
Jantung Elsa berdetak lebih kencang. Namun Elsa berusaha memperpanjang nafasnya untuk mengurangi kehadiran nya. Elsa tahu, targetnya kali ini bukan orang biasa, tapi seniornya. Tehnik bertarung, menghilangkan keberadaan, bahkan kecerdasan Rifki lebih tinggi darinya. Jadi Elsa harus lebih ekstra hati-hati.
Elsa melihat dari laptopnya, beberapa kamera tersembunyi telah di pasang di kamar Rifki sebelumnya. Elsa hanya bisa berharap Rifki tidak membawa peralatan anti-spy lengkap kali ini.
Zein sudah siap memakai topeng wajah dan pakaian staf hotel. Membawa kereta makanan ke dalam kamar Rifki. Rifki yang selesai mandi masih mengenakan bathrobe tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk hanya mengangguk dan meminta Zein keluar.
Setelah keluar, Zein langsung masuk lift seperti pegawai hotel umumnya dan memberi kode pada kamera lift. Elsa menunggu Rifki perlahan menghabiskan makanannya. Rifki memiliki kebiasaan untuk menghabiskan makanannya walaupun tak sesuai dengan rasanya. Karena itu, obat bius tanpa rasa dan bau sengaja di masukkan ke dalam makanan.
Detik-demi detik berlalu terasa sangat lambat. Akhirnya mereka melihat Rifki menaiki tempat tidur dan terlelap. Setelah menunggu seperempat jam, Elsa pun mulai bergerak.
Perlahan Elsa memasuki kamar Rifki dengan menggunakan kunci staf. Sementara Ve menyiapkan Video rekayasa dan mengawasi lorong dan lift dengan kamera CCTV.
----
Selesai makan, tiba-tiba saja Rifki merasa mengantuk. Padahal dia habis mandi, seharusnya tubuhnya merasa segar. Tanpa berpikir panjang, dia pun merebahkan diri di tempat tidur. Waktu pun berlalu dan mulai menghisap kesadarannya.
Samar-samar Rifki mendengar suara pintu kamar dibuka dan ditutup lagi, meskipun gerakannya sangat ringan dan halus namun dia masih bisa menangkapnya.
Karena Rifki sendiri pernah menjalani pelatihan militer sehingga kesadarannya menjadi lebih tajam. Rifki pun mulai mengedarkan kesadarannya dan mencoba untuk menggerakkan tubuhnya, namun sia-sia.
Rifki pun tersadar, tampaknya dia telah dibius, mungkin obat itu dicampurkan dengan makanan atau minumannya. Tapi siapakah yang berani melakukan hal itu.
Orang itu berjalan sangat pelan dan nafasnya sangat tenang. Sepertinya orang itupun cukup terlatih. Rifki tak tahu apa yang diinginkan orang itu padanya yang jelas Rifki tak akan melepaskannya dengan mudah.
Aroma lavender yang halus membuat Rifki mengidentifikasi bahwa seseorang itu adalah gadis. Gadis itu berjalan mengintari kamarnya, seperti mengambil sesuatu.
Sementara itu, Ve yang tengah menonton aksi Elsa di depan laptop mengumpat kesal karena Elsa tiba-tiba memutuskan koneksi kamera dan mengiriminya pesan "Anak kecil dilarang menonton!"
Setelah membereskan kamera dan mengirimkan pesan, Elsa merasa sangat senang membayangkan kekecewaan Ve.
Perlahan Elsa naik ke atas ranjang dan melepaskan bathrobe Rifki. Sementara Rifki masih terus mencoba menormalkan detak jantung dan nafasnya.
Walaupun dia tak bisa menggerakkan tubuh sama sekali, tapi dia masih memiliki kekuatan untuk mempertahankan kesadaran dan kepekaannya. Perlahan jemari halus Elsa mulai menggoda kulitnya, menimbulkan gelenyar halus yang bisa menghidupkan syaraf-syaraf di tubuhnya.
Biasanya Rifki tak akan mudah jatuh oleh pesona wanita. Rifki memang tak pernah merasa kekurangan wanita. Namun dia tak mudah terangsang. Karena latihannya yang ketat, biarpun dirayu dengan ketelanjangan Rifki tak akan tergoda.
Pada dasarnya Rifki tak pernah mempermainkan tubuh wanita, Rifki adalah orang yang menghormati semua wanitanya. Karena itulah sampai sekarang para mantan pacarnya tak memiliki dendam padanya.
Rifki cukup percaya diri dengan kontrol tubuhnya. Dirinya yakin, kali inipun tubuhnya takkan mudah takluk.
