
Ch 25 - Night 4
Rifki bersyukur, kini dia bisa beraktivitas dengan lebih tenang tanpa gangguan dari Elsa.
Tapi tampaknya dialah yang harus mempersiapkan makan malam.
Elsa masih tetap meneruskan latihannya sampai Maghrib, dilanjutkan dengan amalan bersama Rifki sampai isya’.
Setelah itu, mereka selasai makan bersama mereka pun bersiap untuk pergi tidur.
“Apakah kamu sudah mulai mengerti?” tanya Rifki menanyakan kemajuan latihan Elsa.
“Entahlah, aku sudah mencoba untuk memikirkannya tapi masih belum mengerti.” Jawab Elsa jujur.
Selama ini, biasanya dia menggunakan metode penalaran yang lain.
Yang biasa disebut dengan empat elemen unsur, air, api, tanah, udara.
Tak pernah terpikir dalam dirinya bahwa ternyata empat unsur tersebut masih bisa dipecah lagi menjadi atom.
Bagi Elsa, air, api, tanah dan udara memiliki jiwa, karena itu dia memiliki pendekatan perasaan jiwa untuk bisa menggerakkan mereka.
Biasanya Elsa akan merasakan perasaan mereka terlebih dahulu sebelum berkomunikasi dengan jiwa-jiwa unsur tersebut menggunakan hatinya.
Jadi sebenarnya Elsa tidak pernah memaksa mereka untuk mematuhinya, Elsa menganggap jiwa-jiwa unsur alam tersebut sebagai temannya.
Tampaknya hal ini lebih konyol dari pada orang yang memiliki delusi. Elsa sadar, mungkin dirinya memang delusi.
Bagaimana bisa orang yang tidak bisa melihat hantu seperti dirinya bisa merasakan perasaan alam dan berbicara dengan jiwa alam yang bahkan tidak bisa dilihat oleh mata indigo.
Elsa menyemangati dirinya sendiri dengan berpikir bahwa mungkin itu karena perbedaan frekuensi saja antara dirinya dan para indigo.
Terkadang Elsa sengaja mempermainkan anak-anak indigo, membuat mereka ketakutan karena melihat sosok mengerikan yang tinggal dalam dirinya.
Atau membuat orang tua hormat dan salut karena melihat sosok cantik yang tinggal dalam dirinya.
Dan Elsa hanya akan tertawa terbahak-bahak mendengar komentar mereka.
Karena sejujurnya dia sendiri tidak bisa menjadi sendiri sosok jiwa yang konon tinggal dalam dirinya itu.
Elsa sadar jiwa itulah yang membuatnya berpikir tentang reinkarnasinya dan memiliki ingatan-ingatan aneh.
Elsa juga merasa bahwa kemampuannya terbang dan tenaga dalam yang dimilikinya pada dasarnya bukan kekuatannya sendiri tapi karena dukungan dari sosok itu.
Sehingga dia sangat jarang menggunakan kekuatan itu, Elsa mencoba untuk membatasi dirinya sendiri agar tidak terlalu bergantung pada kekuatan itu.
Karena itu, ketika dirinya menemukan bahwa Rifki mengetahui tentang ilmu kultivasi yang sebenarnya, dia tidak bisa menahan diri untuk bisa mempelajarinya juga.
Agar dirinya tidak lagi bergantung pada kekuatan jiwa lain dalam dirinya.
Elsa ingin memiliki kekuatannya sendiri.
Elsa ingin dirinya lebih kuat dari jiwa itu sehingga dia memiliki kebebasan penuh pada tubuh dan kesadarannya.
Elsa tahu betapa licik, pintar, kuat dan berbahayanya jiwa itu sehingga dia harus memiliki kekuatan yang lebih besar untuk bisa mengendalikannya.
Jiwa itu tahu semua kelemahannya dan tahu bagaimana cara menyiksanya dari dalam secara psikologis.
Walaupun selama ini Elsa bisa membuat jiwa itu terdiam dan patuh namun bukan berarti jiwa itu mau mengakui kekalahannya dan mengakuinya sebagai tuan.
Elsa masih dapat merasakan kesombongan yang diam-diam tersembunyi dalam jiwa itu.
“Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk mengerti. Walaupun memang belajar itu wajib, tapi yang namanya pengertian sepenuhnya adalah kehendakNya. Seperti halnya dengan petunjuk, hal itu tidak bisa dipaksakan. Itu semua adalah masalah batin. Apalagi sekarang hatimu belum tertata. Jika sudah saatnya, kamu akan mengerti dengan sendirinya.” kata Rifki sedikit membesarkan hati Elsa.
“...” mendengar hal itu, Elsa tidak bisa berkata apa-apa. Dia ingat, baik Mbah Yai maupun Guse juga pernah berkata demikian.
