I'm Just A Doll

I'm Just A Doll
part 29



Tujuh hari sudah sejak pengajuan ku untuk menjadi sekertaris pribadi di kantor cabang yang sejak saat itu juga langsung mendapat penolakan dari mas denis. Kini aku hanya bisa kembali menjalani hari-hari ku yang begitu menjenuhkan seperti biasa. Berdiam diri terkurung dalam jeruji yang terbungkus rumah mewah.


sore ini aku memilih duduk di teras balkon sambil menunggu kepulangan mas denis seperti biasa.


Setelah ku dengar deru suara mesin mobil pribadi mas denis mulai memasuki pelataran rumah, aku segera beranjak untuk menyambut kedatangannya didepan pintu seperti biasa atau yang lebih tepatnya lagi yaitu mempersiapkan diri untuk di jadikan jemuran berjalan disetiap ia pulang bekerja.


Sekilas dapat ku lihat raut masam yang nampak di wajah mas denis saat pertama kali pintu rumah ku buka.


"mas sudah pulang?"


sapaku mencoba seramah mungkin untuk berbasa-basi padahal sebenarnya itu semua berbanding terbalik dengan hatiku yang menyimpan sejuta kekesalan setelah ia menolak permintaanku untuk bekerja di kantornya.


Tanpa jawaban apapun mas denis berjalan begitu saja melalui ku yang masih berdiri mematung di hadapannya.


Hanya sebuah tas dan jas yang baru ia buka kemudian ia berikan padaku layaknya menggantungkan pakaian kotor pada sebuah jemuran yang tak bernyawa.


Aku mendengus kesal, mulutku pun tak henti-hentinya berkomat kamit layaknya sedang membaca mantra saat ku menggurutu memaki dirinya yang benar-benar tak memiliki tata krama dan selalu bertingkah seenak jidatnya meskipun itu hanya bisa kulakukan didalam hati saja.


Dan jangan tanyakan mengapa aku seberani itu melakukan hal tersebut? ya jelas karena saat ini aku sedang berjalan dibelakang mas denis yang hanya bisa menatap bahu bidangnya sambil membuntuti langkah kaki nya.


Setiba nya didalam kamar mas denis langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Untunglah, aku tak pernah lengah untuk menjalankan tugasku yang sudah mirip seperti assisten pribadi.


Aku memilih duduk di sofa sambil menunggu mas denis menghabiskan waktu untuk ritual mandinya yang pasti selalu memakan waktu lumayan lama. Entahlah, bahkan aku terheran-heran apa-apa saja urutan ritual mandi yang ia lakukan didalam sana hingga terkadang aku tak habis fikir mengapa bisa selama itu mas denis mandi layaknya seorang putri raja.


"entah dosa apa di masalalu ku ya Tuhan. mengapa harus ku tebus dengan memiliki suami seperti kanebo kering semacam itu "


Umpatku saat kupastikan mas denis masih berada didalam kamar mandi.


Aku menghela nafas panjang, memejamkan mata dan mencoba mengatur ritme nafasku yang memburu tak lagi beraturan karena rasa kesal yang saling bertumpuk menggunung didada.


"hey apa kau kesurupan ?"


Suara tegas dan pertanyaan konyol itu seketika membuat mataku terbuka dan membulat sempurna karena ternyata mas denis telah berdiri tepat dihadapanku.


Tubuhnya condong mendekat ke arahku hingga jarak antara wajahku dan dia hanya tersisa beberapa centimeter saja. Entah sejak kapan ia berdiri disana untuk mengamati gerak gerik ku.


Selain bagaikan maling yang sedang tertangkap basah, pemandangan mas denis dengan rambut basah dan tubuh yang bertelanjang dada membuat mataku menjadi ternoda karena tak bisa menepis pesona pada aura wajah tampannya.


Belum lagi dada bidang yang menunjukkan deretan roti sobek itu membuat mulutku pun ikut ternganga membulat sempurna.


Entah demi apa, meski ini bukan pertama kalinya atau bahkan sering kali ku lihat pemandangan seperti ini. Namun baru kali ini aku melihat dengan jarak sedekat ini.


Bahkan aroma sabun pun tercium begitu menyeruk menusuk-nusuk indera penciumanku.


