I'm Just A Doll

I'm Just A Doll
part 23



Nickholas mengantarku pulang ke rumah dengan kondisi yang sudah memprihatinkan. Tubuhku gemetar hebat dan mengigil di sepanjang perjalanan. Berulang kali nickholas mengajakku untuk ke rumah sakit namun dengan keras aku menolak ajakannya. Aku tetap memaksa ingin pulang kerumah setelah puas aku memaki nya yang telah menyelamatkan aku dari percobaan bunuh diri konyol ini.


Namun entah mengapa perkataan mas denis benar-benar membuatku begitu frustasi dan bahkan membuatkau menjadi senekat ini padahal sejak awal aku tau bahwa kami tak saling mencintai.


Nickholas hanya terdiam ketika selama diperjalanan aku terus-terusan memakinya dan utu benar-benar sudah diluar kendali. Aku tau dia tak ada sangkut pautnya tentang permasalahan antara aku dan mas denis. Namun dia lah yang telah melibatkan dirinya untuk masuk kedalam jurang permasalahan rumah tangga kami. Dan akhirnya kini nickholas dapat mengerti bahwa rumah tangga kami tak baik-baik saja seperti yang selama ini selalu kami tutup-tutupi.


Dengan telaten nickholas mencoba memapahku mengantarkan aku masuk kedalam rumah. Namun aku segera menepis tangan baik itu karena tak ingin para assitenku mengadukan hal yang tidak-tidak pada mas denis tentangnya. Aku tau bahwa kebaikannya saat ini hanya akan membahayakan hidup dan masa depannya nanti.


"aku bisa sendiri" ucapku meski sebenarnya tubuhku sudah sangat lemah.


"tapi sha.."


"aku bisa sendiri !! Lebih baik kamu pulang" titahku lalu beranjak pergi meninggalkannya.


.


#dikantor


Fajar memungut berkas-berkas yang berserakan didepan pintu utama ruang kerja presdir yaitu ruangan denis. Ia lalu membawa berkas-berkas yang kini sudah beralih kedalam gengamannya itu masuk kedalam ruangan denis setelah ia mengetuk pintu.


"ada apa?" tanya denis datar sambil terus menatap layar laptop dengan wajah cemas.


"tuan, apakah berkas ini yang sedang tuan tunggu sejak tadi?" tanya fajar sambil menyerahkan berkas yang sedikit berantakan ke arah denis.


"dari mana kamu mendapatkan berkas ini ?!" tanya denis dengan tatapan tajam seraya meraih berkas tersebut.


"saya menemukan berkas-berkas ini sudah berserakan didepan pintu ruangan tuan " jawab fajar sedikit gugup karena tak biasanya ia mendapat tatapan mematikan seperti itu.


"shiiitttt.... Berani sekali alesha membuang berkas penting seperti ini !" umpat denis murka.


"apakah tuan yakin bahwa nyonya alesha yang tadi mengantar berkas ini?" tanya fajar bingung karena sepertinya ia tak melihat keberadaan alesha didalam kantor itu.


"Lantas kamu fikir siapa lagi yang akan mengantar berkas ini. Karena aku hanya menyuruhnya ! Coba kamu cek cctv dan cari tau mengapa alesha berani membuang berkas ini didepan ruangan saya !"


Titah denis geram dan mengepalkan kedua tangannya karena baginya berkas ini begitu penting untuk kemajuan perusahaannya dan alesha justru membuang berkas ini seenak jidatnya.


"baik tuan"


Fajar pamit undur diri dari ruangan dingin dan menegangkan itu. Ia segera menuju ruang cctv untuk menuruti perintah yang tadi denis berikan.


Sementara diruangan miliknya denis mengeraskan rahang dengan tangan yang mengepal kuat menahan emosi pada alesha yang telah begitu berani pada dirinya.


Tak lama kemudian fajar kembali masuk kedalam ruangan denis sambil membawa beberapa alasan kemungkinan mengapa alesha berani membuang berkas itu.


"jadi?" tanya denis penasaran.