Pada dasarnya mencari ilmu memang tidak ada hubungannya dengan pengertian atau pencerahan ilmu.
“Ngomong-ngomong, dengan apa kamu akan berterima kasih padaku karena sudah mau mengajarimu?” tanya Rifki dengan penuh percaya diri.
Mendengar hal itu Elsa menautkan alisnya. Ini orang kenapa tiba-tiba jadi tak tahu malu?!
Elsa tahu bahwa ilmu itu mahal harganya dan sah-sah saja jika ada guru yang mematok harga tinggi atas ilmunya hal itu juga tidak mempengaruhi pahala yang akan diterima mereka.
Satu huruf memang berharga seribu keping emas.
Tapi jarang sekali seorang guru sejati tertarik dengan hal-hal duniawi.
Jadi walaupun secara lahiriah mereka terlihat kaya dan bergelimang harta tapi harta itu hanyalah alat untuk mengajarkan ilmu (berdakwah).
Dengan kata lain, dunia itu hanya bisa ada dalam genggaman, dunia tidak boleh memasuki hati.
Guru sejati tidak akan membeda-bedakan kasih sayang antara murid kaya dan miskin.
Karena itu, hendaknya sebagai murid, sekaya apapun dia harus tetap mengabdikan dirinya sepenuh hati pada guru dan menganggap dirinya budak guru dan menghilangkan kesombongan mereka agar bisa mendapat berkah ilmu atau dengan kata lain menarik perhatian jiwa ilmu.
Tapi baru kali ini Elsa menemui guru yang tak tahu malu meminta bayaran secara langsung.
(Author: 🤣😂🤣😂🤣😂)
“Apakah kamu mau menginkari posisi mu sebagai murid dan bersikap sombong? Atau kamu memang orang yang tidak tahu berterima kasih?!” lanjut Rifki semakin memojokkan Elsa.
Rifki tahu bahwa Elsa orang yang tidak tahu malu dan suka memanfaatkan orang lain. Jadi menghadapi orang seperti ini, dia pun harus bersikap tak tahu malu juga.
Elsa semakin menautkan alisnya. Tentu saja Elsa tidak suka dibilang sebagai seorang yang tidak tahu balas budi. Tapi haruskah hal itu perlu untuk di ungkit-ungkit terus?!
“Ah, kurasa kamu memang amnesia. Kamu bahkan lupa jika tadi pagi kamu memohon sampai berlutut padaku. Tahu begitu lebih baik aku tidak usah mengajarimu saja. Agar kamu tetap bersikap seperti itu padaku.” Lanjut Rifki lagi.
Mendengar hal itu, Elsa menjadi merah padam. Dia merasa malu dan marah pada Rifki. Sekarang dia menyesal karena telah bersikap begitu implusif tadi.
“Baiklah, apa maumu?” Kata Elsa menyerah.
Elsa sangat sensitif jika di ingatkan tentang bagaimana caranya berterima kasih.
Karena walaupun Elsa nampaknya suka memanfaatkan orang lain tapi dia tidak akan pernah lupa untuk membalasnya, jika memang dia belum mampu, setidaknya minimal dia akan mendoakan orang tersebut dengan sepenuh hati.
Elsa tidak ingin dirinya dianggap tidak tahu bagaimana berterima kasih kepada orang yang telah mengajarkan ilmu padanya.
“Kurasa kamu masih belum bisa ikhlas padaku.” Lanjut Rifki mendengar nada tinggi Elsa.
“Master Rifki yang terhormat, apa yang bisa saya lakukan untuk memuaskan anda?” Kata Elsa penuh hormat setengah menyanjung berharap agar Rifki berkenan memberikan petunjuk lebih.
“Pijat tubuhku sebelum tidur!” kata Rifki seraya tersenyum lebar.
Mendengar hal itu, otomatis Elsa berpikiran kotor. Dia ingin mengutuk dan mengeluh, mengapa semua cowok suka seperti itu?!
Wajahnya memerah membayangkan hal-hal kotor yang akan berkembang karena acara pijat memijat.
“Apakah kamu memang terbiasa berpikir kotor?” Tanya Rifki geli melihat pikiran Elsa yang mulai tidak senonoh.
Mendengar Rifki mengetahui pikirannya, wajah Elsa pun semakin blushing.
Dia ingin mengelak, tapi mengingat bahwa Rifki dapat mengetahui isi pikirannya Elsa pun mengurungkan niatnya.
Bagaimana pun juga percuma berbohong kepada Rifki.
Sampai di tempat tidur, Rifki merebahkan tubuhnya dengan santai. Sementara Elsa mulai memijat kaki Rifki dengan sepenuh hati.
“Pakai tenagamu. Salurkan tenagamu ke jari-jari tanganmu.” Kata Rifki seraya menutup mata menikmati pijatan lembut Elsa.
