
Ch 24 - Day 4
Ke esokan harinya, sepulang dari ngaji subuh Elsa tidak berhenti merengek, merayu, memohon Rifki agar Rifki berkenan untuk menjadi guru privatnya dalam berkultivasi.
Saat Rifki tengah duduk di kursi tamu, sibuk dengan laptopnya di meja. Tiba-tiba Elsa datang, duduk berlutut di lantai memegang dan menggoyang-goyangkan paha Rifki.
Setelah semalam, kini Elsa bertekad untuk menjadikan Rifki sebagai guru kultivasinya. Karena itu dia merendahkan dirinya sendiri sebagai seorang murid dan berlutut di samping Rifki.
“Ki…!” bujuk Elsa pada Rifki agar suaminya yang juga calon gurunya itu mau memperhatikannya.
“Apa...? Pagi-pagi sudah horny?!” canda Rifki setengah serius sambil tertawa tanpa suara.
Rifki merasa geli melihat posisi Elsa.
Duduk di lantai seraya memegang pahanya.
Posisi ini benar-benar membuat orang lain berpikir yang tidak-tidak. Seolah Elsa menginginkan sesuatu yang ada di bawah sana.
“Ki, serius…! ajari aku kultivasi…!” rengek Elsa.
Mengetahui pikiran kotor Rifki gara-gara posisinya saat ini membuat wajahnya sedikit memerah.
“Kamu tidak lihat aku lagi sibuk?!” Tanya Rifki kembali.
“Sibuk apa?! Orang kamu lagi download film!” Sanggah Elsa seraya mengerucutkan bibirnya.
“Lho, ini juga pekerjaan. Setelah di download, ditonton, diedit, diupload lagi bisa jadi uang.” Terang Rifki memberi Elsa alasan.
“Ya tapi kan kamu bisa download sambil mengajariku.” Protes Elsa lagi.
“Oo, tidak bisa! Yang namanya kultivasi itu harus fokus. Tidak bisa di buat sambilan!” kata Rifki seraya menempatkan kedua tangan di depan wajah untuk fokus.
“Rifki menyebalkan!” Kata Elsa gemas seraya menggigit paha Rifki yang masih tertutup sarung.
Ya, Rifki selalu memakai sarung hitam dan kaus hitam polos selama berada di rumah.
“Aw, aw, aw!” Jerit Rifki kesakitan. Karena dia tidak sedang dalam mode siaga, tubuhnya tidak terlindungi oleh tenaga dalam apapun.
“Makanya! Ajarin!” bujuk Elsa.
“Tidak, ya tidak!” kata Rifki tegas.
“Ugh!” Elsa pun pergi dengan menghentakkan kakinya.
“Oo, kucing!” rutuk Rifki pelan tetapi masih bisa didengar Elsa.
Jika orang lain biasanya mengatai orang dengan 'anjing’, maka sejak dulu Rifki selalu mengganti kata itu dengan 'Kucing’ dengan alasan bahwa kucing adalah binatang pintar yang disayangi Rasulullah. Sehingga ada sahabat beliau yang karena kecintaanya terhadap kucing di beri nama Abu Hurairah, yang artinya bapaknya kucing.
Karena kebiasaannya itu, Rifki mendapatkan julukan 'Bos Kucing’.
(Author: ini adalah cerita fiksi jika ada nama yang sama, maka saya minta maaf. Karena saya sengaja meminjam nama dan karakter anda. Bagi ada yang merasa kenal dengan karakter tersebut, jangan berpikir yang tidak-tidak. Sekali lagi, semua kejadian yang ada dalam cerita ini hanyalah imajinasi penulis gila. Jika ada pembaca yang menjadi gila karena membaca cerita ini, saya tidak ikut bertanggungjawab)
“Biarin! Istrinya bos kucing ya kucing!” jawab Elsa seraya menjulurkan lidahnya.
Saat makan siang, Elsa melayani dan menyuapi makan Rifki dengan penuh kesabaran (karena ada maunya).
“Rifki cintaku, sayangku, manisku, Indonesia ku merdeka… ” rayu Elsa lagi.
“Hmm… Apalagi?” Tanya Rifki seraya mengangkat sebelah alisnya.🤨
“Ajarin, ya!” rayu Elsa halus.
“Malas, ah! Capek! Ngantuk!” kilah Rifki. Setelah itu Rifki pun pergi tidur. Melarikan diri dari Elsa.
Sorenya, Elsa kembali membujuk Rifki.
“Rifki sayang. Ajari dong.” kata Elsa dengan pandangan memohon.
Melihat Elsa yang tidak berhenti memohon, ingin rasanya Rifki mengancamnya
“Kalau kamu tak bisa diam, ku cium!” Atau “Kalau kamu tak bisa berhenti, ku buat kamu tak akan pernah bisa bangun lagi dari tempat tidur!”
