
Tukang pijat panggilan itupun telah selesai melakukan tugasnya. Aku pun memilih merebahkan tubuh ku diatas tempat tidur.
"apakah sudah baikan kakimu? "
Tanya mas denis yang juga sudah tidur di sampingku .
"sudah mas" sahutku .
"kenapa kamu begitu ceroboh, apa wanita sepertimu cocok untuk bekerja di kantorku? " ucap mas denis seolah menyudutkan dan meremehkanku.
"kenapa di bahas lagi? aku kan gak maksa mas denis untuk menerimaku bekerja. Kalau memang mas denis tak ingin aku bekerja ya sudah cari saja sekretaris yang lain sana! "
Aku pun tak mau terlihat mengemis pekerjaan dari nya. Karena tanpa bekerja di kantornya pun aku yakin aku bisa bekerja di kantor yang lain, walaupun itu pasti akan sedikit sulit bagiku yang notabene nya tak memiliki gelar sarjana.
Aku memilih untuk memiringkan tubuhku membelakangi mas denis karena enggan berdebat dengan lelaki menyebalkan seperti dia. Meskipun dalam posisi seperti ini aku harus bisa menahan rasa nyeri dari kakiku yang tadi baru saja dipijat.
.
.
Waktu berlalu, kaki ku pun sudah semakin membaik dan bisa ku ajak berjalan dengan normal kembali.
Seperti biasa setiap pagi aku menemani mas denis untuk sarapan bersama, meskipun terkadang aku sama sekali tak berselera. Tak ada obrolan apapun yang menemani suasana makan kami berdua pagi ini. Hanya ada suara dentingan dari sendok dan garpu yang saling beradu dalam satu piring .
"kenapa kamu belum bersiap juga? " ucap mas denis saat melihatku masih memakai pakaian santai dengan rambut yang sengaja ku gelung keatas dan sedikit berantakan.
"memangnya mau kemana? " aku balas bertanya.
mas denis menghela nafas kasar "sudahlah, kamu memang tak pernah berniat sungguh-sungguh untuk bekerja di kantorku"
Ujarnya penuh rasa kesal.
"apaan sih. memangnya mas memperbolehkan wanita ceroboh sepertiku bekerja di kantor cabang? " ucapku setengah menyindirnya.
"awalnya sih iya, namun sekarang sepertinya harus kembali ku urungkan niat itu"
mas denis beranjak dari tempat duduknya seraya meraih tas kerja miliknya.
"mas yakin aku boleh bekerja di kantor cabang? " tanyaku sambil menahan lengan mas denis.
"sebenarnya begitu, tapi sepertinya aku harus kembali menghubungi danang untuk mencari sekertaris lain saja"
mas denis berjalan begitu saja membiarkan tanganku terlepas dari lengannya.
"mas jangan dong! Aku mau bekerja di kantor cabang. Tunggu aku akan bersiap sebentar"
Akupun berlari menuju kamar untuk segera bersiap.
"huft dasar gilaaa! . Kenapa gak bilang dari semalam kalau aku hari ini harus bekerja"
Umpatku memaki mas denis semaunya sesaat setelah tiba didalam kamar.
Tanganku dengan lincah mencari baju terbaik untuk hari pertama ku bekerja.
Selang beberapa menit aku pun telah bersiap dengan kemeja panjang yang kupadukan dengan rok selutut. Rambut yang kusisir rapi dan ku ikat kuda, karena waktu yang tak memungkinkan untuk ku membuat rambut sedikit curly akhirnya aku memutuskan untuk menguncit kuda dengan bagian depan yang ku beri poni.
Aku segera menuruni anak tangga, netra ku mengedar keseluruh penjuru ruangan mencari keberadaan mas denis yang tak kunjung ku temukan.
"assisten fajar, dimana mas denis? "
tanyaku pada assisten fajar yang nampak duduk menunggu seseorang.
"tuan denis sudah pergi ke kantor nona" jawab fajar.
"lalu, kenapa kamu masih disini? dengan siapa mas denis pergi ke kantor? " tanyaku.
"saya akan mengantar anda ke kantor cabang nona. Tuan ke kantor membawa mobil sendiri nona " jawab fajar lagi.
"saya bisa berangkat sendiri " sahutku.
