
Ch 4 - Deep Heart
Di sebuah kapal pesiar di tengah Samudra Pasifik.
Sinar matahari laut yang begitu menyengat telah lama menerobos masuk ke dalam kamar luas itu membuat kamar putih itu layaknya ruang sauna, namun sang pemilik kamar agaknya tak terganggu sama sekali.
Tubuhnya menggigil kedinginan di balik selimut dan baju hangat berlapis lapis yang dikenakannya. Dia begitu ketakutan sampai ke tingkat yang sangat ekstrim.
Padahal selama ini dia tak pernah lagi merasa takut. Baik itu saat membunuh ataupun menghadapi musuh-musuhnya yang kuat.
Ya, bisa dikatakan selama ini dia tak punya rasa takut, menghadapi makhluk astral yang mengerikan pun dia bisa sangat percaya diri.
Namun hari ini, dia begitu ketakutan hanya karena pesan yang masuk ke laptopnya, laptop yang dia gunakan untuk mengawasi CCTV hotel. Untung dia cukup berhati-hati sebelumnya.
Dia sengaja membeli laptop baru untuk rencananya, tak lupa untuk menutupi lubang kamera laptop itu dengan lakban hitam, untuk mencegah orang itu mengakses kameranya.
Namun dia tak berharap bisa ditemukan secepat itu. Sangking ketakutannya, dia sampai membuang laptop itu ke laut. Dan memerintahkan kepada Nahkoda untuk bergerak cepat.
"WHO ARE YOU?"
"WHO ARE YOU?"
"WHO ARE YOU?"
Pesan itu sangat singkat namun cukup menegaskan bahwa saat ini orang itu bisa begitu cepat mengendus jejaknya. Maka tak lama lagi, orang itu pasti bisa menemukannya dengan mudah. Dia yakin orang itu tak akan pernah melepaskannya dengan mudah. Saat ini orang itu mungkin telah memerintahkan kepada seluruh Hunter untuk memburunya.
Kemarahan orang itu bukan suatu hal yang bisa ditanggungnya. Orang itu bisa menggerakkan seluruh pasukan untuk menghancurkannya, menghancurkan hidupnya, bisnisnya, maupun kepercayaan orang-orang yang dia sayangi.
Namun Elsa juga tahu, orang itu tak suka memakai kekerasan. Atau bisa di bilang pembalasannya lebih mengerikan daripada pembantaian secara terang-terangan. Sebagai ahli psikologi, Rifki sangat lihai dalam pembunuhan karakter dan penyiksaan mental.
Elsa tahu konsekuensinya bila dirinya bermain api. Tapi selama ini, dia selalu bisa mengendalikan api itu. Sehingga dirinya tak pernah takut terbakar.
Dia juga tahu bahwa Rifki bukan orang biasa. Rifki begitu jenius dan tak tertandingi, namun juga bisa begitu lihai dalam menyembunyikan kemampuannya. Seperti halnya Elsa, Rifki memiliki nama dan identitas yang berbeda. Hanya segelintir orang yang mengetahui segalanya tentangnya.
Elsa juga tahu bahaya yang harus dia hadapi jika memprovokasi orang itu. Justru karena itulah dia begitu menginginkan gen-nya. Dia tahu bahwa orang itu tak akan mau menyerahkan gen-nya dengan cara apapun. Oleh karena itu, dia terpaksa harus mencurinya.
Rasa penasaran akan petualangan yang mendebarkan memicu kegilaannya untuk mencoba mendapatkan gen itu. Namun saat ini adrenalin dalam dirinya yang semula membuncah kini seakan sirna entah kemana. Tergantikan oleh ketakutan ekstrim pada sesuatu yang tak jelas.
Hei, bukankah orang itu tak kehilangan apapun?!
Bukankah itu hanya beberapa cc zigot yang pastinya akan terbuang percuma dan diproduksi lagi oleh tubuhnya?!
Ya, lantas kenapa aku harus takut?!
Benar, harusnya orang itu tak perlu marah!
Ah, benar! Bukankah orang itu suka menakut-nakuti?!
Jika aku tak merasa bersalah, untuk apa aku takut padanya?!
Bukankah Rifki belum menemukan ku?!
Elsa terus-menerus mencoba untuk menyemangati hatinya dan menguasai pikirannya agar tidak tenggelam dalam ketakutan.
Karena Elsa tahu, kekejamannya pada diri sendiri melebihi kekejamannya pada orang lain. Sisi gelapnya memiliki kemampuan untuk menyiksa diri sendiri dan membuatnya merasakan sakit hati yang ekstrim sehingga melemahkan tubuhnya.
