kakinya nyaman untuk menendang.
Dia hanya memakai eyeliner dan pelembab bibir untuk riasannya karena dia sudah memiliki bulu mata yang indah dan kulit wajah yang putih mulus. Karena dia berpikir hanya akan makan malam di rumah bersama keluarga angkatnya, tak perlu baginya untuk memakai riasan yang berlebihan.
Saat menuruni tangga, dia di sambut dengan pandangan antusias keluarganya. Seolah mereka telah menunggu-nunggu kehadirannya. Ruang keluarga yang biasanya sepi menjadi lebih hangat karena kehadiran putra Lady Viona bersama dengan pasangannya. Melihat mereka berdua duduk bersama membuat hatinya sedikit masam.
“Sayang, cepatlah! Kakek telah menunggumu dari tadi.” Lady Viona segera bangkit dan menarik Elsa duduk di sampingnya.
“Bagaimana istirahat mu? Kamu tampaknya sangat lelah tadi. Jadi kami tidak ingin membangunkan mu lebih awal.” Elsa hanya tersenyum mendengarnya. Hatinya terasa hangat saat menerima perhatian dari ibu angkatnya.
“Apakah kamu yakin dengan pengunduran dirimu dari perusahaan?” Tanya kakek angkatnya Mr. Mark dengan nada khawatir.
“Ya, Kek! Aku ingin beristirahat dan lebih bersantai menikmati hidup.” jawab Elsa seraya menyandarkan tubuhnya pada ibu angkatnya.
“Begitulah seharusnya! Jangan terlalu banyak bekerja!” Mr. Mark tampak begitu puas dengan keputusan cucunya.
Sudah sering kali dia membujuk cucunya untuk mundur dan beristirahat sejak cucunya terdeteksi mengidap hipertiroid beberapa tahun lalu.
“Anggel, perkenalkan dia adalah Mr. Rifki.” Kata Mr. Mark memperkenalkan sosok yang baru saja disadari keberadaannya oleh Elsa.
Spontan Elsa membelalakkan matanya melihat wajah Rifki yang tersenyum lebar. Senyuman itu membuat hatinya bergidik ngeri.
Dia begitu hafal dengan senyuman itu. Senyuman yang sangat berbahaya dan penuh dengan niat buruk.
“Tak perlu repot-repot Mr. Mark, kami sudah saling mengenal dan memiliki hubungan. Mungkin Angel terlalu malu untuk menceritakan hubungan kami pada kalian.” Seringai Rifki tampak semakin berbahaya di mata Elsa. Rifki sangat bahagia melihat ekspresi wajah Elsa yang begitu terkejut hingga matanya nyaris keluar. Itu tampak sangat lucu baginya.
Mendengar hal itu, Elsa semakin membelalakkan matanya. Mengancam Rifki dengan tatapan matanya, walaupun hal itu sebenarnya percuma.
Fuck off!! Elsa benar-benar ingin marah dan berteriak pada Rifki.
Bagaimana bisa dia menceritakan kepada keluarganya kalau dia diam-diam melecehkan Rifki?!
“Benarkah sayang? Oh, wajahmu memerah. Sayang, kamu tak perlu malu pada kami.” Mata Lady Viona tampak bersinar penuh kebahagiaan melihat wajah putrinya yang memerah. Ah, Putri kesayangannya akhirnya jatuh cinta.
“Bukan seperti itu….” rajuk Elsa membela diri, dia terbiasa menggunakan nada manja pada keluarganya. Rasanya dia ingin menangis.
“Kami mengerti, biasanya kami memang sangat protektif padanya. Wajar saja jika dia takut memperkenalkan seseorang pada kami.” kata Mr. Mark setelah memikirkannya.
“Akhirnya adikku sudah besar.” kali ini saudaranya bahkan ikut menimpali.
“Ya, awalnya kami ragu mendengar kabar bahwa kamu tiba-tiba mengundurkan diri karena mau menikah.” kata saudara iparnya.
Elsa berharap agar dia dapat mengubur wajahnya kali ini. Mengapa semua berkembang menjadi seperti ini? Siapa yang mau berhubungan dengan Rifki? Siapa yang mau menikah dengannya?!!
(Author: banyak cewek yang mau berhubungan dengan Rifki. Kamu saja yang gak mau.)
“Maaf mengecewakan kalian, tapi antara aku dan Rifki benar-benar tidak seperti yang kalian pikirkan. Diantara kami benar-benar tidak ada apa-apa.” jelas Elsa mencoba untuk meluruskan. Namun hal itu sia-sia.
“Baby, kumohon jangan seperti ini. Aku tahu aku salah. Tapi kamu jangan mengabaikan ku seperti ini. Itu benar-benar membuat hatiku sakit.” Rifki memegang dadanya bertindak seperti orang yang benar-benar sakit hati.
Hey! Kemana Rifki ku yang sombong dan cool? Sejak kapan dia menjadi begitu alay seperti ini? Author, kembalikan Rifki ku yang cool!
