I'm Just A Doll

I'm Just A Doll
part 9



mas denis menyunggingkan senyum smirk, meski berusaha ia tutupi namun mataku masih dapat menangkap senyum tersembunyi itu.


"jangan aneh-aneh ! Aku bisa melakukannya sendiri " sahutku memalingkan wajah enggan menatap wajah nya yang penuh maksud terselubung.


"apakah begitu sulit untuk mu untuk tidak keras kepala sehari saja !!" ujarnya


"terserah... Kenapa mas denis maksa banget sih mau bantu oleskan obat itu ! Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan !!" pungkasku tetap kekeh menolak niat nya untuk menolongku.


"baiklah.. Terserah !" ia berjalan meninggalkan ku dengan sedikit amarah yang ia tahan. Namun aku yang sudah terbiasa dengan sikapnya tak merasa aneh dengan tingkah nya yang memang suka seenak jidatnya saja.


Aku menghela nafas panjang ketika merasa kesulitan untuk mengoles bagian kewanitaanku disaat sedang sakit seperti ini. Namun aku tak mungkin meminta bantuan orang lain termasuk suamiku sendiri.


"aaaaaww" pekik ku saat tanganku mengenai tepat pada bengkak dan luka yang berada di bagian itu.


"kan sudah ku bilang biar aku bantu !!!" ucap mas denis yang tiba-tiba masuk disaat aku sedang mengobati lukaku. Ternyata sejak tadi ia hanya berdiri di depan pintu untuk meredam amarahnya ketika harus berhadapan denganku yang keras kepala.


"aaaaaww...kenapa gak ketuk pintu dulu sih !!!" umpatku terkejut saat mendapati mas denis yang masuk secara tiba-tiba disaat lilitan handukku sedang ku lepas semua.


aku segera menarik kembali handuk yang berada disampingku untuk menutupu sebagian tubuh polos ku yang terexpose.


"sejak kapan masuk kamar sendiri harus ketuk pintu !" jawabnya tak mau kalah dariku.


Entah sejak kapan mas denis menjadi seseorang yang selain dingin juga menyebalkan seperti ini.


"sudah selesai?" tanya nya menatap ku.


"belum sebentar lagi. Putar tubuh mu jangan melihat kemari, aku ingin menyelesaikannya dulu " pintaku


Mas denis segera memutar tubuhnya menghadap tembok membelakangiku yang tengah duduk diatas ranjang.


"sudah ku bilang akan ku bantu, kamu sok sok an menolaknya !" gerutunya sambil bersedekap dada membelakangiku.


Setelah ku rasa cukup. Aku segera kembali melilitkan handuk ke tubuhku yang mungkin tadi sempat terlihat olehnya.


dan benar saja, mas denis yang sedang membelakangiku ternyata mencoba mengatur ritme detak jantungnya yang berdebar hebat saat melihat tubuh polos ku tanpa sengaja. Meski ini bukan pertama kali nya ia melihat tubuh polos itu, namun tak perasaan seperti ini tak pernah mas denis rasakan sebelumnya.


"sudah " ucapku seraya bangkit untuk mengganti pakaian.


"mau kemana?!" tanya nya lagi.


"ganti baju.. Mau sampai kapan aku tetap terlilit handuk seperti ini "


Sahutku berusaha turun dari ranjang tidur.


"aku ambilkan !" sahut nya yang lebih dulu berjalan ke tempat dimana lemari pakaianku berada.


Aku kembali terdiam kali ini aku menuruti perintahnya sambil menunggu mas denis mengambil pakaian untukku. Meski otakku tetap berfikir keras mengapa mas denis menjadi berubah seperti ini.


Apa jangan-jangan tadi ia terjatuh dan kepalanya terbentur batu?? Jadi dia lupa ingatan???


Batinku tak henti-hentinya bertanya-tanya.


"ini..." mas denis menaruh setelan baju di depanku.


"sepertinya aku belum bisa memakai celana!" protesku " biar aku ambil saja sendiri" lanjutku kembali hendak turun dari tempat tidur.


"stop !! Biar aku ambilkan lagi yang lain"


Dengan cepat mas denis melarangku beranjak dari tempat tidur. Ia kembali menuju lemari baju untuk mengambil yang lain.


"yang ini..." ia kembali datang sambil menyerahkan sebuah baju dihadapanku.


