I Need A Baby

I Need A Baby
Ch 28 - Hutan



Ch 28 - Hutan




Saat membuka mata, Rifki dan Elsa menyadari bahwa mereka  tengah berdiri di atas tanah di tengah pepohonan yang lebat.



Rifki bersyukur, setidaknya mereka tidak muncul di udara atau jatuh dari ketinggian tertentu atau jatuh dalam air. Sehingga mereka tidak perlu menampilkan adegan jatuh yang nampaknya tidak etis.



“Duduklah dulu!” Melihat wajah Elsa yang tampak pucat akibat goncangan yang disebabkan oleh turbulensi Rifki tidak tega untuk segera melanjutkan perjalanan mereka.



Keduanya pun duduk di tanah dan melepaskan barang bawaan mereka.



Entah kenapa, Elsa tiba-tiba tertarik untuk mencoba berbaring di atas tanah sambil menikmati kanopi pepohonan yang rindang.



Tanpa pikir panjang, dia pun langsung berbaring begitu saja tanpa mempedulikan kesopanan di depan Rifki.



Elsa menutup matanya dan menghirup nafas dalam-dalam, menikmati udara segar disekelilingnya.



Aroma tanah, aroma embun segar, aroma dedaunan kering, aroma rumput segar, aroma kulit pohon, aroma daun busuk di tanah, semua itu membawa rasa kerinduan tersendiri, perasaannya seperti perasaan seorang anak yang telah lama pergi dan kembali ke pelukan ibunya.



Suasana hutan yang penuh dengan suara kicauan burung, suara serangga, suara tetes embun, suara angin yang membelai dedaunan, suara daun jatuh, suara binatang kecil yang berlarian menginjak daun kering, suara desis sisik ular diantara dedaunan kering terdengar begitu indah dan merdu, seperti sebuah simfoni yang lembut dan  tenang yang memberikan kedamaian tersendiri bagi Elsa.



Elsa tidak tahu mengapa dia merasakan perasaan akrab tersendiri, seolah dia pernah melihat pemandangan hutan yang ada di depannya, Elsa berpikir mungkin itu karena dia pernah dibesarkan di desa.



Melihat ekspresi wajah Elsa yang damai dan puas, Rifki pun tertarik untuk mencoba mengikuti Elsa, berbaring di samping Elsa dan menikmati keindahan alam tanpa kata.



Rifki tersenyum memperhatikan Elsa yang masih menutup mata di sampingnya, Elsa tampak menghirup nafas dengan rakus dan panjang seolah udara itu seperti makanan favoritnya dan dia tidak ingin melewatkan setiap udara yang ada.



Melihat senyum terukir di wajah cantik Elsa saat ini membuat Rifki berpikir bahwa itu adalah senyuman terindah yang pernah Elsa tampilkan, senyum yang tulus dari hati yang paling dalam.



Elsa memang selalu tersenyum, tapi bagi Rifki senyuman itu hanyalah topeng untuk menghibur dirinya sendiri.




Saat membuka matanya, Elsa tertegun memperhatikan cabang-cabang pepohonan yang begitu tinggi di atasnya.



Melihat pepohonan yang rindang itu, seolah ada gambar pemandangan film yang tengah diputar dalam otaknya.



Film itu menunjukkan pemandangan seorang gadis kecil berusia tujuh tahun tengah melompat-lompat diantara cabang-cabang pohon dengan gembira.



Otaknya dipenuhi dengan gema suara-suara gadis kecil itu yang memanggil dan tertawa riang.



Nafasnya tiba-tiba terasa sesak dan air mata tanpa sadar telah meleleh ke samping kanan dan kiri matanya.




Rifki merasa ada yang tidak beres dengan Elsa, seolah Elsa tenggelam dalam emosi yang sangat dalam sehingga Rifki tidak berani mengganggunya.




Waktu pun mengalir begitu saja hingga akhirnya Elsa membuka matanya dan duduk dengan posisi kaki disilangkan.



“Ki, kurasa kita harus Hadroh dulu.” Kata Elsa mengingatkan.



Mbah Yai selalu berpesan kepada para muridnya untuk selalu berdoa mengirimkan hadiah Fatihah untuk kepada penghuni wilayah yang baru saja mereka datangi.



Hal itu dilakukan sebagai bentuk kesopanan, menghormati jiwa-jiwa yang tinggal di daerah tersebut agar mereka mendapatkan kesan baik dan tidak diganggu makhluk halus.