Aroma nafas gadis ini begitu segar, mungkin dia sengaja menggosok giginya dan mandi sebelum kemari. Rifki pun tersenyum dalam hati, dari aromanya Rifki tahu bahwa gadis itu cukup bersih dan segar.
Ya, Rifki bahkan masih bisa mencium aroma segar air dan sabun yang menguap dari tubuh gadis itu, tanpa aroma bedak, kosmetik, ataupun parfum yang menjijikkan. Samar-samar Rifki mulai mencoba mengidentifikasi dan mengingat semua gadis yang pernah di kenalnya dari aroma tubuhnya.
Perlahan Rifki merasakan gadis itu mulai menaiki ranjang tanpa menyentuhnya, namun hal itu cukup untuk membuat seluruh sarafnya tegang. Namun Rifki tidak dapat merasakan hawa pembunuhan dari aura gadis itu, yang berarti gadis itu tidak bermaksud membunuhnya.
Hanya dengan perasaan itu saja tidak cukup membuat hatinya tenang. Akankah gadis itu melecehkannya? Membuat foto untuk menghancurkan reputasinya.
Dengan lembut dan penuh perasaan, begitu lama Elsa mencium kening Rifki seolah dia memang mencintai Rifki.
Ketika bibir Elsa itu mulai menjauh dari keningnya, entah mengapa Rifki merasa kehilangan. Namun tak lama kemudian bibir gadis itu mulai menciumi wajahnya dengan lembut, masih dengan penuh perasaan, membuat Rifki merasa begitu dicintai.
Nafas gadis ini begitu lembut dan terkontrol, seolah tanpa nafsu dan hanya ingin memanjakannya. Rifki pun mulai rileks dan tenang. Seolah ada sensasi tersendiri yang membuatnya tertarik untuk menerima perlakuan gadis itu. Mungkinkah gadis itu salah satu pengagum rahasianya?
Perlahan sensasi basah lidah Elsa mulai menggelitik telinganya. Tak hanya itu, bibir Elsa pun ******** ujung bawah daun telinga Rifki yang sensitif, mencecapnya seolah telinga itu adalah sesuatu yang lezat.
Rifki tak menyangka tindakan sederhana itu bisa membuat seluruh syaraf di tubuhnya hidup seolah tersengat arus listrik. Rifki membayangkan betapa merahnya kulitnya saat ini.
Anehnya, Rifki cukup menikmatinya, aroma gadis itu dan perlakuannya membuat tubuhnya mabuk dan menginginkan lebih.
Tubuhnya bahkan mulai dapat membayangkan bentuk tubuh Elsa dengan merasakan kekenyalan di balik bra berenda yang dikenakan Elsa.
Sensasi yang ditimbulkannya membuatnya ingin membalas dan merasakannya dengan kedua tangannya.
Rifki ingin sadar dan membalas kenikmatan yang gadis itu berikan. Sayangnya dia tak punya kekuatan untuk bergerak dan membuka mata.
Kekuatannya hanya cukup untuk mempertahankan kesadaran dan nafasnya. Walaupun demikian, Rifki tak dapat mengontrol tubuhnya, sesuatu di bawah sana yang mulai menggembung tanpa daya membuatnya berpikir afrodisak apa yang di berikan gadis itu padanya.
Selesai memanjakan telinga, gadis itu mulai turun menggoda lehernya. Bahkan jemari lentik Elsa mulai menggoda dada Rifki yang mulai mengeras.
Rifki dapat merasakan kedua bibir lembut itu menggelitik permukaan kulitnya membuat tubuhnya semakin tegang dan kaku.
Tak diragukan lagi, wanita ini sangat profesional dengan tehniknya. Sedikit rasa cemburu timbul dalam hatinya, sudah berapa kali kah gadis ini menaklukkan tubuh lelaki lain, berharap hal itu dapat membuatnya jijik dan menghapus hasratnya.
Namun sayangnya rasa cemburu itu tak dapat membantu mengurangi hasrat primitifnya. Karena tak ayal lagi, tubuhnya mulai merindukan perlakuan memanjakan dari gadis itu dan berpikir, beruntung sekali lelaki yang bisa memilikinya, wanita yang bisa memanjakan suaminya tentunya memberikan kepuasan tersendiri.
Rifki merasakan sedikit kehilangan saat tubuh Elsa mulai turun dari tubuhnya.
Namun tak lama kemudian rasa itu tergantikan oleh rasa yang lebih nikmat, begitu memabukkan dan membuat detak jantungnya semakin gila.