Namun tampaknya ancaman itu tidak mempan lagi untuk Elsa, karena setelah di hukum pun Elsa akan kembali lagi memohon padanya dan membuatnya pusing.
Pada akhirnya setelah berpikir panjang, Rifki pun menyerah.
“Baiklah aku akan mengajarimu.” kata Rifki seraya menghela nafas panjang.
“Yes!” Teriak Elsa kegirangan.
Karena senangnya Elsa pun mencium pipi Rifki yang mengakibatkan wajah dan telinga Rifki menjadi merah.
“Bukannya kamu sudah bisa Asma’ Sepuluh?” Tanya Rifki penasaran.
Asma’ merupakan sebutan kaum santri untuk meditasi atau tenaga dalam pencak silat yang biasanya di iringi dengan doa.
Mbah Yai menyusun sepuluh posisi bentuk meditasi dan bacaan doa yang harus dibaca di setiap posisi meditasi untuk para muridnya. Yang kemudian di sebut Asma’ Sepuluh atau Sepuluh Jurus Asma’.
“Gerakannya bisa, tapi bacaan yang ku hafal cuma sampai jurus dua.” Kilah Elsa.
Saat masih tahun pertama di pesantren Elsa memang pernah mencatatnya sampai jurus sepuluh. Karena masih sangat asing, hanya dua yang dihafal, setelah itu catatan itu hilang. Elsa sudah mencoba untuk mencari catatan itu kembali, tapi tidak bisa menemukannya. Setelah itu Mbah Yai tidak pernah mengajarkan ilmu itu lagi sampai sepuluh tahun kemudian, itu pun hanya sebentar dan hanya dua jurus. Bisa dibilang, ilmu itu tidak pernah diajarkan lagi sama sekali.
“Jurus satu saja sudah cukup. Sana latihan sendiri!” terang Rifki.
“Kalau aku latihan sendiri aku tidak tahu salahku dimana…” Elsa takut jika Rifki tidak mau memberikannya petunjuk padanya.
Elsa kemudian memperagakan posisi duduk Jurus Satu dan membaca bacaan doa Jurus Satu. Tentu saja dengan aturan nafasnya.
“Bisakah kamu tenang dulu.”
Kata Rifki memberi sedikit ketenangan pada Elsa.
Rifki pun berpikir, bagaimana dia akan menerangkan agar Elsa mengerti.
“Jurus Satu, konsentrasi!” kata Rifki memberi aba-aba.
“Kamu ingat apa yang dikatakan oleh Mbah Yai saat mengajar meditasi?” Kata Rifki seraya berjalan pelan mengelilingi Elsa, memberi kesempatan Elsa untuk berpikir.
“Konsentrasi! Atur nafas! Kosongkan pikiran! Menyatu dengan alam!” Jawab Elsa seraya tetap memejamkan matanya.
“Ya, sekarang kamu coba konsentrasi! Atur nafas! Kosongkan pikiran! Menyatu dengan alam!” Kata Rifki perlahan seperti nada hipnotis.
Mendengarkan arahan Rifki, Elsa mulai mencoba untuk berkonsentrasi sepenuhnya. Namun dia masih mengharapkan intruksi lebih lanjut.
“Apa lagi yang kamu ingat?” tanya Rifki kembali.
“Rasakan detak jantung dan aliran darahmu.” jawab Elsa kembali
“Ya, rasakan detak jantung dan aliran darah di seluruh tubuhmu.” kata Rifki memberikan arahan yang sebenarnya sudah di ketahui Elsa. Ehm, arahan yang tidak perlu sebenarnya.
“Coba ingat-ingat, apalagi yang dikatakan beliau?” Tanya Rifki mencoba untuk menggali kembali ingatan Elsa.
“Perluaskan kesadaranmu pada alam di sekitar kamu!” Jawab Elsa setelah sedikit berpikir.
“Ya, perluas kesadaran mu pada alam di sekitar kamu! Rasakan setiap angin, setiap bunyi, menyatu dengan alam!” Kata Rifki mencoba merinci.
“Konsentrasi! Perhatikan nafas dan bacaan mu.” Kata Rifki kembali. Seraya berbalik mengintari Elsa memutar ke arah yang berlawanan dengan sebelumnya.
Sekalipun cara berjalan Rifki nyaris tanpa suara karena langkahnya yang sangat ringan ditambah selama berada di dalam rumah mereka akan selalu bertelanjang kaki, namun Elsa masih bisa mendengar langkah kaki Rifki.
Seolah Rifki sengaja melangkah dengan ritme tertentu yang menenangkan hati.
“Coba rasakan setiap getaran dalam tubuh.
