I Need A Baby

I Need A Baby
Ch 21 - Day 3



Ch 21 - Day 3




Ke esokan harinya. Seperti biasa, Rifki bangun terlebih dahulu.



Dia tersenyum melihat Elsa yang tertidur pulas di dalam pelukannya.




Istrinya tampak sangat polos dan imut saat tertidur.



Semalam Elsa benar-benar menguras habis energinya.



Rifki tidak tahu dimana istri cantiknya belajar menghisap energi manusia.



Rifki merasakan kedinginan, dia tidak ingin memprovokasi kemarahan istrinya lagi.




Walaupun tidak melepaskan bajunya sama sekali, istrinya bahkan bisa dengan mudah menaklukkan tubuhnya.




Namun kenikmatan yang dia dapatkan tidak sebanding dengan banyaknya jumlah energi yang dihisap Elsa.




Energi kultivasi yang telah dikumpulkannya selama beberapa tahun terakhir ini di dantiannya kini terasa kosong.




Tingkat kekuatannya memang tidak turun, tapi dia tidak akan bisa menerobos ke tingkat selanjutnya dalam waktu dekat seperti yang telah direncanakan.




Hal itu membuat Rifki bergidik ngeri, apakah istrinya jelmaan succubus?!




(Author: no! Istrimu adalah jelmaan iblis!)




Rifki ingin marah, tapi melihat wajah Elsa yang polos tanpa dosa dia tidak bisa marah.



Tanpa energi, dia tidak berbeda dengan manusia biasa.



Dia akan membutuhkan waktu beberapa hari untuk bisa menggunakan kekuatannya kembali.




Rifki membangunkan Elsa untuk jamaah subuh dan berangkat menuju pesantren.



Rifki mengingatkan Elsa bahwa mereka harus berziarah, menghadap Mbah Yai untuk menyampaikan salam dari kakek penguasa lautan.




Elsa dengan enggan bangun dan mengikuti Rifki.



Karena pada dasarnya Elsa masih marah pada Rifki.




Gara-gara siapa mereka harus menanggung kemarahan kakek penguasa lautan?!



Gara-gara siapa aku harus berpisah dengan bayiku?!



Ugh...my baby… i need you so much… but, why?



Kenapa rasanya dia masih tak rela?



Kenapa rasanya seperti dia hai memberikan anaknya untuk menjadi tumbal pesugihan?!



Padahal dia tahu, kakek penguasa lautan bukan bermaksud demikian.



Elsa sadar, kesabaran dan keikhlasannya sedang diuji.



Elsa tahu bahwa anak adalah amanah, bukan hak milik pribadi.



Segala sesuatu yang dia miliki pada dasarnya adalah milik Tuhan.



Kita hanyalah perantara untuk menyampaikan rizki pada yang lain.



Elsa tahu, dirinya harusnya sudah tahu semua itu.



Tapi untuk mengaplikasikan ilmu terkadang penuh dengan cobaan.




“Elsa menutup matanya.



Ya, Mbah Yai sering berkata, peganglah dunia dengan tanganmu, tapi jangan pernah masukkan dunia ke dalam hatimu!”




“Ya Allah, maafkan aku karena aku terlalu memasukkan bayiku ini ke dalam hatiku.” gumamnya dalam hati.




Elsa sendiri tidak sadar bahwa dirinya telah mengakibatkan tubuh Rifki kosong.




Saat Rifki bertanya padanya, Elsa tidak tahu bagaimana menjawabnya, Elsa juga tidak tahu kemana perginya energi Rifki.




Ya, dirinya memang sering kali tidak sadarkan diri saat dirinya menyerap energi orang lain.



Beberapa tahun lalu, Elsa sering kali tanpa sadar menyebabkan beberapa orang dalam keadaan kosong hanya dengan sentuhan tangannya.



Elsa tidak tahu kemana perginya energi itu  dalam tubuhnya.




Tampaknya tubuh Elsa seperti Black Hole yang menghisap energi apapun yang ada di dekatnya.




Saat ngaji subuh, Guse pun membahas soal kepemilikan anak.




Tampaknya Tuhan memang tidak bosan-bosannya mengingatkan Elsa akan kesalahannya.




Seusai ngaji subuh, sesuai dengan rencana, Elsa dan Rifki mengunjungi makbaroh (makam) Mbah Yai.



Keduanya berjalan dengan lutut saat mencapai ruang makam sebagai penghormatan kepada Guru.