Rifki pun mengangguk mengerti dan berkata “Ila hadaroti Sohibul hadzihil wilayah, Al-fatihah…”



Keduanya pun membaca Al Fatihah bersama dengan suara lirih sambil menutup mata sambil menengadahkan telapak tangan sampai berkata Amin.




Setelah itu, Rifki segera membuka radar khusus Deshi. Radar itu berkedip dan menunjukkan perkiraan jarak lokasi yang sangat jauh dari tempat mereka saat ini.



Radar itu dilengkapi dengan kompas sehingga memudahkan mereka menentukan arah. Mengingat bahwa fungsi kompas masih berjalan dengan baik Rifki menyimpulkan bahwa mereka terdampar di sebuah planet yang mirip bumi yang memiliki kutub Utara dan Selatan.



Hanya saja mengingat bahwa matahari tengah berada lurus di atas kepala mereka, Rifki hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung menentukan dimanakah letak kiblat di planet ini?



Karena mereka tidak memiliki peta, hanya kompas, dia tidak tahu apakah mereka ada di barat atau timur, selatan atau utara.




“Ada apa ki?” melihat Rifki yang menampakkan ekspresi bingung, akhirnya Elsa tidak tahan lagi untuk bertanya, karena biasanya Rifki jarang sekali merasa bingung.



“Ehem! Apakah kamu mendengar suara sungai?” Tanya Rifki mencoba untuk tetap tenang.



Walaupun mereka bisa saja bersuci dengan debu (tayamum) jika tidak dapat menemukan air di hutan atau di Padang pasir. Tapi alangkah baiknya jika mereka dapat menemukan air untuk bersuci (wudhu).




Elsa menggelengkan kepalanya karena dia memang tidak mendengar suara air sama sekali diantara suara-suara di hutan ini.




“Baiklah, mari kita tayamum dan sholat dhuhur dulu.” Kata Rifki kemudian, dia pun tidak bisa mendengar suara air sama sekali.




Mereka pun mengeluarkan sajadah dan sholat berjamaah menghadap ke arah barat dengan asumsi bahwa mereka berada di timur benua.




Saat keduanya sholat, sosok wanita cantik bergaun putih, berambut hitam panjang muncul di atas pepohonan dan memperhatikan mereka. Sosok itu seperti peri tanpa sayap, duduk dengan santai di atas cabang besar tanpa alas kaki.




Sosok cantik itu berpikir, “Apa yang sedang mereka lakukan? Mengapa mereka menyembah kepada langit bumi? Apakah keduanya sedang menikah? Kasihan sekali, pengantin wanitanya tidak memiliki pakaian bagus dan perhiasan sama sekali saat menikah… ah, bukankah semua itu tidak penting?! Yang penting keduanya bahagia.”




Sosok itu berpikir bahwa Rifki dan Elsa adalah sepasang kekasih yang melarikan diri dari keluarga dan tengah melakukan ritual menikah sederhana di tengah hutan.



Sosok itu terharu melihat mereka berdua karena setelah selesai, Elsa sungkem mencium tangan Rifki, dan Rifki pun mencium kening Elsa. Baginya itu adalah pemandangan cinta yang sangat indah.




Sosok itu tidak menyangka akan melihat sesuatu yang sangat besar seperti ini sehingga dia ingin memberkati keduanya.



Sosok itu pun melayang turun perlahan dan berdiri di depan Rifki dan Elsa masih dengan membawa perasaan haru dan air mata bahagia untuk keduanya.




Rifki dan Elsa merasa heran melihat wanita cantik seperti bidadari yang tiba-tiba turun dari langit sambil menangis di depan keduanya.




Keduanya sama-sama mengerutkan kening, saling menggeleng dan mengangkat bahu, tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.




Karena keduanya sudah terbiasa melihat hal-hal aneh, mereka tidak terkejut atau ketakutan melihat sosok cantik yang tengah melayang itu.



“Ah, maaf kan aku. Aku tidak bisa menahan air mataku. Aku terlalu emosional. Aku sangat terharu melihat kalian berdua.” Kata sosok cantik itu tanpa henti sambil tetap menghapus air matanya dengan sapu tangan putih.




