I Need A Baby

I Need A Baby
Ch 10 - Elsa Room



Ch 10 - Elsa Room



Sepeninggal Rifki, Elsa masih tertegun tak sadarkan diri.  Tanpa sadar jiwanya memasuki dunia yang diciptakannya sendiri. Tempat dimana dia bisa bersembunyi dan bebas mengekpresikan perasaannya.




Ini bukan pertama kali baginya mendapat kemarahan dari seorang Master. Tapi tetap saja dia merasa shock berat. Shock karena ternyata Rifki adalah seorang Master.




Bukan berarti Elsa tak pernah memikirkan kemungkinan itu, tapi itu hanya hipotesis belaka yang belum terverifikasi kebenarannya. Jadi selama dirinya belum yakin akan hal itu, dia masih memiliki keberanian menghadapi Rifki.



Tapi begitu dirinya tahu siapa sebenarnya Rifki, semua keberaniannya hilang.



Elsa bukanlah orang yang bodoh dan tidak tahu adab atau yang biasa mereka kaum santri biasa di sebut sebagai akhlaq. Suatu aturan hukum yang lebih rumit dari sekedar tata krama atau sopan santun.




Aturan yang dapat menunjukkan jati diri dan keilmuan seseorang. Karena itu adalah hukum, kepastiannya lebih mutlak dari pada hukum Einstein dan hukum ilmu alam lainnya.



Elsa tahu dan sangat mengerti itu. Karena hal itu adalah sesuatu yang terpenting yang harus di pegang teguh seorang murid agar bisa mendapatkan barokah ilmu guru. Agar ilmu mau tinggal dalam hatinya.




Di dunia pesantren yang namanya barokah dan ridho atau dalam bahasa Jawa nya pangestu yang bisa juga di artikan doa dan kerelaan hati guru adalah segala-galanya.



Karena ridho guru mewakili ridho Tuhan dan agar si murid mendapatkan barokah ilmu. Tanpa ridho guru, ilmu yang dimiliki murid akan menjadi tidak bermanfaat dan sia-sia.



Dimana aturan ahlaq itu di antaranya:



"Tidak boleh bicara pada guru sebelum mendapatkan ijin guru."



"Di larang menyela perkataan guru."



"Tidak boleh bertanya pada guru."



"Tidak boleh berprasangka buruk pada APAPUN yang guru lakukan sekalipun di mata kita salah. Karena benarnya santri salah, salahnya guru benar."



Intinya "Jika kau tak mengerti, lebih baik DIAM."



Dan masih banyak lagi aturan yang diawali dengan kata "Tidak boleh..."



(Tentu saja author tahu aturan itu bakalan di protes oleh orang umum terutama para reader yang menganggap dirinya pintar.)




Ya, secara umum kita mengenal pepatah. "Malu bertanya sesat di jalan." Sehingga bertanya dan berdebat sudah menjadi budaya murid dengan guru maupun mahasiswa dengan dosen.



Tapi bagi seorang santri, hal itu justru TIDAK BOLEH dilakukan. Sesulit apapun Elsa harus mencoba untuk menerima hal tersebut. Karena Elsa pernah hidup di dunia Master. Walaupun terkadang hal itu masih sulit untuk dibiasakan.




Jargon yang terkenal di dunia pesantren di antaranya "Wong pinter ora mesti nduweni ahlaq tapi wong sing duweni ahlaq mesti wong pinter."


Yang artinya orang pandai tidak selalu memiliki tata krama. Tapi orang yang memiliki tata krama pasti orang pintar.




Dunia yang memiliki falsafah "Al-Adab khoirun minan nasab" orang yang ber-ahlaq mulia lebih mulia daripada orang yang memiliki nasab atau keturunan yang mulia.




Karena falsafah itu kemudian muncul falsafah baru. “Wong sing nduweni nasab ora mesthi nduweni adab. Tapi wong sing nduweni adab mesthi nduweni nasab” yang artinya tidak semua orang yang nasabnya atau keturunannya bagus memiliki adab atau akhaq yang baik. Tapi orang yang memiliki adab atau ahlaq pasti nasab dan ilmu nya bagus.



Di dunia pesantren umumnya memiliki keyakinan bahwa ilmu sendiri memiliki jiwa (memiliki kesadaran sendiri) yang sangat lembut dan menyukai kelembutan. Ilmu hanya akan masuk ke dalam hati orang yang memiliki kelembutan jiwa dimana kelembutan jiwa itu dapat dicapai dengan akhlaq mulia. Jadi ilmu dan ahlaq adalah dua hal yang tidak bisa di pisahkan.




