I Need A Baby

I Need A Baby
Ch 14 - Night 1



Ch 14 - Night 1




Malamnya, saat bersiap untuk tidur dengan ekspresi lucu dan mata berkedip-kedip, Elsa bertanya



“Do you want to eat me Hubby?”




Elsa mencoba untuk menawarkan dirinya pada Rifki. Bukan karena dia ingin melakukan hal itu dengan Rifki, tapi karena dia menyadari bahwa menggoda Rifki ternyata sangat menarik baginya.



Melihat wajah Rifki yang memerah karena malu tampak sangat menggemaskan bagi Elsa.




Elsa juga suka melihat Rifki jijik padanya.




Suara manja Elsa membuat Rifki merasa geli dan otomatis tertawa dengan keras. Cara tertawa Rifki sangat khas dan Elsa sangat menyukai cara tertawa Rifki sehingga seringkali menirunya.




(ngakak so hard. Kalau di tuliskan mungkin bunyinya begini: “aha aha aha ha ha ha”)




Elsa memiliki kemampuan untuk mengcopy paste kepribadian. Seperti aktor yang dapat berubah menjadi siapapun. Sehingga dia membuat julukan pada dirinya sendiri Seribu Topeng.




Diantara semua koleksi topeng kepribadian yang dimiliki nya, Elsa paling menyukai topeng kepribadian Rifki.




Rifki berpikir bahwa  hari ini Elsa terus memakai hijab, sampai tidur pun dia masih belum melepaskan hijabnya. Bukankah itu berarti Elsa tidak serius dalam merayunya.




Mbah Yai memang mengajarkan kepada muridnya untuk merayu dan menawarkan diri pada suaminya adalah salah satu hal yang harus dilakukan istri yang baik.




Nampaknya Elsa mulai mencoba mempraktekkan ilmu itu sayangnya bagi Rifki hal itu masih kurang sempurna, lembih sempurna lagi jika Elsa merayunya dengan memakai lingerie seksi pikir Rifki.




Mendengar Rifki menertawakannya sampai dia memegang perutnya, Elsa tidak mau kalah.




“Hubby….” panggil Elsa dengan nada merajuk manja. Mendengar panggilan Elsa padanya entah mengapa membuat hatinya senang. Padahal biasanya Rifki cukup jijik dengan panggilan itu.




“Ya baby...” jawab Rifki sambil menahan tawa sebentar dan kemudian tertawa kembali sampai air matanya keluar.




Elsa pun ikut tertawa mendengar panggilan Rifki. Ketika mereka mulai tenang, Elsa pun bertanya “Njenengan sukanya saya alay manja kayak gitu apa yang tomboy?”




“Aku gak masalah Njenengan pakai gaya apa aja di tempat tidur. Mungkin kita bisa mencoba untuk memainkan peran dulu sebelum tidur.”




“Yes! Nanti kapan-kapan kita coba BDSM ya, Kang!”




Rifki 🤔🤔🤔 berpikir sebentar kemudian mengangguk setuju.




“Bisa-bisa.”




(Author ngakak so hard)




Mengingat Elsa  memiliki banyak mantan, Rifki sedikit cemburu.




“Malam ini Njenengan pengen tidak?”




Mendengar pertanyaan itu, Rifki mengangkat alisnya.




“Itu seperti bukan gayamu saja.” Sindir Rifki.




“Emang gayaku bagaimana?” Elsa penasaran.




“Biasanya kan Njenengan suka main nyosor aja.” Kata Rifki menohok.




Mendengar hal itu Elsa tersenyum lebar.




“Oh, jadi ceritanya Njenengan lebih suka di perkosa ya?” kata Elsa sambil berkacak pinggang.




“Ya, bagaimana kalau malam ini kita mencoba mengulang kembali malam pertama kita? Agar aku bisa mengingat lebih detail.” goda Rifki.




Mendengar hal itu Elsa merasa tegang, tapi dia pura-pura memutar mata.




“Nggak ah. Malam ini aku gak ingin memegang Njenengan.”




“Trus ngapain?”




“Bobok. Aku capek banget. Ngantuk.”




“Ya sudah, cepat tidur!” kta Rifki pengertian.




“Puk! Puk!” Kata Elsa manja seraya meletakkan telapak tangan Rifki di atas kepalanya.




“Dulu aku sangat senang saat Mbah Yai menepuk kepalaku.”




Rifki pun menata posisi tidurnya agar lebih nyaman memeluk Elsa.




“Aku merindukan Beliau menjitak kepalaku.” cerita Elsa.