Sosok tersebut berbicara menggunakan bahasa China yang cukup Elsa dan Rifki fahami. Setidaknya kini mereka tahu bahwa mereka tidak perlu kesulitan dalam berkomunikasi dengan penduduk setempat karena di dimensi ini mereka hanya perlu menggunakan bahasa China.



Keduanya sama-sama terdiam menunggu sampai sosok tersebut menyelesaikan bicaranya.




“Ah, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Yu Ley, aku adalah roh penjaga hutan ini. Setelah ribuan tahun, akhirnya aku bisa kembali menyaksikan prosesi pernikahan di hutan ini, karena itu, tentu saja aku harus memberkati dan memberikan hadiah kepada kalian.” Lanjut sosok itu tanpa henti.




“Siapa yang menikah?” bisik Elsa pada Rifki lewat telepati.




“Kamu benar,” jawab Elsa sambil tersenyum. Tentu saja dia tidak akan pernah menolak hadiah.




“Ah, kalian tidak perlu merasa malu karena kalian berdua terlihat lemah dan menyedihkan. Dulu temanku Xiao Hu juga terlihat menyedihkan ketika pertama kali menikah di hutan ini. Tak peduli apapun yang terjadi, tetaplah untuk saling menjaga dan mencintai. Aku akan selalu mendoakan agar cinta kalian abadi. Karena ku lihat kalian tidak memiliki cincin penyimpanan, aku hadiahkan cincin penyimpanan ini pada kalian. Cincin ini dulunya adalah milik sahabatku dan suaminya. Karena kalian menikah di hutan ini, aku anggap kalian berhak mewarisi peninggalan mereka.” kata Yu Lei bercerita tanpa henti.




Dua buah cincin dengan desain senada pun melayang di hadapan keduanya dan mendarat di telapak tangan Rifki dan Elsa.




Elsa tertegun melihat cincin tersebut, dia tidak menyangka di hari pertama mereka memasuki dunia ini, mereka akan langsung mendapatkan keberuntungan besar. Siapa yang tidak meneteskan air liur melihat cincin penyimpanan yang selama ini hanya ada dalam buku-buku fantasi xianxia?!



(Author: jujur, saya juga ngiler)




Rifki sangat bahagia dan tertarik untuk mencoba menyelidiki cara membuatnya nanti setelah kembali ke bumi.




“Alhamdulillah! Terima kasih senior Yu Lei!” Kata Elsa senang sambil mencium cincin tersebut dengan penuh cinta sebelum memakainya.




Saat berada di jari manis Elsa, cincin itu pun tiba-tiba bersinar terang dan kembali seperti semula.




Elsa pun mencoba untuk memasukkan ranselnya ke dalam cincin penyimpanan dan berhasil.



Rifki pun melakukan hal yang sama dengan ranselnya. Ya, setidaknya sekarang mereka tidak perlu lagi kesulitan karena membawa beban berat di punggung mereka.



Keduanya pun memindai ke dalam cincin dan terbelalak melihat isinya. Ruang dalam cincin itu sendiri sangat besar dan luas, belum lagi gunungan emas, kristal berwarna-warni, rak yang penuh dengan buku, meja, kursi, tempat tidur, tungku, peralatan memasak, tumpukan baju, tumpukan kain, berbagai macam bahan makanan, kabinet berisi berbagai macam jamu aneh, tumpukan permen, deretan botol giok berisi obat entah apa dan masih banyak lagi lainnya.




“Apakah Anda yakin memberikan semua ini pada kami? Apakah ini tidak terlalu berlebih-lebihan?” Tanya Elsa terbata-bata, dia merasa sedikit sesak nafas. Kekayaannya di bumi saat ini masih belum bisa menyamai seperempat gunungan emas yang ada dalam cincin.




Yu Lei tersenyum puas dan berkata: “Cincin itu bersedia mengakuimu sebagai tuannya. Tampaknya hatimu sangat murni seperti seperti pemilik sebelumnya. Ternyata aku memang tidak salah menilai, kamu memang pantas menjadi pewaris Xiao Hu.” Kata Yu Lei bangga dengan dirinya sendiri.




‘Xiao Hu? Bukankah itu adalah nama yang selalu muncul dalam ingatannya?! Apakah mereka adalah orang yang sama?’ Elsa berpikir bahwa mungkin saja Xiao Hu yang di maksud adalah jiwa yang sama dengan jiwa yang tinggal dalam dirinya.




