
Ch 2 - Rifki
Keesokan harinya setelah selesai sarapan, Elsa di antar Om Qofal ke tempat yang di jadwalkan Mr Ardiansyah.
"Maaf bu Elsa, hari ini kami mau memberi kabar bahwa ada lagi seorang calon pembeli tanah itu. Agar lebih adil, hari ini kami akan mencoba mempertemukan anda dengan pemilik tanah dan calon pembeli yang satunya." Kata Mr Ardiansyah saat menyambutnya.
Padahal jelas kemarin mereka sudah sepakat untuk menjual tanah itu padanya. Hari ini harusnya dia hanya butuh tanda tangan dan transfer.
Elsa tak mengira bahwa relasinya akan menggunakan cara kotor seperti ini untuk menaikkan harga tanah. Beberapa kali dia membeli tanah untuk dijadikan resort dan hotel lewat Mr. Ardiansyah.
Harga yang ditawarkannya kali ini sudah cukup tinggi, terlalu tinggi untuk daerah yang belum berkembang. Bagaimana bisa dia mentolerir harga yang lebih tinggi lagi. Namun Elsa sedikit penasaran, pihak manakah yang menjadi pesaingnya saat ini.
Jika pihak itu memang bukan pihak fiktif, berarti dia akan mendapatkan pesaing profesional di bidangnya. Setidaknya dia harus tahu, pihak mana saja yang kelak menjadi pesaing bisnisnya.
Mr Ardiansyah membawa Elsa memasuki sebuah ruangan dimana didalamnya telah duduk empat orang berpakaian jas rapi. Dua diantaranya dia mengenalinya sebagai pemilik tanah dan pengacaranya, dua yang lain membelakangi pintu.
"Silahkan duduk!" Kata sang pemilik tanah, Mr Monolulu.
"Bu Elsa, perkenalkan ini Mr Rifki dan Mr Budi dari group DC." Kata Mr Monolulu memperkenalkan kedua tamunya.
Group DC adalah perusahaan besar yang memiliki banyak cabang usaha, mulai dari real estate, hotel, resort, spa, hospital, jalan tol, pusat perbelanjaan, dan berbagai cabang usaha lain yang memonopoli berbagai bidang bisnis di Indonesia. Apapun posisinya di perusahaan itu, jelas lebih berkuasa daripada Elsa yang hanya memiliki beberapa bisnis.
Perbandingan Elsa dengan Rifki layaknya burung Pipit di bandingkan dengan ekor gajah. Jelas masih besar ekor gajah.
Elsa terpaku melihat sosok putih tampan berbalutkan jas hitam yang telah lama tak pernah lagi dilihatnya beberapa tahun ini. Jantungnya berdetak kencang, sementara keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.
Oh, no! Sudah lama dia tidak pernah merasa takut dan kali ini dia tiba-tiba merasa takut. Sekuat hati Elsa mempertahankan ekspresi untuk menyembunyikan ketakutan dan kegugupan nya.
Elsa yang tak pernah takut siapapun membayangkan betapa konyolnya dirinya kalau kedua kakaknya tahu ketakutannya ini. Ketakutannya pada Rifki sama seperti ketakutannya jika menghadapi Master, gurunya di segala bidang.
Bisa dibilang Rifki adalah seorang yang sangat mengidolakan Master sehingga mengikuti jalan yang ditempuh Master dengan mengambil mata kuliah di berbagai jurusan.
Dengan berat hati, Elsa mencoba untuk tetap menstabilkan nafas, tersenyum dan memberi hormat pada kedua orang itu. Sementara Rifki hanya mengangguk, tanpa kata seolah tak mengenalnya.
Elsa sendiri tak ambil pusing dengan sikap Rifki. Toh dari dulu memang mereka tidak akrab.
Tak pernah terpikirkan dalam benaknya bahwa Rifki akan menjadi salah satu pesaing bisnisnya. Susah payah Elsa menelan air liur dan mempertahankan senyum nya.
Elsa ingat, dulu Rifki memang pernah menawarkan pada Udin sahabat adik Elsa untuk bekerja di Group DC sebagai arsitek. Sayangnya saat itu Udin masih terlalu takut untuk bekerja sambil kuliah.