Aby atau Mbah Yai adalah sosok bapak yang sangat perhatian pada seluruh anak didiknya. Tak jarang beliau mengelus kepala anak-anak didiknya dengan penuh kasih sayang.




Elsa teringat setiap kali Mbah Yai lewat di dekatnya, Beliau akan tersenyum sambil mengelus kepalanya atau menjitak kepalanya. Elsa dapat merasakan kasih sayang yang tulus dari hati.




Dengan usapan lembut tangan Rifki, Elsa pun terlelap. Usapan lembut Rifki begitu menenangkanya.




Baiklah. Rifki berpikir untuk mengalah dulu. Elsa sekarang mudah lelah, dia tidak bisa egois. Bagaimanapun juga masih banyak waktu dan kesempatan untuk mereka.




Sebelum subuh, Rifki telah membangunkan Elsa. Elsa yang sudah terlalu lama tidak pernah bangun subuh masih ingin tidur lebih lama lagi.




“Bangun! Mandi! Sholat subuh! Ngaji!” kata Rifki memaksa membangunkan Elsa.




Saat di pesantren, mereka terbiasa bangun sebelum subuh. Setelah sholat subuh berjamaah, mereka pergi ke rumah Mbah Yai atau yang biasa disebut Ndalem.




Ndalem atau Rumah Mbah Yai begitu luas, tampak elegan dengan di hiasi ukiran Jepara pada tiang dan plafonnya. Terdapat pula meja mimbar besar dan kursi khusus Mbah Yai dari kayu jati yang di ukir.




Di depan meja mimbar tersebut terdapat satu meja kursi mimbar lagi yang lebih kecil untuk Guse mengajar. Karena sepeninggal beliau, sebagai bentuk penghormatan kepada Guru, tidak ada yang berani menduduki kursi tersebut.




Jikalau ada tamu Yai atau Habaib besar yang mengisi acara, maka di sediakan kursi khusus yang diletakkan di depan mimbar. Di yakini bahwa beliau Mbah Yai akan tetap menempati mimbarnya untuk selalu membimbing putranya di setiap kesempatan.




Memang bagi mereka yang telah memiliki derajat yang tinggi, kematian bukanlah akhir tetapi awal sebuah kebebasan dari belenggu tubuh fana.




Jiwa mereka akan tetap hidup dan berkontribusi terhadap agama. Selalu memberi bimbingan dan arahan pada murid-muridnya lewat putra Beliau yang memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan Beliau.




Sehingga sampai saat inipun beliau masih menunjukkan kapan tepatnya turunnya malam Lailatul Qadar yang jarang diketahui orang biasa. Pada malam itu, seluruh santri dan jamaah dari luar kota akan datang berkumpul untuk menyambut kedatangan malam Lailatul Qadar bersama.




Rumah mereka tidak terlalu jauh dari pesantren. Hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit untuk sampai di sana.




Sampai di Ndalem, sudah ada banyak bapak-bapak dan ibu-ibu yang telah duduk bersila di aula. Di jalanan depan Ndalem, karpet hijau di gelar untuk mereka yang tidak mendapatkan tempat duduk di dalam.




Para santri yang tinggal atau istilah kerennya Mukim di pesantren duduk di bagian depan. Jadi mau tidak mau, santri Mukim wajib bangun pagi agar bisa duduk di depan sebelum para santri laju atau Kalong datang.



Tentu saja akan memalukan jika santri Mukim yang tinggalnya di depan Ndalem kalah dengan santri Laju yang rumahnya jauh dari pesantren.






Bagi seorang santri, wajib untuk mengaji membaca Al-Qur'an di depan ustadz atau guru sampai khatam. Biasanya di mulai dari juz 30 Surat An-Nas sampai surat Amma baru mulai juz pertama. Binadhor adalah salah satu tahap sebelum menghafal Al-Qur'an atau biasa disebut Bilghoib.




Konon sebelum santri selesai belajar Binadhor sampai khatam belum bisa mendapatkan ijazah untuk mengajar Al-Qur'an.




Istilah ijazah disini berbeda dengan ijazah yang diperoleh dari sekolah. Ijazah adalah ijin dari Guru kepada muridnya untuk melakukan suatu amalan atau mengajarkan suatu ilmu kepada orang lain.




Tanpa adanya ijazah, maka ilmu tersebut dianggap tidak memiliki sumber yang jelas atau istilah kerennya Sanad yang Sohih.




