I'm Just A Doll

I'm Just A Doll
part 22



Bergegas aku berjalan memasuki lobi kantor mas denis. Setelah kejadian antara aku dan satpam waktu itu, kini semua pegawai disini menyambut kedatanganku dengan sangat ramah. Aku pun memberikan timbal balik yang sebaik mungkin untuk keramahan mereka.


"pak denis ada?" tanyaku pada seorang penjaga resepsionis.


"ada buk" jawab mbak itu yang aku sendiri tak mengetahui siapa namanya. Yang aku tau dia terlihat begitu ramah untuk menjawab pertanyaanku.


Aku bergegas menuju ke ruangan mas denis. Untunglah sebelum ini aku sudah pernah masuk keruangannya hingga dengan segera aku menekan tombol dua puluh dua saat berada didalam lift.


ting tong


Pintu lift terbuka, mataku langsung tertuju pada ruangan mas denis yang tak jauh dari lift. Dengan bersemangat aku berjalan menuju ruangan itu, namun langkahku terhenti saat mendengar penuturan mas denis yang tertangkap oleh indera pendengaranku saat ia sedang berbicara dengan seseorang dari balik telpon.


Aku yg semula hendak masuk kedalam ruangan itu pun hanya bisa tertahan didepan pintu dan terus menguping pembicaraannya karena saat ini pintu ruangan mas denis sedikit terbuka.


"kamu cari tau sekarang juga dimana keberadaan yolanda. Aku yakin dia masih berada di jakarta" pinta mas denis pada seseorang yang aku tak tau siapa lawan bicara nya.


"aku tak mau tau !!! Pokoknya kamu harus menemukan yolanda secepatnya !" mas denis nampak marah dengan menekankan kata 'secepatnya' dalam kalimat itu.


"terserah, aku tak mencintai wanita yang saat ini menjadi istriku. Lantas mengapa aku harus memperdulikan perasaanya? Aku ingin kejelasan dari yolanda mengapa ia tega meninggalkan ku disaat pernikahan !!!"


"ckk persetan dengan cinta. Bahkan aku tak pernah mengkehendaki pernikahan antara aku dan alesha. Bagiku dia hanyalah boneka pengganti yolanda yang menyelamatkan nama baik keluarga ku saat itu. Pernikahan ini hanya atas dasar hutang budi, bukan atas dasar cinta !"


Berkas yang berada dalam tanganku kini luruh kelantai bersamaan dengan tubuhku yang terasa begitu lemas saat mendengar rentetan kalimat menyakitkan. Aku menangkup mulutku dengan kedua tangan. Telingaku terasa sakit mendengar pekikan kalimat yang keluar dari mulut mas denis. Meski ia sedang berbicara dengan orang lain tapi akulah yang menjadi topik pembicaraannya. Hatiku hancur berkeping-keping. Selama ini aku tau mas denis memang tak pernah mencintaiku, tapi aku tak pernah mendengar langsung ia mengatakan hal itu.


Bahkan saat ini seperti ada sebuah pedang yang tertancap dan mencabik-cabik relung hati sanubariku yang akhir-akhir ini mudah sekali menabur bunga bagai kuburan baru. Ternyata aku terlalu mudah menyimpulkan setiap perbuatan manis mas denis kepadaku, ku fikir ia sudah mulai belajar untuk mencintaiku.


Namun ternyata aku salah, i'm just a doll baginya aku hanyalah boneka pengganti yolanda seperti yang aku duga.


.


Aku berjalan dengan langkah gontai meninggalkan berkas penting yang berserak dilantai. Aku kembali keluar dari kantor itu dengan menahan sesak dan desakan air mata di dada. Aku terus berjalan menyusuri trotoar dengan air mata yang seperti sudah tak sanggup lagi untuk ku bendung .


Tetes demi tetes air langit turun membasahi tubuhku. Air mata pun turut mengalir semakin deras sederas air hujan yang juga membasahi wajahku. Syukurlah saat ini aku berada dibawah rintikan hujan lebat yang tiba-tiba mengguyur tempat ini. Hingga tak ada yang tau jika aku sedang menangis dibawah derasnya hujan saat ini.