(Author: Uhuk, sejak kapan Rifki jadi orang yang cool?! Seingat ku dia orang yang hangat, ramai, suka bercanda. 🤔🤔🤔)
Elsa merasa pusing
“Mr. Rifki, maaf. Saya rasa anda salah orang.” sindir Elsa.😒
“Tidak, tidak, tidak! Baby, bagaimana mungkin aku melupakan mu?! Baru seminggu kita berpisah, aku tidak mungkin salah mengenalimu. Aroma mu, tubuhmu, suaramu membuat aku tidak bisa melupakan mu.” kata Rifki sambil menghampiri Elsa dan duduk di sebelahnya.
(Rifki: apakah aku masih kurang keren?!)
Holy shit!! Elsa merinding mendengarnya. Mengapa Rifki bisa begitu ambigu, sejak kapan dia menjadi mesum seperti ini.
(Author:Tentu saja sejak kamu mesum padanya 😒)
“Baby, maafkan aku. Malam itu aku tak sadarkan diri. Saat aku bangun kau sudah tidak ada lagi di samping ku. Aku telah berusaha mencari mu kemana-mana tapi tidak bisa menemukan mu.” kata Rifki memohon sambil berlutut di depan Elsa dan menatapnya.😳
(Rifki: aktingku sudah cukup keren, kan?🤓)
(Elsa: Hey, apakah ada kamera disini?! Jangan bilang ini adalah acara reality show. 😯)
Lelaki ini, Grrrr!!! Elsa begitu geram melihat tingkah laku Rifki yang tampak sangat realistis.
Dia memang tidak berbohong tapi Kenapa nadanya itu terdengar seperti kisah romantis?😱
Perlukah kamu mencariku dengan menggerakkan seluruh pasukanmu?
“Sudah cukup! Jangan bersandiwara lagi di depan ku!” Bentak Elsa sambil melemparkan tangan Rifki.
Rifki tampak panik.
Elsa berdiri dan berlari. Rifki mengejar Elsa.
“Baby, baby! Please, jangan marah, baby!” Bujuk Rifki.
Dia menangkap tangan Elsa dan memeluk nya.
Ah, akhirnya dia bisa benar-benar memeluknya. Dia pun segera mencium bibir Elsa tanpa banyak bicara.
(Penonton:😱😱)
Bibir Rifki menghisapnya bibir Elsa kuat-kuat seperti ingin melahapnya.
Tubuhnya tersentak karena ujung jemari Rifki menggoda kulitnya. Dia berjuang untuk melepaskan diri dari pelukan Rifki. Tapi Rifki tidak bergeming.
Ugh, kenapa sekarang kulit nya menjadi sangat sensitif. Hanya dengan usapan kecil saja telah membuat tubuh bagian bawah nya basah. Kemarahannya menghilang begitu saja, tergantikan oleh rasa yang menyenangkan. 😶
Elsa shock. Dia tidak akan pernah menyangka Rifki akan menjadi begitu berani untuk menciumnya di depan keluarganya. Dan parahnya lagi dia juga sangat menikmatinya.
Setelah puas bermain. Rifki pun berbisik pada Elsa.
“Baby, lebih baik kau menyerah saja. Mungkin aku bisa memaafkan mu jika kamu mau bekerja sama”
Tak lupa Rifki menggigit ujung telinga Elsa. Rifki merasa puas dengan reaksi tubuh Elsa.
“Jika kalian ingin bermesraan, sana pergi ke kamar! Jangan beri makan kami makanan anjing.” Kata Mr. Mark menyadarkan Elsa bahwa posisi mereka sangat ambigu.
Rifki pun mulai menyeret Elsa yang masih tak sadarkan diri ke ruang makan.
Elsa begitu malu, sehingga dia ingin mengubur wajahnya. Shit! Mengapa dia begitu lemah dan mudah tersihir oleh Rifki.
Rifki menarik kursi untuk Elsa sebelum duduk di sampingnya. Dia masih meneruskan aktingnya dengan penuh perhatian melayani Elsa.
Rifki mengambil sesendok sup dan menyuapi Elsa. Mau tak mau Elsa pun seperti anak kecil yang begitu patuh pada Rifki. Rifki pun merasa sangat puas dengan perilaku Elsa. Rifki berpikir gadis itu ternyata bisa tampak sangat lucu saat wajahnya memerah.
Elsa terus menerus meyakinkan dirinya bahwa Rifki hanya berakting.
Sisi malaikat dalam diri Elsa berkata: Elsa, ingat! Jangan jatuh cinta pada Rifki atau kamu akan sakit hati. Rifki hanya berpura-pura agar dia bisa membalas dendam pada mu.
Sisi iblis dalam diri Elsa membujuk: Ayolah kita ikuti permainannya, nanti kita permainkan dia lagi.
“Bagaimana kalian berdua bertemu?” Tanya Mr. Mark penasaran.
“Kami sebenarnya sudah sangat lama menjalin hubungan, Sir.” terang Rifki.