Jadi jika ada orang yang pintar karena belajar dari membaca secara mandiri tanpa adanya Guru yang membimbing akan dianggap ilmunya tidak memiliki Sanad.



Istilah akademisnya tidak relevan.




Seperti seseorang yang belajar kedokteran dari buku tanpa ijazah dokter jika melakukan praktek dokter akan dianggap sebagai malpraktek.




Jadi Mbah Yai dan Guse selalu melarang santrinya belajar agama dari internet.




Bahkan peraturannya sekarang santri Mukim dilarang menggunakan sosmed dan smartphone. Sebelum Maghrib semua handphone harus dikumpulkan dan akan di bagikan kembali seusai ngaji subuh.




Yah walaupun ada juga yang tidak mengumpulkan, tapi kalau sampai ketahuan pengurus akan disita dan tidak akan dikembalikan.




Sebuah pembatas ruangan dari kayu ukiran setinggi satu meter membentang dari depan sampai belakang untuk menegaskan ruang yang berbeda antara laki-laki dan perempuan.




Guse rawuh (datang) tepat jam lima sepuluh menit. Mbah Yai selalu mengajarkan kepada santrinya untuk selalu tepat waktu.




Di masa Mbah Yai begitu beliau datang kok santri yang berangkat mengaji baru sedikit, langsung pintu Ndalem di tutup.




Seusai ngaji, satri yang terlambat hadir akan di hukum.



Bagi santri putra biasanya akan di hukum lari mengelilingi perumahan hanya dengan memakai celana dalam.




Ini merupakan pemandangan yang indah untuk dinikmati dan menjadi nostalgia indah untuk diceritakan setelah beberapa tahun kemudian bertemu kembali.



Ada begitu banyak cerita lucu yang muncul karena adanya hukuman ini.




Seperti cerita waktu itu, beberapa santri putra memiliki kebiasaan memakai sarung tanpa memakai celana dalam bahkan ada yang tidak memiliki celana dalam.




Saat terkena razia karena tidak mengaji, mereka pun terpaksa meminjam celana dalam milik teman mereka, tanpa peduli itu kotor atau bekas.




Dengan bahagia dan tanpa rasa dendam, mereka pun menceritakan kisah itu kembali pada anak-anaknya.




(Elsa: Stop Thor! Jangan ngelantur pliss!)




Seperti biasa, ngaji pun dimulai dengan membaca Ya Fatahu Ya Mu'in dan doa belajar bersama-sama.




Guse membacakan dua ayat dari Al Qur'an dengan tartil (pelan dan jelas) dan di ikuti oleh santrinya. Kemudian beliau membacakan tafsir  ayat tersebut kata per kata dengan pedoman ilmu nahwu Sharaf.




Ulama jawa membuat rumus pedoman nahwu Sharaf dengan bahasa jawa.




Jadi jangan heran jika di setiap kata bahasa Arab yang diucapkan akan di ikuti dengan kata seperti “utawi”, “iku”, “sopo”, “opo”, “ing” dan sebagainya, kata kata itu memiliki rumus yang menunjukkan posisi kata dalam kalimat.




Seperti kata “utawi” akan di tulis oleh santri dalam kitabnya sebagai huruf mim di depan kata yang di maksud dan kata “iku” ditulis sebagai huruf kho’.



Dalam bahasa Inggris, kata “utawi” seperti kata “The” dan kata “iku” seperti kata “is”.




Elsa pun menulis arti setiap kata yang du ucapkan Guse dengan huruf pegon (arab jawa) secara miring di bawah kata itu dengan menggunakan pensil.




Mbah Yai pernah berkata bahwa bolpoin mengandung alkohol, dan alkohol itu najis, jadi sebaiknya ilmu tidak di tulis dengan sesuatu yang najis.



Bagi mereka yang mau sedikit repot akan menyiapkan pen tutul (seperti pena yang digunakan untuk menggambar manga) dan tinta bak atau tinta cina karena tulisan yang dihasilkan akan lebih jelas dan tahan lama.




Setelah selesai Guse pun mendikte arti ayat tersebut juga sejarah Asbabu Nuzul (kejadian atau peristiwa yang menyebabkan turunnya ayat) ayat tersebut beserta beberapa bacaan yang berbeda dari imam yang lain (Al-Qur'an memiliki beberapa imam bacaan).




Selesai mendikte, Guse menerangkan ayat tersebut. Yang entah kenapa setiap ayat tersebut selalu cocok dengan kejadian yang sedang viral.