Dulu Elsa memang pernah mendengar kalau Rifki adalah seorang yang memiliki banyak skill pekerjaan, pencicip makanan, mediator-negoisator, arsitek, guru, dokter, namun Elsa tak tahu di perusahaan apa Rifki bekerja.
Yang jelas biarpun Rifki memiliki banyak pekerjaan, namun dia hampir setiap hari nongkrong bersama anak-anak muda di cafe kak Ely.
Oke, saya tegaskan lagi. Benar-benar nongkrong! Tanpa handphone dan laptop! Dengan kata lain, Rifki tidak pernah membawa pekerjaannya ke Cafe Kak Ely tempat mereka nongkrong.
Tiga tahun tak bertemu, aura Rifki terasa asing bagi Elsa. Rifki yang Elsa kenal memang berwibawa tapi sangat suka bercanda, tapi Rifki yang ada dihadapannya tampak lebih dewasa dan cool.
Mungkin karena efek kostum, pikir Elsa. Karena dulu tak pernah Elsa melihat Rifki memakai hem apalagi jas selalu dengan kaos rider hitam atau putih dengan sarung hitam atau celana jeans atau baju koko.
Jika Rifki yang jadi pesaingnya kali ini, lebih baik dia mengalah. Karena Rifki adalah orang yang tak bisa diprovokasi, itulah yang selama ini tertanam dalam benaknya. Bisa di bilang Rifki adalah dewa idola Elsa. Tentu saja Elsa tidak mau bertengkar dengan idolanya.
"Seperti yang telah kita ketahui, bu Elsa dan pak Rifki sama-sama berniat membeli tanah saya. Karena kalian berdua adalah klien lama saya, saya mencoba untuk mendiskusikan hal ini dengan damai."
Terlihat sekali bahwa orang itu berusaha untuk memeras kami, memangnya ini lelang? Jelas-jelas mereka membuat kami berkompetisi tapi masih juga pura-pura meminta kami berdamai, pikir Elsa.
Sayangnya Elsa tak berniat untuk memakan umpan.
"Jika Mr Rifki yang menginginkan tanah itu, saya lebih baik mengalah." Kata Elsa tanpa basa-basi. Tanpa rasa kecewa.
Terlihat sedikit kekecewaan di mata Mr Monolulu karena tidak bisa mendapatkan uang lebih. Sedangkan Rifki masih tetap tenang, tanpa ekspresi, seolah hal itulah yang seharusnya terjadi.
"Tapi bu Elsa,.." cegah pak Ardiansyah
"Maaf pak, tak perlu sungkan. Saya tak masalah kok." Terang Elsa dengan tenang dan ceria.
Elsa pun pamit undur diri, karena mamang sudah tidak ada gunanya lagi dia berada di ruang ini.
Ketika berjalan keluar gedung, Elsa menemukan bahwa Ve telah menghubunginya tadi saat handphonenya masih di silent selama meeting.
"Ya, Ada apa?" Tanya Elsa begitu telfonnya tersambung.
"Kamu ada waktu?" Kata suara di seberang sana tanpa basa-basi.
"Ya, hari ini aku free."
"Tak jemput sekarang ya?" Kata Ve antusias.
"Oke." Jawab Elsa tanpa repot menyebutkan posisinya. Toh Elsa yakin Ve selalu bisa menemukan posisinya. Karena temannya yang satu ini memang hacker antik.
Tak lama kemudian, begitu keluar dari gedung sebuah sedan BMW sport warna ungu merah yang dikenalnya sudah siap di depan pintu. Tanpa basa-basi Elsa pun masuk ke dalam co-pilot mobil itu.
"Gimana? Sukses?" Tanya Ve yang selalu penasaran.
"No." Kata Elsa sambil tersenyum.
"Why?" Tanyanya dengan penuh keheranan.
"Si Ardy mencoba untuk membuat aku berkompetisi sama Rifki. Jelas aku gak mau lah." Jelas Elsa.
"Astaga! Si Rifki yang kece badai membahana? Seriously? Kenapa kamu gak bilang dari tadi sih? Kalau kamu bilang kan aku bisa jemput kamu di ruangan." Elsa hanya bisa memutar bola matanya mendengar Ve yang begitu antusias.
Ve memang cukup mengagumi sosok Rifki sejak mengenal Rifki dari cerita Elsa. Cowok yang multitalenta yang telah membuat banyak cewek tergila-gila.