Sekuat tenaga Rifki mencoba untuk mempertahankan nafasnya agar tetap konstan, agar dirinya dapat lebih lama menikmati sensasi setiap sentuhan gadis itu. Rifki sadar, tampaknya pikirannya mulai kotor dan gila. Dia bahkan berpura-pura tertidur agar gadis itu tidak menyadarinya.
Kombinasi gerakan lidah, bibir dan tangan gadis itu begitu perlahan sehingga benar-benar memanjakannya. Hingga memunculkan kebanggaan tersendiri dalam dirinya.
"Aku tak pernah kalah, aku tak boleh menyerah begitu saja." Gumamnya dalam hati. Tentu saja berbagai macam doa juga dilanjutkannya dalam hati untuk menjaga kesadarannya.
Mati-matian Rifki mempertahankan hasratnya agar tak memuncak. Namun ternyata hal itu justru membuatnya ketagihan, ingin terus berlama-lama dimanjakan, menikmatinya dengan perlahan.
Tampaknya gadis itu pun juga ingin berlama-lama dengannya. Nafasnya, gerakannya masih konstan dan menggoda.
Entah berapa waktu yang telah berlalu hingga Rifki merasa tubuhnya begitu mendambakannya. Setiap jengkal tubuhnya menyukai setiap sentuhan lembutnya.
Ah, betapa ingin dirinya membuka mata untuk melihatnya dan memeluknya, sayangnya kesadarannya benar-benar kabur.
Jika orang biasa, mungkin sudah benar-benar tak sadarkan diri dan menganggap bahwa ini semua adalah mimpi lelaki normal. Sayangnya Rifki sangat sadar bahwa ini bukanlah mimpi.
Karena dia bisa merasakan setiap sentuhannya yang lembut.
Rifki pun mencoba untuk menggunakan divine sense-nya untuk dapat melihat setiap detail bentuk tubuh gadis itu.
Entah apa motif gadis ini. Dan siapa dia?
Rifki masih belum bisa mengidentifikasinya diantara para wanita yang dia kenal.
Entah itu dari aroma tubuhnya, struktur kulitnya, maupun bentuk tubuhnya, Rifki mencoba untuk mengenali nya. Setelah lama berpikir dia masih belum menemukan titik terang.
Namun dia merasakan keakraban tersendiri.
Seolah jiwa dan raganya begitu mengenal gadis itu. Bagaimana cara gadis itu menyentuhnya seolah-olah gadis itu begitu mengenal setiap saraf sensitif tubuhnya.
Rifki hanya bisa menghafalnya, berharap agar bisa segera menemukan dirinya, karena Rifki bisa merasakan tubuhnya yang mulai kecanduan. Seperti besi yang tertarik oleh magnet. Seolah gadis itu adalah tulang rusuknya yang hilang.
Jika dalam keadaan normal dengan gadis lain Rifki yakin dirinya tak akan tertarik, sebagai seorang jenius militer dia selalu bisa mengendalikan pikiran menjauh dari selangkangan dengan kejeniusannya.
Mungkin benar kata orang, radar cinta lelaki tak jauh dari selangkangan. Karena dia satu-satunya gadis yang bisa membuatku turn-on dengan penuh kesabaran. Rasa posesif terhadap gadis itu muncul untuk mengklaim miliknya.
Perlahan Rifki merasakan gadis itu kembali menghampirinya dan mengangkat tubuhnya.
Di letakkannya sebuah kain lembut dan berlapis di bawah pantatnya, Rifki mencoba menganalisa sepertinya gadis itu memang tak berniat meninggalkan jejak di sprei. Tak ayal lagi, hal ini sedikit membuatnya kecewa.
Kemudian dia merasakan tubuh gadis itu kembali ke atas ranjang. Mungkin dia memang gila karena Rifki menginginkan seluruh tubuh gadis itu menimpanya agar dia bisa merasakan kelembutan tubuhnya dan setiap reaksi kulitnya.
Sial! Aku merindukan sentuhannya lagi dan lagi. Racau Rifki dalam hati.
Elsa membelai junior Rifki perlahan. Sensasi lembut jemari gadis itu membuat Rifki semakin bersemangat.
Sayangnya tubuhnya masih tak bisa bergerak. Namun kemudian Rifki kembali frustasi karena Elsa melepaskannya dan memakaikan sesuatu pada miliknya.
Sepertinya Elsa ingin menyiksa Rifki perlahan.
Rifki menjadi ingin membalas menyiksa gadis itu tanpa ampun di bawah tubuhnya. Lihat saja nanti, jangan harap aku akan melepaskan mu. Janji Rifki dalam hati.
Elsa menempatkan sebuah alat yang didapatkannya dari Deshi pada milik Rifki. Alat itu dapat dengan sendirinya mengumpulkan sperma.
