I'm Just A Doll

I'm Just A Doll
part 24



Aku hanya bisa terdiam menerima perlakuan kasar mas denis yang tengah mencengkram dagu ku hingga terasa begitu sakit dan ngilu. Namun sebisa mungkin aku coba untuk sembunyikan kesakitanku dari pandangannya.


Mas denis lalu menghempaskan tubuhku dengan kasar hingga kembali tersungkur ke tempat tidur setelah ia puas memakiku sesuka hatinya.


Kini sangat terlihat jelas bahwa ia memang tak pernah sedikitpun menaruh hati padaku. Bahkan tak nampak sedikit saja rasa belas kasihan menatapku. Dan aku sangat menyadari bahwa memang aku tak pernah berarti dalam hidupnya. Hingga ia tak segan-segan untuk menyakitiku dengan perlakuan kasar seperti ini.


Aku kembali tergeletak dengan balutan selimut tebal yang menutup rapat-rapar tubuhku yang semakin menggigil kedinginan.


Sedangkan mas denis kini entah dimana keberadaannya karena ia langsung keluar dari kamar setelah selesai memakiku seperti tadi.


"nickh, lepaskan aku !"


ucapku disertai isakan tangis saat aku mengigau memangil-manggil nama nickholas dalam tidurku. Entahlah, kejadian tadi seperti masih saja membayang-bayangi ku hingga masuk kedalam mimpi mengusik tidur lelapku.


"ale.. Alesha" ku dengar remang-remang suara mas denis menyapa telingaku sembari menepuk pelan pipiku yang tak kunjung sadar dan terus memanggil nama nickholas bahkan tak jarang aku memakinya dengan kata-kata yang tadi ku gunakan untuk memakinya sesaat setelah ia menolongku dan mengantarku pulang.


"sial !! Apa yang sudah lelaki itu lakukan padamu !"


umpat mas denis melihat aku tak kunjung sadar dari mimpi dan igauan burukku. Dan setelah itu aku benar-benar berhenti mengigau karena sudah tak sadarkan diri lagi.


"badan mu panas sekali alesha"


Mas denis meletakkan punggung telapak tangannya tepat di dahiku. Ia segera menelpon dokter citra untuk datang memeriksa kesehatanku. Namun aku tetap tak sadarkan diri sampai dokter citra selesai memeriksa ku .


.


.


Keesokan harinya aku terbangun tepat dipukul delapan pagi. Mataku mengerjap di barengi sakit di bagian kepalaku.


"aaawwww" pekikku saat tubuhku pun terasa ngilu dan lemas seperti tak berdaya. Ku lihat jarum infuspun telah tertancap di urat tanganku yang aku sendiri tak tau entah sejak kapan infus itu sudah terpasang disana.


"istirahatlah ! Jangan terlalu banyak bergerak. Jika kamu membutuhkan sesuatu panggil saja bik tuti !!" pinta mas denis yang lebih tepat nya dengan sebuah perintah.


Aku terdiam tanpa mau melihat ke arahnya. Entah mengapa gumpalan amarah dan benci terhadapnya masih sangat mengeras bertengger di dalam dada meski pagi ini mas denis telah bersikap biasa saja.


"aku berangkat !"


Mas denis segera pergi dengan pakaian yang sudah rapi meski tanpa bantuan dariku untuk menyiapkan segala kebutuhannya pagi ini.


Aku mengangguk masih enggan bersuara mengingat betapa menyakitkan perkataan mas denis yang mengatakan 'persetan dengan cinta' . Sungguh semenjijikkan itukah diriku baginya.


.


.


.


#dikantor


Mas denis menelphon seseorang yang kemarin ia perintahkan untuk mencari keberadan yolanda.


"jhon, apa kamu sudah menemukan yolanda?" tanya nya pada lelaki kepercayaan sekaligus sepupu denis.


"sulit den, entah sembunyi di bumi belahan mana si yolanda mantanmu itu" jawab jhon dari balik telpon.


"bodoh !! Sudah ku katakan yolanda berada di jakarta jhon! Mengapa otakmu menjadi sebodoh itu hah!!" maki denis dengan amarah yang membuncah karena sepupu nya sekarang menjadi sulit untuk diandalkan.


