
Ch 20 - Angri Wife
Setelah kembali ke kamar, Elsa membuka laptopnya dan menulis pertemuan nya dengan kakek penguasa lautan hari ini sambil tiduran.
Elsa sebenarnya memiliki kelemahan untuk mengingat masa lalu dengan detail sehingga dia memiliki kebiasaan untuk menulis buku harian dengan beberapa nama dia samarkan.
Setelah kembali membacanya bertahun tahun kemudian dia bahkan masih lupa seperti apa detail kejadian saat itu.
Setelah selesai menulis, Elsa tertarik untuk kembali membaca catatan hariannya sembilan tahun lalu, saat hari-harinya dihabiskan dengan cerita bersama Rifki.
Dia pun memposisikan dirinya tengkurap menghadap laptop.
-----
November 2011
Jam tiga seperempat sore, kak Ely datang membawa kabar bahwa laptop-ku sedang dibawa Rifki.
HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA?????
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
Dataku....
Oh my God,... tak ada yang ku pasword
(kemarin baru saja ku buka satu per satu paswordnya)
Film-film ku... (ada beberapa blue film yang masih ku simpan, juga ada film-film blue koleksi saudaraku)
Oh, My God, mau ku taruh dimana mukaku???
Semoga recent dokument-nya gak dihapus oleh dia...
semoga Ccleaner-nya gak di aktifin oleh dia...
semoga dia gak sempat menghapus jejaknya
(tertu saja hal itu adalah hal yang paling mustahil bagi seorang hacker)
Khusnudzon.. positif thinking...
semoga dia tak tertarik untuk membuka-buka file-ku…
(rasanya kok gak mungkin banget)
semoga dia tetap menjaga privasiku...
(dia memang ahli menjaga privasi sih, pura-pura tidak tahu, pura-pura gak lihat)
Aku shock berat . . . Mukaku langsung merah semerah tomat . . .
Rasanya seperti waktu ketahuan dia saat aku mandi . . .
kelihatan semua auratku.
Dan ini adalah kedua kalinya. Ampun dah!!! Mau ku taruh dimana mukaku?
Ah, rasanya seperti berjalan dengan telanjang di depannya.
Gak mungkin aku bisa menahan diri agar mukaku tak merah saat di depannya.
HU. . . .
Aku tak tahu harus bagaimana lagi. Lengkaplah sudah bukti-buktinya kalau aku adalah seorang yang terlalu berimajinasi.
Baru saja aku bisa bangkit dari tempat tidurku, sekarang badanku rasanya lemas lagi.
Ah, kenapa aku ceroboh sekali?!!!
Yah, ku pikir dia memang tak tertarik sama sekali dengan isi laptopku. Karena dia memang terlihat amat sangat tidak tertarik untuk melihat. Karena ku pikir laptopku aman, ya paswordku ku buka.
Bodohnya lagi aku karena menamai folderku dengan nama
“ELSA PUNYA PRIVASI” tentu saja folder itu amat sangat menarik untuk dibuka.
Itu sama saja dengan menamai virus dengan nama “Jangan Dibuka.exe” dan dijamin itu virus langsung menyebar kemana-mana. Oh My God, aku lupa kalau dia lulusan ilmu Komunikasi dan Psikologi.
Kenapa gak ku masukkan saja ke folder ZZ?
Ah, nasi sudah menjadi bubur.
Anggap saja Rifki orang baik, orang baik banget yang gak bakalan ngeledekin lagi. (T_T)
Imposible you know!
Dia itu monster peledek paling hebat sejenis dengan Arya’ dan Suryo.
Berdoa saja kalau kau bukan termasuk orang yang menarik baginya.
Semoga kau bukan orang yang menarik baginya untuk dipermainkan.
Semoga saja dia orang yang tak mudah jatuh hati padamu karena membaca tulisanmu. (walau sebenarnya aku berharap padanya)
Aku tak tahu, apakah dia akan mencintaiku dan mendekatiku atau justru semakin menghindariku karena membaca tulisanku.
Apa yang ku harapkan darinya?
Ingat, kebahagiaanmu bukan terletak pada “Jika harapanmu menjadi kenyataan”, tapi kebahagiaan adalah “bagaimana kita mensyukuri kenyataan yang ada”
Bila memang benar, “apa yang ku terima hari ini itulah yang terbaik untukku saat ini.”
Bisakah ku percaya?
Ya, sudahlah. . .
My hearth breathing loudly…
Tubuhku sangat lemas…
Untuk menenangkan diriku. Mencoba tuk positif thinking. Memilah-milah dan mengambil segi positifnya.
