I'm Just A Doll

I'm Just A Doll
part 28



tok tok tok


Tak lama kemudian pintu kamar di ketuk oleh bik tuti yang memberitau bahwa lelaki bernama danang itu telah tiba.


"suruh danang menungguku di ruang kerja!" sahut mas denis sesaat sebelum ia pergi meninggalkanku tanpa sepatah kata.


Aku melihat kepergian mas denis yang dengan cepat menghilang di balik pintu.


"siapa sih danang? Sepertinya darurat banget" gerutuku karena tadi aku tak berhasil mendengar obrolan antara mas denis dan jhon di telpon.


Namun setelah ku ingat-ingat bahwa kali ini sepertinya dewi fortuna sedang berpihak padaku. Ternyata nyawaku masih terselamatkan karena jhon tak mengatakan apa yang tadi siang ia bicarakan di telphon.


"syukurlah" gumamku seraya mengelus dada melupakan sejenak tentang siapa danang.


.


Setelah beberapa jam meninggalkan kamar, ku lihat mas denis kembali masuk dengan raut wajah yang sudah sedikit membaik dari sebelumnya. Kabut amarah itu tak lagi berapi-api menyelimuti air muka nya.


"kenapa kamu belum tidur?"


tanyanya padaku yang memang masih duduk diatas ranjang dengan sebuah buku novel yang sebenarnya sudah tak lagi ku baca. Aku telah kehilangan konsentrasi setelah mas denis meninggalkan kamar ini dan mulai memikirkan sekaligus menerka-nerka apa yang sedang mas denis lakukan di bawah sana terhadap danang.


Entahlah apakah saat ini danang masih bernyawa atau tidak setelah beberapa saat tadi ia bertemu dengan mas denis dengan penampakan wajah yang sudah seperti singa kelaparan.


"masih baca ini"


aku menunjukkan buku novel yang berada dalam tanganku ke arah mas denis.


"ckk... Istirahatlah yang cukup! Jangan buang-buang waktu mu "


Mas denis mulai merebahkan tubuhnya di sampingku. Ia menaikkan selimut hingga sebatas pinggang setelah itu ia lipat kedua tangannya kebelakang kepala sebagai bantalan.


Mas denis menatap langit-langit plafon. Tersirat banyaknya beban yang sebenarnya sedang menghantam fikirannya.


"apa ada masalah dikantor?"


sebisa mungkin aku memberanikan diri untuk bertanya setelah beberapa menit kami terpaku dalam keheningan.


"heem"


jawabnya dengan tatapan mata yang tak sedikitpun menatap ke arahku.


Aku pun kembali terdiam tak tau harus berkata apalagi setelah ku dengar jawaban singkat dengan seribu arti itu.


"apa kamu ada kenalan wanita yang bisa bekerja?"


Tanya mas denis.


"bekerja? Bekerja untuk_?"


Aku menggantung pertanyaanku yang tak tau ke arah mana jalur pertanyaan mas denis tadi.


"untuk dijadikan sekertaris" sahut mas denis.


"oow, mas mau ganti sekertaris" sahutku cepat.


"orang kaya mah bebas, bosan dengan sekertaris lama langsung aja ganti yang baru. Atau jangan-jangan mas denis ada main dengan sekertaris lama nya dan dia sudah bosan. Omaygat apa nanti aku pun akan sesuka hatinya ia hempaskan begitu saja"


Gumamku dalam hati seraya meremas ujung selimut yang juga menutup tubuhku.


"jangan mengumpatku apalagi berfikiran buruk padaku!" tungkasnya seolah dapat membaca isi hatiku.


"dumptttt kenapa mas denis seperti jelmaan paranormal sih! Bisa dengar kata hatiku"


batinku meronta .


"eng_enggak kok mas. Mas kaya dukun deh" jawabku yang ku bubuhi nada meledek di penghujung kalimat nya.


"aku tak memiliki teman yang biasa bekerja sebagai sekertaris. Bukankah justru mas denis yang memiliki banyak teman?"


"maksud kamu?" mas denis melirik ke arahku denga lirikan tajam.


sahutku sekena nya untuk memberikan penjelasan dari kalimat yang mas denis salah artikan. Karena terlanjur takut dengan lirikan mata yang cukup mematikan itu aku pun memberikan jawaban yang entah masuk kedalam logika atau tidak.


Meski sebenarnya maksud dari perkataanku pun begitu, mana mungkin seorang denis mahendra tak memiliki banyak teman wanita dalam hidupnya. Batinku.


