I Need A Baby

I Need A Baby
Ch 15 - Day 2



Ch 15 - Day 2




Elsa begitu terharu, dia tidak menyangka Guse bahkan telah mempersiapkan amalan selama hamil untuk dirinya dan Rifki.



Biasanya tiap orang akan memiliki amalan yang berbeda.



Jadi tidak boleh mencontoh atau mengamalkan amalan milik orang lain.




Setelah keluar dari Ndalem, keduanya di sambut dengan ucapan selamat dari bapak-bapak dan ibu-ibu yang biasa ikut jalisan (duduk bersama untuk melakukan pembahasan ngaji) di teras Ndalem. Rifki pun tertahan di sana untuk menjawab berbagai pertanyaan mereka.




Elsa meminta ijin untuk pergi terlebih dahulu (melarikan diri) ke pondok putri sebelum Guse datang dan ikut jalisan. Elsa berpikir bahwa Rifki ingin mengikuti jalisan karena dia sudah lama tidak tinggal di pesantren.




Sampai di pondok putri, Elsa melihat kesibukan mbak yu-mbak yu di dapur. Nampaknya nanti malam akan ada acara aqiqah karena ada dua ekor kambing yang tergantung di depan kamar mandi.




“Mbak Tho, kebetulan kamu datang, ada kambing yang menunggumu.” Kata Mom Fatty yang tengah menurunkan belanjaan.




Dulu Elsa terkenal sebagai ahli memutilasi kambing karena kecepatannya menggunakan pisau untuk memotong motong kambing.




Sebagai seorang santri yang pernah melihat bagaimana Mbah Yai ngeleti (memutilasi) kambing, tidak heran jika dia sangat mengenal susunan otot, tulang dan organ tubuh kambing.



Elsa dapat memisahkan antara daging, tulang dan organ kambing dengan bersih.




Mbah Yai mengajarkan bahwa pada dasarnya, setiap organ memiliki lapisan tipis selaput membran yang memisahkan.




Jika kita mengikuti alur lapisan itu dan membukanya dengan pisau maka akan lebih mudah untuk memisahkannya.




Karena Elsa memakai baju serba putih dan tidak membawa baju ganti, dia hanya memberikan arahan kepada santri cara memutilasi kambing yang baik dan benar.




“Mak, ada acara Hubul Waton gak?” Tanya Elsa pada Mom Fatty.




Hubul Waton berasal dari bahasa Arab yang berarti Cinta tanah air. Acara tersebut biasanya diadakan sekali setiap tahunnya.




Acara ini hampir mirip dengan acara jurit malam namun dengan susunan yang lebih kompleks dimana para pesertanya di wajibkan memakai seragam silat pesantren yang berwarna hitam-hitam.




Di mulai dengan acara mujahadah (doa bersama) di lanjutkan dengan apel kemudian jalan-jalan naik-turun bukit, absen di kuburan, istirahat makan-makan dan di akhiri dengan mendengarkan renungan malam.




“Belum tahu, Tho. Nanti kalau ada tak kabari.” jawab Mom Fatty.




“Sini Mbak Tho, makan bareng!” Mak Senul yang terkenal sebagai seorang pendekar dari Pagar Nusa membawa nampan berisi nasi dan mie rebus beserta beberapa sendok ke aula di ikuti oleh beberapa santri.




Elsa pun tanpa merasa malu langsung ikut mengerubungi makanan itu. Memang makan bersama terasa lebih nikmat.




“Yu Elsa di cari suaminya.” Teriak seorang santri yang sedang menyapu jalan.




Setiap pagi dan sore akan ada satu atau dua orang santri putri yang menyapu jalan sekitar pesantren. Tugas membersihkan lingkungan pesantren biasanya digilir, setiap satu atau dua orang akan bertanggung jawab atas satu area.



Setiap hari Minggu mereka akan mengadakan kerja Bhakti atau istilah kerennya Ro'an selesai latihan silat.




Selain ilmu agama, pesantren ini juga mengajarkan beberapa skill diantaranya silat, sehingga diharapkan santri bisa membela diri jika dibutuhkan.




Mbah Yai selalu memberi motivasi pada santrinya, “santriku kok ndisiki gelut tak jotos! Santriku kok kalah gelut, tak jotos!”



Yang artinya: “santriku kok memulai perkelahian,  saya pukul! Santriku kok kalah dalam perkelahian, saya pukul!”




