
Dokter citra tertawa kecil saat melihat ekspresi ku yang mungkin terlihat penuh tanda tanya.
"aku tadi gak sengaja melihatmu sedang bercanda dengan dokter nickholas"
" aku memang sangat akrab dengannya karena nickholas dulu teman sekolahku"
aku melihat raut aneh dari wajah dokter citra seperti orang yang sedang dilanda cemburu.
"ooh jadi kalian sudah saling mengenal sebelumnya? Aku fikir tadi pertama kali kalian bertemu. Pantas saja, aku merasa heran melihat dokter nichkolas yang sangat dingin bisa sehangat itu sampai tertawa denganmu" dokter citra tersenyum kecil tanpa menatapku.
"nickholas memang seperti itu sejak dulu. Ia sulit membuka diri dengan orang baru" sahutku.
"oleh sebab itu tadi aku bilang kalau kamu wanita paling beruntung yang bisa dekat dengan dua pria dingin seperti denis dan nickholas" dokter citra menyunggingkan senyum berat yang ia paksakan.
Apakah doter citra merasa bahwa aku adalah saingan dalam hidupnya?
"aku tak seberuntung itu.. Hanya saja mungkin takdir baik sedang memihakku" jawabku merendah diri saat anggapan dokter citra terasa begitu berlebihan.
"aku bisa bantu kamu untuk menjadi lebih dekat dengan nickholas !" tawarku pada dokter cantik itu.
Meski nickholas dulu sempat bertengger didalam hatiku, setidaknya saat ini aku harus bisa merelakannya dengan wanita lain. Karena tak mungkin aku terus mengurungnya didalam hatiku sedangkan sudah ada lelaki lain yang mengurung diriku dalam hidupnya. Aku hanya butuh waktu untuk dapat mengurung serta diriku didalam hatinya, mesti entah harus berapa lama.
dokter citra tersenyum yang langsung dapat ku simpulkan bahwa ia setuju untuk ku kenalkan lebih akrab dengan nickholas.
"ehh itu sepertinya mobil mas denis !!" seru ku saat melihat mobil mas denis berpapasan dengan mobil yang kami tumpangi.
"iya benar itu mobil denis" dokter citra menepikan mobilnya ke pinggir jalan.
Namun mobil mas denis melesat begitu cepat hingga kini sudah tak lagi terlihat. Dilihat dari kecepatannya dalam mengemudi, aku semakin yakin bahwa Mas denis sepertinya mantan pembalap profesional .
"lebih baik kamu hubungi denis dan beritahu dia bahwa kamu sudah bersamaku" titah dokter citra .
Aku hanya terdiam tanpa melakukan saran yang dokter citra anjurkan.
dokter citra menatapku heran karena aku tak kunjung menghubungi mas denis.
"aku lupa membawa handphone"
kali ini aku terpaksa berbohong dengan dokter citra dengan berkata bahwa aku lupa membawa handphone meski sebenarnya aku membawa handphone itu, hanya saja aku yang memang tak memiliki nomor handphone mas denis merass bingung bagaimana cara menghubunginya.
"oow... Baiklah, kebetulan aku punya nomor handphonenya"
Aku menghela nafas lega saat memgetahui dokter citra memiliki nomor handphone mas denis. Seharusnya aku cemburu saat dokter citra memiliki nomor handphone suamiku. Namun sepertinya perasaan cemburu seperti itu tak patut hinggap di hatiku.
"gak diangkat" ucap dokter citra yang kembali berusaha menghubungi mas denis.
"coba lagi " titah ku pada dokter citra sebelum mas denis terlanjur menempuh perjalanan semakin jauh.
Dokter citra mengangguk dan kembali menghubungi mas denis.
"hallo" ucap dokter citra yang membuatku merasa lega setelah beberapa kali melakukan percobaan dan kini mas denis mau mengangkat telponnya.
"ada apa?" tanya mas denis.
"sebaiknya anda putar balik tuan. Karena sekarang nona citra sedang bersama sama dan berada di mobil saya" ujar dokter citra.
"apakah dokter benar?" bahkan mas denis mengira bahwa dokter citra hanya mengada-ngada.
"mas, dokter citra benar. aku sudah berada dijalan arah pulang bersama dokter citra. Sebaiknya mas denis putar balik saja!" ucapku mempertegas kalimat yang tadi dokter citra ucapkan.