Dengan kepala tertunduk, Rifki menghaturkan salamnya, seketika bau harum dengan konsentrasi tinggi khas Mbah Yai memenuhi ruangan yang terbuka itu.




Karena Elsa tidak selalu bisa melihat wujud roh, Elsa berlatih meningkatkan kepekaan terhadap lingkungannya dengan mengidentifikasi aroma dan perubahan tekanan udara.




Sehingga walaupun Elsa dalam keadaan tidak bisa melihat, dia akan tetap bisa menjaga penghormatannya kepada mereka.




Karena Elsa tahu, walaupun dirinya tidak bisa melihat, dirinya yakin bahwa roh itu bisa melihatnya.




Elsa tidak peduli jika dirinya dianggap gila. Yang penting dirinya akan tetap memberikan salam dan rasa hormat dari hatinya.




Elsa tidak heran jika Mbah Yai langsung menerima kedatangan Rifki, bagaimana pun juga yang Elsa tahu, Rifki memang memiliki kedekatan dengan Mbah Yai.




Namun bila hanya Elsa yang datang, dirinya tidak yakin bila Mbah Yai berkenan untuk menemuinya.



Elsa berpikir, mungkin Rifki bahkan dapat melihat Mbah Yai saat ini.




Rifki kemudian memanjatkan doa tahlil untuk beliau di ikuti oleh Elsa.




Selesai membaca tahlil, Rifki pun menghaturkan salam dari kakek penguasa lautan.




Elsa dapat membayangkan bagaimana Mbah Yai menjawab salam itu dengan senyuman beliau yang begitu menyejukkan hatinya.




Setelah selesai, keduanya pergi keluar dari tempat itu masih dengan cara berlutut.




Keduanya tidak peduli jika mereka dianggap norak karena tetap mempertahankan penghormatan mereka dijaman yang langka dengan kesopanan ini.




Karena bagi mereka, Guru akan selamanya tetap menjadi Guru walaupun murid sudah menjadi guru.




Tata Krama murid kepada Guru akan tetap mereka jaga walaupun Guru telah tiada.



Karena pada hakikatnya tidak ada yang namanya kematian, yang ada hanyalah berpindah alam.




Setelah keluar, Rifki mengajak Elsa pergi ke pasar tradisional di dekat pesantren.




Elsa sedikit bingung, karena pasar tradisional sekarang sudah banyak berubah menjadi bangunan yang baru dan bersih.




Elsa berkeliling mencari dan bertanya kepada penjual yang di dekatnya letak penjual yang dulu pernah menjadi langganannya.




“Eh, Mbak, lama tidak kelihatan.” Tanya penjual bunga dan bumbu paling lengkap di pasar itu. Namanya Mas Wan, gak pakai two, three or four.



Only One!



Karena memang dialah satu-satunya penjual jamu, bumbu, bunga, perkakas tradisional terlengkap di pasar itu. Bahkan jika kalian ingin mencari kain kafan, kemenyan, arang, tungku, dan seperangkat alat sesaji pun ada.




“Cari apa mbak?”




“Mau cari kendi dua (kendi: teko dari tanah liat yang biasanya berwarna hitam), munthu-cowek (alat penghalus bumbu yang biasanya terbuat dari batu), kendil satu (panci tanah liat), kunir bubuk satu ons, merica bubuk satu ons, kemiri seperempat, jahe emprit setengah kilo, daun sirih seikat, pala seperempat, adas satu ons, jinten satu ons, kluwak seperempat, minyak kelapa satu botol, injet dua ribu…” kata Elsa menyebutkan satu persatu bahan yang dicari dan jumlahnya.




Mendengar begitu banyak pesanan Elsa, penjual itu pun bersemangat dan mempersiapkan semuanya itu.




Rifki menautkan kedua alisnya, memang benar, dapur mereka saat ini tidak memiliki semua itu, tapi apakah harus begitu ekstrim, semua jenis jamu dan bumbu dibeli?!




“Buat apa semua itu?” tak bisa menahan diri, Rifki pun bertanya.




“Buat jamu, lah! Sama buat persediaan.” jawab Elsa enteng.




Elsa telah lama belajar membuat jamu tradisional sendiri. Karena sekarang dia memiliki banyak waktu luang, dia memutuskan untuk meracik sendiri untuk dikonsumsinya bersama Rifki.




“Something special for you pokoknya!” Kata Elsa bahagia.




Rifki semakin penasaran dan bergidik membayangkan dirinya akan dipaksa meminum jamu aneh buatan Elsa.



“Jangan bilang kamu suruh aku jadi kelinci percobaan!”