Sejak SMA sudah jadi TIM khusus pembuat soal UAN dan masuk agen intelijen khusus hacker. Kuliah di beberapa jurusan dan beberapa PTN dan swasta, diantaranya kedokteran, sipil, komunikasi, hukum, fisika, psikologi. Dia tidak tertarik mencari ijazah, semata-mata mencari ilmu. Sehingga dia selalu absen saat acara wisuda.
Selain memiliki beberapa perusahaan sendiri, beberapa perusahaan dan instansi pemerintah mempekerjakan nya sebagai tenaga ahli. Tak heran kalau dia selalu punya teman dimana pun dia berada. Juga punya cewek di hampir tiap kota ada. Elsa juga heran Entah bagaimana caranya Rifki membagi waktunya.
Yang jelas Rifki yang Elsa kenal selalu terlihat santai, heppy, tanpa beban. Jangan ditanya Elsa tau dari mana, karena adik kandung Rifki saja tak tahu seperti apa kakaknya.
Karena kalian pembaca budiman, jadi author mau kasih tau dari mana Elsa bisa tahu tentang Rifki. Jadi ceritanya dalam sebuah buku kuno tentang pedoman kesuksesan dalam belajar dan mencari ilmu di mana salah satu isinya disebutkan:
"Jo takon sopo siji, takono marang kancane krono konco iku anut marang kang ngancani" yang artinya jangan mencari tahu siapa orang itu dengan bertanya pada orangnya, tapi bertanyalah pada teman-temannya atau lihatlah teman-temannya karena pada dasarnya teman akan mengikuti temannya. Dimana pada dasarnya jika kita ingin mengenal seseorang, kenalilah dari teman-temannya.
Sangking penasarannya sama Rifki, Ve mencoba untuk mendapatkan segala informasi tentang Rifki di dunia cyber.
Sayangnya Rifki benar-benar tidak memiliki akun sosmed. Sesuatu yang membuat Ve patah hati. Sebab laptop milik Rifki benar-benar limited edition, laptop khusus, tanpa IP, yang tidak bisa dilacak, yang hanya ada 10 pcs di dunia.
"C'mon mam, aku kan belum pernah ketemu langsung sama dia. Gimana? Gimana rasanya?" Terkadang Ve memang suka memanggil Elsa dengan sebutan Mom, ato Mak ato Mbok. Hal ini mengingatkan Elsa pada kepribadian putri angkatnya, si Nita.
"Hello, loe pikir Rifki makanan?!" Cibir Elsa.
"Yeee, secara... biasanya kan Makee kalau liat yang bening-bening ngiler gitu. Pengen ngemplok." Elak Ve. Mengingat sifat Elsa yang suka gemas melihat cowok bening, cewek bening, atau bayi yang pure.
"Ya iya sih, tapi kan loe tau sendiri Rifki kayak apa. Mana doyan dia sama gue. Tahu sendiri lah." Elsa mengakui kalau dirinya memang pernah suka, ngefans pada Rifki. Tapi Elsa cukup tahu diri, dirinya gak bakalan masuk waiting list cewek yang bakalan di dekati Rifki.
Secara semua cewek Rifki baik itu yang berstatus adik angkat maupun pacar, pasti cantik, kaya, berprestasi, dan yang paling penting bening. Beningnya itu yang Elsa gak punya.
"Ah, biasanya gak suka juga kamu tetap nyosor aja." Cerca Ve mengingat Elsa suka menggoda bayi-bayi unyu sampai mereka menangis.
"Loe bilang kayak gitu, gue jadi pengen nyulik dia buat jadiin bapaknya dedek." Kata Elsa seraya membelai perutnya yang jelas-jelas belum ada dedeknya dengan ekspresi nakal.
"Kayaknya keren tu Mak kalau kita bisa nyulik dia!" Kali ini Ve justru semakin antusias.
"Hus! Emang loe mau berurusan ama grup Black Dragon?!" Tanya Elsa penasaran karena Ve pada dasarnya sama seperti Elsa, tidak suka memprovokasi orang. Black Dragon adalah nama pasukan khusus yang di miliki Rifki.
"Ya, maka dari itu, Mak. Gimana caranya kita bisa nyulik dia tanpa berurusan dengan Black Dragon!" Jawab Ve bersemangat.
"...." Elsa tak bisa bicara.