Elsa memiliki dua kehidupan yang sangat bertolak belakang. Kehidupan agamis dan kehidupan underground. Sekilas dua sisi itu membuat dirinya tampak seperti munafik. Namun Elsa memiliki alasannya tersendiri dan dia sangat menyukai setiap topeng kepribadiannya.
Sebuah helikopter mendarat di atas kapal pesiar. Sesosok tubuh lelaki yang tinggi besar berkacamata hitam segera melompat keluar dan bergegas menuju Ve yang tampak begitu panik.
Ve memberi hormat dan berjalan menunjukkan jalan pada lelaki itu.
Beberapa waktu sebelumnya Ve segera menghubungi Surya dan menceritakan keadaan Elsa. Mendengar hal itu, Surya segera bergegas untuk menyusul Elsa. Beruntung tempat Elsa tak jauh darinya sehingga dia bisa menyusul dengan cepat.
Surya tahu kondisi kejiwaan Elsa bisa begitu labil sehingga bisa mengancam jiwanya. Dia pernah mendapati jiwa Elsa dalam kondisi koma karena begitu ingin mati. Dia juga pernah menemukan Elsa begitu kehilangan seperti cangkang kosong, tubuh tanpa jiwa.
Di bawah perawatannya yang intensif, selama beberapa tahun kondisi itu tak pernah muncul lagi.
Elsa memang bukan adik kandungnya, namun rasa sayangnya pada gadis itu sudah melebihi rasa sayang nya pada adik kandungnya sendiri.
Gadis itu begitu dekat dengan keluarganya dan bisa membuat semua orang bahagia. Dia tak bisa membayangkan kesedihan istri dan anak-anaknya bila sampai ada hal-hal buruk yang menimpa Elsa.
Kekhawatiran Surya pada Elsa melebihi apapun sehingga dia bahkan tak peduli dengan kelangsungan kerjasama bisnisnya.
Dia segera mengikuti Ve berjalan menuju kamar Elsa.
Melihat gadis itu terisak, menggigil dan meringkuk di bawah selimut membuat kekhawatirannya sedikit terangkat. Setidaknya Elsa belum sampai ke tahap kehilangan kesadarannya.
Surya pun tersenyum seraya memeluk tubuh lemah itu dengan penuh kekuatan, mencoba untuk menyalurkan kekuatan jiwanya dan kehangatan tubuhnya pada gadis itu.
"Sejak kapan Elsa jadi begitu penakut pada lelaki?!" Bisiknya dengan nada geli.
Tentu saja Surya geli, bagaimana tidak? Adik angkatnya yang satu ini tak pernah takut pada makhluk bernama lelaki. Tidur di game-center, pub ataupun hotel dengan lelaki bisa dibilang sudah biasa. Surya pun tak pernah khawatir akan hal itu. Dia percaya, Elsa selalu bisa menjaga diri.
Surya tahu bahwa Elsa memang bukan wanita suci, dalam arti dia punya begitu banyak cowok yang dimanfaatkannya. Elsa juga sering kali tidur dengan pacar-pacarnya. Tapi dia juga percaya Elsa selalu bisa menjaga kehormatannya, istilahnya mungkin "having sex without plug-in".
Dan selama ini Elsa memang selalu beruntung, bisa mengendalikan nafsunya dan nafsu lawan mainnya.
Elsa juga selalu memegang prinsip, dia tak akan makan teman. Dia tidak akan pernah berhubungan dengan temannya sendiri. Dia selalu memakai nama dan identitas yang berbeda untuk setiap teman kencannya.
Tentu saja hal itu untuk keamanan dan menghindarkan diri dari pria-pria yang terlalu terobsesi padanya. Karena biasanya Elsa justru jijik pada mereka.
Di satu sisi Elsa memiliki kegemaran menaklukkan lelaki. Hanya saja semua itu sekedar untuk bersenang-senang. Bukan untuk berkomitmen atau menjalin hubungan yang lebih jauh. Hanya saja Elsa mulai bosan dan menghentikan kebiasaan itu sejak lima tahun yang lalu.
Di sisi lain, dia trauma pada pernikahan, belum bisa percaya sepenuhnya pada lelaki. Sekalipun itu Surya maupun Arya, karena Elsa sendiri tahu walaupun keduanya sudah menikah, terkadang mereka berdua masih suka menggoda perempuan.
Surya dan Arya adalah sepasang saudara kembar yang memiliki wajah berbeda. Karena kekejamannya keduanya lebih dikenal sebagai Ashura di antara kelompok tentara bayaran. Mereka berdua juga memiliki beberapa identitas lain dan kerajaan bisnis.
Elsa beruntung bertemu mereka beberapa tahun lalu dan dianggat sebagai adik mereka saat dia benar-benar jatuh.
