
Mobil mas denis mulai memasuki pelataran rumah. Ia segera masuk kedalam dan merasa kecewa karena yang menyambut kedatangannya bukan lah aku melainkan bik tuti.
"kemana alesha?" tanya mas denis
"nona sedang dikamar tuan. Sepertinya nona sedang tidur karena tadi sudah saya bangunkan namun tidak ada jawaban" jelas bik tuti sedikit tergugup takut majikannya marah.
"baiklah" mas denis berjalan menaiki anak tangga dengan sedikit berlari.
Ia membuka handle pintu perlahan dan mengintip keberadaanku dari sedikit celah pintu yang terbuka.
Mas denis kembali menutup pintu perlahan. Dan berjalan mendekatiku setelah ia menaruh tas dan jas nya diatas sofa.
Sebenarnya mas denis hendak meminta maaf karena ia sadar atas apa yang ia lakukan semalam. Setelah ia terusik dengan bercak merah yang tertinggal di sprei tempat tidur ku. Ia pun seharian mencoba untuk mengingat-ingat apa yang ia lakukan padaku semalaman. Hingga perlahan ingatannya kembali muncul meski hanya beberapa dan sisanya ia benar-benar lupa. Namun ia sadar, keganasan permainannya lah yang telah membobol gawang pertahananku.
Mas denis semakin mendekat padaku yang sedang terlelap dibawah balutan selimut tebal yang menutup rapat seluruh tubuhku.
"ale..." panggilnya lirih. Namun sayang aku sama sekali tak mendengar panggilan itu.
mas denis menepuk pipiku perlahan "ale... Alesha" panggilnya berulang kali. Wajah yang semula santai kini berubah menjadi panik saat mendapati aku yang tak kunjung sadarkan diri.
"bikk" teriak mas denis memanggil bik tuti yang memang dituntut harus selalu siap siaga membantu mas denis kapanpun ia dibutuhkan.
"iya tuan, ada apa?" sahut bik tuti seraya membuka pintu kamar yang semula tertutup rapat.
"ambilkan minyak angin !!!" titahnya yang dengan cepat membuat bik tuti berlari mencari dimana keberadaan minyak itu.
"ini tuan" bagaikan dikejar-kejar maling. Bik tuti pun dengan cepat segera kembali dengan membawa sebotol minyak angin untuk ia serahkan pada mas denis.
"apa yang terjadi tuan?" tanya bik tuti saat melihat wajah mas denis nampak panik dan melihat aku yang tak sadarkan diri saat berada dalam dekapan mas denis.
"alesha pingsan. Cepat hubungi dokter citra !!"
Lagi-lagi bik tuti segera berlari untuk menjalani apa yang telah tuannya perintahkan. Bahkan kali ini jantungnya berdebar, mungkin ia juga akan mendapatkan semprot karena telah lalai sampai tak mengetahui bahwa aku tengah pingsan dikamar.
Aku sedikit mengerjapkan mata saat aroma minyak angin menusuk indera penciumanku.
"mas..." ucapku lirih nyaris tak terdengar saat yang pertama kali kulihat adalah wajahnya.
"bertahanlah, sebentar lagi dokter akan segera datang" ucapnya pelan. Kali ini tak ku dengar nada dingin yang keluar dari mulutnya.
Meski wajah nya tak begitu khawatir, mungkin karena ia lihat aku telah sadar .
Aku mengangguk tak mampu berkata-kata. Seluruh tubuhku terasa remuk seperti tak bertulang.
Tak lama kemudian seorang dokter berparas cantik masuk menemui kami dengan diantar oleh bi tuti. Entahlah, mengapa kehidupan mas denis selalu saja dikelilingi oleh wanita-wanita cantik.
"siapa yang sakit?" tanya dokter tersebut sebelum ia melihat jelas bagaimana kondisiku karena ia sedang berbalik badan menutup pintu.
"istriku" mas denis membaringkan tubuhku diatas ranjang. Aku merasa terharus mendengar mas denis mengakuiku sebagai istrinya didepan orang lain. Namun tak semudah itu aku merasa bangga dan menaburkan bunga-bunga di hatiku yang terdapat banyak sayatan luka.