"tunggu aku disitu !"
Mas denis langsung mematikan panggilan itu secara sepihak. Begitulah dia yang memang suka seenak jidatnya saja.
Aku menghela nafas panjang dan mempersiapkan diri untuk mendengarkan kultum yang nanti akan aku terima.
"apakah denis akan kemari?" tanya dokter citra yang langsung mendapat jawaban anggukan dariku.
kamipun berbincang kembali dengan akrab seperti tadi sambil menunggu mas denis datang. Tak lama kemudian mobil mas denis berhenti tepat dibelakang mobil dokter citra yang sedang berhenti.
"itu mas denis. Citra terimakasih ya atas tumpangannya" aku mulai membuka pintu mobil dokter cantik yang sudah berbaik hati padaku .
"aku akan membantumu menjalankan misi" seru ku seraya terkekeh sambil berjalan ke arah mas denis yang sudah berdiri di dekat mobilnya.
"masuk !" mas denis menutup pintu mobil bagian samping kemudi dengan perlahan. Aku tau bahwa itu salah satu aktingnya karena saat ini mobil dokter citra masih berada didepan mobil kami. Mas denis pasti takut jika dokter citra didalam sana tengah melihat gerak gerik kami.
"bukankah sudah ku bilang bahwa kamu tunggu aku disana ! Kenapa bandel banget sih !!!" umpat mas denis saat ia kembali menjalankan mobilnya meninggalkan tempat pemberhentian tadi.
aku hanya diam malas berdebat dengan lelaki yang tak pernah ingin disalahkan apalagi mengaku dirinya salah. Bahkan disaat aku sakit selama berhari-hari karena ulahnya pun tak ada sedikitpun kata 'maaf' yang keluar dari bibirnya.
"hey, kenapa diam saja ! Merasa bersalah !!" lagi-lagi ia bercicit seolah aku yang paling bersalah dalam hal ini.
"bukankah mas denis yang telah menjanjikanku untuk pergi ke kantor dan tidak akan lama. Lalu mengapa mas denis membiarkan ku menunggu hingga menghabiskan waktu berjam-jam disana?" jawabku.
mas denis kini terdiam mungkin ia mulai mencerna omonganku yang terkesan sadis dan menyakitkan.
"aku ada urusan kantor yang memang tak bisa ku tinggalkan !" sahutnya tak mau merasa bersalah atas apa yang terjadi.
"begitupun denganku yang sudah tak sanggup lagi menunggu dalam kebosanan yang berjam-jam melingkupi" cetusku tak mau kalah omongan dengannya.
"bukankah tadi mas denis sendiri yang berkata bahwa menunggu itu membosankan???" aku beralih menatapnya hingga akhirnya ia hanya terdiam tak mampu lagi berkata apa-apa.
"ehemm... Kamu tadi akan membantu dokter citra menyelesaikan misi apa?" tanya mas denis memecah keheningan setelah kami saling diam selepas perdebatan kecil tadi.
sepertinya mas denis sempat mendengar apa yang tadi ku seru kan pada dokter citra. Tak ku sangka bahwa ia ternyata masih sangat ingin mencari tau tentang misi apa yang tadi ku bicarakan.
"mas denis kenapa sih mau tau banget tentang urusan perempuan !" sahutku yang sebenarnya masih terselimut rasa kesal dari dalam hati.
"sejak kapan kamu main petak umpet denganku dalam hal seperti ini !! Asal kamu tau !! Dengan mudah aku dapat mengagalkan misimu itu jika saja kamu tak mau memberitauku terlebih dahulu !"
Ancam nya. Lagi-lagi aku kalah tertindas kala ia sudah membawa kekuasaan dalam menyelesaikan masalah. Karena memang benar, hanya dengan menjentikkan ujung jari ia dengan mudah menghancurkan apa saja yang ia mau.
Aku menghela nafas panjang saat merasa berat jika harus berurusan dengan lelaki berharta dan berkuasa. Mau tak mau aku harus memberitaunya tentang misi terselubung yang seharusnya kami sembunyikan.
Mas denis masih menunggu jawaban kejujuran dariku tentang misi itu.
"aku ingin membantu citra untuk dekat dengan nickholas !" ucapku menjawab teka-teki yang tadi coba ku sembunyikan.
"nickholas mantanmu itu ???"
.
.