
Ch 12 - wedding
Matahari masih belum terbit, kabut dingin masih sedikit mewarnai udara.
Samar-samar paduan suara lantunan doa telah terdengar dari kejauhan.
Ya...Fattahu Ya Mu’in…
Ya...Fattahu Ya Mu’in…
Ya...Fattahu Ya Mu’in…
Iftah lana ilmal yaqin…
Ya...Fattahu Ya Mu’in…
Ya...Fattahu Ya Mu’in…
Ya...Fattahu Ya Mu’in…
Iftah lana ilmal yaqin…
Rodhi tu billahi rabba, wa bil islami diina, wa bi muhammadin nabiya wa rasula, wa bil Qur'an wal hadist imama
Lagu ini terdengar begitu menenangkan.
Di tengah perumahan. Sebuah rumah besar berwarna hijau telah dipenuhi oleh orang yang memakai pakaian seragam sarung hitam baju hitam kerudung putih dan menyimak kitab.
Seperti kaum santri yang umumnya remaja. Namun di tempat ini tidak hanya terdapat remaja, dari bayi yang masih di gendong ibunya, balita, anak sekolah, ibu-ibu, bapak-bapak sampai para lansia pun ada.
Ya, di tempat ini memang siapapun boleh ikut ngaji layaknya santri. Tidak ada batasan usia. Umumnya mereka berangkat sekeluarga.
Mereka semua duduk bersila terdiam, mendengarkan dengan seksama sambil menulis.
Elsa tampak begitu cantik dan anggun dalam balutan hijab dan gaun pengantin putih.
Elsa tak percaya bahwa pada akhirnya dia bisa menikah di rumah Aby dan dinikahkan oleh putra Aby di depan santri-santri setelah majlis subuh.
Mengingat masa lalu Elsa yang sering membuat masalah, dan sekarang juga dia baru saja membuat masalah rasanya tak mungkin Guse bersedia untuk menikahkannya.
Bagaimana pun juga Guse adalah orang yang sakti, walaupun tidak ada yang laporan, beliau bisa tahu segalanya. Jadi tidak mungkin jika Guse tidak tahu masalahnya.
Elsa merasa pasti itu karena pasangannya adalah Rifki yang memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Guse.
Dulu, setiap kali melihat Aby menikahkan murid-muridnya, Elsa selalu bermimpi, suatu hari nanti dirinya bisa dinikahkan oleh Aby. Karena upacara pernikahan ala Aby begitu sakral, mengharukan dan indah di mata Elsa.
Sayangnya Aby terlanjur telah pindah dimensi sebelum dirinya menikah.
Elsa dan Rifki keduanya duduk berlutut sambil menunduk khidmad di depan Guse di batasi meja kecil. Gus adalah panggilan untuk putra Yai.
Karena seperti Aby yang tidak suka di panggil Yai, putranya pun tidak suka disebut Yai.
Jadi orang-orang menyebut beliau putra Aby sebagai Guse.
Guse masih begitu muda, namun telah mewarisi ilmu Aby. Wajahnya begitu putih dan bersinar. Senyumannya begitu manis dan menggoda.
Dari senyumannya tampak kepribadiannya yang suka bercanda namun hal itu tidak mengurangi aura 'sepuh' alias wibawa yang dipancarkannya.
Guse suka menggunakan bahasa Jawa. Jadi jangan heran jika banyak kalimat beliau dalam bahasa Jawa.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh.
Ing dina iki, dewe keparingan nyekseni pernikahan nak bagus Rifki lan nak ayu Elsa.
(Di hari ini, kita mendapatkan nikmat untuk menyaksikan pernikahan nak Bagus Rifki dan nak Ayu Elsa)
Proses yang amat sakral, proses serah terima buku catatan amal nak Elsa dari malaikat Rokib-Atid yang mencatat amal orang tua Nak Elsa kepada malaikat Rokib-Atid yang mencatat amal Nak Rifki.