Maksudnya santri tidak boleh sombong dan menggunakan kekuatannya untuk menindas orang lain. Kekuatan itu hanya boleh digunakan untuk membela diri.




Elsa pun keluar dan menemui suaminya yang telah menunggunya di parkiran samping pondok.




“Sampun rampung?” (sudah selesai?) Tanya Elsa dalam bahasa Jawa.




Walaupun Rifki melarangnya untuk menggunakan bahasa Jawa padanya tapi Elsa tahu bahwa itu hanya berlaku saat mereka berdua saja.



Di lingkungan pesantren tidak akan etis rasanya jika menggunakan bahasa Indonesia.




“Sampun. Njenengan sampun sarapan dereng?” (Sudah. Kamu sudah sarapan belum?) Tanya Rifki menunjukkan perhatiannya.




Karena Rifki ikut jalisan, otomatis dia sudah mendapatkan sarapan dari Ndalem. Dari zamannya Mbah Yai, Ndalem akan selalu menyediakan sarapan untuk mereka yang mengikuti jalisan.




“Sampun wau kalih bocah-bocah” (sudah tadi bersama anak-anak) jawab Elsa.




“Badhe langsung nopo mampir riyin?” (mau langsung pulang atau mampir dulu?) Tanya Rifki.




“Kulo ingin mampir ke makam kang Mastur terlebih dahulu.” Jawab Elsa.




Kang Mastur adalah suaminya Kak Ely. Dia adalah orang keturunan China asli Jawa Barat.



Ceritanya dulu dia pernah tinggal di  Singapore, Malaysia dan Korea sebagai TKI.



Begitu pulang ke Indonesia dia merawat ibunya dan sukses berdagang di pasar. Sepeninggal ibunya, dia ingin menjadi sufi.




Dia pun pergi meninggalkan rumah dan hartanya ke daerah Cirebon.



Di sana sepanjang waktu dia tinggal di masjid. Hanya turun ke dunia nyata untuk bekerja saat uangnya habis.




Dia ingin menjadi murid dari seorang alim disana tetapi malah di tolak dan di arahkan untuk mencari Aby, karena tidak memiliki uang, si alim itu membalikkan tangannya, seketika ada uang muncul dari tangannya dan diberikan pada Kang Mastur.




Uang itu cukup digunakannya untuk bekal perjalanan sampai ke tempat Aby setelah beberapa lama mencari.




Sesampainya di pesantren, dia langsung di-laqob-i (diberi nama baru) Mastur oleh Mbah Yai yang atinya tersembunyi atau rahasia. Dari nama itu di harapkan dia bisa menjadi wali yang tersembunyi.




Untuk mencukupi kebutuhan makannya, Kang Mastur bekerja mencuci baju santri putra.



Oleh Mbah Yai, dia dinikahkan dengan Kak Ely yang biasa mengurusi cafetaria pondok putra.




Karena saat itu dia tidak memiliki uang, kak Ely menyerahkan uang yang selama ini dikumpulkannya dari Mbah Yai pada kang Mastur untuk dijadikan mahar.



Setiap hari idul Fitri, Mbah Yai dan keluarga Ndalem selalu membagikan angpao untuk semua santrinya, oleh kak Ely uang itu sengaja di simpan untuk agar tetap barokah.




Oleh Mbah Yai, pernikahan mereka diadakan bersamaan dengan acara besar yang di gelar di Masjid pondok.



Awalnya Mbah Yai bermaksud untuk menanggung semua biaya pernikahan tersebut karena keduanya adalah santri paling manut (taat) dan sudah dianggap anak oleh beliau.




Akan tetapi dari pihak keluarga kak Ely matur “Kalau semua di tanggung Aby, terus kita dapat apa?”




Maksudnya dengan penuh kerendahan hati, dari pihak keluarga Kak Ely juga ingin ikut sodaqoh makanan untuk acara agar bisa mendapatkan bagian pahala juga.




Pernikahan mereka sangat meriah dengan adanya acara arak-arakan pengantin dari pondok putri ke pondok putra.




Tak lama kemudian Mbah Yai pun pindah alam dan Kang Mastur adalah orang yang diberikan amanat untuk menjadi juru kunci makbaroh (sebutan untuk makam orang alim) dan menjaga kebersihannya.




Setelah setahun setengah Kang Mastur tiba-tiba jatuh sakit dan meninggal dunia.



Dia di makamkan di pemakaman umum depan pondok putra karena dari pihak keluarganya tidak lagi mau mengakui.