Aku bersyukur, karena belum sempat memindah semua catatan harian dan naskahku ke komputer.
Aku bersyukur, karena jika dia memang sempat membaca atau mengcopy catatanku, itu artinya aku tak usah repot-repot menyampaikan isi hatiku padanya.
Ya Allah, berilah aku ketabahan dan kesabaran untuk menghadapi hal ini.
Sekarang atau besok, suatu saat yang namanya rahasia pasti akan terungkap, semua hanya soal waktu.
Aku mencoba untuk positif thinking, Rifki adalah orang baik, guru yang baik, dia pasti bisa menjaga rahasia.
Rifki adalah orang yang amat sopan dan menjaga privasi.
ke esokan harinya...
Aku tak tahu ada apa dengan diriku kini.
Kini emosiku tak lagi stabil, sejak laptopku disita oleh Kang Safi gara-gara pada nonton film waktu ada kerja bakti.
Sebenarnya aku sedikit bersyukur karena hal itu, itu artinya aku tak harus pusing ataupun khawatir itu laptop bakal disalah gunakan.
Semalam Rifki datang menanyakan posisi laptop itu.
Untungnya dia memakai bahasa Kromo inggil, jadinya bahasa binatang-ku tidak keluar semua.
Tapi akibatnya tubuhku jadi panas gara-gara menahan emosi.
Aku mencoba menanggapinya dengan sabar, amat sabar, menjawab dengan nada rendah dan halus.
“Yu, kabarnya laptop mu bagaimana?”
(“Yu, kabare laptope njenengan pripun?”)
“Masih di Kang Safi.”
(“Tasih teng Kang Safi.”)
“Tidak di ambil?”
(“Mboten dipendet?”)
“Tidak bisa, dua Minggu lagi.”
(“Mboten saged, kalih minggu malih.”)
“Kenapa? Alasannya apa?”
(“Lha nopo? Alasane nopo?”)
“Entahlah, aku tidak tahu.”
(“Duko, kulo mboten ngertos.”)
Aku sudah terlalu malas untuk menjelaskan betapa sakit hatiku pada Kang Safi gara-gara waktu aku mencoba bicara dengannya dia malah bilang
“Mau kamu laporkan Aby ya sana! Aku tidak takut! Membuat penyakit.”
(“Meh mok aturke Aby yo kono! Aku rak wedi! Marai penyakit.”)
Otomatis emosiku memuncak dan aku pun berkata,
“Memangnya aku tukang matur ?!”
seraya pergi memacu motor dengan ganas.
Aku tak masalah berpisah dengan laptopku selama dua minggu, yang jadi masalah adalah cara bicaranya yang seolah aku ini tukang matur atau tukang mengadu.
Padahal hampir dua tahun ini aku gak matur Aby sama sekali.
Apapun masalahku, ku coba tuk menyelesaikannya sendiri.
Rifki juga membuatku emosi, sudah jelas waktu disita posisi laptopku sedang ada di tangannya, tapi dia sama sekali tidak merasa bersalah.
Malah menganggap bahwa hal itu lucu dan pantas untuk ditertawakan.
Setelah kejadian itu, aku bilang pada Fara, adiknya agar dia mau bertanggung jawab, tak mungkin adiknya tidak menyampaikan pada kakaknya, toh mereka tiap hari bertemu.
Tiga hari Rifki tak muncul di depanku, salahkah bila aku berpikir kalau dia tidak bertanggung jawab.
Tak ada kata maaf atau perasaan menyesal sedikitpun atas kejadian itu.
Jelas sekali kalau dia menghindari masalah denganku.
Aku pun sudah tak mau lagi terlibat masalah dengannya, tapi setidaknya tak bolehkah ku berharap dia mau minta maaf padaku?
Capek memang berurusan dengan orang yang tak pernah merasa bersalah dan tak mau disalahkan.
Setelah menanyakan hal itu, Dia terus saja membujukku untuk mengambil laptop itu, konon kalau laptop itu lama tidak dihidupkan sistemnya bisa rusak, paling tidak anti virusnya yang rusak dan sebagainya.
Untung dalam masalah ini aku tidak mudah terbujuk atau ditakut-takuti.
Badanku serasa panas mendengar suaranya.
Aku rasanya ingin pergi dari situ, akhirnya aku pun keluar sebentar, di bawah etalase aku pun duduk terpekur dan menangis.
Ku coba tuk mengatur nafasku sepelan mungkin agar tidak ketahuan kalau aku emosi.