"nona apa yang anda rasakan?" tanya dokter itu dengan lembut dan mulai memeriksaku.
Aku terdiam. Bukan tak mampu berbicara, namun alangkah memalukan bukan jika aku katakan aku merasakan sakit yang luar biasa dibagian organ kewanitaanku.
dokter itupun terkekeh seolah sudah dapat membaca kata hatiku dengan hasil pemeriksaan yang ia lakukan. Namun yang tadi ia ucapkan dapat ku simpulkan bahwa dokter cantik ini masih gadis dan belum menikah. Wajar saja jika ia sangat menjaga penampilannya.
"hey dokter citra bagaimana kondisinya?" tanya mas denis seolah penasaran dengan obrolan dokter yang mungkin namanya citra.
"baiklah, saya ingin membicarakan hal ini di tempat lain"
Mas denis dan dokter citra pergi meninggalkanku sendiri dikamar ini. Aku menghela nafas saat sakit ini tak kunjung hilang. Namun aku dapat berterimakasih dengan penyakit ini, karena dengan ini aku dapat tau bahwa sebenarnya mas denis masih peduli denganku.
.
.
"jadi bagaimana dok? Istri saya sakit apa?mengapa ia tadi sampai pingsan?" mas denis mencercah dokter citra dengan banyak pertanyaan.
"sabar tuan, sebaiknya anda duduk dulu" ucap dokter citra agar penjelasan yang ia berikan dapat lebih santai dan diterima dengan baik.
"jadi begini.. Istri anda tidak sakit apapun terlebih mengindap penyakit parah. karena hal seperti ini wajar dialami oleh seorang wanita jika ia memang kelelahan"
ucap dokter itu sambil menulis resep obat yang harus mas denis tebus.
"kelelahan? Tapi saya tidak pernah memaksanya untuk melakukan pekerjaan berat apapun dok ?!"
pungkas mas denis karena seingatnya ia memang tak pernah menyuruh ku untuk melakukan pekerjaan berat apapun termasuk mengerjakan urusan rumah.
"bukan pekerjaan berat seperti itu yang saya maksud hingga membuatnya kelelahan"
"lalu?" timpal mas denis dengan antusias.
dokter citra menghela nafas sebelum memberikan penjelasan lebih detail pada mas denis.
"sepertinya semalaman anda menggempurnya habis-habisan hingga ia sampai kelelahan dan bagian intimnya menjadi sedikit membengkak" jelas dokter citra.
Mas denis membulatkan mata saat mendapati dirinya lah yang menjadi penyebab aku sakit.
"saran saya, anda perlu menahan gairah anda sedikit dan melakukannya dengan lembut agar tak melukai organ intim. Karena dengan cara seperti itu pula kalian akan mendapatkan kenikmatan secara bersama"
Mungkin dokter citra belum ahli dalam berpraktek namun ia sudah ahli dalam memberikan teori. Sebenarnya ia merasa malu untuk memberitaukan hal seperti ini pada lelaki yang dulu sangat ia kagumi.
Bahkan dokter citra pernah menaruh hati pada mas denis karena memang ia telah mengenal mas denis sejak lama. Ibunya adalah dokter pribadi keluarga mahendra. Setelah ibunya meninggal dokter citra lah yang berperan mengganti ibunya menjadi dokter kepercayaan keluarga mahendra.
Bahkan ia menjadi salah satu wanita paling kecewa setelah mendapat kabar tentang pernikahan mas denis. Ia sempat berfikiran untuk berhenti menjadi dokter pribadi keluarga mahendra hanya karena tak ingin lagi bertemu dengan mas denis. Namun ia mengurungkan niat itu setelah mengetahui mas denis sudah tak tinggal lagi bersama keluarga besarnya.
Namun siapa sangka, jika saat ini justru mas denis sendiri yang mengundang dokter citra untuk datang kerumah nya.
Dokter citrapun melakukan tugasnya berdasarkan sumpah kedokteran yang pernah ia ucap, bahwa ia akan tetap melayani pasiennya dengan sepenuh hati. Siapapun itu termasuk aku, wanita yang pernah menggores hatinya dulu.
.
.