Elsa tertawa terbahak-bahak mendengar Rifki berkata begitu.




“Kamu bilang begitu aku jadi ingin menjadikan kamu kelinci percobaan ku” goda Elsa.





Hanya saja terkadang Elsa terlalu malas untuk membuatnya.




Jadi tentu saja Elsa penasaran dengan tanggapan Rifki pada jamu yang akan dibuatnya nanti.




Secara, Rifki tidak seperti orang pada umumnya yang suka memuji.




Rifki biasanya lebih suka mengomentari kekurangan rasa makanan sehingga Rifki mendapatkan julukan sebagai “komentator masakan” karena komentarnya yang pedas.




Yang membuat Elsa salut, walaupun Rifki memiliki komentar yang pedas pada masakan, dia akan selalu menghabiskan semua makanan yang ada di piringnya tanpa tersisa sebutir nasipun.




Elsa tahu bahwa Rifki adalah seorang yang sangat menghargai makanan karena memang begitulah ajaran Mbah Yai.




Setelah selesai membayar, Elsa menarik Rifki ke penjual sayur dan buah.



Akhirnya Elsa dan Rifki sama-sama keluar dengan menenteng dua tas besar belanjaan.




Setelah meletakkan semua belanjaan di mobil, Elsa kembali menarik Rifki ke lantai dua pasar yang menjual berbagai macam makanan tradisional.




Melihat berbagai macam getuk tradisional yang di jual, Elsa kembali tak sabar untuk memborong semua itu dan memindahkannya ke dalam kulkas.




Makanan yang terbuat dari ketela pohon itu semua adalah favoritnya.



Bagi Elsa, getuk lebih menarik daripada cake dan pudding.




“Bu, beli tiwul, gatot, jentik manis, klepon, lupis, getuk, ketan, mie masing-masing dua puluh ribu, tapi kelapa sama kinco nya dipisah.”




Rifki membelalakkan matanya mendengar jumlah makanan yang dibeli Elsa. Karena biasanya harga per bungkusnya rata-rata tiga ribu rupiah.




“Maaf mbak, kalau masing-masing dua puluh ribu sepertinya tidak ada mbak.” Kata si penjual memperkirakan sisa dagangannya hanya bisa memenuhi sekitar sepuluh ribu.




Karena Elsa datangnya sudah agak siang, jadi barang dagangannya sudah hampir habis.




“Ya sudah, seadanya saja.” jawab Elsa tanpa nada kecewa.




“Buat apa beli banyak-banyak?” tanya Rifki heran.




Nampaknya istrinya lebih suka membeli persediaan makanan dari pada baju.



Pikir Rifki mengingat Elsa tidak suka mengikuti mode pakaian yang sedang tren seperti wanita pada umumnya.



Rifki bahkan melihat banyak jarit dengan berbagai pola batik dalam almari pakaian Elsa.




“Buat persediaan, masukkan ke dalam freezer, nanti kalau mau makan tinggal dimasukkan ke magic com.” Kata Elsa enteng.




Mendengar hal itu, Rifki hanya bisa pasrah. Mungkin mereka juga harus membeli freezer box besar untuk menyimpan semua makanan.




“Apakah kita juga harus beli freezer box juga?!” Keluh Rifki.




“Kalau itu tenang saja, aku sudah pesan, mungkin siang ini sampai.” kata Elsa geli melihat ekspresi Rifki yang tampak lemas.




Elsa tahu bahwa Rifki tidak suka boros. Karena itu Elsa ingin sedikit mempermainkannya.




Elsa merasa senang bisa membuat Rifki cemberut selama dalam perjalanan.




Sesampainya di rumah. Keduanya langsung menurunkan barang belanjaan mereka dan mengaturnya di kulkas.




Tak lama kemudian, bel pintu berbunyi.




“Itu mungkin mereka yang mengantarkan freezer. Kamu keluar dulu, nanti aku menyusul.”




Rifki pun keluar dan menerima mereka.



Setelah melihat nota dan kondisi freezer, Rifki tampak puas.



Karena setidaknya Elsa tahu dimana seharusnya dia membeli freezer bagus dengan harga murah.




Sebagai pengusaha hotel, tentu  saja Rifki lebih mempercayai perusahaan supplier hotel yang harganya jauh lebih murah dari toko elektronik pada umumnya.



Bagaimanapun juga selisih harganya rata-rata mencapai setengah juta rupiah.




Karena Elsa membelinya dari supplier tersebut dengan harga grosir, tentu saja Rifki merasa puas.