Jadi tak perlu heran jika bertemu dengan seorang yang berilmu bertemu sesamanya mereka akan menggunakan bahasa kromo Inggil yang baik dan benar sebagai manifestasi tinggi nya akhlaq mereka. Seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk.



Selain itu, pada dasarnya "Ora ono wong tuwo iku ndukani, sing ono ngandani." Tidak ada orang tua atau guru yang benar-benar marah, kemarahan guru adalah untuk mengingatkan murid akan kesalahannya. "Nek di dukani meneng-o!" Ketika sedang di marahi atau di nasehai, maka diamlah!



Bukan berarti Elsa ingin di anggap pintar karena ber-akhlaq (memilih diam). Tapi karena Elsa tahu bahwa aturan itu memiliki konsekuensi yang sangat berat jika dilanggar. Selain mengakibatkan ilmu tidak bisa masuk juga membuat kata "kuwalat" bisa menjadi sesuatu yang Nyata.




(Author: aku tidak percaya Elsa ber-ahlaq)



Terkadang bentuk kemarahan Master bisa berakibat fatal bagi masa depan seseorang. Karena Master adalah makhluk yang sangat dicintai oleh Tuhan, Master memiliki kedudukan yang tinggi dan kedekatan dengan Tuhan, bisa jadi kemarahan Master berarti kemarahan Tuhan.




Itu artinya sebelum bisa mendapatkan maaf dari Master, jangan harap bisa mendapatkan maaf dari Tuhan. Dan jangan lupa, terkadang jiwa alam semesta pun ikut marah karena kemarahan Master.



Sehingga jangan heran jika setiap Master seolah memiliki memiliki gaya kemarahan yang berbeda. Ada yang bisa menyebabkan gempa bumi, ada yang bisa menyebabkan tsunami, ada yang bisa menyebabkan angin ribut. Namun itu bukan berarti Master arogan tetapi karena jiwa alam semesta terlalu memihak mereka.



Tapi umumnya hal itu memiliki kesamaan. Sama-sama memiliki tekanan pada jiwa dan bisa mempengaruhi alam. Sehingga jangan berharap untuk memiliki kemampuan berdebat, jangankan keberanian, sinyal HP di sekitar saja hilang.



Jika masih memiliki argumen dan keberanian untuk membela diri pun akan segera terpatahkan karena keilmuannya. Jika orang itu masih berani dan keras kepala berarti memang hatinya keras atau mati.



Elsa tidak ingin melakukan kesalahan yang sama lagi. Di masa lalu, dirinya memang sangat keras kepala dan memiliki keberanian untuk mendebat Master saat Master marah.



Namun, Rifki menyadarkannya, bahwa ternyata hal itu salah.



Karena semakin orang itu memiliki keberanian untuk berdebat, semakin orang itu merasa benar, itu berarti semakin menunjukkan betapa keras hatinya. Semakin menunjukkan kebodohannya. Semakin keras hati seseorang, akan semakin sulit menerima petunjuk kebenaran dan ilmu.



Semakin pintar seseorang, semakin dia memilih diam dan mendengarkan.



Ya, dulu Elsa adalah seorang player yang suka memanfaatkan cowok. Suka melakukan one-night-stand walaupun masih tetap bisa mempertahankan keperawanannya. Suka tinggal di game center, juga menginap di kostan cowok. Suka merokok.



Sehingga mendapatkan tugas “untuk jadi cewek yang benar-benar cewek tak hanya jenis kelaminnya aja."



Rifki pula yang mengajarkan Elsa bagaimana cewek yang benar-benar cewek. Bagaimana seorang wanita harus bersikap dan menghormati dirinya sendiri.



Tapi sekarang Elsa justru menodai kesuciannya sendiri, melupakan apa yang diajarkan Rifki dan mengotori Rifki.




Elsa tertegun. Seberkas rasa sejuk tiba-tiba  menyelinap dalam hati Elsa. Elsa merasakan kerinduan yang lama tidak pernah lagi dirasakannya.



Elsa pun memperbaiki duduknya dan bersimpuh sebagai penghormatan kepada sosok mulia yang menemuinya dan menghaturkan sembah salam.