"hufftt entah dilobang tikus mana yolanda sembunyi den, tapi gue emang sulit mencari keberadaannya. Tapi lo tenang aja, sekalipun yolanda sembunyi di lobang tikus atau dilobang semut sekalipun. Bukan jhon nama nya kalau tak bisa menemukan dia"


"baiklah ! Awas kalau kau tak mampu melakukan tugas ini dengan baik, bedebah!" umpat denis lalu mematikan panggilan itu secara sepihak.


.


"jar, keruangan saya sekarang!"


Titah denis beralih ke assisten pribadi nya dikantor.


tok tok tok


Fajar mulai menapakkan kaki nya memasuki ruangan dingin milik presdir dingin yang kakunya sudah seperti kanebo kering.


"ada apa tuan?" tanya fajar setelah menundukkan kepala nya sebentar memberi tanda hormat.


"atur jadwal saya untuk bertemu dokter nickholas yang bertugas dirumah sakit kasih husada, secepatnya"


Titah denis yang langsung mendapat anggukan dari fajar. Fajarpun langsung pamit undur diri untuk mengatur jadwal pertemuan antara denis dengan dokter nickholas.


"apa si bos sakit? Tumben mau ketemu ma dokter" gumam fajar seraya melihat deretan jadwal pertemuan denis hari ini.


.


denis telah duduk di sebuah cafe dekat rumah sakit dimana nickholas bertugas. Nickholas yang mendapat telpon langsung dari assisten denis pun sudah menduga apa yang akan lelaki itu bicarakan kepadanya.


Ia bergegas menemui denis setelah menyelesaikan tugasnya hari ini.


"apa anda sudah lama menunggu tuan?" tanya nickholas berbasa basi.


"duduklah, aku tak suka berbasa basi !" ucap denis datar.


Dapat nickholas tangkap bahwa denis terlihat tak menyukainya. Tapi itu bukanlah hal yang membuat nickholas gentar untuk menghadapi lelaki dihadapannya ini. Andai ia harus beradu otot dengan lelaki ini, pasti akan ia hadapi demi alesha. Sumpah demi apapun, nickholas tak terima melihat alesha sekacau kemarin sekalipun denis memang memiliki hak lebih atas diri alesha.


"ada perlu apa tuan sehingga anda ingin bertemu dengan saya?"


Nickholas berpura-pura tak mengetahui maksud dan tujuan denis mengajaknya bertemu. Ia pun masih bersikap ramah dan sopan terlebih saat ia tau denis bukanlah orang biasa. Namun sekali lagi harus nickholas tekankan bahwa ia tak pernah gentar ataupun takut untuk menghadapai lelaki semacam denis, karena di mata nya denis tak lebih dari seorang badjingan.


"kamu apakan alesha kemarin!" bahkan denis bukanlagi bertanya karena nada bicara nya yang tersentak.


"alesha? Bahkan aku tak melakukan apapun pada istrimu !"


jawab nickholas tak kalah ketus. Kali ini nickholas sudah tak dapat lagi berpura-pura untuk ramah menghadapi sikap denis yang begitu menunjukkan sisi arrogannya.


"bohong !!!" denis menggebrak meja hingga membuat pengunjung lain yang hadir di cafe itu melihat ke arah mereka berdua. Untunglah fajar bisa mengurus semua pengunjung disana dan meminta mereka semua untuk meninggalkan tempat itu dan hanya menyisakan mereka bertiga, denis, nickholas dan fajar.


"bohong?" nickolas tersenyum getir mengingat siapakah yang telah menyakiti alesha sebenarnya.


"tanyakan pada dirimu. Apa yang kau lakukan pada istrimu?" lanjut nickholas lebih berani dan menantang.


"cihhh ternyata dokter gadungan sepertimu bernyali juga untuk menghadapiku" senyum smirk terlihat di sudut atas bibir denis.


"setidaknya aku lebih memiliki hati daripada lelaki berkuasa sepertimu yang hanya bisa menyakiti hati wanita"


"aku tak pernah menyakiti wanita apalagi alesha! Justru kau yang telah menyakitinya hingga semalaman alesha merancau menyebut nama mu meminta untuk kau lepaskan !"


Denis mulai berdiri dan menatap nickholas dengan tatapan mematikan.


"katakan apa yang kemarin kau lakukan padanya !!" pekik denis seraya menarik kerah baju nickholas dengan tatapan tajam.