
Nickholas terkekeh seraya menundukkan kepalanya saat mendengar penuturanku.
"sorry sorry sa. Aku memang belum sempat memberitahumu kalau aku sudah bekerja disini setelah aku kembali ke indonesia. Tapi ngomong-ngomong kamu sedang tidak sakit kan berada disini? " jawabnya.
"sombong ya, mentang-mentang sudah menjadi lulusan kedokteran terbaik di aussie." ujarku sambil terus saja menyantap butiran olahan daging sapi yang berada dihadapanku.
"aku baik-baik saja. Tadi hanya menjenguk teman yang kebetulan dirawat dirumah sakit ini." lanjutku melanjutkan perkataanku tadi.
untunglah sebelum nickholas datang aku telah memasukkan resep obat yang dokter citra berikan kedalam tas.
" syukurlah.. Oiya kok kamu tau kalau aku menjadi lulusan kedoteran terbaik di universitas aussie?? Waah jadi kamu selalu update info tentang aku yaa" raut nickholas kini nampak terlihat sangat bahagia.
"ya begitulah.. Memangnya kamu yang beberapa tahun lalu menghilang begitu saja bak ditelan bumi. Ku fikir kamu tak ingin mengenalku lagi"
aku benar-benar memojokkannya saat kembali mengingatkan masalalu kami yang pernah berkomitmen untuk hidup bersama.
"sorry alesha... Sebenarnya aku memilih pulang lebih cepat setelah aku menyelesaikan pendidikanku semua itu untuk mu. Tapi setibanya dijakarta, aku merasa kecewa setelah banyak ku dengar kalau kamu ternyata sudah....." nickholas menggantung ucapannya.
"menikah !!" pungkasku melanjutkan ucapannya.
"he'em" nickholas mengangguk.
Kini raut wajah yang semula ceria berubah menjadi sendu dan murung. Entah sekecewa itukah dirinya sedangkan aku berusaha untuk tetap tenang dan menjadi orang yang bisa menyesuaikan suasana.
Aku sadar bahwa kini aku telah berstatus sebagai seorang istri yang tak mungkin lagi dapat memakai hati apalagi mengharapkan lelaki lain hadir didalam hidupku.
aku pun turut merasa bersalah dalam keadaan ini. Karena nyatanya aku yang lebih dulu menikah mengingkari komitmen yang pernah kami ucap. Namun semua ini benar-benar diluar rencanaku, karena pernikahan ini dadakan seperti tahu yang dijual dimobil keliling dengan menggunakan pengeras suara untuk mempromosikannya.
"kamu gak makan?" tanyaku mengalihkan pembahasan.
"aku sudah makan sa, baru saja" jawabnya.
"waahh ternyata kamu gak berubah ya, sejak dulu masih jadi pecinta bakso" kini nickholas kembali terkekeh kala melihat butiran bakso dalam mangkok ku yang semula banyak kini mulai menghilang.
"iya dong !!" aku memang sudah terbiasa bercanda dengan penuh percaya diri seperti ini dengan nickholas karena dia adalah salah satu teman dekatku waktu sekolah dulu.
"makan yang banyak, sepertinya tubuhmu sedikit kurusan" aku menatapnya dengan dalam. Karena dia orang kedua yang mengatakan itu selain bapak. Dapat ku pastikan bahwa dia tetap menjadi pengamat terbaik yang paling memperhatikan hidupku sejak dulu meski sekian lama kami tak bertemu.
"ahh... Memang sejak kapan aku gemuk hingga kamu mengira aku menjadi kurusan? Sepertinya diriku dari dulu ya begini-begini saja"
aku menepis argumen yang nickholas berikan meski semua itu memang benar adanya. Akupun merasa jika tubuhku menjadi lebih kurus setelah menikah . terlebih saat celana yang dulu terlihat pas ditubuhku kini terasa sedikit kendur saat aku pakai.
nickholas hanya tertawa kecil seolah menertawakan sangkalan yang ku berikan atas argumennya. Mungkin dia lebih paham tentang bagaimana keadaan ku karena dulu kami memang saling mengenal cukup lama.
"kamu gak sama suamimu?" tanya nickholas sambil menatap ke arahku dalam. Aku pun membalas tatapan itu hingga tatapan kami saling bertemu dan kulihat bahwa tersirat rindu di manik mata nickholas yang terbuka.
.
