
Nickholas yang saat itu sedang berbicara dengan seorang perawat pun menoleh ke arahku .
"kita bicarakan lagi nanti diruangan saya" ucap nickholas pada perawat itu mengakhiri obrolan mereka.
"baik dok" perawat tersebut pergi meninggalkan nickholas.
"hey alesha... Apa kabar?
Nickholas tersenyum ramah serta mengulurkan tangannya pada ku tanpa menyadari bahwa saat ini aku tengah bersama seorang lelaki yang berstatus sebagai suamiku.
"kabarku baik" aku menerima ukuran tangan itu.
"eheem" mas denis berdehem saat keberadaannya seolah tak terlihat oleh kami.
"oh.. Saya nickholas"
nickholas pun mengulurkan tangannya ke arah mas denis dengan senyum simpul yang mengembang di bibirnya.
"denis, saya suami alesha "
Ucap mas denis sambil mengeratkan tangannya yang kembali merengkuh pinggangku agar semakin merapat dengannya.
"senang dapat berkenalan langsung dengan anda tuan denis seorang pengusaha muda pertambangan batu bara terkenal seAsia" jelas nickholas yang membuatku melongok mengapa nickholas bisa tau dengan jelas tentang siapa suamiku.
"terimakasih" sahut mas denis dengan acuh dan mulai memasang wajah angkuh.
"sepertinya kami harus segera pergi dari sini"
ujar mas denis.
"baiklah. Tapi tunggu sebentar, apakah ada yang sakit diantara kalian? Alesha, apa kamu sakit??"
Tanya nickholas dengan wajah cemas.erlihat dengan jelas bahwa nickholas masih peduli dengan hidupku sama seperti dulu.
"tidak nickh, aku hanya..."
"kami hanya sedang melakukan program kehamilan, bukan begitu sayang ?"
Mas denis menimpali perkataanku sambil mencengkramkan tangannya pada ujung pinggangku. Aku terpaksa tersenyum bahagia untuk menanggapi ucapannya.
"oh syukurlah.. Semoga segera membuahkan hasil"
nickholah menarik kedua sudut bibirnya dengan paksa.
Aku benar-benar tak tega melihat wajah nickholas saat ini dan segera ingin pergi dari situasi seperti ini.
.
.
"pantas saja kamu sering datang kerumah sakit dan betah berlama-lama berada disana !!"
ujar mas denis yang mulai memijak pedal gas meninggalkan area parkir .
Aku yang sedang malas dengan perdebatan hanya bisa diam seraya memalingkan wajah enggan menatapnya.
mas denis memijak pedal gas semakin dalam dan mobilnya melesat cepat menuju kediaman kami berdua.
.
.
Hari ini kami terbang ke bali. Sebelum itu aku memberitau bapak melalui telepon bahwa aku akan pergi ke bali , bapak turut senang dan banyak doa yang ia ucapkan untuk mengiringi keberangkatanku.
Aku dan mas denis telah tiba di bandara internasional di bali. Kami pun segera disambut oleh seorang supir yang sudah menunggu kedatangan kami. Dengan cepat aku meminta untuk di antarkan ke hotel tempat kami tinggal sementara kami berada di pulau ini.
aku menghempaskan tubuh diatas tempat tidur bernuansa putih itu. Seketika aku terlelap karena rasa lelah yang ku rasa disekujur tubuh . Bahkan aku sampai tak sempat memperhatikan mas denis apalagi menyiapkan semua keperluannya.
Aku mengerjapkan mata di pagi hari. Cuaca cerah seolah menyambutku dengan senyuman mentari yang begitu menghangatkan.
"mas, kamu gak kerja?" aku menggoyangkan tubuh kekar lelaki yang sedang terlelap disampingku.
"ini jam berapa?" tanya mas denis dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"setengah jam lagi aku akan bangun" sahut mas denis lalu kembali memeluk guling disebelahnya.
Aku segera bangun dan bersiap untuk menyiapkan semua keperluannya untuk bekerja. Setengah jam sudah mas denis melanjutkan tidurnya dan segera ku bangunkan kembali sesuai peemintaannya tadi.
.