"benar bahwa nyonya alesha yang telah mengantar berkas ini tuan. Namun sepertinya ia cukup lama menunggu didepan pintu ruangan karena ia tak ingin mengganggu kesibukan tuan. Bahkan ia nampak begitu terkejut hingga menjatuhkan berkas-berkas ini dan membiarkannya berserakan dilantai lalu pergi meninggalkannya begitu saja. Saya sendiri tak tau alasan pasti mengapa nyonya alesha melakukan itu. Namun berdasarkan analisa saya sepertinya nyonya alesha sempat menguping obrolan tuan dengan seseorang yang mungkin melalui telephon. Karena sebelum itu saya tak melihat bahwa ada pegawai lain yang masuk kedalam ruangan ini"


Jelas fajar panjang kali lebar menjabarkan tentang apa yang ia lihat di cctv. Meskipun sedikit banyak ia hanya menganalisa tentang apa yang ia lihat saja. Namun ia berharap jika analisanya memang benar adanya karena saat ini nyawanya lah yang seperti sedang menjadi taruhan pertanggung jawaban atas ucapannya.


Ia terdiam sesaat meresapi perkataan fajar yang memang hampir semuanya benar. Meski itu hanyalah analisanya saja, namun entah mengapa semua itu benar. Bahkan denis sempat curiga jika assistennya ini salah satu turunan dukun atau memang ia memiliki kemampuan untuk bisa membaca sesuatu yang sulit bagi orang lain untuk ia artikan.


"pergilah !"


Titah denis setelah cukup lama mereka berdua berselimut keheningan setelah mendengar penuturan fajar. Fajar menghela nafas lega lalu pamit undur diri meninggalkan denis sendiri.


"apa benar alesha sempat mendengar semua perbincanganku dengan jhon !" gumam denis lirih.


"sialan !! Tapi mengapa dia begitu berani denganku dan begitu lancang membuang berkas ini yang menyebabkan perusahaanku hampir saja hancur !!" umpat denis murka. Ia terlihat begitu marah hingga tak peduli lagi dengan bagaimana perasaan alesha saat ia mendengar percakapan antara dirinya dan jhon di telepon tadi.


Denis segera menghubungi pak kirman dan memintanya bersiap untuk pulang. Amarahnya seolah memuncak tak dapat lagi ia tahan dan ia sudah siap memberikan pelajaran untuk alesha. Karena kebodohan yang alesha lakukan sangat menjadi ancaman untuk perusahaannya.


.


#dirumah


Denis segera turun saat mobilnya berhenti tepat didepan teras. Bik tuti segera membuka pintu utama tempat tinggal kami sesaat setelah ia mendengar suara sang majikan memasuki pelataran rumah.


"dimana alesha?" tanya mas denis mencariku.


"nona alesha ada dikamar tuan"


Jawab bi tuti.


Mas denis segera melangkahkan kaki menaiki anak tangga berjalan menuju kamar dengan wajah yang sudah berkabut amarah.


Brakkk


Mas denis membuka pintu lalu menutupnya dengan cukup keras. Hingga membuatku yang sedang meringkuk diatas ranjang dan berbalut selimut menjadi sedikit terperanjak. Aku yang tadi pulang dalam keadaan basah kuyup memang kini sedang kedinginan. Bahkan kepalaku terasa sakit namun rasa sakit itu tetap tak sebanding dengan bagaimana perasaan hatiku karena ucapan mas denis saat dikantor tadi.


"enak sekali kamu sudah rebahan, hah !! " mas denis menyibakkan selimut yang membalut tubuhku dan menghempaskannya kasar ke sembarang arah.


Aku tak bergeming karena memang yang kurasa tubuhku begitu lemas tak berdaya.


"apa yang tadi kau lakukan ! Kau mau membuat perusahaan ku bangkrut ! Kau mau menghancurkan perusahaan yang sudah bertahun-tahun ku bangun mati-matian !!" umpatnya dengan tangan yang sudah mencengkram rahangku.


Aku terdiam dan kini sudah berposisi duduk menahan sakit cengkraman tangan kekar berotot itu. Aku benar-benar tak tau kemana arah perkataan mas denis. Bahkan entah kesalahan apa yang telah ku buat hingga ia menjadi sangat murka seperti ini.


Aku hanya terdiam, sesekali aku meringis kesakitan namun sebisa mungkin ku sembunyikan rasa sakit itu agar mas denis tak menilaiku sebagai wanita lemah.


"apa kau sudah bosan hidup !! Apa kau ingin melihat bapak mu yang pemabuk itu hancur !! Katakan !!!" pekiknya tepat didepan wajahku.


Aku masih terdiam. Entah mengapa rasa sakit dan sesak di dadaku membuat air mata yang sudah saling berdesakan ini sulit untuk menetes. Karena dalam lubuk hatiku pun ada gumpalan amarah dan kebencian yang juga sedang ku tahan. Semua itu seolah mampu menyeka air yang menumpuk dipelupuk mata.


.


.