
seketika tubuh dan mulutku menjadi gugup.
"eng_enggak" jawabku sesaat setelah menoleh ke arah mas denis yang berjalan mendekati meja kerja.
"mas sudah selesai meeting? Tumben sebentar banget" kataku memalingkan posisi tubuh agar lebih leluasa melihatnya.
"aku hanya mengambil handphone ini" mas denis menunjukkan handphone yang sudah berada di gengamannya.
"ayo ikut aku !" ajak mas denis.
"kemana?" tanyaku bingung saat mas denis tiba-tiba mengajakku pergi.
"aku akan mengenalkan mu dengan klien bisnis ku" jawabnya datar.
"tapi mas ...." aku ragu bahkan ingin sekali menolak ajakan itu karena saat ini aku belum siap untuk diperkenalkan dengan siapapun .
"ayo cepat ! jangan suka mengulur waktu semakin lama" mas denis berjalan lebih dulu. Dengan terpaksa aku pun segera mengikuti langkah kaki nya menuju ruangan dimana kliennya berada.
.
.
Mas denis telah memperkenalkanku dengan klien bisnis nya. Bahkan ia pun memperkenalkanku dengan para pegawai di kantornya ini untuk menghindari kejadian antara aku dan satpam seperti tadi.
Mas denis mengajakku pulang setelah acara memperkenalkan aku sebagai nyonya denis mahendra telah selesai.
"mas... Apa mas tak berlebihan karena telah memecat satpam tadi"
entah mengapa tiba-tiba rasa bersalah menghinggapi hatiku. Seandainya aku tau mas denis akan mengambil keputusan seperti ini. Mungkin aku tak akan mengatakan hal seperti tadi.
"itu balasan yang setimpal untuknya !" jawab mah denis.
Namun aku tetap merasa tak tega pada satpam itu yang mungkin masih membutuhkan pekerjaannya. Bagaimana dengan nasib keluarga nya jika ia tak bekerja?? Pikiran ku berkelana memikirkan nasib satpam tadi.
"mas, apa tidak sebaiknya mas berikan satpam tadi kesempatan untuk bekerja sekali lagi ???"
Aku menatap mas denis dengan tatapan penuh permohonan. Berharap mas denis dapat kembali mencabut keputusannya.
"aku tidak akan pernah menjilat kembali ludah yang sudah ku buang !!" tegas nya membuatku menelan saliva ku berat.
Mas denis memang tidak pernah bermain-main dalam setiap keputusannya. Termasuk dengan keputusannya untuk menikahiku. Meskipun ia tak pernah memperlakukanku layaknya seorang istri pada umumnya. Namun aku tau mas denis tidak pernah bermain-main dengan pernikahan ini apalagi berkhianat di belakangku.
Mobil yang kami tumpangi telah memasuki halaman rumah mewah tempat tinggal kami berdua.
"mas gak turun?" tanyaku sambil menoleh ke arahnya yang masih berada didalam mobil dan tak segera menaruh mobil ke dalam garasi.
"aku akan kembali ke kantor" jawabnya.
Aku segera turun dan mas denis pun kembali memutar arah mobil nya lalu melesat pergi.
Ternyata dia hanya mengantarku pulang, mungkinkah mas denis mulai perhatian denganku lagi ? Hingga ia tak ingin aku pulang naik taksi seperti tadi.
.
Aku mulai kembali ke rutinitasku dimalam hari. Merebahkan tubuh adalah hal yang aku lakukan karena selama tinggal dirumah ini mas denis memang selalu melarangku melakukan hal lain selain menyiapkan semua keperluannya.
Angin malam mulai terasa dingin menyapu tubuhku. Malam ini aku sengaja membuka pintu balkon agar angin sejuk itu mampu membuat rileks hati dan fikiranku.
dibawah balutan selimut tiba-tiba aku teringat bapak yang selalu setia menemani masa kecil ku yang begitu bahagia.
"pak malam-malam begini kaya nya enak kalau makan nasi goreng"
ucapku memberi kode pada bapak saat kami tengah duduk berdua di teras rumah.
