
Ch 27 - Awal perjalanan
Melihat Elsa yang sibuk mempersiapkan tas ransel saat masih pagi buta membuat Rifki heran karena biasanya Elsa tidak akan bisa bangun subuh kalau tidak dia bangunkan.
Tadi malam nampaknya Elsa juga tidak membahas tentang rencana kepergiannya, itu hanya mungkin jika Elsa mendapat kabar buruk pagi ini.
Melihat Rifki telah bangun, Elsa berkata, “Ki, seusai ngaji subuh, antarkan aku ke makam Mbah Yai kemudian turunkan aku di suatu tempat. Aku merasa ada sesuatu yang terjadi pada temanku dan aku harus pergi mencarinya.”
“Apakah aku perlu menemanimu?” Rifki menawarkan diri.
Elsa berpikir sejenak, dia tidak menyangka bahwa Rifki akan menawarkan dirinya untuk menemaninya.
Elsa merasa Rifki lebih mengerti semua teori dan riset yang telah Deshi temukan dari pada dirinya.
Dengan orang yang ahli di bidangnya tampaknya hal itu merupakan bantuan tersendiri.
“Aku tidak tahu seberapa besar dan berbahayanya tempat itu. Tapi yang jelas kita tidak akan bisa menemukan sinyal apapun disana. Kalau kamu memang mau menemaniku, ku sarankan untuk menyelesaikan semua pekerjaanmu disini. Karena aku tidak yakin seberapa lama kita akan berada disana.” Terang Elsa.
Rifki tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu. Rifki tidak menyangka kalau Elsa akan mengijinkannya ikut.
“Baiklah, aku akan pergi bersamamu. Anggap saja perjalanan ini seperti bulan madu kita.” Kata Rifki senang.
Rifki tahu bahwa Elsa orang yang sangat tertutup dan sulit untuk mempercayai siapapun, walaupun Elsa dekat dengan banyak orang, tapi tidak semua orang itu tahu siapa Elsa sebenarnya, jadi jika Elsa mau mengijinkannya mengikuti misinya itu berarti Elsa mulai bisa mempercayainya.
Elsa tidak menyangka Rifki akan sangat cepat dalam mengambil keputusan.
Rifki pun segera mempersiapkan ranselnya.
“Walaupun disana tidak ada sinyal, tetap bawa power bank yang banyak.” Kata Elsa mengingatkan.
Elsa berpikir, walaupun di tempat itu tidak ada sinyal, setidaknya dia masih bisa berfoto, melihat waktu, dan menggunakan handphone untuk alat penerangan sementara.
“Untuk apa?” Tanya Rifki heran.
“Untuk foto-foto.” Jawab Elsa sambil tersenyum senang.
“Tampaknya kamu benar-benar menganggap perjalanan ini sebagai bulan madu.” Sindir Rifki.
“Tentu saja! Kan kamu sendiri yang bilang untuk menganggapnya bulan madu.” Kata Elsa senang.
“Bawa juga kompor portabel, panci kecil, lilin, belati, tali, air, bumbu, makanan kering, jaket, sleeping bag, kotak obat, kompas, mukena…” kata Rifki mengingatkan beberapa peralatan yang biasa digunakan untuk naik gunung, karena tampaknya Elsa memang tidak memikirkannya.
“Ah, ya. Aku lupa! Terima kasih, Ki!” Kata Elsa seraya berlari ke dapur.
Elsa memang tidak berpikir untuk mempersiapkan makanan kering.
“Kenapa rasanya berat sekali?” keluh Elsa setelah mencoba mengangkat ranselnya.
“Bagaimana bisa berat? Bukankah semua alat dan makanan ada di ranselku?!” protes Rifki.
Elsa pun kembali diam tanpa berani protes lagi.
Elsa dan Rifki memasukkan semua itu ke dalam bagasi dan pergi mengaji seperti biasanya.
Keduanya percaya bahwa dengan mengikuti pengajian maka hati akan menjadi lebih tenang dan pikiran menjadi lebih jernih.
Tak lupa keduanya pergi ke makam Mbah Yai untuk meminta ijin dan restu beliau.
Dengan adanya Restu dan doa guru, keduanya pun merasa lebih berani dan percaya diri.
“Apa yang akan kita lakukan disini?” Tanya Rifki heran melihat bangunan rumah tua yang dikelilingi oleh pepohonan yang tampaknya tidak berpenghuni.
Tapi kalau hanya disini, tidak mungkin tidak ada sinyal, mungkinkah didalamnya terdapat pesawat terbang? pikir Rifki.