“Semua sudah lunas, bapak tinggal tanda tangan penerimaan barang.” Kata mereka.




Elsa keluar dengan membawa minuman untuk tamu mereka sambil tersenyum melihat ekspresi Rifki yang tampak puas.




“Silahkan.” kata Elsa seraya meletakkan gelas ke meja depan mereka.




“Tidak perlu repot-repot bu.” kata mereka malu-malu.




“Tidak merepotkan kok.” Jawab Elsa.




Setelah para kurir selesai meletakkan freezer pada tempatnya dan pamit, Rifki bertanya.




“Kenapa kamu tidak bilang dulu kalau kamu beli freezer?!”




“Kebetulan tadi di pasar baru kepikiran, langsung saja aku WA pesan.” kata Elsa santai.




“Bukan seperti itu, bagaimana pun juga, belanja harusnya kewajiban ku. Sekarang berapa nomor rekening mu?” tanya Rifki memaksakan tanggung jawabnya.




Elsa memutar bola matanya dan menjawab. “Bukankah kamu bisa mencarinya sendiri?”




“Ya sudah, kalau begitu ini dibawa! Kodenya 373737.” kata Rifki seraya menyerahkan kartu berwarna hitam.




“Baiklah.” jawab Elsa sambil tersenyum senang, walaupun dia sebenarnya tidak punya niatan untuk memakainya.




“Bisakah aku membeli mobil?” Goda Elsa.




“Tidak perlu boros! Biar aku saja yang mengantarkan mu. Kalau aku luar kota, kamu bisa pakai mobil ku.” Kata Rifki tegas.




“Oh ya, jangan mengharapkan freezer dulu! Tunggu sampai besok!” kata Rifki mengingatkan karena goncangan akibat perjalanan akan membuat freon tidak stabil sehingga diperlukan waktu sekitar delapan jam untuk menstabilkannya.




“Iya, aku tahu!” Jawab Elsa seraya kembali ke dapur.




Elsa mengeluarkan dua buah kendi yang dibelinya dan mengolesi permukaannya dengan minyak goreng sebelum mengisinya dengan air.




Nenek mengajarkan kepadanya untuk mengolesi kendi dengan minyak terlebih dahulu sebelum diisi dengan air agar kendi lebih awet.




Elsa lebih menyukai air kendi dari pada air dingin dari kulkas karena suhu air kendi segar, tidak terlalu dingin dan lebih baik untuk tubuh dibanding air kulkas.



Bisa dibilang kesegaran air kendi lebih terasa alami.




Memikirkan kesegaran alami, Elsa tertarik untuk membeli tempayan atau genthong besar untuk kamar mandinya.




Dia pun berteriak pada Rifki yang sedang sibuk dengan laptopnya di ruang tamu, “Ki, aku tak beli tempayan ya!”




Mendengar hal itu, Rifki hanya bisa menepuk jidatnya. Dia tak habis pikir dengan selera aneh istrinya. Ya, walaupun itu sebenarnya tidak terlalu bertentangan dengan seleranya.




“Sekalian saja yang diameternya satu setengah meter, tinggi 70 senti, biar kamu bisa berendam sekalian!” Jawab Rifki sambil berteriak.



Rifki mengerti maksud Elsa ingin membuat bathub dari tanah liat.



Elsa tidak tahu bahwa dirinya akan sedikit kesulitan untuk mencari produsen yang mau membuat genthong sebesar itu.



“Oke!” Teriak Elsa puas. Memang itulah yang tepatnya dia inginkan. Dia sudah tidak sabar membayangkan dirinya berendam di dalamnya.



Sayang sekali genthong sebesar itu sangat sulit dibuat dan memerlukan waktu lama untuk membuatnya.





Catatan:



Bagi yang belum pernah mendengar istilah ini



Tiwul: terbuat dari gaplek (singkong yang dikeringkan) dan dihaluskan berbentuk seperti butiran berwarna cokelat dengan rasa manis.



Gatot: terbuat dari gaplek berwarna hitam, ada yang manis ada yang asin



Jentik manis: berbentuk seukuran jari berwarna putih dan merah



Klepon:  berbentuk bulat kecil biasanya berwarna hijau dan dalamnya mengandung cairan gula merah.



Lupis: berbentuk seperti lontong tapi terbuat dari beras ketan.



Getuk: terbuat dari singkong yang di kukus lalu di hancurkan kemudian di padatkan.



Mie: seperti mie bihun biasanya berwarna pink dan hijau



Kinco: cairan gula Jawa