Di hari ini, kita semua diberkati dengan menyaksikan pernikahan nak bagus Rifki dan nak ayu Elsa. Suatu proses yang amat sakral, prosesi serah terima buku catatan amal nak Elsa dari malaikat Rokib-Atid yang mencatat amal orang tua nak Elsa kepada malaikat Rokib-Atid yang menjaga nak Rifki.
Emut hakikate dewe manungso iku makhluk kang ino, mung di gawe soko banyu mani, banyu kang ino kang tatkala wong demek wae wegah. Lan akhire awake dewe mung sak dermo dadi bathang.
(Translate: ingat hakikat kita manusia itu makhluk yang hina, hanya tercipta dari air mani, air yang kotor yang ketika orang lain menyentuh pun tak mau/jijik. Dan pada akhirnya kita hanya akan menjadi bangkai)
Aja agung-agungan, aja rumongso bagus, aja rumongso biso. Hak kewajiban bojo lanang tidak hanya sekedar memberi materi. Ojo nganti anak ingsun nak Rifki gur ngek i materi materi lan materi.
(Jangan sombong, jangan merasa baik, jangan merasa bisa. Hak kewajiban suami tidak hanya sekedar memberi materi. Jangan sampai anakku Rifki hanya memberi materi materi dan materi)
Nek wong wadon wis di bayar mahar, kudu luwih manut marang bojo lanang tinimbang bapak-ibu kandung. Di sinilah peran bojo lanang kudu iso dadi imam, supoyo bagus marang bapak-ibu kandung, bapak-ibu morotuo ugo abu ruh. Lan nak ayu Elsa, emut! sing jenenge ngabekti marang bojo lanang iku golek Golden tikete suargo bapak-ibu.
(Jika wanita sudah di bayar mahar. Harus lebih taat kepada suami dari pada kepada orang tua kandung. Disinilah peran suami harus bisa menjadi imam, menjadi contoh supaya baik kepada bapak-ibu kandung, bapak-ibu mertua juga bapak ruh / guru. Dan anakku Elsa, ingat yang namanya berbakti pada suami itu adalah mencari golden tiket surga untuk bapak-ibu.)
"Anakku Elsa, awakmu meh di nikah anakku Rifki wis ngerti meh di mahar piro?"
(Anakku Elsa, dirimu mau di nikah anakku Rifki sudah tahu mau di bayar mahar berapa?)
Deg! Hati Elsa tersentak.
Walaupun dirinya sudah tahu bakal di tanyai seperti itu. Karena pada dasarnya semua yang menikah disini akan di beri pertanyaan yang sama, sehingga Elsa dan Rifki pada dasarnya sudah sangat hafal dengan pertanyaan itu.
Namun menghadapi pertanyaan itu sendiri membuat hati Elsa bergetar. Ada ketakutan tersendiri yang akan muncul setiap kali dirinya berhadapan langsung dengan Guse. Seperti ketakutan anak kepada orang tuanya ketika merasa bersalah.
"Sampun." Jawab Elsa lirih, tangannya terasa begitu dingin dan sedikit bergetar ketika memegang mikrofon.
Bagi Elsa, kata sampun tak hanya berarti sudah, akan tetapi memiliki makna yang lebih dalam daripada hanya sekedar sudah.
Karena dalam kata sampun juga mengandung penghormatan kepada orang yang memberi pertanyaan.
"Piro?" (Berapa?) Tanya Guse dengan nada bercanda.
"Sangang atus sangang puluh doso sangang ewu sangang atus rupiah." (Sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus rupiah.)
"Koyo online wae!" Seperti harga diskon di toko online saja.
Komentar Guse dengan nada bercanda yang sontak membuat semua hadirin tertawa.
"Ndi duwite?" Mana uangnya? Tanya Guse masih dengan nada bercanda. Rifki pun menyerahkan uang mahar yang telah dibingkai pada Guse.
"Njajal di etung!" Coba di hitung!