Perluas kesadaranmu ke seluruh tubuh hingga kamu dapat merasakan aliran darah di seluruh tubuh.
Perluas lagi hingga kamu bisa merasakan setiap sel saling terhubung dalam tubuhmu.
Rasakan setiap denyut dan getaran di setiap sel dalam tubuhmu.
Alirkan panas itu ke seluruh tubuh.
Tahan nafasmu agar semakin panjang.
Anggaplah udara adalah energi yang bisa kamu serap dalam tubuhmu.
Serap semua energi yang ada di udara dengan tarikan nafasmu.
Rasakan energi yang masuk dalam tubuhmu dan sebarkan ke seluruh tubuh.
Rasakan panas yang ada dalam perutmu.
Lalu pusatkan energi itu ke bawah perutmu.” Kata Rifki perlahan.
Suaranya terdengar seperti nada hipnotis di telinga Elsa.
Elsa pun mencoba untuk berkonsentrasi seperti yang Rifki instruksikan.
Tak lama kemudian, Elsa mulai merasakan panas dalam tubuhnya.
Elsa bahkan dapat mendengar keriuhan berbagai macam suara serangga di sekitar rumahnya.
Tiba-tiba dia merasakan keheningan dalam keramaian suara serangga di sekitarnya dan hatinya pun mulai merasa sangat tenang.
“Apakah kamu ingat pelajaran kimia atom?” tanya Rifki kembali.
“Segala sesuatu terdiri dari atom. Proton elektron dan neutron!
Setiap atom berasal dari materi yang sama.” jawab Elsa seraya mengerutkan keningnya.🤔
Elsa tidak menyangka Rifki akan memberinya pertanyaan yang berhubungan dengan ilmu kimia. Apa hubungannya ilmu kimia dengan kultivasi coba?!
Tapi Elsa masih tetap menutup mata berkonsentrasi, tidak mencoba untuk memprotes kata-kata Rifki.
“Aplikasikan semua teori atom dalam tubuhmu!” kata Rifki lagi.
Karena tampaknya Elsa masih bingung, Rifki pun kembali bertanya.
“Dari apakah semua atom tercipta?”
“Cahaya.” jawab Elsa masih dalam meditasi dan menutup mata.
“Ya, semua tercipta dari satu unsur yang sama, energi cahaya.” kemudian Rifki menambahkan lagi
“Yakinkan dirimu bahwa semua tercipta dari cahaya! Seluruh alam semesta tercipta dari materi yang sama. Semua hal terhubung dengan semesta. Ingat pelajaran energi potensial atom?”
“Energi ikat inti atom adalah energi yang diperlukan untuk memutuskan inti atom dari partikel-partikel pembentuknya proton dan neutron.” Jawab Elsa, mencoba untuk mengingat-ingat kembali pelajaran yang tidak pernah disentuhnya lagi selama lima belas tahun ini. Beruntung Elsa memiliki ingatan yang cukup kuat untuk mata pelajaran ini.
Karena saat sekolah dia mendapatkan guru kimia yang sangat perfeksionis yang mewajibkan semua muridnya menghafal banyak tabel. Dari tabel unsur periodik, tabel garam, tabel lintasan elektron, sampai tabel titik didih.
Elsa masih ingat, gurunya suka memberi ulangan kepada muridnya hanya dengan satu soal tapi jawabannya memerlukan dua lembar kertas folio bolak-balik. Belum lagi setumpuk pekerjaan rumah yang harus di selesaikan setiap harinya.
Guru itu memiliki kebiasaan untuk mengumpulkan naskah ujian Nasional setiap tahunnya dan menjadikan naskah itu sebagai makanan harian murid-muridnya.
Yang paling menyebalkan adalah guru itu bahkan tidak percaya pada muridnya karena hasil ulangan semester mereka rata-rata sembilan sehingga memberikan mereka ujian ulang yang hanya berisi satu soal yang jawabannya amat sangat panjang sekali deh dong.
Karena itu wajar jika Elsa masih bisa mengingatnya hingga sekarang, bisa dikatakan mata pelajaran kimia adalah salah satu yang sangat dia kuasai saat itu.
“Sebutkan, energi apa saja yang ada dalam sebuah atom?” lanjut Rifki.
“Energi ikat inti atom, energi ionisasi, energi transisi dan eksitasi elektron, energi tingkatan elektron, energi total elektron.”
Keduanya saling tanya jawab dengan tenang.
“Mengapa baja sangat kuat?”
“Karena mereka memiliki massa dan kerapatan molekul yang tinggi, sehingga memiliki titik lebur yang tinggi.”
Elsa masih tidak bisa menemukan relevansi antara ilmu pengetahuan alam dengan ilmu kultivasi.