“Jangan terlalu formal. Panggil saja kakek.” kata Mr. Mark sambil tertawa bahagia.
“Lalu, bagaimana kalian bisa jatuh cinta?” tanya Lady Viona penasaran.
“Ehm, kalau itu. Sebaiknya kalian tanyakan sendiri padanya.” jawab Rifki sambil melirik kearah Elsa.
Elsa pun menusuk garpu yang di pegangnya pada paha Rifki. Namun di tangkap oleh tangan Rifki terlebih dahulu.
“Sayang, kamu tak perlu marah. Tidak perlu malu menceritakan kenyataannya bahwa kamu yang lebih dulu mengambil inisiatif padaku.” bujuk Rifki.
Wajah merah Elsa seperti membenarkan hal tersebut. Matanya menatap tajam kearah Rifki.
Biarpun Elsa sudah terbiasa dengan lidah tajam Rifki. Tapi bukan berarti Elsa bisa menerima sindiran di depan keluarganya. Ya, dia memang bukan gadis baik-baik. Tapi bukan berarti Rifki bebas mempermalukannya di depan mereka.
Tak tahan lagi, Elsa menutup matanya dan menguatkan hati. Dengan tegas Elsa meletakkan alat makannya dan menatap Rifki.
“ Ya! Saya memang gadis yang tidak tahu malu! Tak punya sopan santun! Tak perlu lagi Anda tegaskan! Saya sudah tahu! Anda bukan siapa-siapa saya. Jadi tak perlu Anda ikut campur dalam hidup saya!” kata Elsa tegas.
“Maaf, saya permisi dulu.” Lanjut Elsa berdiri meninggalkan ruang makan.
Semua orang tertegun melihat Elsa kemudian tatapan mereka pun beralih ke Rifki yang masih tertegun di tempatnya.
“Maaf, anak itu tidak biasanya seperti itu.” Mr. Mark menggelengkan kepalanya. Seingatnya sangat jarang bagi Elsa untuk menjadi sangat emosional hingga kehilangan kendali.
“Tidak masalah, Kek. Saya mengerti. Ini salah saya, saya lupa bahwa hormonnya sedang tidak stabil.” Rifki mengerti, ini salahnya. Elsa paling tidak suka jika ada yang membuka topengnya di depan keluarganya.
Mendengar hal itu, sebagai seorang ibu, Lady Viona merasakan ada yang aneh dengan mereka berdua. Mungkinkah Angel begitu emosional karena Angel telah hamil dengan Rifki.
“Nak, jujur saja. Apakah putri ku sedang mengandung anak mu?” tanya Lady Viona khawatir.
“Sebelumnya saya minta maaf. Sebenarnya saya masih belum begitu yakin. Tapi saya siap untuk bertanggung jawab.” jawab Rifki dengan nada yang meyakinkan.
Walaupun sebenarnya dia tidak perlu meminta maaf, karena itu bukan salahnya. Tetapi untuk meyakinkan mereka, Rifki harus melakukannya.
Jika memang Elsa hamil terlebih dahulu sebelum menikah, dan kemudian ada yang datang untuk bertanggung jawab. Bukankah pada akhirnya mereka akan menikah?
Jaman sekarang bukankah banyak orang yang hamil duluan baru menikah pikir Lady Viona.
“Kalau begitu, kalian harus secepatnya menikah.” kata Mr. Mark tegas.
“Ya, saya juga berencana demikian.” terang Rifki.
“Nak. Kami percaya kamu tidak akan mengecewakan kami.” kata Lady Viona kemudian.
“Ya, jika kalian ada kesalahpahaman, segeralah diselesaikan! Kamar Elsa di lantai dua, kamar ketiga sebelah kiri.” Mr. Mark menunjukkan dengan acuh tak acuh.
“Terima kasih, Kek!” Rifki begitu bahagia karena pada akhirnya dia bisa membuat seluruh keluarga mendukungnya.
“Hmm. Jangan terlalu membuatnya lelah!” seru Mr. Mark lagi sebelum melanjutkan makannya.
Rifki pun segera berjalan menuju kamar Elsa seperti yang telah ditunjukkan Mr. Mark. Dia sendiri tidak menyangka bahwa ternyata Mr. Mark juga bisa berkata begitu vulgar. (Coba deh di ingat-ingat, mana yang vulgar?! Itu cuma Am-bi-gu, oke!)
Sesampainya di depan pintu kamar Elsa. Rifki mengetuk pintu. Elsa pun membuka pintu. Begitu melihat siapa yang berada di depannya, dia pun segera menutup pintu kembali. Namun sebelum pintu itu ditutup, Rifki menahannya dan berkata
“Bisakah kita bicara?” bujuk Rifki.
“Pergi! Aku tidak ada urusan dengan mu!” Usir Elsa seraya berusaha untuk menutup pintu.
Tentu saja tenaga Elsa kalah dibandingkan dengan Rifki. Rifki pun mendorong pintu itu dan menyelinap masuk.