I Need A Baby

I Need A Baby
Ch 8 - Fight



Ch 8 - Fight




Di dalam kamar, Rifki dan Elsa keduanya terdiam tanpa ada yang ingin memiliki niat untuk mengawali pembicaraan. Keduanya berdiri berhadapan dengan bersedekap. Suasana marah, canggung melingkupi keduanya.



Elsa yakin Rifki sangat marah saat ini karena perbuatannya minggu lalu. Rifki adalah orang yang sangat sopan, santun dan amat menghormati wanita. Jadi walaupun Rifki memiliki banyak wanita di sekelilingnya, Elsa yakin kalau sampai saat ini Rifki masih perjaka. Ups salah, minggu lalu maksudnya.




Bisa Elsa bayangkan kemarahan Rifki minggu lalu akibat ulahnya. Tapi Elsa tak punya cara lain. Hanya Rifki satu-satunya lelaki yang genetiknya membuat mata Elsa ijo dan lope-lope. Ya, hanya genetiknya, bukan orangnya. Terlepas dari betapa pun nge-fans-nya Elsa pada Rifki, Elsa tak mau terikat pada Rifki.



Sudah cukup lama Elsa menderita tekanan batin akibat Rifki karena ketidak sukaan Rifki pada sifat Elsa. Memang mereka selama ini tak pernah berkomunikasi secara langsung, tapi Elsa tahu sindiran-sindiran Rifki ditujukan padanya. Dan itu sangat menyiksanya.



Walaupun Elsa tahu Rifki melakukan hal itu untuk kebaikan dirinya, agar dirinya mau introspeksi diri dan berubah. Dan di saat Elsa sudah cukup berubah, Rifki masih saja merasa kurang dengan perubahan Elsa. Masih terus menyindirnya. Jadi, bagi Elsa menjadi cewek yang benar-benar cewek di mata Rifki itu hal yang amat sangat sulit.



Dan kali ini Rifki dengan ambigu mengungumkan hubungan mereka pada keluarganya. Secara otomatis tak lama lagi seluruh keluarga besarnya pasti akan tahu. Jika seluruh keluarga tahu, dia tak akan bisa memiliki kebebasan lagi. Bagaimanapun juga keluarga besarnya dan keluarga besar Rifki berasal dari latar belakang agama yang kuat. Bisa dibayangkan bagaimana kemarahan mereka jika mereka tahu kelakuannya yang sebenarnya dibelakang mereka.



Elsa sadar dirinya begitu munafik. Di depan keluarga besarnya dia selalu menampilkan sosok yang baik, jika mereka tahu kalau Elsa sebenarnya penjahat kelas paus pasti mereka merasa shock berat.




Selama ini memang tak hanya Rifki satu-satunya yang tahu bagaimana hidupnya di luar. Biarpun Rifki bukan ember, tapi bukan berarti Rifki akan melakukan apapun tanpa tujuan. Elsa yakin Rifki selalu memiliki rencana di balik setiap rencananya.



Elsa benar-benar tak bisa membayangkan, dia benar-benar marah pada Rifki karena merusak rencananya. Ya, sejak dulu Rifki memang suka merusak rencananya. Jelas Elsa tak mau terikat dan menghabiskan sisa hidupnya dengan orang yang selalu merusak rencananya.



Awal rencananya dia akan pergi mengasingkan diri di pulau pribadinya sampai anak itu lahir. Tapi sekarang dia harus menghadapi sidang keluarga besarnya dulu. Dan itu semua lagi-lagi gara-gara Rifki. Bagaimana dia tidak marah?!



"Apa maksudmu berakting seperti itu?" Tanya Elsa dengan nada halus menantang.



"Aku tak percaya orang secerdas dirimu tak bisa menebaknya." Sindir Rifki seraya menghembuskan nafasnya. Dirinya merasa lelah menghadapi Elsa, karena gadis itu bukannya merasa bersalah dan minta maaf atas perlakuannya minggu lalu, malah marah-marah.



"Yang jelas aku tak percaya kalau kamu kekurangan cewek, apalagi kalau kamu bilang ada rasa dengan ku.." Kata-kata Elsa seraya tersenyum menyindir untuk ego Rifki.



Elsa tau Rifki memiliki banyak wanita disekitarnya yang jelas lebih cantik, lebih pintar dan lebih berkepribadian dibanding Elsa, sehingga Elsa yakin Rifki tak mungkin punya perasaan padanya.



"Syukurlah kalau kamu sudah tahu diri." Kata Rifki tenang. Namun hatinya merasa sedikit kesal mendengarnya. Bagaimana caranya untuk membuat gadis itu percaya padanya?



