
Nickholas menarik sudut atas bibir nya meremehkan ucapan denis.
Bughh
Sebuah bogem mentah mendarat tepat di wajah nickholas sehingga memperlihatkan sudut bibirnya berdarah. Nickholas mengusap sudut bibirnya dengan seringai tipis diwajah. Tubuhnya terhuyung terjengkang, Tangannya mengepal kuat dengan rahang yang mengeras.
Sedangkan denis, ia mendaratkan bogem mentah itu semata-mata hanya karena tak tahan melihat sikap nickholas yang sedang meremehkannya, bukan karena ia sepenuhnya peduli pada alesha.
"tanyakan saja pada istrimu apa yang ku lakukan padanya !"
pekik nickholas yang berusaha untuk bangun karena sempat tersungkur dengan satu kali pukulan yang denis berikan.
"tanyakan padanya ! Siapa yang bersalah dalam hal ini, aku atau kau tuan denis yang terhormat !!" lanjut nickholas menantang.
Denis benar-benar merasa tertantang dengan perkataan nickholas yang justru menyalahkannya.
"jadi kau menyalahkanku! Cihhh sudah jelas-jelas alesha semalaman merancau memaki nama mu !!"
Denis kembali bergerak hendak menghajar nickholas.
"ckkk... Apa kemarin kau tak merasa bersalah terhadapnya? Kau yakin kau tak melakukan hal apapun yang membuatnya nyaris bunuh diri?? Bahkan baru ku sadari ternyata kau adalah iblis yang berbalut kekuasaan dan wibawa hingga semua orang tunduk padamu"
Mendengar celoteh nickholas yang sudah tak seperti gelarnya yaitu seorang dokter.
Denis semakin geram dan kembali mendaratkan pukulan dan kepalan tangannya tepat di tubuh nickholas.
"bangunlah, akan ku tunjukkan ke iblisan ku" ucap denis dengan rahang mengeras.
Ia benar-benar tak kuasa menahan amarahnya melihat ada seseorang yang berani melawannya. Sedangkan selama ini ia adalah lelaki yang paling di segani dan di takuti. Semua ini ia lakukan bukan untuk membela alesha, melainkan untuk menjaga harga dirinya.
Lagi-lagi nickholas terhuyung, ia tak sempat memberikan perlawanan.
"jika kau tak sanggup menyayanginya, lepaskan dia. Biarkan aku yang menyayanginya daripada harus kau hancurkan dia seperti kemarin"
Ucap nickholas dengan lantang. Denis kembali mengepalkan tangannya seraya menatap tajam ke arah tubuh yang sudah nyaris tak berdaya.
"tak kan ku biarkan ! Cihhh"
Denis berlalu pergi meninggalkan nickholas yang sudah begitu lemah. Ia tak ingin terlalu lama larut dalam amarah yang membuncah. Fajar pun turut mengikuti langkah tuannya untuk meninggalkan tempat perkelahian itu.
Sedangkan dari kejauhan nickholas menatap denis penuh rasa murka. Bahkan ia masih tetap tak bisa menerima jika denis berani meski hanya sedikit saja menyentuh apalagi menyakiti tubuh alesha. Nickholas yang semula sudah berusaha untuk rela melepas alesha kini bersikeras untuk bisa merebut lagi wanita kesayangannya itu.
.
Di kantor fikiran denis benar-benar tak bisa berkonsentrasi.
"apa benar kemarin alesha hampir bunuh diri?" tanya denis lirih sambil memijat pelipis mata nya tak habis fikir.
"tapi kenapa? Apa dia mendengar obrolan ku dengan jhon?" batin denis.
.
.
"apaan sih harus diinfus begini !"
ku tarik paksa selang infus yang menancap di pergelangan tanganku hingga membuat tanganku sedikit berdarah. Aku merasakan nyeri namun masih dapat ku tahan karena semua sakit itu tetap tak sebanding dengan yang kemarin aku rasa.
