
Bibir Mas denis mulai bergerak lincah menyusuri leher jenjangku yang membuatku sesekali menggeliat kegelian. aku benci semua ini, disaat ia mulai mencumbuku di bawah pengaruh alkohol yang membuat dirinya tak terkendali.
Tangannya mulai meremas dua gunung kembar yang bertengger didadaku. Sesekali ia menyesapnya bak seorang bayi. Air mataku mulai berjatuhan, tak ada sedikitpun kenikmatan yang kuarasakan seperti yang sering kali orang-orang bicarakan.
setelah berpuas memainkan setiap ruas sisi sensitifku, mas denis mulai menerobos membobol gawang yang selama ini aku jaga. Memang benar adanya, jika aku mempertahankannya dan hanya akan aku berikan untuk suamiku. Tapi bukan dengan cara seperti ini !!!
Bahkan mas denis memasukkannya dengan paksa dan mulai menuntaskan hasratnya dengan kasar seolah dia lupa siapa diriku. bahwa aku adalah seorang istri yang seharusnya ia perlakukan dengan lembut sebelum ia mencapai kenikmatan surgawi.
"yolanda" ucapnya saat mencapai puncak kenikmatan yang baru saja ia lakukan.
Kini benar jika dia hanya menganggapku sebagai boneka yang bernyawa. Namun ia lupa bahwa aku juga memiliki hati.
Jerit tangisku tumpah saat benteng pertahanku telah berdarah-darah seraya hatiku yang hancur berkeping-keping berserakan dan sulit untuk ku satukan kembali. 'yolanda' bahkan nama wanita lain yang ia sebut dan ia hanya menjadikanku sebagai wanita halusinasi pemuas n*fsunya saja.
Sedikitpun mas denis tak menaruh rasa simpatik melihatku begitu hancur malam ini. Setelah setelah memuaskan n*fsunya, ia segera berbaring disampingku tanpa lagi melirik ke arahku.
Ku dengar dengkuran halus dari bibirnya juga deru nafas yang semula memburu kini menjadi lebih beraturan.
Aku berusaha turun dari ranjang dengan tertatih menahan perih luka di organ intimku. Bahkan air mata terus saja bercucuran menahan luka hati yang ia hujam dengan sesuatu yang lebih tajam dari sebilah pedang.
Kini aku membenarkan jika ada pribahasa "lidah lebih tajam dari pedang" dan kini aku merasakan itu.
Aku memunguti bajuku yang berserakan dilantai yang tadi mas denis buka dengan paksa. Aku berjalan perlahan menuju kamar mandi dan segera mengguyur tubuhku di bawah aliran air shower. Ku berharap semua sakit ini segera hilang terbawa aliran air yang pergi menjauh dariku.
Aku menangis sejadi-jadinya merasa telah kehilangan harga diri. Disaat kesucianku direnggut paksa oleh seseorang yang tak sadar akan dirinya sendiri,lalu bagaimana ia dapat mengingat diriku dan malam pertama penyatuan kami.
Terlebih saat nama wanita lain yang ia panggil di penghujung kenikmatannya, aku semakin hancur seolah bertanya bahwa aku ini siapa??? Keberadaanku disini selama ini dianggap apa??
.
.
Aku kembali menjalankan tugas pagiku seperti biasa. Menyiapkan air juga pakaian ganti untuknya bekerja, dan menemaninya sarapan itu lah tugas utama ku selama berperan menjadi istri nya.
Mas denis pun tetap bersikap seperti biasa seolah tak terjadi apa-apa diantara kami semalam. Mungkin ia tak ingat, namun tak mungkin ia tak melihat adanya bercak merah yang masih tertinggal di sprei setelah keganasan yang semalam ia lakukan.
"aku berangkat" pamitnya setelah selesai menghabiskan sarapan.
Air mataku kembali berlinang. Sesakit itukah yang aku rasa hingga harus menitihkan air mata berkali-kali. Namun aku tak kan menyerah, setidaknya aku ingin menyandang gelar paling setia seperti ayah.