Elsa memang tak pernah bisa menebak jalan pikiran Rifki. Yang Elsa tahu, Rifki selalu memiliki seribu alasan untuk setiap langkah yang diambilnya.



"Hei! aku masih waras, ya." Waras dalam arti untuk tidak mempercayai akting Rifki.



"Kalau kamu masih waras, lalu apa yang kamu lakukan padaku minggu lalu?" Tanya Rifki seraya mengangkat sebelah alisnya. Kata-kata Rifki benar-benar mengenai hati Elsa. Artinya hanya orang yang tidak waras yang mau melakukan dosa dengan sangat sadar. Dan Rifki tahu Elsa benar-benar sadar saat melakukan hal itu.



Elsa menelan ludahnya dengan susah payah. Dia tahu bagaimana sakitnya berbicara dengan Rifki. Selain harus memahami arti setiap kiasan secara mendalam, juga harus menerima kritik yang pedas.



"Nothing special. Just have fun." Kata Elsa mencoba untuk tetap tenang dan acuh.



"Have fun dengan orang yang tidak sadarkan diri? Apakah kamu memang suka di anggap orang aneh?!" Tanya Rifki heran, sembari kembali mengangkat sebelah alisnya.



Elsa memang suka bertingkah aneh dan tak pernah mempermasalahkan jika di anggap aneh, tapi tetap saja dikatai orang yang suka dianggap aneh oleh Rifki terasa menyakitkan.



"Tapi kamu kan tidak dirugikan! Tenang aja. Aku gak ada niat buat foto atau video buat menjebakmu. Aku juga gak akan minta kamu tanggung jawab kok." Kata Elsa mencoba membela diri.



"Tidak di rugikan? Kau mengambil keperjakaan ku dan bilang kalau tidak merugikan ku?"



"Memangnya cowok bisa kehilangan keperjakaan?" Sanggah Elsa membuat dada Rifki semakin merasa panas, ingin rasanya dirinya mencekik Elsa saat ini juga.



Tak bisakah gadis ini mencoba untuk lebih menghargai dirinya sendiri. Bagaimana bisa gadis ini bisa dengan mudahnya menyerahkan keperawanannya pada orang tanpa ikatan.




Rifki tak habis pikir bagaimana bisa Elsa masih menjaga kesuciannya padahal Rifki jelas berkali-kali memergoki Elsa menginap di hotel dengan lelaki yang berbeda-beda.


Namun di sisi lain, Rifki merasa lega dan bangga, setidaknya keperawanan Elsa tidak hilang oleh orang yang tidak bertanggungjawab atau tidak dikenal. Tapi dirinya, walaupun hal itu bukan sepenuhnya salahnya.



"Kamu masih tak merasa bersalah?!" Kata Rifki seraya memicingkan matanya dengan ekspresi sadis.



Elsa yakin Rifki tak akan berhenti menyiksanya dengan cara sadis sebelum dirinya mengaku. Tapi mana mungkin Rifki mau mempercayai alasan konyolnya.




Bagaimana mungkin Elsa mau menerima kesalahannya. Jika dia mau menerima kesalahannya, dia harus siap menghadapi hukumannya. Tentu saja Elsa yakin menikah dengan Rifki bukanlah hukumannya, itu hanya alasan Rifki untuk mengikat dan memenjarakannya sehingga Rifki bisa memberikannya pelajaran.



"Ya." Jawab Elsa tenang, singkat dan padat. Tanpa ada keinginan untuk menjelaskan.



Mendengar hal itu, Rifki hanya mendengus, sekilas matanya melirik melihat Elsa yang tampak begitu tenang disampingnya. Tampaknya Elsa mulai belajar untuk bersikap tenang tanpa ada emosi.



"Tampaknya kau sudah memikirkannya matang-matang." Komentar Rifki menatap tajam ke arah Elsa.



"Tenanglah, aku takkan meminta pertanggungjawaban dari mu." Kata Elsa mencaba menenangkan emosinya dan tetap mengabaikan tatapan tajam Rifki. Dia tak boleh takut padanya.



Melihat reaksi Elsa yang tenang dan tanpa dosa, Rifki pun mendesah. Tampaknya hubungan mereka akan selalu seperti ini. Gadis itu benar-benar keras kepala dan sulit untuk belajar dari kesalahannya.



Setelah selesai bicara, Elsa berniat untuk berbalik pergi. Namun Rifki segera menangkap tangan Elsa dan menahannya.