"aku ingin mencari orang baru. Karena aku sudah tertipu dengan sekertaris yang berkedok senior namun justru hampir membuat hancur perusahaanku" jawabnya.


"apa sekertaris mas denis yang lama bermasalah?" tanyaku memastikan.


"bukan sekertarisku. Aku mencari sekertaris untuk perusahaan cabang yang dipimpin danang" jawabnya.


"hmmm...." gumamku seraya berfikir sejenak.


" Bagaimana kalau aku saja?"


tawarku setelah cukup beberapa detik mengumpulkan berjuta keberanian untuk menyampaikan pendapat yang berkemungkinan besar akan mendapat penolakan.


Sontak mas denis langsung menoleh ke arahku dengan mata membulat menatapku tajam.


"maksud kamu?"


Aku menghela nafas panjang untuk menjelaskan maksud perkataanku yang langsung mendapatkan pelototan darinya.


"bukankah tadi mas bilang mas ingin mencari orang baru? Jadi aku menawarkan bagaimana jika aku saja yang menjadi sekertaris di kantor itu"


jelasku berusaha sesantai mungkin padahal sebenarnya hatiku sedang bergemuruh bahkan hampir luluh berjatuhan .


"tidak! Bagaimana bisa istri presdir menjadi sekertaris dikantor cabangku sendiri, kamu gila ! apa kata orang?"


Air muka mas denis kembali mengobarkan api yang sudah siapa menyala.


.


"tapi mas, bukankah di kantor cabang itu tidak ada satupun yang mengenalku dan bukankah mereka semua tidak tau siapa aku?"


sanggahku menyangkal penolakannya.


Karena realita nya memang benar, kantor cabang milik mas denis terletak diluar kota. Dan saat acara pernikahan kami waktu itu hanya dihadiri oleh kerabat dan saudara terdekat saja. Karena saat itu mas denis memang telah mengatur jadwal resepsi megah untuk rekan kantor dan kolega-kolega bisnisnya yaitu pada hari berikut nya, andai saja ia benar menikah dengan yolanda.


Namun setelah kenyataannya justru ia menikah denganku, rencana resepsi itu langsung ia gagal kan tanpa lagi pikir panjang.


Bahkan sejak hari itu aku tak lagi menganggap diriku sebagai istri seorang presdir perusahaan batu bara.


"jadi mas tak perlu mengatakan pada danang tentang siapa aku agar aku tetap bisa menjalani tugas ku dengan profesional. begitupun dengan orang-orang di kantor itu yang tetap profesional padaku dalam bekerja karena menganggapku sebagai sekertaris biasa"


Lanjutku mencoba meyakinkan mas denis.


Dengan ini aku bisa menunjukkan pada mas denis bahwa aku bukanlah kaum lemah yang sebisa nya ia tindas. Dan setidaknya, dengan memiliki pengalaman bekerja aku akan lebih siap jika suatu saat nanti mas denis meninggalkanku sesuka hatinya.


Kulirik mas denis nampak terdiam mencerna semua ucapanku. Aku berharap besar jika mas denis akan menyetujui permintaanku kali ini.


"sudahlah tidur!"


Titah nya tanpa mau membahas kembali topik pembicaraan kami.


Aku pun hanya bisa menganggukkan kepala lalu merebahkan tubuh dan membelakanginya.


Sepertinya harapan ku untuk bisa bekerja meskipun sebagai sekertaris pribadi di kantor cabang tak akan terealisasi. Aku memejamkan mata dengan perasaan hati sedikit kecewa namun masih dipenuhi dengan iringan doa.


.


.


Matahari mulai menyingsing di ufuk barat. Seperti hari-hari sebelumnya seharian ini aku hanya merebahkan tubuhku didalam kamar. Entahlah, apakah aku masih tetap bisa disebut hidup didalam penjara tak kasat mata atau tidak. Karena realitanya, banyak yang menyangka aku hidup bak permaisuri didalam istana.


Memang benar, selama menikah dengan mas denis ia melarangku melakukan pekerjaan apapun termasuk pekerjaan rumah.


Aku sendiri tak tau apa penyebab mas denis melarangku seperti itu. Entah apa karena ia tak ingin aku kelelahan atau karena hanya sebatas formalitas nya saja agar nama baiknya tetap terjaga atau justru mungkin ia mengiran dan menganggapku seorang wanita yang tak bisa apa-apa.


.