Sosok itu memiliki energi yang begitu halus dan penuh kelembutan. Elsa terdiam, ragu. Kedatangan kakek yang tiba-tiba sedikit membuat dirinya takut. Karena kakek buyutnya ini biasanya tidak akan muncul bila tidak ada sesuatu yang penting.



Beberapa kali Elsa datang berkunjung ke makam beliau untuk sekedar "curhat". Ehm..., bila orang umumnya ziarah ke makam untuk mendoakan atau mendapatkan barokah, Elsa biasa datang ke makam Master untuk "curhat". Sayangnya sang Kakek tidak selalu bersedia muncul.



Mungkin karena sang Kakek terlalu bosan dan kesal dengan cucunya yang keras kepala mengulang-ulang ceritanya.



Namun begitu ada seorang tamu istimewa datang, Sang Kakek langsung datang menyambut dengan tergopoh-gopoh. Hingga hal itu cukup membuat Elsa cemburu. Karena sang kakek lebih mementingkan orang lain daripada cucunya sendiri.



Jadi jika sang kakek muncul tiba-tiba, otomatis hal itu menimbulkan rasa curiga dan tidak percaya dalam diri Elsa, apakah ini hanya mimpi atau imajinasinya saja? Ya, mungkin ini hanya imajinasinya saja.



Kemudian Elsa berpikir, jangan-jangan kakek sudah mengetahui kesalahannya dan bermaksud untuk memberinya hukuman.



Elsa tetap diam sambil menata hati. Bersiap untuk menghadapi serangan petir, cambukan, dampratan, bogeman atau apalah bentuk amarah kakeknya. Seperti yang biasa kakek berikan padanya setiap kali dirinya melakukan kesalahan. Yakni memberinya hukuman yang membuat tubuhnya serasa hancur bak digilas buldozer.




"Kalau kamu ingin menangis, menangislah!" Suara tenang khas sang kakek pun akhirnya keluar memecah keheningan dan membuat pertahanan dirinya runtuh. Kerapuhan jiwanya kembali terungkap.



Elsa kembali menangis, dirinya berpikir dirinya bakal di kasih nasihat (Ehm, di marahi maksudnya!) sehingga menguatkan hatinya, tapi sekarang dia malah di perintahkan untuk menangis.




Apakah dia tidak salah dengar?! Ya, kakeknya memang suka menyuruhnya menangis. Tapi benarkah kakeknya tidak marah?!



"Hiks... Hiks... Hiks...Kakek...Elsa tahu Elsa salah, Elsa sudah berprilaku layaknya pelacur, Elsa sudah gak sopan sama Rifki..." rengek Elsa, mencoba menjelaskan betapa salah dan kotor dirinya sehingga pantas untuk mendapatkan hukuman.



Jika Rifki "orang biasa" maka hukumannya melecehkan Rifki bisa dibilang "ringan". "Ringan" karena hukumannya sebatas penyiksaan yang jika ditimpakan pada manusia biasa bisa mengakibatkan kematian sampai beberapa kali.




Tapi berhubung Rifki adalah Master bisa jadi dirinya akan mendapatkan pengusiran. Pengusiran bagi seorang Master berarti kehilangan cahaya keabadian dan kehidupan abadi di neraka.



Bagi Elsa Kakeknya yang nglulu (membiarkan/ mendorong ke arah yang salah) lebih menakutkan dari pada kemarahannya. Jika Kakek tahu bahwa dirinya melakukan kesalahan yang fatal tetapi tidak marah itu benar-benar horor dan membuatnya merinding.




Itu seolah kakeknya seperti iblis yang senang dan menertawakan dirinya masuk neraka. Karena kalau Master nglulu, itu artinya sama seperti hilangnya petunjuk arah, putusnya hubungan, putusnya tanggung jawab dunia-akhirat.



Mendengar hal itu kakek hanya tertawa dan berkata "Hahaha...Sejak kapan melayani suami sendiri dosa?"



"What? Suami?! Kenapa kakek nikahin Elsa gak bilang-bilang?!" Kata Elsa sedikit merajuk. Elsa tak tahu harus bagaimana. Hatinya marah, kaget dan kecewa.



Marah karena dirinya telah dinikahkan tanpa persetujuan darinya. Kaget karena tidak ada yang mengatakan hal itu sebelumnya. Kecewa karena kakeknya lebih mempercayai Rifki dari pada cucunya sendiri.