Sampai detik ini bayang-bayang suara mas denis masih saja terngiang di otakku bahwa ia tak pernah menghendaki pernikahan ini. Aku tersenyum smirk mengingat betapa bodohnya aku yang memiliki harapan untuk dapat menembus tebalnya dinding hati mas denis yang sudah terpenuhi dengan satu nama yaitu yolanda.
Aku berusaha bangkit berjalan mencari angin segar dari teras balkon yang menghadap langsung dengan keindahan di ibu kota. Sebisa mungkin ku coba untuk menguatkan hati agar tak lagi mudah terlena dengan semua kebaikan yang mas denis berikan nantinya untukku. Bahkan kini aku harus bisa membentengi diri dan hatiku agar dapat lebih kokoh lagi menjalani hidup bersama mas denis untuk kedepannya.
Mas denis masuk ke kamar setelah fikiran tentang ku mengusik fikirannya. Baru saja ia hendak fokus mencari yolanda namun perkataan nickholas tentang aku yang hendak melakukan percobaan bunuh diri tadi sempat mengganggu tujuan utama nya.
Mas denis memang belum berhasil mencari alasan yang tepat mengapa aku sampai hendak melakukan hal sebodoh itu. Karena tadi ia langsung terpancing emosi hingga ia tak bisa menanyakan apa yang sebenarnya terjadi secara baik-baik kepada nickholas.
Netra mas denis menyusuri sudut kamar yang nampak sepi. Hanya ada selang infus yang tertinggal disana. Ia segera mencari keberadaanku dikamar mandi. Namun naas, ia tak menemukan aku didalamnya.
"ale.. Alesha" panggil nya mencari ku yang tak kunjung ia temukan. Sebenarnya telingaku mendengar panggilannya, namun aku memang enggan untuk menjawab dan memilih untuk tetap diam menikmati sunset yang mulai menyingsing ke utara menyisakan jejak jingga di langit sana.
Aku menghela nafas panjang, begitulah kira nya hidup. Sepahit apapun hari ini atau semanis apapun hari ini semua pasti akan tetap terlalui. Karena waktu akan terus berputar, hanya kita saja yang harus selalu siap menghadapi kenyataan selanjutnya.
"hey ternyata kau disini" sapa mas denis saat ia menemukan ku sedang duduk terpaku menatap langit jingga.
Aku menoleh ke arahnya dengan wajah datar dan masih tak bersuara.
"ayo masuk, sudah mau magrib" ajak mas denis yang kini sudah sangat berbeda dengan sikap nya kemarin yang seperti orang kesetanan.
Aku mengangguk tanpa lagi bersuara. Entahlah, rasanya mulutku seperti begitu enggan berkata sepatah katapun padanya.
Aku berjalan mengikutinya yang lebih dulu berjalan masuk kedalam kamar.
"hey alesha, kenapa bisa infus ini terlepas?" tanya mas denis.
"aku tak membutuhkan itu, aku baik-baik saja" sahutku.
"keras kepala ! Semalaman kau sudah tak sadarkan diri, masih saja kau bilang baik-baik saja?"
Ucapnya penuh penekanan karena emosi yang mulai merasuki dirinya. Untunglah kali ini ia masih bisa menguasai diri hingga ia dapat menahan emosi yang hampir meledak lagi.
Aku langsung berjalan menuju kamar mandi untuk menyiapkan air mandi untuk mas denis. Aku tak ingin terlihat lemah dimatanya, sekalipun aku sakit. Setidaknya aku tetap bisa melakukan tugasku seperti biasa.
"kamu mau kemana?"
Tahan mas denis ketika kakiku selangkah lagi hendak melangkah masuk kedalam kamar mandi.
"menyiapkan air untuk mu" jawabku tanpa menoleh ke arahnya.
"siapa yang memintamu untuk menyiapkan air untukku?"
"cihhh biasanya juga aku tak perlu menunggu perintahmu" batinku.