Elsa berusaha keras untuk melepaskan cengkraman tangan Rifki, namun cengkraman tangan Rifki begitu kuat. Tenaga Elsa jelas bukan tandingan Rifki. Elsa pun mencoba untuk melakukan perlawanan.




Dengan penuh kecepatan dan kekuatan Elsa melakukan tendangan sabit pada perut Rifki. Namun Rifki dengan kecepatannya menangkap kaki Elsa dan menjatuhkan tubuh Elsa ke lantai dengan keras. Beruntung lantai kamar itu dilapisi karpet sehingga tubuh Elsa tak merasa terlalu sakit saat jatuh.




Mereka pun terjebak dalam perkelahian yang intens, cepat dan sangat berbahaya. Kecepatan keduanya sama. Hanya saja kekuatan Elsa kalah dari Rifki.



Karena Elsa menderita hipertiroid, otot hasil latihannya selama bertahun-tahun hilang. Tanpa ototnya hanya dengan mengandalkan kecepatan dan tenaga dalamnya tentu saja kekuatannya langsung terkuras habis.



Hingga pada akhirnya dia kembali dijatuhkan. Mungkin setelah ini tubuhnya akan penuh lebam.



Elsa ingin sekali beranjak dan kembali melawan Rifki. Namun Rifki kembali menekan tubuhnya. Kini kedua tangannya terkunci. Kedua kakinya pun di tekan kaki Rifki sehingga dia tak dapat menendang. Melihat perlawanan keras dari Elsa membuat Rifki tersenyum mengejek.



"Kau pikir kau dengan kemampuanmu ini cukup untuk mengalahkan ku?" Kata Rifki menyombongkan dirinya.



Elsa adalah seorang ahli di M Corp. Dia bisa dengan mudah mengalahkan puluhan anak buah tentaranya dengan kecepatannya. Namun di hadapan Rifki dia masih bukan apa-apanya. Kecepatan dan kekuatan Rifki jauh di atas dirinya.



Tak patah semangat, Elsa mencoba menarik nafas dalam-dalam dan menahannya untuk mengeluarkan tenaga dalamnya.



Dengan ledakan tenaga dalamnya dia biasanya bisa menerbangkan lelaki besar sejauh tiga meter.





Rifki kembali tersenyum mengejek pada Elsa.



"Jika malam itu kau tidak membius ku apa kau pikir kau bisa lepas dari ku?" Bisik Rifki sembari ******** telinga Elsa. Hmmm. Dari tadi dia sudah sangat ingin ******** telinga kecil yang lucu itu.



Tanpa membalas kata-kata Rifki, Elsa bersikeras melepaskan diri. Walaupun dia tahu usahanya sia-sia, Elsa tetap tak mau mengalah.



"Jangan kau sia-siakan energi mu untuk melawanku. Siapkan saja energi mu untuk menerima hukuman dariku. Apa kau pikir aku tak bisa membuat mu tak bisa bergerak?!" Kata Rifki mencibir Elsa. Dia begitu puas dapat mengalahkan Elsa walaupun dengan sedikit bersusah payah.



Tak lama kemudian, dengan beberapa pukulan jarinya di tubuh Elsa Rifki membuat Elsa tak berdaya. Elsa tak tahu apa yang dilakukan Rifki pada tubuhnya, mungkin itu sejenis ilmu totokan seperti yang sering dia lihat dalam film-film pendekar cina. Siapa sangka Rifki juga menguasai ilmu tersebut.



"Minggu lalu kau mempermainkan tubuh ku selama enam jam. Sayangnya aku tak tertarik menghukummu enam jam dengan cara yang sama." Kata Rifki seraya mengeluarkan handphone nya dan mematikannya. Dia tidak ingin di sadap oleh siapapun.



Elsa terbelalak melihat seringai licik Rifki. Jantungnya berdetak kencang, sarafnya menggigil. Elsa bisa merasakan bulu-bulu di tubuhnya yang meremang karena ketakutan.




Elsa sadar kini dirinya tak bisa lepas dari hukuman Rifki. Elsa merasa menyesal. Namun tak satupun kata bisa keluar dari mulutnya. Dengan susah payah Elsa tetap mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri dengan berpikir positif. Yang jelas Rifki tidak mungkin membunuhnya.




Ya, Rifki mungkin hanya menyiksanya. Dia hanya harus bertahan menerima apapun hukuman yang akan Rifki berikan padanya. Elsa hanya bisa mengatur nafasnya agar kembali normal, sementara jantungnya masih tetap berdetak cepat.



Perlahan Rifki mengangkat tubuh lemas Elsa dan memindahkannya ke atas ranjang. Kemudian Rifki melepaskan pakaian Elsa satu persatu. Sambil menggoda kulit Elsa yang sensitif dengan belakang tangannya.