Elsa pun mencoba menghitung kembali.
"Ikhlas di regani sakmono? Karo hape jik larang hapene lho" (ikhlas di hargai segitu? Sama HP masih mahal HP nya lho.) tanya Guse lagi
Ikhlas Gus. Batin Elsa, dia pun hanya mengangguk.
"Mumpung durung tak nikahke, keno njaluk tambah." goda Guse.
(Selagi belum ku nikahkan boleh minta tambah)
"Mboten." (Tidak) Jawab Elsa dengan sedikit bergetar.
"Wis yakin, cukup sakmono?" (Sudah yakin, cukup segitu?)
"Yakin Gus."
"Bagus! sak bagus-baguse wong wadon sing sithik mahare. Iki tompo sik, di simpen! Ojo entuk nek di jaluk wong tuamu! Nek perlu Gawe jimat! Kanggo pesugihan!" (Bagus! Sebaik-baiknya wanita yang sedikit maharnya. Ini diterima dulu, di simpan! Jangan boleh jika diminta orang tuamu! Jika perlu jadikan jimat! Untuk pesugihan!)
Walaupun masih dengan nada bercanda, tetapi semua hadirin tahu bahwa hal itu tidak bercanda sehingga tidak berani tertawa.
"Anakku Rifki, kowe wis kenal tenan karo nak ayu Elsa?" (Anakku Rifki, apakah dirimu sudah benar-benar kenal dengan nak ayu Elsa?)
Tanya Guse lagi.
"Wis ngerteni sifat-sifat e? Ojo kaget, nek jamane ijik kenalan mangane secimit, ngko nek wis nikah sedandang di adep dewe. Kuwi bojomu, elek o yo kuwi bojomu." (Sudah tahu sifat-sifatnya? Jangan kaget, saat jaman masih kenalan makannya sedikit, nanti kalau sudah menikah sepanci di habiskan sendiri. Bagaimana pun juga itu istrimu, walaupun kelakuan nya buruk ya tetap istrimu.)
OMG! Elsa serasa ingin menenggelamkan wajahnya sendiri. Beruntung make-upnya begitu tebal sehingga wajahnya yang berubah menjadi merah tidak terlalu terlihat. Oke, Aby maupun Guse memang tahu segala keburukannya, tapi tetap saja malu rasanya dibahas di depan banyak orang.
Walaupun pada hari biasanya Elsa tak punya malu. Porsi makan Elsa memang tak wajar, amat sangat luar biasa besar. Tapi setidaknya dia tidak pernah berpura-pura makan sedikit di hadapan Rifki.
"Anakku Elsa, kowe meh di nikah karo anakku Rifki wis reti kebiasaan-kebiasaane? Anakku Rifki nek wis kadung turu wahh. Ono lindu wae ra bakalan tangi. Ning kene sing jenenge wong wedok kudu sabar." (Anakku Elsa, kamu mau di nikahkan dengan anakku Rifki sudah tahu kebiasaannya? Anakku Rifki jika sudah tidur wah, ada gempa bumi pun dia tidak bangun. Di sini yang namanya istri harus sabar.)
Kemudian Guse melanjutkan lagi
"Anakku Elsa, kowe meh di rabi nak Rifki wis mantep tenan? Ora njaluk tambah mahar?"
"Mboten"
"Anakku Rifki wis mantep tak nikahke karo anakku Elsa?"
Beliau pun langsung membacakan khutbah nikah dalam bahasa Arab yang fasih. Inilah waktu sakral yang sangat ditunggu-tunggu.
“Yabna adam ini kholaqoka minal mai basyaran…..”