Selama hidupnya, Kang Mastur sangat rajin berangkat ngaji.



Dia selalu duduk di barisan terdepan.



Dia juga sangat suka membantu dan menjaga kebersihan pondok. Perilakunya sangat halus dan sopan.



Kehidupan pernikahannya sangat romantis dan bahagia.



Walaupun hanya sebentar, namun sampai saat ini baik kak Ely maupun Elsa masih merasa bahwa kang Mastur masih hidup.




Berkali-kali kak Ely ditawari untuk menikah lagi, tetapi dia menolak. Baginya tak ada lelaki yang lebih sayang dan perhatian pada wanita dari pada kang Mastur.




Karena kak Ely begitu di sayang oleh kang Mastur sehingga semua pekerjaan rumah di kerjakan oleh kang Mastur.




Seringkali kang Mastur mengajak kak Ely jalan-jalan dan berlibur.  




Elsa sangat terkesan dengan cara Kang Mastur memberi hormat kepada Mbah Yai.



Cara sembah sungkem kang Mastur seperti cara sembah sungkem abdi dalem Keraton kepada Raja.




Dulu Elsa dan Rifki sering nongkrong bersama kang Mastur di cafe.



Dulu kang Mastur pula yang suka nggasaki (menyemangati untuk menjodohkan) Rifki dengan Elsa.



Karena itu Elsa merasa perlu untuk memamerkan hubungan mereka sekarang pada kang Mastur.




Tak lupa pula Rifki dan Elsa memanjatkan doa tahlil untuk beberapa santri yang di makamkan di sekitar makam kang Mastur.




Setelah selesai, mereka berdua mengunjungi rumah ibunya Elsa. Rifki dan Elsa menawarkan ibu untuk tinggal bersama mereka akan tetapi ibu menolak.



Sehingga pada akhirnya Elsa meminta ijin  Rifki untuk merawat ibunya setiap kali ada kesempatan.




Sampai di rumah mereka waktu menunjukkan pukul setengah enam, Elsa langsung mandi dan bersiap untuk jamaah magrib dengan Rifki yang dilanjutkan dengan bacaan wirid sehabis sholat dan tahlil.



Kemudian mereka pun membaca amalan yang di perintahkan Guse sampai isya’ dan di tutup dengan jamaah isya’.




Sebenarnya Elsa sudah tidak kuat lagi, dia sudah sangat lelah dan mengantuk. Setelah selesai makan malam yang dipesan di luar. Rifki dan Elsa pun memasuki kamar tidur.




“Kang mas ngersakke kulo mboten?” (Kang mas menginginkanku tidak?) Tanya Elsa menahan kantuk.




Rifki yang melihat Elsa begitu lelah tentu saja tidak tega untuk memaksanya.




“Kamu terlihat begitu lelah, bagaimana kamu bisa melayani ku?” tanya Rifki heran.




“Wanita kan hanya tinggal athang-athang (tidur terlentang) saja.” Kata Elsa sambil tiduran dan merentangkan kedua tangannya di tempat tidur.




“Mana asyiknya main sama orang tidur?” cemoh Rifki.




“Ya, pura-pura saja main sama mayat.” Elsa mencoba mengusulkan sambil memejamkan mata.




“Nampaknya Njenengan berharap untuk di perkosa ya?” kata Rifki sambil memposisikan dirinya di atas tubuh Elsa dengan kedua tangannya di samping menahan berat badannya.




“Ya, sekali-kali aku ingin tahu rasanya di perkosa suami.” kata Elsa sambil tersenyum mengangkat kedua alisnya dengan mata masih tetap tertutup.




“...” Rasanya Rifki tidak punya kekuatan lagi untuk berdebat dengan Elsa.




Perlahan Rifki mencoba untuk membuka baju Elsa. Walaupun dengan malas dan menutup mata, Elsa memudahkan Rifki membuka bajunya.




Rifki heran melihat Elsa memakai bra di luar kaus dalam.



Sebelum dia berkata, Elsa sudah memberinya jawaban, “karena aku super woman.” (Kalau Superman memakai celana dalam di luar, maka Super woman memakai bra di luar)




Alasan sebenarnya karena Elsa merasa gatal jika memakai bra secara langsung tanpa lapisan pelindung.



Elsa memang memiliki kebiasaan memakai baju yang berlapis lapis agar tubuhnya tetap hangat.




Setelah membuka semua baju mereka, Rifki menyelimuti tubuh keduanya dan tidur dengan memeluk tubuh Elsa.