Mendengar instruksi Rifki, entah kenapa tiba-tiba hati Elsa merasa panas dan emosi.
Walaupun Elsa menganggap Rifki lebih senior dari dirinya, tapi bukan berarti Elsa ikhlas jika dirinya dimanfaatkan oleh Rifki begitu saja.
(Ehm, nampaknya Elsa telah lupa jika dia adalah seorang istri yang wajib taat kepada suaminya.)
Elsa pun menyalurkan emosinya ke setiap jari-jarinya, sehingga pijatannya semakin kuat dan bertenaga.
“Pelan-pelan! Rasakan dengan hati! Jangan gunakan emosi!” Kata Rifki mengingatkan bahwa dia bisa membaca pikiran Elsa.
Kemudian dengan licik, Elsa mulai memijat Rifki dengan ujung-ujung jarinya dan menyalurkan sedikit energi khusus pada Rifki.
Rifki merasa tubuhnya langsung menjadi kaku karena ulah Elsa. Jemari lembut Elsa tiba-tiba membuat seluruh tubuhnya bergetar.
“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Rifki sambil menahan dirinya untuk tetap tenang.
Elsa tersenyum penuh kemenangan. Ah, ternyata kemampuannya yang satu ini bisa digunakan untuk membuat tubuh Rifki tegang juga.
Jantung Rifki berdetak kencang. Saraf-saraf tubuhnya pun mulai aktif, terutama saraf di bawah perutnya. Itu seperti tanaman layu yang disiram air.
“Bukankah katamu aku harus menyalurkan energi ku?” Tanya Elsa polos, pura-pura tidak tahu bahwa pijatan tangan nya membuat tubuh Rifki mulai menjadi tegang.
Rifki mencoba sekuat tenaga untuk menjaga pikirannya agar tidak terpengaruh oleh energi yang disalurkan jemari lembut Elsa.
Sayangnya ada keinginan tersendiri yang menarik tubuhnya untuk merasakan lebih.
Seolah seluruh tubuhnya Rifki terhipnotis oleh tarian jari-jari Elsa.
Rifki bahkan membayangkan bagaimana jika jari-jari lembut itu menari di seluruh tubuhnya.
Rifki kemudian berkonsentrasi untuk memblokir energi Elsa, membuat agar kakinya mati rasa dan energi yang disalurkan Elsa tidak bisa naik ke bagian atas tubuhnya.
Setelah berhasil, dia pun tersenyum mengejek Elsa yang mulai kesal karena energinya terblokir.
“Kamu pikir kemampuanmu cukup besar untuk mengalahkanku?” ejek Rifki.
Elsa semakin gemas dan marah mendengar ejekan Rifki.
Elsa pun semakin mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk memecahkan blokiran di tubuh Rifki.
Rifki merasa geli melihat Elsa begitu bersikeras menerobos blokiran tenaganya yang tidak berarti apa-apa.
Rifki semakin bahagia melihat pandangan mata Elsa yang semakin tajam karena marah padanya.
Rifki merasa sangat menyenangkan sedikit mempermainkan Elsa.
Elsa yang merasa dirinya dipermainkan akhirnya tidak bisa menahan diri.
Bagaimanapun juga untuk menciptakan energi yang bisa membuat orang lain tegang dirinya harus merasakan sedikit ketegangan juga.
Elsa kemudian menghentikan pijatan tangannya dan mulai menggunakan jemarinya untuk menari dengan lembut di atas tubuh Rifki.
Seperti ada musik yang mengiringi setiap langkah yang dilakukan oleh jemari Elsa.
Walaupun Rifki mencoba untuk fokus dan konsentrasi agar tubuhnya tidak terpengaruh, tapi tetap saja saraf-saraf tubuhnya sangat sensitif.
Jemari Elsa mulai melangkah ke bagian atas tubuh Rifki.
Seolah jemari itu memiliki mata sendiri dan sengaja menyentuh setiap titik kelemahannya.
Kesadaran Rifki pun semakin mabuk dalam rasa yang Elsa berikan.
Tak tahan lagi, Rifki pun menarik tangan Elsa dan menahannya.
Elsa terkejut dan langsung tersenyum lebar melihat reaksi Rifki.
“Kalau kamu tidak berhenti, aku akan bertindak kejam padamu.” Ancam Rifki yang tentunya disertai dengan tatapan tajam.
Sayangnya sekarang Elsa cukup kebal terhadap tatapan itu dan membalasnya dengan senyuman nakal.
Entah kenapa, Elsa juga merasa senang jika dirinya bisa membuat Rifki marah.
“Apakah kamu berpikir aku hanya ingin mengambil keuntungan darimu?” Tatapan tajam Rifki seolah menembus ke dalam hati Elsa.