Melihat kondisi tempat itu, Elsa hanya tersenyum. Bagaimanapun juga rumah dan garasi Deshi yang sebenarnya berada di bawah tanah.
“Parkirkan mobilmu di garasi itu. Kamu akan mengetahuinya nanti.” Jawab Elsa sambil menunjuk garasi yang terbuka sambil tersenyum misterius.
Elsa turun dari mobil dan mengeluarkan ransel mereka.
Elsa mengambil kunci yang ada di bawah pot tanaman dan membuka pintu. Kemudian Elsa mengembalikan kunci itu ke bawah pot sebelum masuk kedalam rumah. Nampaknya rumah itu memiliki mekanisme yang bisa membuatnya terkunci dari dalam.
Walaupun dari luar nampak seram dan tidak terawat (bahasa jawanya : singup), tapi perabotan dalam rumah itu cukup bersih seolah ada orang yang selalu membersihkannya setiap beberapa hari sekali.
Elsa mengajak Rifki memasuki sebuah ruangan besar yang berisi rak-rak buku.
Rifki melihat sekilas semua buku yang ada ditulis dalam bahasa Inggris, China, Arab, Rusia dan Jepang.
Rifki berpikir, berapa banyak uang yang dihabiskan pemilik rumah itu untuk mengumpulkan buku sebanyak itu dari berbagai belahan dunia.
Elsa mengabil sebuah buku dan sebuah lorong pun terbuka. Lorong itu seperti eskalator yang menuju ke ruang bawah tanah.
Siapa yang akan mengira bahwa rumah tua itu akan memiliki beberapa tingkat ruang bawah tanah.
Setelah mereka berdua turun sampai lantai ke sepuluh, pintu lift terbuka dan menampilkan lorong putih yang terang dan tertutup.
Elsa pun memencet tombol pintu utama dan sebuah ruang besar pun terlihat.
“Apakah temanmu tidak takut pencuri?” Tanya Rifki santai.
“Tidak, rumah ini sudah dilengkapi dengan mekanisme tersendiri yang tidak memungkinkan orang yang tidak dikenal masuk tanpa ijin.” Jawab Elsa santai.
Ruangan yang mereka berdua masuki penuh dengan monitor CCTV dengan seorang gadis cantik berpakaian seksi menghadap ke arah monitor dan sibuk mengetik sesuatu.
Saat Elsa mendekat, gadis itu berbalik dan berjalan menyambut mereka.
“Selamat datang, pak Bos!” Sapa Ve pada Rifki.
Ve bahkan tidak memperhatikan Elsa yang tengah berdiri di samping Rifki.
'Dasar! Gadis tidak tahu terimakasih! Kamu pikir siapa yang membawanya kesini? Kenapa kamu bahkan tidak melihat ku?!’ rutuk Elsa dalam hatinya.
“Aaaa, aku benar-benar tidak menyangka bahwa aku akan bisa berjabat tangan dengan pak Bos.” Lanjut Ve dengan sangat antusias. Sebagai fans berat Rifki di dunia cyber, tentu saja dia sangat senang bisa bertemu langsung dengan orangnya.
Elsa pun berbisik dengan menggunakan telepati pada Rifki, “Anak ini pengagum berat mu. Dia sangat mengidolakanmu dan sangat ingin bertemu denganmu. Lihatlah, dia bahkan tidak lagi mengingat ku setelah bertemu denganmu!”
“Xyzxyzxyzxy…itu benar-benar sangat mengagumkan.” Ve pun berbicara pada Rifki dengan bahasa program yang tidak Elsa ketahui.
“Xyzxyzxyz...itu hanya penyederhanaan dari sfxsfxsfx…” balas Rifki dengan bahasa yang sama.
Elsa hanya bisa memutar matanya pusing mendengarnya, dadanya terasa sesak. Dia pun melihat sekeliling ruangan dan mengambil sebuah kursi untuk di duduki. Rasanya dia sudah tidak kuat berdiri lagi mendengar dua orang yang dikenalkannya berbicara dengan bahasa asing tanpa henti.
“Oh my God, pak Bos, bisakah aku minta tanda tanganmu?” Pinta Ve pada akhirnya.
“Aku sebenarnya heran, bagaimana orang sebodoh kamu bisa memiliki teman-teman jenius?” Bisik Rifki pada Elsa dengan telepati.
Rifki heran melihat Elsa duduk di kursi putar seraya memegang keningnya.
“Bos, kamu benar-benar beruntung bisa memiliki suami sehebat pak Bos.” Puji Ve tulus sambil menyerahkan notebook dan pena pada Rifki.