"Tuhannnnn..... I'm just a doll"


Aku berteriak dengan lutut yang tertahan diatas tanah menompang berat tubuhku yang melemah. Aku tak sanggup lagi berjalan dan terpaku diam menangis seolah memaki takdir akan kehidupan pahit yang harus aku jalani.


Semua terasa seperti mimpi. Mimpi yang menghancurkan mimpi indahku bersama nickholas. Aku benci kehidupan seperti ini.


Seperti mendapat hasutan iblis dari mana tiba-tiba saja aku ingin melompat dari atas jembatan yang tak jauh berada dari tempatku terpaku. Aku berjalan ke jembatan itu, ku lihat bahwa arus dalam sungai ini begitu deras. Dapat ku pastikan bahwa jika aku jatuh kebawahnya mungkin aku akan mati saat itu juga atau mati perlahan karena terbawa arus. Aku tersenyum getir mengingat bahwa akhir hidupku ternyata harus setragis ini.


Aku tak tau apakah aku sudah mencintainya atau tidak. Namun aku merasakan sakit saat aku tau dia tak mencintaiku bahkan tak menganggapku dan masih mencari wanita yang pernah mengisi masalalunya.


"aku yakin ini bukan cinta... Ini bukan cinta !!! Aku benci kamu denis, aku benci kamu !!!" teriakku layaknya orang gila.


Bahkan ada beberapa orang yang melintas disana menatap ke arahku dengan tatapan iba. Mungkin mereka iba denganku yang begitu histeris dengan penampilan yang sangat memprihatinkan.


aku mencengkram besi pengaman disisi jembatan ini. Hujan yang deras membuat jalanan ini semakin sepi tak ada yang melintas.


"pak, maafin alesha pak" lelaki renta dalam hidupku itu melintas dalam benakku disaat aku hendak melakukan hal gila seperti ini.


Kaki ku mulai menapaki susunan besi dan naik diatasnya. Aku memejam perlahan mengucapkan maaf untuk orang-orang disekelilingku dan orang yang ku sayangi.


"maaf aku harus pergi..." lirihku dengan merentangkan kedua tangan bersiap menata hati untuk terjun ke dalam sungai itu.


"jangan begini alesha" suara seseorang bersamaan dengan dekapan tangan kekar memeluk erat perutku dari belakang.


.


Prov nickholas.


Dibawah hujan deras yang ditutupi kabut tebal aku mengemudikan mobil. Jalanan yang licin membuatku sangat berhati-hati untuk menyusuri jalanan ini. Lampu mobil yang kunyalakan menyorot seorang wanita yang sedang merentangkan kedua tangan sambil berdiri di atas besi pembatas jembatan.


Tanpa perlu dijelaskan lagi aku tau maksud dari wanita itu yaitu ingin bunuh diri.


Aku menepikan mobilku. Mungkin wanita itu tak menyadari karena ia sedang memejamkan matanya. Belum lagi suara hujan membuatnya tak menyadari bahwa aku berjalan mendekatinya. Aku merasa seperti mengenal wanita ini. Terlebih saat aku dengar suara nya dibawah hujan yang memaki seseorang sambil mengatakan benci.


Aku tau dan yakin sekali bahwa itu adalah alesha wanita yang selama ini aku sayangi. Aku mempercepat langkahku, karena sedetik saja aku telat menahannya ia sudah hilang terbawa arus dalam sungai ini.


"jangan begini alesha" tahanku sambil memeluk tubuhnya menaha agar ia tak terjun kebawah sana. Alesha menangis tergugu bahkan tak menghiraukan aku.


"alesha jangan begini, apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudah gila !!" kali ini suaraku meninggi karena aku benci melihatnya sehancur ini.


Aku menarik alesha turun dari atas besi itu, dan memeluknya erat. Dia pun terus menangis selama dalam pelukanku tanpa sedikitpun bersuara.


Aku pun terdiam hingga aku dapat memastikan bahwa ia sudah merasa sedikit tenang. Hatiku hancur melihat wanita yang ku cintai hingga mampu senekat ini ingin mengakhiri hidupnya.


.