"Apakah kau takut?" Tanya Rifki kembali tersenyum mengejek Elsa.



"Karena minggu lalu kau memperlakukan ku dengan lembut, aku pun akan menghukummu dengan lembut." Mendengar kata-kata Rifki, Elsa hanya bisa memicingkan matanya, tak percaya.



Rifki pun melepaskan bajunya sendiri dengan perlahan. Seolah ingin mempertontonkan tubuhnya pada Elsa.



Melihat perut Rifki yang seksi mau tak mau membuat Elsa menelan air liurnya. Dia berharap untuk bisa menjilatinya dan membuat beberapa tanda disana, tapi dia tak bisa bergerak. Oh no! Apa yang dia pikirkan?!!



"Kenapa? Bukankah kau sudah pernah melihat tubuh ku sebelumnya?" Kata Rifki menggoda seraya memposisikan tubuhnya di atas tubuh Elsa.



Tentu saja hal itu membuat Elsa teringat akan aksinya pada Rifki minggu lalu dan tanpa sadar membuat wajahnya semakin merah. Dia yakin tubuh bagian bawahnya otomatis basah.



"Apakah kau begitu mengharapkan hukuman dari ku?" Kata Rifki seraya mengusapkan jemarinya pada pusat tubuh Elsa yang basah, sontak hal itu membuat Elsa merasa malu. Namun di sisi lain dia menikmati usapan lembut jemari Rifki pada pusat tubuhnya.




“Ya, aku tahu kau sangat merindukan ku Baby. Tubuhmu sudah sangat siap menerima ku.” kata Rifki menggoda sambil menjilati cairan di jemarinya.




Rifki pun memposisikan dirinya ke dalam tubuh Elsa dan mengambil tempat terdalam tanpa bergerak.




“Baby, kamu tahu. Aku sangat senang karena kamu begitu mengenal ku. Bagaimana kau begitu tahu kesukaanku? Hmm?” Rifki menciumi leher putih dan harum Elsa.




Elsa ingin menjawab. Itu karena kulitnya yang sangat tipis dan dia tidak ingin lecet ataupun terluka karena gesekan.




Psikopat! Rutuk Elsa dalam hatinya.




Kemudian dia menggoda bibir Elsa dengan bibirnya.



Rifki dapat merasakan miliknya yang semakin terjepit kuat dan basah setiap kali dia memberikan rangsangan pada tubuh Elsa.




Rifki tahu bahwa gadis itu telah ******* berkali-kali hanya karena rangsangannya. Kulitnya begitu tipis, halus dan sensitif. Sangat menyenangkan untuk menggodanya.




Ada kepuasan tersendiri saat dia melihat tatapan putus asa dalam kemarahan gadis itu. Dia ingin terus menerus menyiksanya agar gadis itu memohon padanya.




Namun gadis itu tetap keras kepala dan menahan diri untuk menjaga nafasnya. Seolah tak ingin seperti orang pada umumnya yang suka berteriak dan mendesah. Bibir Elsa tersenyum mengejek. Seolah berkata mari kita lihat, siapakah yang lebih kuat diantara kita?!




Kedua matanya masih tampak tajam dan jernih tanpa sedikitpun tanda-tanda mabuk. Kemarahan yang tampak pada matanya seolah menantangnya, menegaskan bahwa dia tidak akan pernah kalah.




Tanpa sadar jiwanya terhisap dalam mata itu. Ya, dia ingin selamanya melihat mata itu dan memenjarakannya. Mata itu hanya untuk melihatnya. Rifki tidak ingin mata itu digunakannya untuk melihat yang lain.




(Author:keluarkan saja bola matanya!)




Rifki pun menunduk dan mencium kening Elsa saat dirinya memperoleh kepuasan.




Dia merasa begitu nyaman dan merasa enggan untuk beranjak dari tubuh Elsa. Dia pun memutar posisinya sehingga kini tubuh Elsa berada di atasnya dan memeluk gadis itu erat-erat.




Elsa yang masih tidak dapat bergerak terjebak dalam tubuh Rifki.



Tubuh bagian bawah mereka masih terhubung dan tampaknya Rifki enggan melepaskannya.




Elsa masih bisa merasakan ketegangan tubuh Rifki dalam dirinya. Entah mengapa dia pun mulai merasakan kenyamanan dalam posisi itu.




Mungkin dia sudah gila. Namun dia tidak ingin sadar dari kegilaannya.




Dalam hatinya Elsa ingin bisa terus menikmati momen indah seperti ini.