"Tenang aja mak... pokoknya aman, bersih, rapi." Kata Ve menangkan.
Elsa hanya bisa mendesah lemah.
"Dari pada mubazir Mak. Gen bagus, sayang kalau disia-siakan." Kata Ve mencoba untuk membujuk Elsa.
Mendengar hal itu, Elsa hanya bisa tepok jidat. Bukannya Elsa tak setuju. Hanya saja, Rifki adalah orang yang tak bisa diprovokasi. Jadi rencana mereka harus benar-benar bersih dan hati-hati. Jangan sampai meninggalkan jejak.
Oh, Elsa bahkan lupa bahwa tanpa jejak itu sendiri adalah jejak.
Mereka berdua pun akhirnya memutuskan untuk membuat persiapan yang matang. Sebagai wanita yang suka berbelanja, tentu saja Ve akan menyeret Elsa berbelanja terlebih dahulu sampai kaki Elsa mati rasa.
Elsa yang pada dasarnya tidak suka jalan-jalan ataupun berbelanja dengan terpaksa mengikuti kemana saja Ve pergi. Lagi pula hari ini Elsa tidak ada rencana untuk kemanapun.
Tak lupa Ve juga memaksa Elsa untuk melakukan tes kesehatan di laboratorium Deshi. Salah satu sahabat Elsa yang mendapat julukan Ilmuwan Gila dari Elsa.
Hal itu disebabkan karena Deshi memiliki hobi mengoleksi rambut atau kuku manusia dan berbagai fosil makhluk langka. Dimana sebagian besar koleksi itu mengandung medan energi tersendiri. Seperti fosfor atau nuklir yang dapat memancarkan sinar atau energi tertentu.
Deshi adalah orang yang sangat terobsesi dengan penelitian genetik, tentu saja dia akan sangat mendukung rencana mereka. Gadis itu bahkan dengan senang hati menyediakan berbagai macam alat canggih yang baru diciptakannya.
Telah lama Deshi tertarik untuk mempelajari tubuh Elsa. Karena Elsa memiliki genetik yang unik. Dalam penelitian tersebut, Deshi menemukan bahwa dalam tubuh Elsa terdapat perpaduan genetik dari berbagai ras kuno yang hanya ada dalam mitos.
Jadi bisa dikatakan Elsa adalah salah satu kelinci percobaan Deshi.
Pada awalnya Elsa adalah manusia biasa. Namun dalam perjalanannya Elsa bertemu dengan orang-orang yang mengubah seluruh tubuhnya, juga hidupnya.
Jika dilihat dari bentuk tubuh Elsa, memang tidak ada perbedaan yang berarti. Namun jika dilihat dari struktur DNA-nya maka perbedaan itu akan sangat terlihat. Beruntung Elsa masih menyimpan banyak potongan rambut sebelum dia berubah sehingga Deshi dapat menemukan perubahan itu.
Karena kekuatan DNA barunya itulah Elsa dapat mempertahankan kemudaannya. Bagaimana pun juga setiap wanita ingin tetap terlihat muda, tak terkecuali Elsa.
Mendengar bahwa Elsa berencana untuk memiliki keturunan, tentu Deshi amat sangat tertarik. Itu berarti bahwa ia akan memiliki satu lagi spesimen dalam koleksi penelitiannya.
Terkadang Elsa berpikir, apa asiknya tiap hari tenggelam dalam mikroskop. Lupa akan dirinya sendiri yang juga akan mudah tenggelam dalam novel China yang memiliki ribuan bab sampai lupa waktu.
Setelah melakukan pemeriksaan terhadap seluruh tubuhnya. Elsa berangkat menuju tempat yang mereka sepakati. Tak lupa pula dia pamit pada Om Qofal dan keluarganya.
Elsa berniat untuk melakukan perjalanan jauh setelah selesai dengan rencananya. Dia meminta Ve untuk mempersiapkan liburan panjang. Ehm! Pelarian maksudnya.
Bagaimanapun hasilnya, lautan luas adalah tempat pelarian yang terbaik menurut Elsa.
Sementara itu dia mencoba untuk memikirkan alasan yang akan diberikan kepada keluarganya. Yah, walaupun sebenarnya dia menghilang pun tidak akan ada yang khawatir ataupun mencari. Karena sangking seringnya Elsa menghilang dan muncul tiba-tiba.
Edit: 23.00 5/7/19