Aku tersenyum kecut mengingat betapa bodohnya diriku terus bertahan dalam pernikahan yang tanpa atas dasar cinta. Dan benar, mungkin semua pertahanan ini sudah dengan dasar yang berbeda, yaitu harta.
Meski merasa sudah tak memiliki harga diri lagi. Namun ada satu pertahanan yang masih harus ku banggakan. Karena setidaknya aku lebih baik dari pada wanita diluaran sana yang memilih ngangkang membuka paha dengan lelaki yang tak berstatus sah sebagai suami mereka.
.
"sudah bi" jawabku.
Aku beranjak menuju kamar. Jalanku sedikit berbeda, dan aku berjalan dengan sangat lambat menahan perih dibagian intimku untuk menaiki anak tangga.
Aku memilih duduk di kursi balkon. Aku terdiam dan termenung. Hanya satu yang dapat menguatkanku, yaitu pesan bapak yang selalu tersimpan dalam memori ingatan ini.
"Walau bagaimanapun tuan denis adalah suami mu yang harus kamu patuhi. karena sejatinya surga istri terletak pada suami nya"
Pesan itu selalu terngiang dalam benakku.
"pak... Aku rindu hiks hiks" ucapku lirih.
Meski baru kemarin aku menemui bapak, nyatanya hari ini aku kembali rindu dengannya. Terlebih saat aku mendapat perlakuan buruk dari mas denis yang tak pernah bapak lakukan padaku. Rasanya, ingin sekali aku tetap menjadi alesha kecil nya bapak yang tak kunjung tumbuh besar seperti sekarang ini.
Aku kembali meneteskan air mata yang sudah coba ku seka berkali-kali.
Aku kembali teringat, seandainya disituasi seperti ini aku bisa cerita pada bapak. Namun semua itu sepertinya hal yang tak mungkin terjadi.
Aku mencoba menelpon bapak meski nomor handphonenya memang susah sekali untuk dihubungi. Aku menghela nafas panjang saat kali ini kesabaran ku kembali diuji dengan tidak aktif nya nomor bapak.
mungkin bapak masih tidur dijam-jam seperti ini karena biasanya bapak menghabiskan waktu untuk mabuk semalaman. Terlebih saat uang yang mas denis berikan untuk bapak tiap bulan membuatnya semakin leluasa untuk berhura-hura.
.
Aku mengingat bahwa lima hari terakhir aku baru selesai kedatangan tamu bulanan. Meski aku tak berpengalaman, namun aku tetaplah wanita dewasa yang tak bodoh akan ilmu pengetahuan.
Aku segera berjalan keluar rumah menuju apotek yang berada diujung jalan meski sedikit tertatih. Aku hanya takut jika saat ini aku sedang berada di masa subur dan benih yang semalam mas denis taburkan berkali-kali tumbuh di dalam rahim yang saat ini memang belum ku inginkan.
Aku segera membeli obat kotrasepsi dan akan rutin meminumnya. Semua aku lakukan hanya untuk berjaga-jaga jika kejadian seperti semalam tiba-tiba terulang.
Meski masih merasa sedikit trauma namun aku harus siap karena aku sadar bahwa status ku siapa..meski aku tak tau apakah mas denis menganggapku sebagai istrinya atau tidak !. Setidaknya aku tak akan berdosa karena telah melayaninya dan menjalani tugas lainku sebagai istri .
.
Tubuhku terasa begitu lemas. Bahkan organ intimku pun terasa berdenyut lebih hebat dari yang sebelumnya aku rasa. "Apa mungkin karena tadi aku berjalan cukup jauh?" fikirku.
Aku membaringkan tubuhku diatas tempat tidur. Kali ini benar-benar terasa sakit dan membuatku kesulitan untuk bergerak. Bahkan kini tubuhku terasa seolah panas dingin mengikuti rasa sakit yang aku tahan sendiri.
Aku terdiam dan sesekali memejamkan mata. Rasa sakit yang begitu hebat membuat ku hampir tak sadarkan diri, akhirnya aku pun terlelap dibawah tekanan rasa sakit yang ku derita.
.
.