"ya bukan ini juga kali mas... Ini kan gaun biasa aku pakai kalau ada pesta" tolakku ketika yang mas denis ambil adalah sebuah gaun setengah lulut dengan banyak manik-manik dibagian kerahnya.


"salah siapa tadi sok-sok an mau cari baju ku" gerutuku tak kalah kesal karena selalu disalahkan olehnya.


"ini... Yang ini harus di pakai tanpa lagi protes !!" titahnya lalu meraih dua baju yang tadi aku tolak dan ia lempar ke sofa.


"mas jangan dilempar begitu dong ! Kan jadi kusut lagi " larangku yang sudah terlanjur melihat kedua baju itu terhempas ke sana.


"biar nanti di laundri lagi" sahutnya kemudian kembali duduk ke tempat nya biasa bekerja sambil menatap laptop dihadapannya.


Aku mendengus kesal. Akhirnya aku terpaksa memakai baju pilihannya sebuah atasan yang di kombinasikan dengan rok pendek selutut.


Aku menyisir rambutku lalu kembali merebahkan tubuh setelah meminum obat yang lain. Karena kini efek dari obat itu mulai bekerja dan membuatku terlelap tanpa lagi menghiraukan mas denis yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


.


.


Seminggu sudah aku merasakan nyeri yang kini sudah semakin mereda. Namun dokter citra tetap meminta ku untuk kontrol ke rumah sakit tempat nya bekerja.


Selama aku sakit, mas denis terlihat sedikit lebih baik padaku. Meskipun yang ia lakukan itu tak pakai hati, setidaknya hatiku tak begitu banyak terluka.


"hari ini jadwal kamu kontrol ke RS kasih husada tempat citra bekerja" ucap mas denis.


"iya nanti biar pak kirman yang mengantarku kesana" jawabku sambil memasangkan dasi pada kerah kemeja nya.


"aku yang akan mengantarmu ! Apa kamu ingin seisi rumah sakit itu mengira kamu istri pak kirman?"


Aku menatap wajah mas denis dengan tatapan aneh. Bukankah semua orang tak akan peduli siapa yang mengantarku, toh mereka pun pasti mengerti jika aku bilang bahwa aku diantar oleh supir. Batinku.


"mas yakin mau antar aku ???" tanyaku memastikan bahwa suamiku sedang tidak sakit.


"apa kamu kira aku sebercanda itu !!" sahutnya datar tanpa ekspresi apapun. "persiapkan dirimu, aku tunggu lima belas menit lagi" titahnya tanpa lagi melihatku yang belum melakukan persiapan apa-apa.


Mas denis yang telah selesai ku pasangkan dasi pun segera pergi dari kamar.


Aku menghela nafas berat, ketika waktu yang ia berikan untukku bersiap hanyalah lima belas menit saja.


"itu orang abis kemasukan jin apaan sih ?? Tumben mau mengantar aku pergi" gerutuku sambil mulai berjalan menyiapkan diri untuk ke rumah sakit.


Aku segera turun ketika sudah memastikan penampilanku didepan cermin.


"sudah.." cicitku sambil berjalan menemui mas denis yang sedang duduk di meja makan.


"kamu gak sarapan dulu ??" tanya nya.


"enggak.. Ini sudah lima belas menit loh !" jawabku sedikit menyinggung perintahnya.


"yasudah.. Ayo berangkat" ajaknya tanpa memaksaku untuk sarapan walau sedikit.


Aku mengikuti langkah kakinya meski sebenarnya perutku terasa lapar. Namun aku tau sepertinya Mas denis sedang terburu-buru karena ia pun harus bekerja.


Mas denis masuk ke dalam mobil di bagian kemudi. Aku pun masuk kesampingnya tanpa menunggu ia bukakan pintu untukku seperti yang sering aku lihat di film-film itu. Aku tertawa kecut dalam hati karena bagiku itu semua hanyalah mimpi.


Aku memposisikan diriku senyaman mungkin. Entah saat ini aku harus memposisikan diriku sebagai istri atau sebagai aspri. Aku menghela nafas panjang karena perjalanan penuh drama yang harus aku mainkan setiap kali aku berada diluar


rumah.


"bismillah" ucapku mengawali hari ini agar menjadi kuat bertenaga untuk menjalani takdir getir garis hidupku yang selalu aku doakan semoga suatu saat akan berubah menjadi bahagia.


.


.