Kemudian Guse menerangkan artinya satu persatu. "Ibu Hawa diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam sebelah kiri. Karena itu dalam kebudayaan Jawa, acara petuk wanita akan melempar sirih temu rose, yang artinya rusuk yang bertemu kembali. Ketika Nabi Adam melihat ibu Hawa, ada keinginan untuk menyentuh tapi dilarang. Diminta membayar mahar, apa maharnya? Sholawat kepada nabi Muhammad. Tatkala Nabi Adam dan ibu Hawa menikah, para Malaikat menjadi saksi, sekarang kita semua yang hadir disini adalah saksi."
Tak terasa air mata Elsa mengalir dengan sendirinya. Dia tak pernah menyangka bahwa dirinya masih bisa kembali ke tempat ini dan dinikahkan oleh Guse. Mengingat dirinya pernah “diusir” oleh beliau beberapa tahun lalu. Elsa begitu bahagia dan bersyukur.
Di tempat inilah Elsa, Fara, Rifki tumbuh dan belajar bersama. Walaupun dia diusir, namun hatinya masih di tempat ini.
Ya, “diusir”. Karena tidak ada yang namanya lulusan dan alumni di tempat ini. Hanya ada tiga alternatif untuk pergi dari sini, minggat, diusir, atau ditugasi.
Elsa bersyukur make-upnya kali tahan air, jadi tidak masalah jika dia terus menerus menitikkan air mata haru.
".....Halan"
"Qobiltu nikahaha wa tadwijaha bi mahri madzkur halan "
"Sah?"
Sah! Jawab semua orang serempak.
Guse pun langsung berdoa.
Saat berdoa, Elsa sekilas memperhatikan sekelilingnya, walaupun matanya tidak bisa melihat.
Tapi dari aroma dan kesadahan udara dia merasa ada banyak sesepuh tak terlihat yang ikut mendoakan dan memberikan restu. Membuat Elsa semakin terharu.
Selesai tanda tangan, Elsa dan Rifki bergantian sungkem mencium tangan Guse tiga kali. Tak lupa Guse juga menepuk kepala mereka berdua.
Kemudian mereka digiring ke pelataran rumah yang telah disiapkan untuk acara siraman. Biasanya tradisi siraman dilakukan hanya untuk mereka yang telah menyelesaikan atau lulus inah.
Inah adalah salah satu tradisi yang ada di pesantren ini. Inah adalah Masa menunggu setelah menikah. Jadi setelah menikah karena pasangan itu memutuskan inah mereka tidak boleh berkumpul layaknya suami istri.
Inah pada dasarnya adalah salah satu sunah Rasul. Saat Rasulullah menikah dengan Siti Aisyah, beliau inah dua tahun.
Maka dari itu, jika pasangan memutuskan untuk inah, maka selama inah mereka akan mendapatkan pahala sunah. Lamanya inah minimal satu tahun.
Namun karena pertimbangan tertentu, Guse tidak memberi mereka masa inah dan langsung menyiapkan acara siraman bagi mereka berdua.
Tentu saja ini adalah kejadian langka. Karena baru kali ini ada acara siraman tanpa inah.
Namun jika mengingat bahwa Rifki dan Elsa telah menikah di alam sana beberapa tahun lalu, itu sama seperti inah.
Maka dari itu Guse juga menyiapkan acara siraman untuk mereka.
Sebuah tong plastik besar penuh air lengkap dengan beberapa gayung dan selang air telah siap di tengah pelataran.
Rifki dan Elsa duduk bersimpuh menghadap ke arah teras. Sementara para santri dan hadirin berjongkok mengelilingi mereka.
Guse memerintahkan kepada santri yang biasa melayani ndalem untuk menyiapkan sirup warna merah, kuning, hijau masing-masing seteko. Sementara Guse mendekat dengan membawa secangkir kopi.
Sebelum mulai, Guse memberikan pembukaan,
“Kopi berarti hidup itu penuh rasa pahit juga manis. Sirup warna warni berarti hidup itu juga berwarna warni.”
Guse pun berdoa dengan kedua tangan menengadah ke langit. Kemudian mengambil cangkir kopi dan menyiramkan kopi hitam itu ke atas kepala Rifki dan Elsa.