“Ya, tampaknya kamu benar-benar beruntung, orang sebodoh kamu bisa menikah denganku.” Sindir Rifki dengan telepati.
Yang otomatis membuat Elsa marah.
Dia merasa dirinya tidak terlalu bodoh, hanya mereka saja yang terlalu jenius, oke!
“Berarti kamu yang bodoh karena mau menikahi orang bodoh.” Balas Elsa.
Rifki tersenyum melihat ekspresi wajah Elsa yang semakin kesal.
“Ya, kalau kamu mau ambil saja.” (bahasa aslinya sih: Yo kono nek gelem pek oo.) Kata Elsa pada Ve, Elsa merasa dirinya terlalu lelah mengikuti kecerdasan mereka.
Rifki menyatukan alisnya mendengar kata-kata Elsa, “Kamu pikir aku barang?” tanya Rifki tidak terima.
Rifki semakin mengerutkan keningnya, bukankah selama ini Elsa terlalu santai?! Hampir semua pekerjaan memasak, mencuci, menyetrika, bersih-bersih Rifki yang menangani. Karena tubuh Elsa yang lemah, Rifki tidak tega untuk menyuruhnya melakukan pekerjaan berat.
“Bukannya selama ini kamu sudah cukup santai?!” Kata Rifki tidak terima.
Melihat kedua suami istri itu berdebat, Ve langsung menengahi dan berkata “Bos, terakhir kali Deshi memasuki ruangan laboratoriumnya dan sama sekali tidak pernah keluar. Kami sudah melakukan pencarian, tapi sepertinya dia pergi ke dunia lain dengan gerbang portal yang dibuatnya.”
Deshi tidak suka jika dirinya diawasi saat melakukan penelitian, sehingga dia terbiasa mematikan CCTV setiap kali memasuki ruang laboratoriumnya.
Ve kemudian mengajak keduanya untuk memasuki ruang penelitian Deshi di lantai tujuh.
“Hanya komputer yang ada di ruangan ini yang tidak terhubung internet. Kami tidak berani melakukan apapun pada ruangan ini.” terang Ve.
Deshi adalah orang yang sangat berhati-hati. Sehingga dia membatasi penggunaan alat komunikasi untuk mencegah adanya pelacakan dan menghindari hacker yang bisa mencuri hasil penelitiannya lewat internet.
Walaupun mereka memiliki hacker hebat untuk bertahan dari serangan internet, tapi Deshi berpikir lebih baik jika dirinya sama sekali tidak berhubungan dengan internet selama dalam penelitian.
Rifki memperhatikan sebuah laptop dan mencoba untuk membukanya. Setelah beberapa menit dia sedikit mengerti maksud dan garis besar dari penelitian Deshi, sehingga tak heran jika Elsa tidak perlu berpikir panjang untuk membawanya bersama.
Sekalipun Elsa cukup bodoh, tapi setidaknya dia tetap memegang prinsip yang selalu diajarkan Mbah Yai, “Serahkan segala sesuatu pada Ahlinya.” karena “jika sesuatu tidak dipegang atau di tangani oleh Ahlinya, tunggulah kehancurannya”
Deshi dan Rifki sama-sama menguasai ilmu kimia atom.
“Aku semakin heran, bagaimana bisa kamu yang memiliki teman secerdas ini tidak mengerti konsep kimia atom.” Sindir Rifki pada Elsa.
Grrr… Elsa menggerutu, jika ini adalah komik, mungkin saat ini Elsa digambarkan tengah memiliki tanduk dan taring sementara Ve tengah menarik tangan Elsa agar tidak membunuh Rifki.
“Kamu pikir semua orang bisa secerdas kalian?!” balas Elsa.
Rifki dengan santai memindai ruangan dan mencoba untuk mencari berbagai hal seperti yang telah digambarkan Deshi dalam laptopnya.
Kemudian dia mulai mengambil beberapa barang dan sedikit mengutak-atiknya agar bisa berfungsi.
Elsa pun mulai mencari keberadaan radar khusus yang dibuat Deshi dan menemukan beberapa nama di dalamnya.
Nampaknya Deshi telah memasukkan beberapa nama yang dia ketahui frekuensi genetik nya ke dalam radar termasuk nama Elsa dan Deshi sendiri.
Elsa pun mencoba untuk menghidupkan frekuensi dengan nama Deshi, tapi radar itu hanya menjawab dengan tulisan “Sorry your number you are calling is not exist.”
Membaca tulisan tersebut membuat Elsa merasa dirinya sedang telepon dan nomor telepon yang dihubunginya tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
“Dia tidak berada di dunia ini.” Kata Elsa menyimpulkan.