"waah kamu bener le, ayo kita buat nasi goreng"
Jawab bapak dengan sangat gembira dan selalu sigap menuruti semua keinginanku.
Ledekku.
"kamu meledek bapak yaa... kalo cuma nasi goreng mah gampang. Kamu mau nyoba masakan bapak ??" bapak tertawa sambil menggelitik pinggangku hingga aku tertawa terpingkal-pingkal.
"boleh"
Bapak segera menggendong tubuhku menuju dapur. Begitulah bapak yang selalu memanjakanku dengan caranya. Meskipun aku hidup tanpa bersanding dengan seorang ibu, tapi bapak tak pernah membuatku merasa kehilangan sosok itu.
bapak mendudukanku diatas meja dan dia mulai memasak nasi goreng permintaanku.
"bapak yakin kalau bapak bisa?? Aku gak pernah liat bapak masak ?!" tanyaku memastikan.
"tenang aja" tangan bapak terlihat mulai meracik bumbu nasi goreng spesial buatannya. Meski gerakannya tak sehilai ibu, tapi ia cukup cekatan dalam memasukan semua bumbu.
"pak ibu kemana sih? Kok gak pulang-pulang.. Memang ibu gak rindu ya dengan kita"
Tanyaku dengan polos. Aku yang saat itu masih kecil sebenarnya memang sangat merindukan sosok ibu.
"ibu sekarang kerja jauh, alesha harus selalu berdoa semoga ibu baik-baik saja dimanapun ibu berada"
Jawab bapak menenangkanku yang terkadang sedih kala mengingat ibu saat itu.
"apa ibu lupa jalan pulang ya pak?"
Bapak terdiam tak lagi bersuara untuk menjawab celotehku.
"sudah jadi..... Ayo kita makan"
ajak bapak yang sudah membawa dua piring nasi goreng kencur yang sampai kini menjadi makanan favoritku.
Mengingat kenangan yang tiba-tiba terlintas dalam benakku membuat aku semakin rindu dengan sosok ayah sekaligus ibu yang kini memilih untuk tinggal terpisah denganku.
Aku memilih untuk bangun, entah mengapa tiba-tiba perutku rasanya seperti tergelitik ingin memakan nasi goreng kencur seperti buatan bapak.
Aku segera mulai memasak nasi goreng itu sesuai racikan bumbu yang sering bapak ajarkan. Walaupun rasanya tak senikmat buatan bapak, setidaknya dengan cara ini aku dapat melepas rasa rindu untuknya.
Bagai anak ayam kehilangan induknya, saat ini aku merasa kehilangan sosok penyanyang seperti bapak. Rasa perhatiannya yang selalu membuatku rindu akan masa lalu. Seandainya aku tau skenario hidup yang harus aku perankan seperti sekarang ini, pasti akan ku hapus bagian-bagian yang tak ingin aku perankan.
Hidup jauh dari seseorang yang tak pernah membuatku terluka bukanlah suatu kenyataan yang pernah ku impikan.
Aku mulai menyuapkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutku.
"pak aku rindu" gumamku lirih seraya dengan air mata yang menetes begitu saja membasahi pipi ini.
"kamu belum tidur?" aku segera menghapus air mataku saat ku dengar suara mas denis menyapaku.
"sudah mas, tadi aku terbangun karena lapar" aku menoleh ke arah mas denis yang baru pulang kantor dan berjalan mendekatiku.
Mas denis memilih duduk di kursi kosong sebelahku.
"kamu makan apa? Memang bik tuti gak masak makan malam?"
Tanya mas denis menatapku dalam saat aku memasukan suapan demi suapan ke dalam mulutku.
"emm bik tuti masak kok mas" aku membuka lauk pauk masakan bik tuti yang memang telah tersedia diatas meja makan.
"ini nasi goreng kencur" lanjutku menegaskan isi piringku yang kini tinggal sedikit lagi.
"aroma nya menggoda banget" mas denis menyuapkan satu sendok nasi goreng kencur dari piringku ke mulutnya.
"apa masih ada?" tanya mas denis setelah ia menghabiskan kunyahan pertamanya.
.
.