
Aku mengangguk seraya menatap sang pemilik suara itu.
"baiklah, mari ikuti saya"
Lelaki itu berjalan mendahuluiku.
Akupun membuntuti langkahnya menaiki lift bersama nya sesuai dengan tombol angka yang ia tekan. Selang beberapa menit tibalah kami di lantai 23.
"mari masuk" titahnya memersilahkanku seraya membuka pintu ruangan yang lumayan luas itu.
"terimakasih tuan".
"silahkan duduk, dan bisa ku lihat berkas-berkas biodata mu? "
Aku menyodorkan map cokelat yang mungkin berisi berkas-berkas milikku. Karena sejujurnya akupun belum sempat mengecek apa saja isi yang tertera dalam map itu.
Kulihat lelaki yang kini sudah duduk di hadapanku sedang memeriksa dengan cermat satu persatu lembaran berkas yang berada didalamnya.
Aku merasa ragu apakah lembaran itu berisi biodata ku atau sekedar puisi-puisi lelucon perbuatan mas denis untuk mengerjaiku.
Aku meremas jemari tanganku di bawah meja. Entahlah, apakah setelah ini aku akan dipermalukan atau akan dihina sebagaimana mas denis yang selalu menghina dan memojokkan ku sebagai wanita yang ceroboh dan tak patut bekerja di kantornya.
Aku menundukkan kepala ku tak berani menatap penuh percaya diri pada lelaki itu .
"astaga, mengapa aku terlalu percaya bahwa mas denis yang benar telah menyiapkan semua berkas-berkasku. Sedangkan dia tak pernah tau tentang diriku apalagi biodata lengkapku"
batinku frustasi mengingat betapa konyol nya hari ini.
.
.
"baiklah, mulai hari ini kamu sudah mulai bisa bekerja"
Setelah beberapa menit ku berbaur dalam kekacauan dalam hati yang tak henti-hentinya memaki diriku sendiri dan mengumpat mas denis jika saja sesuatu yang buruk terjadi padaku hari ini . Kini akhirnya dapat ku dengar lelaki yang berada didepanku kembali bersuara menyampaikan kabar gembira.
Aku mendongakan kepalaku dan mulai berani menatap lelaki itu.
"terimakasih tuan" sahutku penuh suka cita.
"he'em, silahkan menuju ke ruang kerja mu"
lelaki tersebut menunjuk sebuah ruangan yang tak jauh dari ruang kerjanya, hanya terhalang sedikit dinding pembatas saja.
"baik tuan" aku kembali menganggukkan kepala dengan senyum yang mengembang tiada hentinya.
"oh iya alesha, bisakah kamu jangan panggil saya tuan"
Aku menautkan kedua alisku merasa heran mengapa lelaki ini tak ingin aku panggil tuan.
"hmmm begini.. maksud saya, kamu bisa memanggil saya dengan panggilan senyaman kamu tapi jangan tuan. Karena bagi saya panggilan itu terlalu berlebihan"
Lelaki itu tersenyum tipis yang menbuat wajahnya terlihat jauh lebih manis.
"astaga, sadarlah alesha kau sudah memiliki kanebo kering sebagai suami"
"baiklah pak"
"oh iya. Perkenalkan nama saya danang . Kamu bisa memanggil saya pak danang"
"baik pak danang"
aku kembali mengangguk meski entah sudah berapa kali aku lakukan. Namun tak masalah bagiku karena ini merupakan salah satu bentuk penghormatanku padanya yang memiliki jabatan sebagai bos ku mulai sekarang.
"saya keruangan dulu pak"
Aku berjalan setelah mendapat persetujuan berupa anggukan dari danang.
" Dari hasil yang ku lihat, sepertinya danang jauh lebih baik dan ramah daripada kanebo kering ku dirumah. Bahkan ia jauh dari kata angkuh apalagi arrogan, meski wajahnya nampak sedikit seram. ah mungkin itu karena aku belum terbiasa melihat lelaki dengan jambang menggoda di wajahnya"
batinku terkekeh sendiri.
Aku mulai mengerjakan tugasku dengan sebaik mungkin. Meski sesekali aku harus bertanya pada danang tentang beberapa hal yang tak ku kuasai. Tapi sejauh ini, aku cukup mahir mengerjakan tugasku tak seperti yang selalu mas denis semat kan untukku yaitu wanita ceroboh.