Mas denis pergi untuk meeting dengan klien bisnisnya di bali. Sedangkan aku harus kembali terkurung dalam sangkar yang kali ini bernama hotel.
Bagiku hidup didalam kurungan tapi bukan di balik jeruji besi adalah hal yang sudah menyatu dengan darah dan nadi.
Menunggu kepulangan mas denis adalah hal yang paling menjenuhkan. Tapi mas denis seolah menghilangkan akses untuk ku pergi kesana kemari. Belum lagi cctv yang ia pasang dimanapun aku berada seperti menjadi momok tersendiri .
.
"mas sudah pulang" seketika hati sepiku menjadi riang saat melihat mas denis pulang. Setidaknya kini aku tak lagi sendiri dan ada teman meski selalu mengajakku larut dalam perdebatan.
"bersiaplah. Aku akan mengajakmu dinner sekaligus ramah tamah dengan para pembisnis yang berada di kota ini"
Ajaknya, padahal ia juga baru saja tiba dihotel.
"mas gak capek?" tanyaku seolah melihat mas denis yang bekerja seperti mesin waktu.
"aku gak boleh capek!" sahutnya seraya berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
aku segera bersiap sambil menunggu mas denis selesai melakukan ritual mandinya yang memakan waktu cukup lama.
Aku sedikit merias wajahku dengan polesan makeup tipis setelah selesai menyisir rambut yang sengaja ku bikin sedikit curly.
"mas bagaimana penampilanku ?" tanyaku pada mas denis .
"yasudah. Memang penampilanmu seperti itu, lalu bagian mana lagi yang harus dirubah"
Jawaban mas denis benar-benar langsung melunturkan senyuman dibibirku. Kata-kata mas denis seperti memberikan sedikit goresan pada hati yang sebenarnya mengharapkan pujian. Namun ternyata realita itu tak sesuai dengan ekspetasi yang sudah ku bayangkan.
"ayo... Aku gak mau kalau sampai kita telat tiba disana!"
Mas denis menarik lenganku agar berjalan lebih cepat mengikuti langkah kakinya yang lebar.
"mas pelan-pelan dong ! Emang mas gak lihat kalau aku pakai sendal high heels"
Sahutku saat terkendala untuk mengikuti langkah kaki mas denis.
"ckkkk ngapain juga kamu pakai sendal seperti itu !!" gumam mas denis menyalahkanku.
Aku memanyunkan bibirku saat lagi dan lagi jawaban mas denis terkesan ketus.
"apa aku salah jika ingin terlihat sempurna saat berdampingan dengannya !! Apa dia memang sengaja ingin memberitau pada semua orang bahwa dia telah menikahi wanita gembel yang miskin seperti ku "
Umpatku dalam hati saat tangan mas denis terus menarikku tanpa kelembutan. Ingin sekali aku mengutuk lelaki yang berada didepanku ini.
Bahkan kini aku hanya bisa tersenyum kecut saat diri ini terlalu berharap pujian yang mustahil diberikan olehnya.
Kini aku kembali bertanya bahwa aku ini siapa ??
Kami telah tiba di sebuah gedung tempat mas denis akan bertemu dengan para pembisnis lainnya.
Mas denis menggandeng tanganku lembut dan berjalan lebih santai tak seperti tadi. Kini aku harus kembali berpura-pura memainkan peran sebagai alesha, nyonya denis mahendra yang hidupnya paling bahagia.
Mas denis mengajakku memilih tempat duduk yang memang sudah di tentukan. Tak lama kemudian pemandu acara mulai membuka acara dinner sekaligus ramah tamah di malam ini.
Aku merasa jenuh saat sambutan demi sambutan sedang disampaikan oleh para pejabat tinggi di pulau ini.
"mas, aku ke toilet sebentar"
pamitku lalu meraih tas dan berjalan meninggalkan mas denis seorang diri .
Aku mencuci tangan sambil menatap wajahku pada kaca besar yang kini berada tepat dihadapan.
"mungkin aku tak seberuntung wanita lain, tapi wanita lain belum tentu bisa sekuat aku"
ucapku lirih seraya tersenyum smirk menatap diriku yang sangat menyedihkan karena haus akan kasih sayang.