Sejak zaman Mbah Yai sampai sekarang, ayat yang di ajarkan selalu berurutan antara dua sampai tiga ayat dan kersane Gusti Allah (atas kehendak Allah) ayat tersebut selalu sesuai dengan kebutuhan zaman.




Karena agak terlambat, Elsa duduk di karpet (Dia sengaja terlambat agar bisa duduk di karpet luar) bersama para mak-mak yang membawa anak-anaknya agar bisa mendengarkan ngaji sambil bermain dengan anak-anak. (Kebiasaan buruk, jangan di tiru!)




Elsa dari dulu sebenarnya tidak suka duduk di depan karena kalau duduk di bagian depan entah kenapa dia selalu mengantuk dan tertidur saat mengaji. Karena itu dia dulu sering kali di marahi Mbah Yai, dia juga pernah di usir ngaji ke dapur gara-gara mengantuk.




Padahal ada banyak santri yang mengantuk saat mengaji tapi dia yang kerap kali mendapat hukuman.



Sehingga Elsa sedikit cemburu pada santri yang lain.



Ya harusnya dia bersyukur karena lebih di perhatikan. Itu artinya dia lebih di sayang, sayangnya dia tidak menyadari hal itu.




Selesai mengaji, Rifki mengajak Elsa matur (menghadap) Guse untuk berterima kasih secara formal yang tentu saja nantinya tidak akan lepas dari mendengarkan beberapa nasihat yang beliau berikan lagi secara pribadi.




Guse menyediakan waktu untuk konsultasi pribadi setelah selesai mengaji.



Beberapa santri telah duduk mengantri menunggu gilirannya.



Ada yang membawa air untuk di mintakan doa, biasanya mereka yang memiliki keluarga yang sedang sakit. Air yang di doakan Yai konon memiliki khasiat untuk kesehatan.



Ada yang membawa buku dan pena untuk mencatat nasihat yang di berikan Guse.




Elsa mulai berkeringat dingin. Dari dulu, setiap kali dia menghadap Mbah Yai atau Guse selalu merasa nervous karena beliau selalu bisa melihat segalanya.




Sebenarnya tanpa matur (bilang) pun Guse sudah pirso (tahu). Sehingga Elsa lebih suka mencari jawaban atas masalahnya saat mengaji, yang entah kenapa selalu pas, tanpa perlu menghadap langsung.




Karena santri tidak boleh mendahului ketika berbicara dengan guru, maka Rifki dan Elsa dengan setia duduk bersimpuh di dekat Guse, menunggu di panggil.




“Ada apa?” Tanya Guse dengan bahasa Jawa.




“Kepareng matur, Gus” kata Rifki meminta ijin. Sebelum mengutarakan maksud tujuan, hendaknya sebagai santri meminta ijin terlebih dahulu.




“Ya, ada apa?” Kata beliau mengijinkan.




“Sepindah kito kekalih badhe ngaturaken syukur Guse sampun kerso nikahaken.” kata Rifki sambil menunduk. Cara menunduknya bahkan lebih rendah dari sebelumnya.




Maksudnya pertama kita berdua bermaksud menghaturkan terima kasih kepada Guse karena telah bersedia menikahkan kita.




“Tidak masalah, kalian berdua anaknya Aby (Aby atau Mbah Yai menganggap santrinya seperti anak sendiri). Itu sudah menjadi kewajiban ku sebagai seorang yang diberi amanat Aby.” jawab Guse (tentunya tetap memakai bahasa Jawa)




“Kaping kalih kito kekalih kepareng nyadhong duko.” artinya yang kedua kami berdua jika diperbolehkan untuk meminta atau memohon kemarahan. Maksudnya meminta nasihat pribadi karena tidak ada guru yang marah, yang ada memberi nasihat.




“Kalian berdua sudah dewasa, sesama sudah pernah mengaji. Amalkan apa yang sudah di ajarkan Aby. Kalau ada masalah di bicarakan bersama. Selagi ada kesempatan tetap ngaji. Sa, sekarang kamu sudah punya suami. Kelakuanmu di jaga, jangan seperti sebelum punya suami. Ini amalan untuk kalian berdua.” Kata Guse sambil memberikan beberapa amalan yang harus dilakukan Elsa dan Rifki secara teratur.




“Sudah sana! Segera membuat anak! Buat yang banyak! Kalau perlu buat kesebelasan!” Kata beliau setengah bercanda.




Setelah selesai, Rifki dan Elsa pun bergantian sungkem mencium tangan Guse tiga kali di bolak-balik sebelum undur diri dengan berjalan mundur dengan lutut karena begitulah seharusnya santri menghormati guru.