
Aku cukup tercengang kala mas denis mengatakan nickholas mantanku. Entah pantas atau tidak hubungan antara aku dan nickholas disebut sebagai mantan. Karena memang sejak dulu kami hanya berteman akrab tanpa ada status pacaran. Nickholas memang sering mengutarakan cintanya padaku, namun aku tak pernah menjawabnya apalagi menerima pernyataan cintanya meski aku memiliki perasaan yang sama.
Karena saat itu aku hanya ingin fokus sekolah agar bisa mendapatkan kerja yang lebih enak nantinya. Syukur-syukur aku bisa mendapatkam beasiswa kuliah ke luar negri seperti nickholas. Meskipun ia kuliah di sana tanpa bantuan beasiswa. Nickholas memang sejak dulu terlahir dari keluarga berada. Mungkin ini salah satu alasan aku tak mau menerima pernyataan cinta nya karena aku tau orang tua nickholas tak pernah suka dengan kehadiranku dalam hidupnya.
Namun nickholas tak pernah putus asa hingga akhirnya terucap komitmen yang sama diantara aku dan dia.
"aku tak pernah berpacaran dengannya" sahutku sambil memalingkan wajah melihat ke arah luar dari kaca jendela.
"bukankah dia dulu suka denganmu?" kali ini aku merasa seolah mas denis sedang memojokkan diriku tentang masa lalu itu.
"biarkan itu menjadi urusan hatinya !" sahutku enggan meladeni semua pertanyaannya. Jujur saat ini aku sudah tak menginginkan lagi keberadaan nickholas dalam hidupku.
Meskipun mas denis tak menganggap adanya keberadaanku, tapi setidaknya aku akan menghargai pernikahan kami yang terucap suci didepan penghulu. Bagiku, setelah akad nikah itu terucap, mas denis tak hanya menikahiku didepan penghulu,orangtua dan para saksi. Tapi juga mengikat janji setia didepan sang maha pencipta.
mas denis tersenyum kecut seolah sedang menertawakan aku yang sedang mengelak dari belenggu ingatan di masa lalu.
"jangan pernah bermain api jika kamu tak ingin semua nya terbakar"
Aku seketika menoleh ke arah mas denis yang berbicara dengan datar namun menyimpan makna penuh ancaman.
"aku tak pernah bermain api, bahkan memetikkan korek nya saja aku tak pernah" sahutku menatapnya dalam.
Aku merasa bahwa aku memang tak pernah memancing keributan dengan kehadiran orang ketiga didalam rumah tangga aku dan dia.
"aku hanya mengingatkan ! Apa kamu lupa jika hanya dengan menjetikkan jari aku bisa merusak semua pencapaian yang saat ini sedang nickholas rasakan !"
Kali ini aku benar-benar tak bisa berkutik saat lagi dan lagi mas denis bermain kekuasaan. Aku menyunggingkan senyum kecut saat pria yang berstatus sebagai suamiku ini mulai menunjukkan kesombongannya sebagai orang paling berkuasa.
setelah perdebatan dingin ini, suasana mobil menjadi hening. hanya ada deru mobil saling bersautan yang melintas dijalanan.
Mobil kamipun mulai memasuki area pelataran rumah mewah yang kini menjadi tempat tinggal utama ku.
Aku menghela nafas lega saat turun dari mobil dan keluar dari suasana mencengkam didalamnya.
Tanpa perlu menunggu perintahnya aku sudah lebih dulu tau apa saja tugas yang harus aku kerjakan sesampainya dirumah.
Menyiapkan air, pakaian ganti dan memastikan makan malam untuk mas denis telah tersedia.
Setelah semuanya selesai akupun bergantian membersihkan tubuhku sekaligus menghempaskan rasa penat setelah hampir seharian berada dirumah sakit.
.
"simpan nomor handphone mu ! Jangan melakukan hal bodoh seperti tadi hingga meminta dokter citra untuk menghubungiku !"
Mas denis melempar handphone nya ke hadapanku yang sedang asyik membaca novel diatas tempat tidur.
Tanpa banyak bicara aku segera mengetikkan nomor handphone ku didalam handphone berkelas miliknya.