Elsa tak ingin mengakui bahwa dirinya sebenarnya merasa depresi sejak tiga tahun yang lalu. Elsa selalu berusaha untuk menyembunyikan depresinya dengan berbagai tingkah konyolnya di depan semua orang.
Padahal jauh di lubuk hatinya dia merasa kosong, tanpa keinginan hidup, tanpa keinginan untuk berjuang, tanpa ada cita-cita sama sekali.
Di tambah lagi semuanya telah berjalan sendiri sebagaimana mestinya, anak-anak angkat nya sudah bisa mandiri. Perusahaan juga bisa berjalan sendiri. Keberadaannya menjadi tak lagi berarti. Seolah dia tidak memiliki penyesalan jika mati.
Namun Elsa tak ingin lagi membuat Surya dan Arya khawatir sehingga dia terus menyembunyikannya.
Elsa telah berkonsultasi dengan beberapa psikolog untuk memecahkan depresinya. Mereka menyarankan agar dia menikah atau berkeluarga karena dengan adanya anak dia akan menjadi lebih termotivasi.
Hanya saja Elsa tidak tertarik untuk menikah, tapi dia cukup tertarik dengan ide untuk memiliki anak. Karena itu dia mengadopsi beberapa anak. Namun sayangnya hal itu masih belum bisa mengobati depresinya.
Setelah mencoba untuk menganalisa, nampaknya dia memang membutuhkan seorang anak kandung. Seorang Bayi yang bisa memberinya keinginan untuk menjaganya. Bayi yang bisa memberinya motivasi hidup.
Jadi mau tak mau, dia harus merelakan tubuhnya untuk proses inseminasi. Dan pilihannya jatuh pada Rifki. Orang yang tak mungkin jatuh cinta padanya.
Wanita yang memiliki banyak pria seperti Elsa adalah wanita yang menjijikkan bagi Rifki. Tentu saja, Rifki tak mungkin terobsesi padanya.
"Dia Rifki, bukan orang biasa!" Tekan Elsa membela diri. Ya, dia Rifki, orang yang sudah lama menjadi idolanya. Jika dia tak bisa mendapatkan Rifki, setidaknya dia ingin memiliki anak secerdas Rifki.
"Kamu menghadapi dua raja naga saja berani masak menghadapi Rifki gak berani?!" Goda Surya. Dua raja naga yang dimaksud adalah Surya dan Arya, dua saudara yang begitu mendominasi dunia bisnis dan dunia underground. Tak hanya itu, keduanya juga bisa dengan mudah membuat orang jatuh cinta.
"Rifki itu beda ya, Kaaak!" Elak Elsa dengan nada manja.
Walaupun Surya-Arya dan Rifki sama-sama kuat, tapi temperamen mereka jelas berbeda. Dia tak pernah takut akan kemarahan Surya-Arya karena dia yakin kedua orang itu selalu menyayanginya dan apapun keadaannya Elsa selalu bisa meredakan kemarahan mereka.
Mungkin orang melihat Surya-Arya sangat memanjakan Elsa. Namun tidak ada ada yang tahu bagaimana kejamnya metode pelatihan mereka pada Elsa.
Tapi Rifki jelas tak pernah memandang dirinya, apalagi memiliki hati untuknya, tak mungkin Rifki punya belas kasihan untuknya.
"Beda apa?! Sama-sama manusianya kok. Hahaha...." Goda Surya lagi.
"Ugh! Kakak nyebelin!" Kata Elsa sambil menatap Surya dengan penuh amarah.
"Hahaha..." mendengar Elsa marah membuat Surya begitu lega dan bahagia. Karena itu berarti Elsa sudah bisa melepaskan diri dari ketakutannya.
"Gimana? Enak tidak?! Semalam sukses kan?!" Goda Surya lagi. Dia pun kembali tertawa melihat Elsa yang langsung blushing karena mengingat kenekatannya.
"Surya nyebelin!!!" Kata Elsa seraya memukul dan menendang Surya.
Sementara Surya justru semakin tertawa menerima serangan Elsa di tempat tidur. Tak pelak lagi, menggoda Elsa adalah salah satu kegemaran Surya dan Arya.
Sayangnya Arya sedang berada di pedalaman Kalimantan yang tanpa sinyal sehingga tak bisa ikut menggoda Elsa.
"Eits! Eits! Bumil gak boleh marah-marah. Nanti dedeknya ngambek gak jadi keluar lho!" Goda Surya lagi.
"Dedek, gak boleh ngambek, ya!" Kata Elsa tenang seraya membelai perutnya yang masih rata. Mencoba untuk menenangkan bayi yang belum tentu ada dalam perutnya dengan penuh keyakinan. Dia tak peduli jika dirinya dianggap gila.