“Maaf, kalau saya boleh bertanya, apakah Xiao Hu yang anda maksud  adalah putri naga ketujuh?” Tanya Elsa mengkonfirmasi.




“Hei! Bagaimana kamu tahu?” tanya Yu Lei penasaran karena Xiao Hu telah meninggalkan dunia ini ribuan tahun yang lalu dan kisah tentang Xiao Hu telah lama dilupakan.




“Tidak, hanya saja aku sepertinya pernah membacanya dalam sebuah buku.” Kata Elsa, dia tidak ingin Yu Lei merasa sedih dan kecewa karena Xiao Hu kini tidak bisa dikatakan hidup. Jiwa itu telah lama tertidur di sudut ruang jiwanya tanpa ada tanda-tanda bangun lagi.




“Buku apa?” Tanya Rifki heran. Rifki merasa tidak pernah membaca nama itu di buku manapun.




“Legenda Putri Naga.” Jawab Elsa.




“Bukannya yang ada Legenda Pendekar Naga?” protes Rifki.




“Kalau Legenda Pendekar Naga kan yang nulis sudah sangat terkenal, wajar jika semua orang tahu. Kalau Legenda Putri Naga authornya belum begitu terkenal dan menulis beberapa chapter, jadi wajar saja kalau kamu tidak tahu.” Kata Elsa menerangkan dengan sinis.




“Benarkah?” Tanya Yu Lei penasaran.




“Ya, nama Anda juga sering disebut dalam cerita.” Kata Elsa menyanjung.




“Oh, aku benar-benar tidak menyangka aku akan menjadi begitu terkenal.” Kata Yu Lei seraya memegang kedua pipinya yang mulai memerah karena malu.




Elsa pun mulai menceritakan kisah yang dia ingat.



Yu Lei benar-benar merasa haru, tertawa dan menangis mendengar cerita Elsa.




“Ah, kamu benar, saat masih kecil, Xiao Hu memang sangat suka melarikan diri.” kata Yu Lei saat dia terjebak dalam ingatannya.




“Ah ya. Karena kalian sangat mengenal Xiao Hu, aku seharusnya menjamu kalian dengan baik.” Yu Lei sangat bahagia dan ingin menghabiskan waktu untuk mengobrol bersama Elsa.




Rifki mengerutkan keningnya. Wanita kalau sudah bertemu dengan sesama wanita, alamat ngerumpi gak selesai selesai (kecantol lambene).



Karena itu dia harus segera mengakhirinya.




“Ehem, senior Yu Lei, maaf sebelumnya. Sebenarnya kami sedang tergesa-gesa untuk menyelamatkan teman kami. Kalau boleh kami minta tolong. Bisakah anda memberi kami peta seluruh dunia, ehm maksud kami seluruh daratan?” Kata Rifki menyela.




“Ah, ya tentu saja. Kalian harus segera menyelamatkan teman kalian. Peta, tunggu sebentar, …. ini adalah peta daratan yang ku beli seratus tahun yang lalu. Ku rasa tidak akan terlalu banyak perubahan dalam seratus tahun ini.” Terang Yu Lei.




Rifki pun menerima peta tersebut dan menggelar peta itu di atas tanah. Dia mencoba untuk memahaminya secara lebih mendalam.




“Maaf, kalau boleh kami tahu, dimanakah posisi kita saat ini?” tanya Rifki lagi.




“Ah, ya aku lupa. Tunggu sebentar.” Yu Lei pun mengibaskan tangannya dan sebuah titik merah muncul di dalam peta.




“Lihatlah, titik merah ini adalah posisi kita.” Kata Yu Lei menerangkan.




Tanpa banyak kata, Rifki pun memindainya dengan menggunakan kamera yang ada di radar dan memprogramnya kembali agar radar tersebut bisa menampilkan posisi mereka dalam  peta.



Setelah selesai, dia pun merasa sangat puas dengan hasilnya.




“Tempat yang kami tuju sangat jauh, apakah senior Yu Lei memiliki tunggangan, kereta atau alat terbang agar kami bisa kesana lebih cepat?” Tanya Rifki tanpa malu-malu.




“Ah, ya aku ingat. Xiao Hu meninggalkan ku sebuah kapal terbang. Karena aku jarang keluar dari hutan ini kurasa lebih baik aku memberikannya pada kalian.” kata Yu Lei seraya menyerahkan sebuah kapal kayu kecil seukuran telapak tangannya.