"jangan pernah membuat reputasiku menurun dihadapan orang ! Jangan jadikan dirimu sebagai ancaman untukku !!"
Bahkan mas denis memberikan ancaman saat tangannya bergerak meraih handphone nya yang ku taruh sedikit menjauh dariku.
"heeem" sahutku malas meladeni perdebatan yang selalu berakhir perang dingin antara kami.
.
Mas denis berlalu pergi menuju ruang kerja nya yang lama tak ia pakai selama aku sakit. Karena seminggu terakhir ia banyak menghabiskan waktu bekerja nya didalam kamar sambil mengawasiku yang suka ceroboh dalam bergerak. Mas denis memang melarangku banyak bergerak termasuk turun dari tempat tidur.
Aku mulai tertidur ketika rasa kantuk mulai hinggap di mataku membuat mata ini sulit untuk terbuka.
Entah pukul berapa aku mengerjapkan mata namun tak ku temui mas denis yang biasa sudah terlelap di sampingku.
"kemana mas denis?" gumamku lirih. Aku melihat jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Tak biasanya mas denis masih berada diluar kamar di jam segini.
Rasa khawatir kembali hinggap di hatiku, trauma akan kejadian malam itu benar-benar membuatku merasa takut.
Aku berjalan perlahan hanya untuk memastikan apakah mas denis masih berada di ruang kerja nya atau pergi entah kemana.
Aku membuka pintu dan mengintip ke arah ruang kerja mas denis dari celah pintu yang sedikit ku buka.
"alhamdulillah" aku merasa lega saat ku lihat lampu ruang kerja mas denis masih menyala pertanda bahwa mas denis masih berada disana.
Untuk lebih memastikannya lagi, aku berjalan masuk ke ruangan itu. Dan benar saja, ku lihat sosok lelaki tampan dengan wajah yang nampak lelah tengah terlelap di sofa yang berada diruang kerja nya.
aku menghela nafas semakin lega karena rasa ketakutan yang tadi sempat menghampiri ku seketika terhempas bersama hembusan nafas yang sejak tadi memburu.
Aku mendekati lelaki yang tengah terlelap dialam mimpinya itu. Wajahnya terlihat begitu sendu dan sangat berbeda dari saat ia membuka mata. Wajah tegas dan arrogan itu berbanding terbalik saat ia sedang terlelap melepas rasa lelahnya seperti ini.
Kulihat mas denis sedikit menggigil di balik tubuh yang meringkuk kedinginan. Dapat ku rasakan memang suhu diruangan ini terasa jauh lebih dingin, mungkin mas denis memang sengaja mengaturnya sedemikian rupa.
aku kembali ke kamar untuk mengambil selimut untuk menutupi tubuh mas denis. Meski ia seringkali menyakitiku, namun aku masih memiliki hati yang tau arti balas budi. Karena bagaimanapun mas denis telah merubah taraf hidupku dan bapak terutama dalam kondisi perekonomian kami.
.
Aku mengerjapkan mata saat cahaya mentari pagi menembus tirai besar yang masih menutup jendela. Cahaya mentari ini seolah sedang mengucek mataku mengajak agar segera beranjak dari tempat tidur.
Aku melihat ke samping. Ternyata mas denis tak berada disana, yang terlihat hanyalah lipatan rapi sebuah selimut yang semalam ku gunakan untuk menutupi tubuhnya.
"haaaahhh" aku segera bangkit saat mataku membulat sempurna melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
"mati aku ..."
gerutuku sambil bergerak menuruni anak tangga.
aku setengah berlari menuju ruang makan saat ku cium aroma parfum mas denis sudah memenuhi seisi kamar pertanda bahwa ia pasti sudah siap untuk berangkat bekerja.
"mass.... Maaf" aku menundukkan kepala saat tiba di sampingnya. Aku merasa bahwa aku telah lalai hingga tak melakukan tugasku untuk menyiapkan segala keperluannya seperti biasa.
"bersihkan dirimu, setelah itu sarapan !" titahnya.
mas denis bangkit dan meraih tas kerjanya.
aku mengangguk sambil terus tertunduk karena aku tau mas denis pasti murka dengan tingkah ku.
"aku berangkat !"
Pamitnya dan berlalu begitu saja..
.
.