Kemudian Elsa kembali menatap Surya dengan tajam. Sayangnya Surya sudah kebal dengan kemarahan Elsa, sehingga dia masih tetap menertawakan Elsa.
"Dedek, bilang terimakasih sama pak Dhe." Kata Elsa dengan nada lembut seolah berbicara pada anaknya, kemudian dia melanjutkan lagi dengan nada imut khas anak-anak "Pak Dhe, terimakasih ya sudah nenangin mama."
Sontak Surya semakin tertawa terpingkal-pingkal seraya memegang perutnya.
Tok! Tok! Tok!
Ve membuka pintu dengan membawa nampan berisi makanan. Ve tahu, Elsa pasti lelah dan lapar setelah menangis.
"Ini, makan dulu. Trus istirahat. Nanti malam kamu harus berangkat ke London. Urusan disini biar aku sama Zain yang nangani." Kata Ve seraya mengulurkan nampan pada Elsa.
Ve dan Zain adalah kepercayaan Elsa baik di dunia bisnis maupun underground. Keduanya memang terbiasa melakukan berbagai hal tanpa perlu di perintahkan.
Elsa memakan makanannya dengan lahap dan hati senang. Ya, dia memang sudah lama tidak pernah main ke London.
Walaupun kali ini kepergiannya bukanlah untuk bermain, melainkan ada beberapa pertemuan yang harus dia hadiri, tapi setidaknya di sana dia bisa merasa damai, jauh dari Rifki.
….
Sementara itu, di hotel beberapa orang berpakaian hitam sedang dengan lambang Black Dragon sedang berlutut dihadapan Rifki. Keringat dingin membasahi tubuh mereka.
Mendengar bahwa ada seorang gadis yang dapat menyelinap ke dalam kamar bos mereka tanpa terdeteksi di bawah pengawasan mereka membuktikan bahwa mereka tidak kompeten sebagai pengawal rahasia.
Karena itu kali ini mereka mengajukan diri untuk menerima hukuman.
Rifki yang tengah sibuk di depan laptop terus mengabaikan mereka. Tak ada gunanya menghukum mereka. Dia bahkan tidak bisa memberikan perintah pencarian karena tidak tahu bagaimana wajahnya ataupun identitasnya.
Pelacakan dari sistem pengacak IP menemukan bahwa lokasi laptop itu sekarang berada di Samudera Pasifik dan langsung menghilang setelah dia berhasil mengirimkan pesan “WHO ARE YOU?” Berkali-kali. Rifki juga melihat bahwa laptop itu benar-benar kosong dan baru.
Setidaknya Rifki dapat menarik garis besar bahwa pelakunya adalah seorang yang telah sangat mengenalnya dan dia juga memiliki dukungan yang kuat.
“Kumpulkan semua informasi kelompok tentara bayaran yang beroperasi di Pasifik. Dari kelompok yang memiliki pesawat jet tempur dan kapal perang, fokuskan pada kelompok yang berhubungan dengan orang Indonesia. Amati setiap hal yang mencurigakan.”
“Siap, Pak!”
Ada begitu banyak kelompok tentara Bayaran di Pasifik. Bisa dibilang Pasifik adalah gudangnya pangkalan tentara bayaran. Tapi hanya sedikit yang berhubungan dengan orang Indonesia.
Biarpun Rifki bisa melakukannya sendiri tapi terkadang beberapa kepala lebih baik dari pada satu.
Sementara itu Rifki kembali mengawasi rekaman kamera CCTV hotel dengan sedikit frustasi karena tidak menemukan apapun yang mencurigakan maupun wajah-wajah yang dikenal.
“Hanya kelompok Asyura dan Angel yang sesuai pak.”
Kedua nama itu sudah tidak asing lagi baginya. Namun mengingat kekejaman mereka Rifki tidak yakin bila mereka memiliki hubungan dengan gadis yang dicarinya.
Rifki mengamati data kelompok itu dengan cermat kemudian mencoba memasuki sistem informasi mereka. Namun demikian dia masih belum menemukan apapun.
….
Pada saat yang sama di Jakarta.
“Apakah kamu yakin dengan laporan mu?” Tanya pria paruh baya berseragam tentara penuh aksesoris bintang pada seseorang di seberang teleponnya.
“Yakin, Pak!”
“Apakah kamu yakin bahwa itu sukses?”
“Hanya pihak miss Elsa yang tahu, Sir.”
“Bagaimana dengan Rifki?”
“Mereka masih belum menemukan jejaknya, Sir.”
“Ya, sudahlah. Kembali ke tempat mu. Lindungi Elsa, hapuskan semua bukti yang mengarah padanya. Laporkan segera perkembangannya!”
“Yes, sir!”
Menutup telepon, pria itu tertawa keras-keras.