"apaan sih mas!"


Tanpa sengaja aku mendorong tubuh mas denis agar sedikit menjauh dariku.


Karena ulah nya jantungku kembali berdetak semakin tak beraturan padahal baru saja berhasil ku netralisir irama ritme datakannya.


Mas denis tetap menatapku dengan sorot mata yang sulit untuk ku artikan. Membuat ku semakin bingung entah apa yang sedang berkelana dalam fikirannya.


"apakah mas denis sedang berfikiran mesum padaku? " batinku menerka-nerka.


Aku langsung menutup mulutku dengan sebelah telapak tangan saat baru menyadari bahwa aku telah selancang itu mendorong tubuhnya dengan sedikit kasar. Pantas saja ia tak kunjung melepaskan tatapan mengintimidasi nya itu.


wajah mas denis nampak pias menatapku yang tiba-tiba memperlihatkan gelagat aneh karena salah tingkah.


Ajak ku sedikit gugup seraya mengalihkan pandangan untuk melihat makan malam yang sudah tersaji di meja depan sofa yang ku duduki.


"ambilkan bajuku !"


Titah mas denis seraya menjatuhkan tubuhnya duduk tepat disampingku.


"loh bukannya sudah ku siapkan?"


sahutku dan tanpa sengaja kembali melihat ke arah mas denis yang masih bertelanjang dada memperlihatkan deretan roti sobek yang masih sangat gagah bertengger disana.


"astaga, mataku lagi-lagi ternoda" gumamku memaki diri sendiri.


Kali ini lidahku terasa begitu kelu tak mampu lagi berkata-kata, bahkan beberapa kali harus ku teguk salivaku sendiri dengan paksa.


"bajuku basah, tadi terjatuh dikamar mandi" jawabnya.


Tanpa banyak bicara aku pun segera beranjak untuk mengambilkan kembali baju yang mas denis minta. Namun naas, entah karena begitu gerogi atau salah tingkah hingga tanpa sengaja kakiku tersandung kaki meja yang membuat tubuhku menjadi hilang keseimbangan dan jatuh menimpa tubuh mas denis.


kedua netra mata kami saling bertemu hingga membuat kami bertatapan cukup lama.


"menyingkir ! Kamu itu berat"


Mas denis sedikit mendorong tubuhku sedikit kasar.


"aduhh..." pekik ku saat tubuhku terdampar pada sudut sofa.


"nyesel aku mengagumi ketampananmu denis! kalau hatimu saja bagaikan singa" umpatku dalam hati memaki dirinya.


Kali ini jantungku semakin berdetak hebat. Entahlah, padahal sebenarnya ini adalah perasaan yang paling aku benci. Karena aku tau, mas denis tak mungkin merasakan hal seperti ini.


"yasudah aku akan ambilkan bajunya"


aku berusaha bangkit, namun kali ini kaki ku terasa begitu nyeri bercampur ngilu. Seperti ada yang cidera dibagian urat nya.


"astaga kamu kenapa lagi sih! banyak drama sekali !" ucap mas denis geram.


mas denis meraih kaki ku yang cidera dan segera ditaruh diatas pangkuannya.


"minta bik tuti untuk memanggilkan dokter. Kaki mu terkilir! " titah mas denis.


Aku sendiri tak tau apakah seperti ini bentuk perhatiannya padaku. Berbicara datar tanpa ekspresi khawatir apalagi terlihat peduli.


Astaga kenapa aku berekspetasi terlalu tinggi. batinku mencaci diri sendiri.


Aku segera menekan tombol darurat untuk meminta bantuan seseorang yang sedang berada dilantai dasar dan biasanya bik tuti akan segera sigap datang disaat tombol itu berbunyi dibawah sana.


"sudah tau ceroboh begini masih saja ingin bekerja di kantorku. Mau jadi apa perusahaan itu"


Ujar mas denis seolah meremehkan kemampuanku.


"jadi mas meragukan ku? " tanyaku sambil menatap wajahnya yang terlihat acuh dan biasa saja.


"hemm syukurlah kalau kamu lebih peka dari yang aku kira " jawabnya.


"yasudah kalau mas denis meragukan aku! " jawabku sedikit kesal dan berpura-pura merajuk.