Tapi melihat ekspresi Elsa beliau hanya tersenyum, menahan tawa, namun senyum itu cukup membuat Elsa tenang.



"Bukannya kakek sudah pernah memberitahumu dulu. Kamunya saja yang tak percaya." Kata Kakek menyindir dan mengingatkan Elsa, dulu Elsa memang pernah bermimpi kakek memasrahkan dirinya pada Rifki.



Elsa juga ingat bahwa sepertinya dia pernah bermimpi melihat dirinya dan Rifki menikah di tengah-tengah masjid.



Tentu saja waktu itu Elsa tak percaya pada mimpinya. Ya walaupun dirinya tahu bahwa mimpi tentang Master itu Nyata.



Tapi kalau di dunia nyata dirinya dan Rifki sama sekali tidak pernah berkomunikasi, siapa juga yang akan percaya??!



Kalau memang mereka sudah sah, ngapain Rifki ngajak nikah lagi coba?!



"Ya nggak masalah, hanya saja sisa talak mu tinggal 2, jadi di masa depan kamu harus berhati-hati." Kata kakek menjawab pertanyaan di benak Elsa.



Ini bukan pertama kalinya Elsa mendengar bahwa tiga talak akan berkurang karena nikah lagi.



Tapi rasanya sangat disayangkan kalau kesempatannya  talak yang awalnya tiga kali hanya tinggal dua gara-gara akad nikah lagi.



"Apa tak salah kakek jodohin aku sama Rifki? Secara, kakek kan tau sendiri, aku itu nakal, lonthe, munafik, fajir, fasik, hatiku juga kotor, gak punya adab, perokok, penipu, pencuri, ambivalen, gak cantik, gak bening, pemalas, suka tidur, suka lari dari tanggung jawab..." Kata Elsa menyebutkan satu persatu keburukannya.



Ya, bagaimana bisa kakeknya menjodohkan Rifki yang sempurna dengan dirinya yang penuh keburukan.



Mendengar hal itu kakek hanya tertawa dan berkata "Kami lebih tahu segalanya tentang kamu."



"Kakek pasti memaksa Rifki, ya?!" Selidik Elsa. Pasalnya tak mungkin Rifki yang tidak pernah kekurangan cewek mau menerimanya dengan mudah. Kalau bukan kakeknya yang memaksa bagaimana mungkin?!



Rasanya Elsa jadi semakin curiga dengan kakeknya. Elsa yakin Rifki tak mungkin mencintainya. Pasti Rifki mau menerimanya karena sungkan atau rikuh alias merasa tidak enak dengan permintaan kakeknya.



Dan kali ini pasti Rifki  menikahinya hanya karena keberadaan anak yang dikandung Elsa. Bukan karena cinta, tapi sekedar tanggung jawab.



Rasanya kepercayaan diri Elsa hilang begitu saja.



"Kan kamu sendiri yang pernah menyombongkan diri kalau kamu lebih hebat darinya, kalau kamu tahu bahwa kamu lebih hebat, untuk apa kamu merasa minder?"



Kakek benar, dulu Elsa memang pernah merasa lebih unggul dari Rifki, tapi itu dulu, sebelum Elsa benar-benar mengenal Rifki.



"Tak usah merasa minder, kami semua percaya padamu, kami semua sayang padamu, kamu semua memilihmu karena kamu memang pantas untuk dipilih." Kata kakek mencoba untuk membesarkan hati Elsa.



"Kalau kamu patah hati, ya itu kan sudah biasa!" Kata kakek menambahkan.



Membayangkan dirinya menikah bukan karena cinta membuat Elsa merasa patah hati.  Dulu Elsa memang sering patah hati, entah mengapa kali ini Elsa merasa takut untuk patah hati.



"Jangan takut, kami selalu ada di sampingmu. Jangan takut jatuh cinta. Cobalah kau terima cintanya!"



Menerima cintanya? Bisakah Elsa mempercayai bahwa Rifki mencintainya?



".... " tiba-tiba saja air mata Elsa kembali mengalir, mengetahui bahwa Rifki mau menjaganya karena terikat kontrak jiwa membuat hatinya merasa sakit...tapi, kali ini Elsa benar-benar merasa dirinya tak pantas untuk mendapatkan cinta dan perhatian Rifki.