Entah kenapa Rifki merasa nyaman dan puas hanya dengan tidur memeluk tubuh istrinya tanpa melakukan apapun.



Hatinya begitu penuh. Ada kedamaian tersendiri. Seolah hatinya menjadi lebih tenang.




Mungkin inilah yang di maksud menikah agar hati menjadi tenang.




Rifki pun memandang wajah Elsa dengan penuh kasih, kemudian membacakannya surat Al Fatihah dan mencium keningnya.



Itu adalah salah satu ajaran Mbah Yai untuk suami istri.




Jam dua belas malam, Rifki pun bangkit untuk mandi besar dan tahajud.




Elsa terbangun saat Rifki masih di atas sajadahnya. Elsa kemudian mandi dan ikut sholat juga.




Selesai sholat, Rifki melihat Elsa tampak lebih cantik dan segar.




Rifki pun mencium kening Elsa dengan khidmat. Kemudian mencium kedua mata Elsa yang tertutup. Di lanjutkan dengan mencium bibir Elsa.




Elsa sangat menikmati setiap kecupan manis bibir Rifki. Seolah dia bisa merasakan kasih sayang yang tulus darinya.




Elsa dapat merasakan keinginan Rifki padanya. Dimana dalam keinginan itu tidak hanya sekedar untuk memuaskan nafsunya.




Setiap kecupan lembut Rifki seolah menegaskan bahwa Rifki sangat mencintai dan menghargainya.




Elsa merasakan lidah Rifki yang membelai lembut bibirnya seolah mengundangnya untuk menari bersama. Elsa pun menanggapi tarian lidah Rifki dengan lidahnya.




Elsa sendiri tidak menyangka bahwa sebuah ciuman ternyata bisa begitu nikmat. Seperti ada aliran listrik yang menyatukan rasa mereka.




Keduanya saling menerima dan memberi kenikmatan pada yang lain. Elsa merasa tubuhnya dapat merasakan apa yang dirasakan oleh tubuh Rifki. Dia merasa tubuhnya ikut bahagia saat tubuh Rifki merespon sentuhannya.




Tanpa sadar, mereka pun menyatukan kedua tubuh mereka sambil tetap memberi dan menerima rangsangan.




Nafas keduanya begitu pelan dan panjang tanpa adanya keinginan untuk segera mendapatkan kepuasan.




Elsa dan Rifki saling memandang dengan tatapan sayu. Keduanya sama-sama tidak ingin mengakhiri momen ini dengan singkat sehingga keduanya tidak bergerak.




Namun dalam diri mereka, mereka dapat merasakan kepuasan yang dinikmati oleh pasangan nya.



Elsa dapat merasakan kekerasan yang semakin lama semakin keras tubuh Rifki dalam dirinya.



Begitu pula Rifki dapat merasakan cengkraman kelembutan tubuh Elsa yang semakin lama semakin erat.




Keduanya hanyut dalam rasa.



Tiba-tiba tanpa sadar Elsa bergumam…




“Jaga nafas panjang dan jaga tasbih dalam hati



Manusia dan malaikat thawaf mengelilingi Ka'bah



Darah thawaf mengelilingi jantung



Plasma thawaf mengelilingi inti sel



Neutron dan elektron thawaf mengelilingi proton



Rasakan bagaimana seluruh tubuh mu thawaf dan bertasbih.



Jaga nafas dan tetap jalankan tasbih.



Rasakan kesadaran setiap sel dalam dirimu dan buatlah seluruh tubuhmu bertasbih bersama hatimu



Rasakan setiap atom dalam dirimu dan ajaklah mereka bergetar bertasbih bersama mu”




Elsa dan Rifki pun memperpanjang nafas mereka dan bertasbih dalam setiap tarikan nafas dan membuangnya.



Keduanya sama-sama memperpanjang kesadaran mereka hingga ke seluruh tubuh dan menyebarkan kesadaran tasbih ke seluruh tubuh mereka.




Elsa dapat merasakan kebahagiaan setiap sel dalam tubuhnya dalam bertasbih.




Keduanya pun semakin larut dalam kenikmatan tasbih mereka sehingga mencapai kenikmatan yang lebih tinggi lagi dengan penuh rasa syukur yang mendalam.



Keduanya pun tanpa sadar terlelap dalam penyatuan mereka dengan tetap mempertahankan nafas dan tasbih mereka sampai subuh.