
Setelah seharian menikmati panorama pantai yang mengasyikkan. Kami memutuskan untuk kembali ke hotel untuk berisitirahat.
Lusa kami akan kembali ke jakarta. Setidaknya selama seminggu disini, aku telah memiliki waktu untuk satu hari saja bersamanya yang seolah mengendurkan ikatan tali yang melingkar dileherku.
"mas sepertinya handhoneku tertinggal di mobil" aku merogoh saku celana ku dan juga mengecek tas yang tak memperlihatkan handphone didalamnya.
"kenapa kamu ceroboh sekali !"
"ya aku kan lupa ! Memangnya orang gak boleh lupa !!!" sahutku.
Baru saja kami melewati kebersamaan selama sehari, dan kini mas denis mulai berubah dan menujukkan sikap nya seperti biasa.
"yasudah sana ambil !!!"
Titahnya. Padahal saat ini kami telah berada di depan pintu kamar hotel, dan terpaksa aku harus kembali ke lantai dasar karena mobil kami jelas terparkir di halamannya.
Aku berjalan menyusuri koridor hotel yang nampak sepi. Tanpa ku sangka kini aku kembali bertemu dengan seorang wanita parubaya yang sejak pertemuan pertama itu aku mengira dia adalah ibu kandungku.
Aku terus berjalan saat berpapasan dengan wanita yang sebenarnya sedang berusaha untuk ku hindari pertemuan semacam ini.
"alesha" panggil wanita itu saat aku sudah berjalan sedikit menjauh darinya.
Aku menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namaku. ******* suara yang masih begitu familiar di gendang telinga. Jantungku seperti berhenti berdetak, karena suara merdu yang dulu selalu menyanyikan lagu pengantar tidur kembali terdengar.
tak ada lagi pengunjung lain yang berada di koridor ini selain hanya aku dan dirinya.
Wanita itu menatap lekat diriku begitupun dengan balasan tatapanku.
"ada apa?" jawabku sekuat tenaga untuk berkata seolah biasa saja padahal sebenarnya lidahku terasa kelu.
"apa benar kamu alesha putri kecilku?" wanita itu mulai berkata dengan suara basah serak seperti tercampur air mata.
"ku fikir anda sudah tak mengingatku" sahutku dengan datar.
Entahlah, memang dulu aku sangat merindukan sosok ibu. Namun setelah bertahun-tahun ia pergi dan benar-benar meninggalkanku. Aku seolah sudah tak sudi lagi memiliki ibu semacam ini.
Bagiku seorang ibu tak akan tega meninggalkan anaknya, namun realitanya aku merasakan hal yang berbeda. Dia lebih memilih hidup bersama keluarga barunya hingga melupakan tangisku yang memintanya untuk kembali sambil meronta-ronta.
Dia tak pernah tau bagaimana sakitnya aku ketika harus tertatih memulai hidup baru membiasakan diri tanpa ibu. Aku bersyukur memiliki bapak yang sampai saat ini tetap setia dan tak pernah membagi kasih sayangnya untukku dengan wanita lain.
Bahkan semenjak kejadian itu aku sangat membenci ibu, meski bapak terus mengajariku untuk tetap mencarinya dan menyayanginya.
"alesha,, bagaimana mungkin ibu melupakanmu nak" jawab ibu yang mulai meneteskan buliran air mata karena mendengar jawabanku yang mungkin menusuk relung hatinya.
Aku seolah tak lagi mempedulikan perasaannya.
Selama puluhan tahun ia meninggalkanku dalam kesedihan apakah surgaku masih berada di bawah telapak kakinya?
Bahkan aku lupa bagaimana rasanya surga yang seharusnya ku dapatkan dari belaian lembut kasih sayang seorang ibu.
Air matakupun menumpuk dipelupuk mata. Namun semua seolah tak ingin menetes dan akan ku tunjukkan bahwa berkatnya aku terdidik menjadi wanita yang tak boleh lemah dan manja. Keadaan saat itu memaksaku untuk menjadi kuat bahkan semenjak itu aku menjadi wanita yang keras kepala.
"maafkan ibu nak..." ibu menundukkan kepala nya tak mampu lagi berkata apapun padaku.