Aku pun berbaring di lantai yang dingin berharap bumi dapat menetralisir panas tubuhku.
Tapi panas itu tak juga reda.
Aku terlalu takut bila emosiku tak tertahankan dan menjadi kenyataan.
Karena emosi, semangatku jadi hilang.
Aku tak peduli lagi dengan hal kotor di sekitarku.
Mengurung diri di kamar terus, aku ingat kata Arya’ kalau aku emosi sebaiknya jangan keluar kamar, karena hal itu bisa berbahaya, emosiku bisa mempengaruhi alam.
Mungkin aku memang terlalu egois bila sedang emosi.
Ku harap semoga malam ini aku tak bertemu Rifki lagi.
Itu lebih baik untuk emosiku.
Dan gara-gara masalah ini, aku semakin membencinya.
Aku tahu, Rifki memang bukan Arya atau Suryo yang akan memelukku, atau memegang kepalaku, atau menenangkanku bila aku marah.
Diantara kami tidak ada apa-apa.
Dan aku sadar, aku tidak begitu berarti dimatanya.
Sakit... hatiku menjerit, aku rindu, benar-benar rindu kesejukan.
Rapuh... kurasakan betapa rapuhnya aku.
Hanya karena masalah sepele saja aku sudah begitu emosi.
Tubuhku jadi sakit semua.
Kini aku mengerti mengapa Arya’ selalu sakit bila dia sedang marah.
Sekarang aku merasakannya sendiri, betapa sakitnya membendung amarah dalam tubuh.
Rasanya lebih berat dari pada sakit akibat menanggung dosa.
Rasanya benar-benar seperti habis di pukuli seluruh tubuh, di setiap sel. Aku tak tahu bagaimana waktu itu Arya’ dapat bertahan, padahal kekuatannya lebih besar dan lebih dasyat dariku.
Tentu saja hal itu butuh energi yang lebih besar untuk menahan ledakan energi amarahnya sendiri.
Benar-benar aku merasakan peperangan dalam diriku.
Energiku menjadi kacau dan tidak stabil.
Terkadang tenang, terkadang amarah lah yang menang.
Air mataku pun terus mengalir menahan rasa sakit di hatiku dan di hati setiap sel dalam tubuhku.
Kurasakan betapa mereka membutuhkan lebih dari sekedar penenangan.
Dan aku belum bisa mengendalikan diriku untuk memproduksi energi penenangan itu sendiri.
Akhirnya ku putuskan untuk melarikan kesadaran ku ke tengah lautan, menarikan tarian air agar jiwaku kembali dingin.
Namun itu hanya bisa bertahan beberapa saat saja.
----
Elsa begitu tenggelam dalam bacaan nya sehingga tidak menyadari bahwa Rifki kini telah duduk di belakang nya, ikut membaca.
Sambil perlahan memeluk tubuh Elsa dari belakang.
“Apakah kamu masih marah padaku?” bisik Rifki tepat di telinga Elsa.
Postur tubuh mereka membuat Elsa sangat malu. Tanpa sadar, mukanya pun mulai memerah. Dan matanya melotot tak percaya.
Melihat hal itu, Rifki semakin ingin menerkam Elsa.
Dia pun langsung mencium bibir Elsa dengan gemas dan tertawa.
Elsa hanya memutar bola matanya dan menghela nafas panjang.
Elsa ingat, Aby sering mengajarkan kepada muridnya jika suami atau istri marah, untuk meredakan kemarahan itu adalah dengan memeluknya erat-erat dari belakang.
“Untuk apa aku marah padamu?”
“Itu apa?” Kata Rifki sambil menunjuk laptop.
“Oh, ini.” Elsa pun menscrol halaman itu dan menunjukkan tanggal tulisan itu dibuat.
Jadi Rifki mengira Elsa marah dan menulis buku harian.
Elsa jadi sedikit merasa manis dalam hatinya.
Setelah membaca dengan seksama, Rifki mengerutkan keningnya.
Di satu sisi, Rifki merasa bahagia dia tidak menyangka bahwa Elsa sebenarnya sudah lama menyimpan rasa padanya.
Di sisi lain, sebagai seorang suami hatinya sedikit cemburu pada nama Arya dan Surya.
Tampaknya keduanya memiliki hubungan yang dalam dengan Elsa.
“Apa saja yang pernah Arya dan Surya lakukan padamu?” Tanya Rifki curiga.
“Banyak sekali. Tapi tenang saja, mereka tidak pernah mencium bibirku.” Kata Elsa mencoba untuk mencari celah.