"dokter.. Dokter nichkolas" panggil seorang perawat lelaki dengan tergesa-gesa sambil berlari ke arah kami.
"iya ada apa?" tanya nickholas pada perawat tersebut.
"ada pasien darurat yang membutuhkan penanganan dokter" ucap perawat tersebut.
"baiklah" nickholas segera bangkit dari kursi tempat duduknya. "aku duluan ya sa" nickholas segera pergi untuk melakukan tugasnya yang telah menjadi tuntutan profesi.
.
.
Aku menunggu mas denis di halte depan rumah sakit . Cukup lama aku duduk disini seorang diri bahkan sudah berapa kali saja bis yang berhenti dihalte ini mengira aku seorang penumpang yang sedang menunggu kedatangan mereka.
berulang kali aku melihat arloji yang meli.ngkar dipergelangan tanganku yang kini sudah menunjukkan pukul dua. Terbayang sudah berapa lama aku menunggu mas denis datang hingga perut yang tadi sudah ku isi bakso kini terasa lapar kembali.
"ayo bareng" tiba-tiba sebuah mobil putih berhenti tepat didepanku. Pengemudinya pun manawarkan tumpangan setelah ia menurunkan kaca mobilnya.
"dokter citra" kataku lirih saat melihat dokter cantik itu kembali muncul di hadapanku.
"iya.. Mau bareng?" tawarnya lagi.
"gak usah dok. saya sedang menunggu mas denis" jawabku sambil kembali melirik jarum arloji yang terus bergerak sedangkan mas denis tak kunjung datang.
"apa kamu yakin kalau denis akan segera datang ?" tanya nya.
Jujur sebenarnya aku tak yakin kalau mas denis akan segera datang. Tapi seperti yang tadi ia perintahkan bahwa ia memintaku untuk tetap menunggunya dirumah sakit ini.
Aku terdiam sesaat, otakku bekerja untuk berfikir bagaimana jika mas denis lupa menjemputku? Tapi kalau aku tak menunggunya bisa saja dia akan marah? Kini otak dan hatiku saling bermonolog melempar argumen yang berbeda.
Seandainya dapat terlihat, saat ini di atas telinga kanan dan kiriku seperti sedang ada yang membisikkan jika 'aku harus pulang bersama dokter citra' dan di sisi lain ada pula yang berkata. 'Aku harus tetap menunggu mas denis sampai ia datang'.
"heyy alesha.. Ayo bareng. saya antar kamu sampai rumah" tawarnya lagi dengan iming-iming yang lebih menggiurkan.
"baiklah" akhirnya aku menyerah untuk setia menunggu mas denis datang setelah melewati perang batin. Tapi ini hanya sekedar menyerah menunggunya bukan menyerah mengghadapi sikapnya apalagi menyerah untuk mempertahankan rumah tangga.
Aku naik ke dalam mobil dokter citra dan dokter citra pun menyambut kedatanganku dengan suka cita.
"apa dokter akan pulang?" aku menatap dokter citra yang sedang fokus menyetir.
"iya.. Karena jam kerjaku telah selesai" jawabnya seraya tersenyum menoleh ke arahku.
"kenapa dokter masih memilih bekerja dirumah sakit ini? Bukankah dokter sudah menjadi dokter pribadi keluarga mahendra?"
Bik tuti lah yang telah memberitau aku banyak hal tentang keluarga mahendra. Termasuk siapa dokter citra.
Dokter citra terkekeh saat mendengar pertanyaanku yang sama sekali tak terdengar lucu. "saya hanya menghilangkan rasa jenuh dengan bekerja dirumah sakit ini. Karena dikeluarga mahendra tak setiap hari ada yang harus saya periksa" .
Aku pun terkekeh mendengar jawaban dokter citra.
"alesha, bagaimana kalau kamu memanggil ku citra saja agar obrolan kita lebih santai. Lagian inikan sudah tak di area rumah sakit. Jadi sepertinya tak perlu menggunakan bahasa formal lagi"
pinta nya padaku karena aku memang sangat menghargainya sebagai dokter yang telah banyak membantu.
"baiklah citra" aku tersenyum begitupun dengannya.
"alesha, sepertinya kamu wanita paling beruntung ya didunia ini" ungkap dokter citra yang kini membuatku mengerutkan dahi karena tak tau apa maksud dari perkataannya.
"maksud mu?" tanyaku mencari alasan ia mengatakan itu.