"aku sudah memaafkanmu bahkan hampir saja melupakanmu andai kita tak bertemu kembali disini seperti sekarang ini !" jelasku yang mungkin terkesan sombong dan arrogan.
Namun bukankah dapat terlihat jelas betapa besar rasa sakit hati yang ia goreskan hingga membuatku tumbuh menjadi seperti ini.
"alesha..." aku yang hendak pergi kembali tertahan karena panggilannya.
"apa bapak mu baik-baik saja?"
Entah mengapa dia masih menanyakan keadaan bapak, menunjukkan dirinya seolah menjadi wanita paling peduli. Sedangkan sudah jelas dia yang telah meninggalkan bapak dan memilih laki-laki lain untuk mendampinginya.
".kenapa ibu masih menanyakannya ?? Bukankah dulu ibu tega meninggalkannya ! Yang jelas bapak baik-baik saja. dan jangan pernah kembali untuk mengusik hidupnya karena bapak sudah bahagia " jawabku ketus.
"ale, apa sebenci itu kamu terhadap ibu?" tanya nya seolah tak menyadari betapa besar kesalahan yang ia perbuat hingga membuatku menjadi semurka ini.
"seandainya aku tau bahwa ibu memiliki alasan lain untuk pergi meninggalkan kami. Mungkin aku tak akan sebenci itu denganmu !!"
Aku berharap ibu meninggalkanku karena alasan bekerja bukan karena alasan lelaki lain yang hidupnya lebih mapan.
"ale, ibu sangat menyesal telah meninggalkanmu... Maaf kan ibu" rengeknya seraya deraian air mata yang mengalir deras di wajahnya.
Aku semakin berfikir keras apakah hidupnya saat ini tak bahagia hingga ia mengatakan bahwa ia menyesal telah meninggalkan ku?
"ku fikir seorang ibu tak akan tega meninggalkan anaknya. Tapi ternyata aku salah !! Ibuku jauh lebih tega untuk meninggalkanku dalam kesendirian. Dan apakah ibu lupa jika penyesalan memang selalu datang di akhir cerita ?? Dan saat ini aku harap ibu dapat melupakan cerita masalalu kita yang sejak saat itu sudah ku anggap usai. Karena kini aku sudah terbiasa hidup tanpamu dan mungkin sudah tak membutuhkan lagi sosok ibu sepertimu !!" tegasku seolah memberi kejelasan akan perasaanku.
Aku berlari menuju halaman hotel dan segera masuk kedalam mobil. Ku sembunyikan tangisku yang pecah setelah ku lontarkan kata-kata kebencian pada wanita yang telah melahirkanku. Meski aku sedang mencoba untuk sekuat baja saat berhadapan dengannya tadi. Tapi air mata tak dapat berbohong jika sebenarnya aku tak sanggup mengatakan semua ini.
Seandainya dia tau bagaimana sakitnya aku setelah dia pergi. Dan secepat mungkin ia kembali sebelum aku tumbuh sedewasa ini. Mungkin aku akan menjadi orang yang paling bisa membahagiakan dia selama hidupnya selain bapak.
"aaaaaakkkkhhhhh" teriakku didalam mobil melepas semua kebencian yang tertahan dan luapan amarah yang selama ini tak bisa ku ungkapkan.
andai aku besar seperti wanita lain yang manja dan penuh kelembutan. Mungkin saat pertemuan seperti ini aku akan memeluknya erat dan menumpahkan air mata di pundaknya. Akan aku ceritakan bagaimana kehidupanku selama dia pergi dengan sebaik mungkin.
Namun realitanya aku tak bisa melakukan itu semua. Tamparan keras kenyataan demi kenyataan membuatku menjadi wanita kuat yang tak ingin terlihat lemah. Sekalipun selama itu aku harus meringis kesakitan.
Begitupun setelah aku menikah, hidupku selalu seperti terkena hantaman batu besar yang sering kali membuatku hampir frustasi. Namun tak ada sedikitpun air mata yang tertumpah sekalipun sikap dan perilaku mas denis sangat menyakitkan hati.
Selain saat nama 'yolanda' ia sebut dipenghujung kenikmatannya malam itu. Aku tak pernah menangisi nya ataupun sekedar meneteskan sebulir air mata.
.
.