"Jangan takut! Tak perlu minder! Kakek tak mau lihat cucu Kakek cemberut dan bersedih lagi. Kakek hanya ingin kamu bahagia. Kakek lebih mengenalmu. Bukankah biasanya kamu bisa mencintai tanpa peduli dicintai atau tidak?! Bukankah kamu biasa mencintai tanpa pamrih?! Mengapa sekarang kamu takut jatuh cinta?" Kata kakek meyakinkan.



"Kek, mencintai dan jatuh cinta itu berbeda! Untuk mencintai seseorang, aku tak perlu jatuh cinta dulu padanya." protes Elsa.



Mendengar hal itu Kakek pun tertawa keras.



"Benarkah?" tanya kakek heran sambil tersenyum melihat Elsa. Membuat Elsa merasa Kakek selalu tersenyum dan tertawa bila mendengar curhatan Elsa. Seolah Elsa ini masih seorang anak kecil yang lucu.



"Bukankah kamu terbiasa mencintai Hu, Ummi, Aby, alam semesta, anak-anak, dan juga guru-gurumu?! Mengapa kali ini kau takut mencintai Rifki? Bukankah kamu biasa mencintai mereka tanpa pamrih?! Bukankah kamu juga sudah biasa patah hati?! kemanakah cucu Kakek yang cantik selama ini? Kenapa harus takut GR? Anggap saja ini pelajaran! Anggap saja ini adalah latihan! Latihan mencintai dan dicintai! Buktikan kalau kamu memang kuat! Buktikan kalau kamu bisa! Tunjukkan kemampuanmu! Tunjukkan siapa dirimu sebenarnya!" Kata kakek menenangkan.



Hiks...hiks...hiks...rasanya Elsa semakin ingin menangis, inilah yang paling berat bagi Elsa. Menunjukkan siapa sebenarnya dirinya di depan Rifki? Dengan segala kelemahan dan kemanjaannya? Oh, no! Elsa tidak bisa membayangkannya!



"Bukankah kamu sudah terbiasa mencintai para kekasih Hu dengan sepenuh hati, jiwa dan raga? Bukankah kamu ahlinya membuat sandiwara yang nyata? Bukankah biasanya kamu bisa bermain-main dengan cinta? Mengapa kali ini kamu takut bermain-main dengan cinta?" lanjut kakek setengah bergurau.



Yang jelas Elsa tak ingin melakukan kesalahan yang sama. Elsa tak ingin lagi bermain-main dengan hati dan cinta. Kali ini Elsa ingin serius.



"Bukankah biasanya kamu juga serius dan sepenuh hati dalam mencinta?!" tanya Kakek, membaca hatinya.



"Iya, tapi kan masalahnya mereka yang ku cintai tahu, mengerti dan menyadari bahwa cintaku adalah cinta yang tak ingin memiliki. Tapi kali ini, entah mengapa aku begitu takut kehilangan...dan aku takut bila aku terlalu mencintainya...aku takut jatuh cinta. Dan aku memang telah jatuh cinta padanya." Kata Elsa kembali menyangkal. Ya, pada dasarnya Elsa memang hobi protes, menyangkal, dan berdebat.



"Terima kasih, Kek. Elsa sayang Kakek." Kata Elsa pasrah, hanya itu yang bisa Elsa katakan. Yang jelas, Elsa yakin kakek pasti melakukan hal itu karena itu yang terbaik untuknya. Setelah bertemu Kakek rasa hatinya menjadi lebih tenang.



Elsa pun kembali menangis dengan penuh kelegaan. Dirinya tak menyangka kalau kakek masih mau menerima dan memafkannya, bahkan sangat memperhatikannya.



Begitu tersadar, Elsa baru menyadari bahwa kini suasana udara kamar menjadi lebih dingin dan sejuk dari pada biasanya. Kesejukan yang berbeda dengan sejuknya AC. Kesejukan yang memiliki aroma harum semerbak yang khas.



Ampun deh! Parah abis! Pikir Elsa. Nampaknya kali ini lagi-lagi Elsa tanpa sadar telah memindahkan istana Kakek kemari.



Cklek... pintu pun terbuka dan tiba-tiba Fara masuk membawa makanan.



"Hemm, wanginya..." Kata Lady Viona kembali menyadarkannya.



Kepalanya terasa berat, tubuhnya tak bisa bergerak. Elsa mendapati tubuh Rifki tengah tertidur sambil memeluk dirinya. Melihat hal itu Elsa merasa malu pada ibu angkatnya. Bagaimanapun juga di dunia ini mereka masih belum memiliki ikatan yang sah.