Rifki semakin menyipitkan matanya karena curiga.
Melihat kecurigaan Rifki, tiba-tiba Elsa merasa marah.
“Ya, memang kenapa kalau aku dulunya pelacur?! Kamu bisa menceraikan ku kalau kamu memang kecewa padaku! Maaf, aku bukan cewek bening seperti yang kamu inginkan!” Bentak Elsa.
Rifki tidak menyangka Elsa akan begitu mudah tersinggung karenanya.
Rifki sadar, dulu memang dirinya sering kali menyindir Elsa dengan berbagai macam hal menyangkut “cewek bening”.
Dengan harapan Elsa akan bisa berubah menjadi “cewek bening” sesuai harapan kakeknya.
Mendengar hal itu entah kenapa Rifki menjadi sedikit merasakan sakit hati Elsa padanya dan itu benar-benar membuat hatinya sedih.
Rifki tidak menyadari bahwa ternyata luka yang ditimbulkannya di masa lalu ternyata begitu dalam.
“Maaf!” Kata Rifki sambil memeluk erat-erat tubuh Elsa yang memberontak.
Rifki mencoba untuk menyalurkan energi dinginnya ke tubuh Elsa untuk mengurangi panas tubuh Elsa.
Setelah beberapa lama, Elsa pun mulai tenang dan menangis.
Elsa tak tahu mengapa dirinya bisa begitu rapuh di depan Rifki.
Ketika Elsa sudah tenang, Rifki menyingkirkan laptop Elsa dan kembali memeluknya.
“Kalau kamu mau marah padaku, marahlah! Jangan hanya menangis dan diam. Itu membuatku sakit.”
Bujuk Rifki, mencoba agar Elsa mau terbuka padanya dan tidak memendam perasaannya sendiri.
Elsa masih tetap diam dan tidak bergerak.
Hatinya sedikit melunak mendengar kata-kata Rifki.
Tapi dia ingin Rifki menanggung kemarahannya.
Elsa ingin Rifki tahu bahwa kemarahannya tidak bisa dengan mudah di hilangkan.
Elsa ingin menghukum Rifki dan memberikannya pelajaran.
Elsa pun menatap Rifki dengan mata tajam dan kuat.
Elsa kemudian mencium bibir Rifki dengan ganas.
Sementara kedua tangannya mencoba untuk melepaskan semua baju Rifki.
Setiap kali Rifki mencoba untuk mengulurkan tangannya menahan Elsa, Elsa menatapnya dengan tatapan marah.
Tubuh Rifki menjadi kaku tidak berani bergerak menerima ciuman dan hisapan ganas bibir Elsa di setiap jengkal kulitnya yang sensitif.
Rifki berpikir, Kalau Elsa selalu melampiaskan kemarahannya dengan menyiksa tubuhnya, dia lah yang akan diuntungkan, tampaknya dia harus mencoba membuat Elsa marah lagi padanya lain kali.
Kemarahan dan panas tubuh Elsa membuat naluri binatang Rifki muncul.
Rifki sangat ingin membalas perlakuan Elsa pada tubuhnya dan membanting tubuh Elsa ke bawah tubuhnya.
Sayangnya Elsa tidak memberinya kesempatan untuk membalas. Elsa mengikat erat kedua tangan Rifki ke atas ranjang.
Bibir dan lidah Elsa membuat tubuh Rifki merasa senang dan tersiksa dalam satu waktu.
Rifki menekan dorongan hatinya untuk membalas perlakuan Elsa.
Ya, dia ingin membalas dendam kepada Elsa dengan lebih ganas lagi.
Rifki ingin melemparkan tubuh Elsa di bawah tubuhnya sepanjang malam hingga gadis itu tidak bisa beranjak dari tempat tidur ke esokan harinya.
Tapi nampaknya dia harus bersabar terlebih dahulu dan menikmati keindahan di atas tubuhnya bergerak tanpa bisa membalas dengan kedua tangannya.
Elsa terus menerus menghisap tubuh Rifki sampai Rifki merasa tubuhnya kehabisan energi.
Elsa tampak begitu puas saat melihat Rifki yang terbaring tanpa daya dan mulai tertidur setelah mengeluarkan cairan tubuhnya sampai tujuh kali.
Elsa pun melepaskan ikatan pada kedua tangan Rifki dan tidur sambil memeluk tubuh Rifki dengan hati damai.
Tubuhnya terasa lebih ringan setelah melepaskan semua kemarahannya pada Rifki.