Rifki merasakan miliknya terbungkus suatu alat yang hangat, basah dan berdenyut seolah menyecapnya.
Elsa terdiam menunggu alat itu bekerja. Namun Rifki dapat merasakan sesuatu di bawah sana berdenyut seakan menggoda miliknya agar ikut berdenyut.
Rifki tak tahu mengapa gadis itu menginginkan sesuatu dari tubuhnya.
Di bawah rangsangan alat dari Deshi, nafas Rifki masih begitu panjang, pelan, tanpa desahan, seperti pembunuh profesional yang terlatih.
Keduanya bernafas dalam ritme yang amat pelan dan nyaris tanpa gerakan, dalam waktu yang amat panjang keduanya terjebak dalam rasa yang tak pernah mereka gambarkan hanya dengan nafas.
Seolah semua keindahan melebur menjadi satu.
Dalam hatinya Rifki bahkan berharap hal ini tak pernah berakhir.
Padahal dia tahu bahwa semua itu dikarenakan oleh alat aneh yang di pasangkan gadis itu pada miliknya.
Namun dia merasa bahwa dirinya benar-benar bercinta dengan gadis itu hanya dengan mendengar suara nafasnya.
Elsa tampak begitu sabar menantikan alat itu bekerja dengan baik.
Disisi lain, entah mengapa dia menikmati melihat Rifki yang begitu tenggelam dalam rasa.
Walaupun pada kenyataannya Rifki tidak tahu siapa gadis itu. Namun Rifki merasakan jiwanya benar-benar menyatu dengan jiwa gadis itu.
Seperti dua orang kekasih abadi yang saling merindukan.
Belahan jiwanya yang selama ini terpisah kini telah kembali.
Sebuah pelepasan panjang diikuti tekanan pada miliknya akhirnya tak dapat ditahan lagi. Mau tak mau Rifki mengakui kekalahannya. Namun Rifki begitu puas dan bahagia.
Kesadaran Rifki pun mulai hilang setelah mencapai kepuasan jasmani dan jiwanya. Kedamaian menyelimuti jiwanya.
Kecupan panjang Elsa di dahi Rifki pada akhirnya menutup kesadaran Rifki sepenuhnya.
---
Keesokan harinya Rifki terbangun dengan perasaan linglung saat matahari mulai masuk dari jendela. Tidurnya semalam sangat nyenyak. Hingga akhirnya Rifki sadar bahwa semalam bukan hanya mimpi.
Rifki segera melihat tubuhnya. Begitu rapi dan bersih, seperti saat dia mulai tidur. Nampaknya gadis itu bahkan tak lupa menyeka tubuhnya dengan bersih sebelum pergi. Bila bukan karena kemampuannya mempertahankan kesadaran, mungkin dia pun hanya berpikir bahwa semua itu adalah mimpi.
Mengingat perlakuan gadis itu semalam membuat tubuhnya kembali merindukan gadis itu. Tampaknya dia harus mandi air dingin pagi ini.
Selesai mandi, Rifki mulai mengamati kamar dengan seksama, mencari petunjuk yang mungkin ditinggalkan gadis itu. Sayangnya dia bahkan tak bisa menemukan sehelai rambut atau sidik jari yang ditinggalkannya.
Rifki pun membuka laptop dan mencoba mengakses rekaman kamera pengintai hotel. Namun masih tak menemukan apapun, rekaman pengintai sudah direkayasa.
Nampaknya gadis itu benar-benar profesional. Rifki tidak mau menyerah begitu saja dan mulai memasuki database hotel dan menyalin daftar tamu hotel. Melihat daftar itu, dirinya bahkan tak menemukan petunjuk apapun.
Rifki tak percaya bila ada yang bisa melakukan kejahatan tanpa jejak. Apa sebenarnya motifnya? Seorang profesional tak mungkin bila hanya menginginkan sperma nya saja. Dan sepertinya gadis itu sangat mengenalnya, dan menghapus semua jejak.
Rifki pun mulai mengcopy semua rekaman CCTV hotel di hari itu, mungkin hal itu membutuhkan sedikit waktu untuk memeriksanya, tapi hal itu tak masalah baginya. Karena mangsanya kali ini begitu menarik. Ya, hanya gadis itu yang bisa menjadi lawan yang sepadan dengannya.
Saat menutup mata dia menghirup nafas dalam-dalam, Rifki bisa merasakan bayangan dirinya memeluk gadis itu terasa begitu nyata.
“Tunggu aku! Aku pasti akan menemukan mu.” Bisiknya
----