Kemudian mengambil satu persatu teko sirup untuk disiramkan ke atas kepala mereka berdua. Kemudian Guse menyerahkan gayung pada Umi sepuh untuk menyiramkan air pada keduanya.
Sementara itu para santri dan semua yang hadir menyanyikan sholawat bersama-sama dengan nada khidmat.
"Shollallahu ala Muhammad shollallahu alaihi wa sallam…"
tanpa henti.
Satu persatu santri dan hadirin pun berjalan dengan antrian maju untuk memberikan siraman air pada kedua mempelai yang basah kuyup.
Elsa pun semakin terharu. Dia terus tertunduk dengan air mata yang bercampur dengan air siraman.
Dia tak menyangka bahwa dirinya masih bisa menerima siraman walaupun tanpa harus melewati masa inah.
"Mak, selamat ya mak!" Byur!
"Selamat ya kang!" Byur!
Beberapa santri bahkan dengan sengaja menyiramkan air ke wajah dari bawah sambil tersenyum nakal. Ya, kapan lagi mereka bisa puas menyiram air tanpa harus menerima pembalasan atau kemarahan selain saat acara siraman.
Yang terakhir bahkan mereka bersama-sama menganggkat tong air untuk disiramkan kepada Rifki dan Elsa. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya pagi-pagi berbasah-basah ria disiram air oleh ratusan orang kemudian di guyur air setong.
Kemudian masih dengan pakaian basah keduanya harus melayani makan seluruh hadirin. Ya, walaupun sebenarnya sebagian besar makanan itu sudah ditata di piring. Kemudian nantinya mereka berdua juga harus mencuci semua piring yang ada.
Konon, adanya tradisi ini karena dulu Aby juga mencuci piring sendiri waktu menikah dengan Umi.
"Tenang aja mak, nanti tak bantuin."
Memang tak ada larangan bagi mereka yang ingin membantu. Dan beberapa santri pun mengajukan diri untuk membantu tanpa harus diperintah.
"Makan dulu, mandi, ganti baju!" Kata Rifki seraya menyodorkan sepiring nasi gudangan lengkap beserta tahu, tempe, telur dan ikan asin tanpa ayam yang menjadi menu acara ini. Karena Elsa tidak suka makan ayam.
Melihat kondisi tubuh Elsa yang basah dan mulai kedinginan, dia pun meminta Elsa segera makan untuk menghangatkan tubuh. Elsa hanya bisa tersenyum tanpa daya.
Dirinya memang sudah sangat lelah dan kedinginan karena harus mengambilkan makanan bagi para tamu.
Hatinya terasa hangat karena perhatian Rifki. Mengingat dulu Rifki sangat suka memerintahkannya untuk mengambilkan makanan.
Selesai makan, Elsa pun segera ganti baju dan mengeringkan rambutnya baru kemudian menyusul Rifki mencuci piring di kamar mandi.
Karena tempat ini sering mengadakan acara makan-makan, jadi dapur dan kamar mandi untuk tempat cuci piringnya pun sengaja dibuat luas.
Elsa melihat Rifki telah berganti pakaian kaos rider hitam dan sarung hitam andalannya sementara rambutnya masih tertutup handuk hitam.
Elsa ingat, beberapa tahun lalu awalnya tidak ada handuk warna hitam di pasaran, Rifki secara khusus memesannya dalam jumlah besar untuk dirinya sendiri.
Elsa melihat Nita memakai headset tenggelam dalam kesenangannya mencuci gelas. Sedangkan Nak Uu menghidupkan musik dari komputer sambil mengepel aula. Mom Fatty dan Rifki menyabuni piring.
"Kamu yang membilas ya, Tho." Kata Mom Fatty
"Oke mak!"
Elsa pun menyiapkan tumpukan krat piring di dekat ember air untuk tempat piring bersih dan mulai memindahkan tumpukan piring yang telah disabun ke dalam ember penuh air.