"akan aku buktikan bahwa aku bisa menjadi wanita karir yang bisa diandalkan, tak seperti yang selama ini kau fikirkan denis! "
Aku tertawa jahat dalam hati. Setidaknya dengan begini aku akan mendapatkan pengalaman kerja yang baik. Sehingga jika suatu saat mas denis meninggalkanku, aku telah bersiap untuk menghidupi diriku dan bapak tanpa meminta belas kasihan pada nya.
.
Aku meregangkan otot-ototku yang masih terasa kaku karena baru hari pertama ku ajak bekerja.
"akhirnya kelar juga"
"alesha" panggil danang yang sudah berdiri di pintu ruang kerja.
"iya pak" aku bergegas menemui nya karena seperti ada hal penting yang ingin ia sampaikan.
"besok pagi kamu datang lebih awal ya, siapkan berkas dan setelah itu temani saya meeting"
"baik pak"
Aku pun mengangguk setuju dengan senyum yang mengembang karena tak keberatan dengan permintaan bos baru ku itu.
.
.
Setiba nya dirumah, ternyata mas denis sudah berada dirumah lebih awal dari kepulanganku.
"ehem"
Suara deheman itu seolah mengode bahwa sudah ada manusia yang sedang duduk disana.
"tumben mas sudah pulang? " jawabku yang berlalu begitu saja melewatinya .
"bagaimana dengan pekerjaanmu? "
Tanya mas denis dengan raut wajah datar yang sulit untuk ku artikan.
"baik" sahutku.
"kata danang kamu melakukan kesalahan"
"jangan ngarang deh mas! pak danang gak menegur apapun yang tadi ku kerjakan kok. Justru dia memintaku untuk berangkat lebih awal dan menemaninya meeting besok"
Mas denis menyandarkan tubuhnya pada dinding sofa seraya melipat kedua tangannya didepan dada.
"meeting dimana? " Tanya mas denis seolah menginterogasi.
"ya mana ku tahu mas. Aku lupa menanyakan itu pada pak danang"
"ceroboh! lain kali kamu harus menanyakan lebih detail dengan siapa dan dimana kalian akan meeting"
Sebenarnya denis sengaja menanyakan hal itu karena ia tau bagaimana tingkah danang jika di kantor. Tak sedikit mantan sekretaris yang pada akhirnya tergoda rayuan maut yang semakin lama semakin menghanyutkan para pendengarnya.
"apa aku harus seteliti itu? seperti nya tidak perlu deh mas. Bukankah sudah menjadi tugasku mendampingi pak danang kemanapun ia akan pergi meeting"
Aku menepis argumennya yang sama sekali tak ku ketahui tentang maksud tersebulung didalam nya.
"sudahlah aku mau mandi dan setelah itu istirahat. Jangan ajak aku untuk kembali berdebat"
Aku memilih meninggalkan mas denis dan mengguyur tubuh lelahku di bawah aliran air shower.
.
.
#keesokan hari nya.
"apa kamu akan berangkat sepagi ini? " tanya mas denis yang telah melihatku bersiap jauh lebih pagi. Sedangkan dirinya baru saja membuka mata dan masih terduduk di atas tempat tidur.
"he'em" sahutku.
"kenapa danang menyiksamu di kantor itu"
"andai danang tau siapa aku, mungkin dia tak akan melakukan hal ini padaku. Namun bukankah kau sendiri yang tak mengizikan danang untuk mengetahui siapa aku. Jadi biarkan saja begini, karena aku juga senang menjadi alesha tanpa embel-embel adanya nama mu di sekitar namaku"
Gumamku yang tak mungkin ku ungkapkan langsung pada mas denis karena aku pun belum siap mati.
"apa yang kamu bilang? "
Mas denis memicingkan matanya tajam ke arahku.
"aku tak bilang apa-apa. Sudahlah, aku berangkat dulu. Dan semua keperluan mas telah ku siapkan pada tempatnya"
Aku berlalu meninggalkan mas denis yang maish terpaku diatas tempat tidur.
"tunggu sebentar biarkan fajar mengantarmu"
"tak perlu, aku sudah tau dimana lokasi kantor cabang. Aku pergi dulu"
Aku berjalan keluar rumah bertepatan dengan datang nya suara taksi online yang memang sejak semalam sudah ku pesan.
.