“Kurasa alat itu adalah pintu masuk ke dunia lain.” Kata Rifki setelah mengamati sebuah tabung berdiameter satu meter dengan tinggi dua meter dan memiliki pintu masuk yang juga terbuat dari kaca.
Rifki mulai mengamati kontrol panel dan cara kerja alat itu dengan lebih teliti.
“Mungkin kita bisa pergi, tapi aku tidak tahu apakah kita bisa kembali lagi.” Komentar Rifki mengingat alat itu begitu besar sehingga tidak mungkin mereka membawanya.
Melihat alat itu, Elsa mulai mengingat kembali apa saja yang pernah dikatakan Deshi padanya saat menciptakan alat tersebut.
“Deshi pernah berkata dia menggunakan semacam formasi sihir seperti yang digunakan untuk membuat gerbang teleportasi. Karena dia tidak bisa menemukan batu spiritual, dan alat-alat sihir lainnya di dunia ini, dia menggantikannya dengan sumber energi lain.” terang Elsa.
Rifki pun memindai lantai yang ada dalam tabung tersebut dan menemukan susunan simbol-simbol aneh.
Rifki pun mulai memotret dan menghafal susunan simbol tersebut.
Nampaknya mereka dapat kembali ke dunia ini menggunakan susunan simbol tersebut asalkan mereka dapat menemukan sumber energi yang dapat mengaktifkannya.
Setelah tidak lagi merasa khawatir, Rifki pun mulai menerangkan cara mengaktifkan alat tersebut pada Ve.
Rifki kemudian meminta Elsa untuk segera bersiap-siap dan membawa beberapa alat tambahan yang sekiranya dapat membantu.
Setelah beberapa persiapan tambahan, mereka berdua dengan mantap memasuki tabung dan meminta Ve untuk mengaktifkannya dari luar.
Seberkas cahaya yang menyilaukan pun muncul menyelimuti seluruh tabung kaca.
Rifki dan Elsa menutup mata mereka menghindari cahaya yang menyilaukan.
Jantung Elsa berdetak kencang, dia merasa seluruh tubuhnya terguncang hebat dan tanpa sadar dia memeluk tubuh Rifki yang ada di dekatnya.
Elsa merasa dirinya seperti dalam sebuah pesawat terbang yang sedang mengalami gangguan turbulensi dan akan jatuh kapan saja.
Rifki pun seolah mengetahui kepanikan Elsa dan mencoba untuk memberikannya ketenangan.
Mereka berdua berpelukan saling memberi ketenangan.
Sing…
Tak lama kemudian, bumi pun berhenti bergetar dan cahaya menyilaukan pun mulai memudar.
Begitu cahaya memudar, mereka mencoba untuk membuka mata, keduanya kecewa karena mereka masih berada dalam laboratorium.
“Maaf bos, tampaknya aku masih belum bisa melakukannya dengan benar.” Kata Ve dari luar.
Menyadari hal itu, Elsa segera melepaskan diri dari pelukan Rifki. Wajah keduanya memerah malu seperti kepergok melakukan hal yang memalukan.
“Kalian berdua sudah menikah, kau tidak perlu lagi merasa malu, bos!” Kata Ve sambil tertawa menyadarkan mereka.
Mendengar hal itu, ingin rasanya Elsa mengetuk kepala Ve.
“Coba kamu tekan tombol sesuai dengan urutan … “ kata Rifki dengan tenang dan elegan kembali memberikan instruksi lebih lanjut. Nampaknya dia tidak terpengaruh sama sekali.
Ve mencoba untuk mengikuti instruksi Rifki dan mencobanya kembali.
Tak lama kemudian Elsa merasakan bumi bergetar hebat dan cahaya menyilaukan muncul kembali.
Elsa tiba-tiba merasa panik dan ketakutan.
Seluruh isi perut Elsa serasa ingin keluar.
Elsa meraih tubuh Rifki untuk menopang tubuhnya.
Elsa mencoba untuk menahan diri agar dirinya tidak mengeluarkan semua isi perutnya.
Akan menjadi hal yang memalukan baginya jika dia sampai mengotori tubuh Rifki dengan muntahan yang menjijikkan.
Rifki dapat merasakan getaran yang berbeda di sekitarnya.
Rifki kembali memeluk Elsa dengan erat, seolah dia khawatir jika keduanya mendarat di tempat yang berbeda.
Saat membuka matanya, mereka mendapati bahwa kini mereka berada dalam sebuah hutan lebat.