Bagaimana pun juga Elsa memang berpikir bahwa Rifki berniat mengambil keuntungan darinya.
Karena itu Elsa membalas tatapan Rifki sebagai jawaban.
“Bisakah kamu sedikit serius dan tidak selalu berpikir negatif padaku?” tanya Rifki tanpa melepaskan tangannya dari tangan Elsa.
Elsa berpikir, bagaimana bisa dia tidak berpikir negatif jika Rifki sendiri selalu mempermainkannya.
“Aku menyuruhmu memijat tubuh ku bukan karena aku ingin yang aneh-aneh. Aku hanya ingin kamu bisa mengendalikan energi dalam dirimu untuk pengobatan.” Terang Rifki dengan nada sedikit emosi.
“Apakah kamu pikir aku tidak bisa membalasmu?” Ancamnya seraya meletakkan telapak tangannya ke atas kepala Elsa.
Tiba-tiba tubuh Elsa tersentak seperti tersengat arus listrik.
Kini seluruh tubuhnya langsung turn on tanpa bisa dikendalikan dan dia pun mulai merasakan tubuhnya menjerit nikmat hanya karena energi yang Rifki salurkan dari tangannya tanpa gerakan yang merangsang.
Elsa merasa puas dan malu karena ******* yang didapatkannya hanya karena manipulasi energi Rifki.
Rifki sendiri merasa puas setelah dirinya memberi hukuman kecil pada Elsa.
Sebenarnya Rifki juga memiliki dorongan untuk melakukan lebih dari itu, tapi dia berusaha untuk menahan diri.
Rifki merasa tubuhnya ikut merasakan kenikmatan dan bahagia saat tubuh Elsa mencapai pelepasannya.
“Apakah kamu pikir tubuhmu begitu menarik sehingga aku ingin selalu menikmati tubuhmu?” Ejek Rifki.
Dia sendiri mencoba untuk memungkiri kenyataan bahwa tubuhnya sebenarnya benar-benar tertarik.
Tubuh Elsa adalah magnet yang memiliki godaan fatal bagi Rifki.
Jangankan tubuh Elsa, hanya dengan mendengar nafas Elsa atau dengan mencium aroma tubuh Elsa saja dia bisa menjadikannya gila.
Rifki bahkan berpikir dirinya tidak ingin melepaskan tubuhnya sepanjang hari dalam setiap penyatuan mereka.
“Cobalah kembali untuk fokus dan konsentrasi.” kata Rifki lagi setelah mendengar nafas Elsa mulai tenang.
Elsa pun kini menyerah, nampaknya untuk saat ini dia memang belum memiliki kemampuan untuk mengalahkan Rifki.
Elsa merasa malu dan bersalah karena telah mempermainkan energinya.
Elsa tidak menyangka Rifki juga bisa melakukan hal yang sama terhadap tubuhnya. Tapi tentu saja Rifki lebih hebat dari Elsa.
Saat masih kecil, Elsa pernah memiliki keinginan untuk memiliki suami yang bisa mengalahkannya di segala bidang. Nampaknya Tuhan telah mengabulkan keinginannya itu. Sayangnya dia telah lupa akan hal tersebut dan justru menjadi marah karena merasa terkalahkan.
Rifki tersenyum melihat Elsa mulai tenang saat memijatnya.
Sebenarnya cara memijat Elsa tidak buruk. Bisa dikatakan Elsa cukup mahir dalam memijat.
Jemari tangan Elsa seolah memiliki mata sendiri dan mengetahui tempat-tempat dimana terdapat penyumbatan pembuluh darah dan lebih memfokuskan perhatiannya pada bagian tersebut.
Lama kelamaan Elsa merasa lelah dan mengantuk.
Elsa memang memiliki kebiasaan mudah mengantuk saat dirinya memijat.
Jadi saat tekanan jemari Elsa mulai melemah, Rifki akan menyenggol Elsa agar Elsa terbangun.
Elsa pun terbangun dan tertawa tanpa dosa.
“Hei! Dimana-mana itu biasanya orang yang mengantuk tertidur itu orang yang dipijat. Bukan orang yang memijat.” Komentar Rifki.
Mendengar hal itu Elsa hanya bisa tersenyum malu-malu. Bagaimana pun juga sulit untuk tidak merasa ngantuk saat dia memijat siapapun.
Bahkan biasanya Elsa akan jatuh tertidur pulas tak sadarkan diri saat memijat tubuh ibunya.
Elsa sendiri tidak tahu mengapa tubuhnya akan merasa nyaman dan tenang saat dia mulai memijat. Rasa nyaman itulah yang membuat Elsa merasa mengantuk.
Melihat Elsa yang tidak henti hentinya menjatuhkan kepalanya, Rifki merasa kasihan dan memerintahkan Elsa untuk menyudahi pijatannya dan tidur dengan posisi yang benar.