Walaupun Elsa sudah sering membaca buku tentang kultivasi, tapi Elsa masih menganggap bahwa Qi, atau energi kultivasi adalah sebuah keajaiban atau semacam imajinasi penulis saja, sama seperti sihir. Yang pada akhirnya memerlukan energi lain untuk mengaktifkannya.
Karena rata-rata cerita kultivasi terjadi di dunia lain.
“Jika kamu bisa membuat molekul yang ada di kulitmu saling menyatu, kamu bisa mengubah kulitmu menjadi sekuat baja. Apa itu laser?”
“Jenis gelombang elektromagnetik.”
“Apa itu gelombang?”
“Getaran dengan frekuensi tertentu.”
“Semakin tinggi tingkat penguasaan seseorang terhadap gelombang semakin orang itu bisa memanipulasi atom.” Rifki menerangkan kembali.
“Semua benda di alam semesta tersusun atas atom
Elektron-elektron pada atom mengelilingi atom pada lintasan tertentu.
Elektron akan melepaskan atau memancarkan energi jika elektron berpindah dari lintasan luar ke lintasan dalam.
Elektron akan menyerap energi jika elektron berpindah dari lintasan dalam ke lintasan luar.”
“Elektron bisa mengorbit hanya pada jarak tertentu dari inti atom, dan Atom akan memancarkan energi jika turun dari orbit energi yang lebih tinggi ke orbit energi yang lebih rendah.”
“Ingat, bahwa Atom mempunyai tingkatan-tingkatan energi yang berbeda antara atom satu dengan yang lain. Apa yang disebut Energi ionisasi?”
“Energi ionisasi adalah energi yang dibutuhkan untuk melepaskan elektron sehingga menyebabkan atom menjadi bermuatan atau terionisasi.” Jawab Elsa tenang tanpa berpikir.
“Pada dasarnya atom terdiri atas inti atom yang bermuatan positif dan elektron yang bermuatan negatif. Setiap atom pada umumnya bersifat netral. Selama mengelilingi inti, gaya sentripetal terbentuk dari gaya tarik menarik antara elekton dan gaya inti atom.
Apa saja yang kira-kira dapat mempengaruhi atom?”
“Suhu, gelombang energi. Zat padat maupun cair pada suhu tertentu atom-atomnya akan memancarkan energi radiasi dengan panjang gelombang tertentu.”
Rifki merasa puas dengan jawaban yang diberikan Elsa. Dia berpikir, sebenarnya Elsa cukup cerdas, tapi mengapa dirinya masih begitu bodoh. Tidak bisa memahami konsep kultivasi.
Secara teori, suhu yang tinggi memang dapat mengubah lintasan elektron, tapi Elsa masih tidak bisa membayangkan bagaimana manusia masih bisa mempertahankan bentuk tubuhnya jika semua atom dalam tubuhnya berubah?!
Berapa banyak panas yang diperlukan untuk mengubah lintasan elektron di seluruh tubuhnya?
“Apakah kamu bisa mengambil kesimpulan dari hukum ini?” tanya Rifki pada akhirnya.
Elsa mencoba untuk berpikir secara mendalam. Secara teori memang demikian. Tapi dia tidak yakin apakah tubuh manusia bisa memanipulasi atom.
Karena selama ini, untuk memanipulasi atom, para peneliti menggunakan alat canggih dan itu pun hanya bisa memanipulasi sedikit atom.
Rifki menambahkan “Jika kamu bisa mengaplikasikan teori ini ke dalam tubuh. Tidak sulit untuk melakukan berbagai hal yang nampaknya tidak mungkin.”
Ngomong sih gampang. Ya, secara teori gampang! Prakteknya yang susah! Gerutu Elsa dalam hati tanpa mengubah posisinya.
“Teruslah berlatih dan semakin banyak energi panas yang kamu simpan dalam tubuhmu. Semakin tinggi tingkat kemampuanmu untuk memanipulasi atom.” kata Rifki seolah dia memang mengerti kekhawatiran Elsa.
Elsa memang tidak memprotes tapi Rifki yakin bahwa Elsa masih kesulitan untuk mencernanya. Sehingga dia memberikan waktu kepada Elsa untuk memikirkannya sendiri.
Elsa masih menggerutu dalam hatinya. Tapi kini dia seperti orang yang memiliki soal ujian untuk dipecahkannya sendiri sehingga dia tidak bisa bertanya lagi kepada Rifki.
Jika Elsa bertanya lagi kepada Rifki, Elsa yakin Rifki bakal mencemoh kecerdasannya.
Bagaimanapun juga Elsa terlalu malu untuk meminta Rifki mengajarkannya kultivasi lagi karena Rifki telah berusaha keras untuk membuatnya mengerti.
Ya, mungkin dirinyalah yang masih terlalu bodoh dan belum bisa yakin akan ilmu tersebut.