"apakah nona sudah tau kantor cabang berada dimana? Saya sudah ditugaskan tuan untuk mengantar anda nona"
"baiklah" akhirnya akupun tak bisa menolak tawaran dari assisten fajar.
Aku berjalan menuju mobil hitam yang sudah terparkir dihalaman. fajar pun mengikutiku dari belakang, lalu dengan langkah cepat ia mendahului ku untuk membukakan pintu mobil untukku.
"hufft dasar kanebo kering! menyuruh orang untuk bekerja juga seenak jidatnya saja. Mentang-mentang kantor itu miliknya"
Gerutuku mengumpat mas denis yang terus saja menyisakan kesal di dalam dada.
Fajar melirik ke arahku dari kaca spion depan. Kulihat ia nampak menahan tawa melihat wajahku yang ku tekut karena kesal, padahal seharusnya hari ini aku bahagia karena diperbolehkan bekerja.
Mobil yang ku tumpangi mulai memasuki pelataran kantor cabang. Aku sampai terheran melihat megahnya kantor cabang tempatku akan mulai bekerja. Sejenak aku bisa lupakan tentang kekesalan ku pada mas denis sepagi ini karena kagum dengan kantor itu.
"terimakasih fajar"
Entahlah, terkadang aku sendiri heran karena memanggilnya dengan panggilan yang berbeda. assisten fajar, mas fajar atau sekedar fajar saja. Namun sepertinya fajar tak pernah keberatan siapapun panggilan yang ku sematkan untuknya. Apa karena aku istri bos nya? batinku cekikikan.
"tunggu sebentar nona"
Aku mengurungkan niatku untuk membuka pintu mobil.
"ya, ada apa? "
aku menoleh ke arah fajar yang nampak mengambil sesuatu.
"ini berkas-berkas perlengkapan anda untuk melamar kerja" fajar menyerahkan map berwarna cokelat kepadaku.
"siapa yang menyiapkan ini semua? " tanyaku seraya meraih map cokelat itu.
"tuan denis, nona"
Aku mengangguk mendengar penuturan fajar yang sebenarnya sulit untuk ku percaya. Karena yang ku tau, apapun keperluan mas denis dalam urusan kantor, fajar lah yang mengurus semua nya .
Namun jika benar ini semua mas denis yang mempersiapkannya. Sungguh patut untuk ku acungi jempol tentang niatan mas denis agar aku bisa bekerja di kantornya.
"saya fikir untuk bekerja di kantornya tidak perlu memakai berkas seperti ini"
"itu sudah menjadi prosedur perusahaan nona"
"he'em"
Aku mengangguk paham.
"nona alesha"
Lagi-lagi panggilan fajar membuatku tak bisa melanjutkan langkah kakiku yang baru saja hendak turun dari dalam mobil.
"apalagi fajar? " tanyaku geram karena fajar begitu menghambat perjalananku.
"saya ingin menyampaikan pesan dari tuan"
aku menautkan kedua alisku mendengar ada sebuah pesan yang dititipkan mas denis pada assistennya.
"Tuan berpesan agar nona tak menyebut nama nya atau melibat kan status nona sebagai istri tuan selama anda berwawancara dengan tuan danang"
Aku menghela nafas kasar dan sama sekali tak keberatan dengan permintan mas denis yang sejak awal memang enggan mengakuiku sebagai istri nya.
"baiklah, sepertinya saya pun tak tertarik untuk menyebut nama nya didepan siapapun apalagi mengaku-ngaku sebagai istrinya. Saya cukup sadar diri fajar! sampaikan balasan pesan itu pada mas denis"
Aku bergegas turun dari mobil dan berjalan menuju lobi kantor.
"huftt... semangat alesha demimu dan masa depanmu"
aku menghela nafas panjang dan menyemangati diriku sendiri saat aku harus menjadi alesha yang bukan siapa-siapa pemilik perusahaan ternama tempatku bekerja.
Seorang resepsionist menyapaku dan menanyakan apakah ada yang bisa ia bantu. Aku pun menuturkan tujuanku datang kekantor ini.
Tak lama kemudian seorang lelaki bertubuh tinggi tegap dengan wajah putih yang ditumbuhi jambang-jambang rapi disekitar wajahnya membuat lelaki itu nampak gagah dan mempesona berdiri di sampingku.
"apakah anda yang melamar pekerjaan sebagai sekertaris ? "