
duh ada apa ya? kenapa tuan memanggil saya dengan bel panggilan darurat
Gumam bik tuti yang kemudian menaruh serbet makan yang sedang ia pegang untuk mengelap dan memastikan dapur bersih sebelum ia tinggal tidur.
Bik tuti segera pergi menuju kamar kedua majikannya dengan tergesa-gesa bercampur perasaan was-was yang berkabut menyelimuti hatinya.
Bik tuti memang assisten yang selalu siaga dan selalu dapat diandalkan meski usianya yang semakin renta. Terlebih karena ia paham betul bagaimana karakter tuan majikannya yang tak akan pernah bisa menerima bantahan dalam hal sekecil apapun dari siapapun termasuk darinya.
Derap langkah kaki bi tuti di percepat kala ia menaiki anak tangga. Fikirannya melalang buana entah ada darurat apa yang terjadi diatas sana. Bahkan bi tuti berjalan setengah berlari tak seperti biasanya seolah lupa dengan usianya yang tak lagi muda yang akan lebih rentan dengan resiko jika ia bisa terjatuh dari anak tangga.
#dikamar
"aawwwkh"
Pekikku saat ku merajuk dan menarik paksa menurunkan kaki ku dari pangkuan kaki mas denis.
Entah mendapat keberanian dari mana hingga aku dapat menolak perlakuan baiknya seperti ini.
"jangan mencoba menjadi pembangkang! biarkan tetap seperti ini "
Mas denis kembali menarik kakiku dan mengembalikannya seperti posisi semula yaitu ia taruh di atas pangkuannya.
"aaaww pelan-pelan dong mas!"
pekikku saat mas denis menarik paksa kaki ku yang sedang terkilir dan terasa nyeri.
"ternyata kamu manja juga ya. Ku fikir kamu wanita baja"
Ledek mas denis dengan bibir yang menyunggingkan senyum jahat di kedua sudutnya. Tangan mas denis mulai memberi pijatan di pergelangan kakiku meskipun tanpa ada rasa lembut-lembutnya sama sekali disetiap sentuhan tangannya itu.
Please deh mas! gak usah sok baik sama aku. Kamu fikir aku akan berterimakasih sambil menciumi tanganmu karena kamu telah memijatku seperti ini. Bahkan pijatanmu tak terasa enak sama sekali. Gumamku.
Aku memalingkan wajah saat tangan penuh drama itu mencoba bersandiwara memperhatikan kakiku yang cidera.
Dan satu lagi, kenapa aku bilang pijitan mas denis tidak lembut bukan berarti karena tangan mas denis kapalan ya. Melainkan entah mengapa aku merasa seperti tidak ada ketulusan yang ia campurkan disetiap gerakan tangannya itu.
"pelan-pelan mas, yang lembut sedikit dong! aaahhh"
aku meringis kesakitan.
"iya ini juga udah pelan-pelan alesha! harus selembut apalagi coba? kamu tahan dikit "
bener-bener gak ada sisi kelembutan yang tersimpan dalam dirimu denis! umpat alesha dalam hati.
"kasih pelumas mas biar agak licin, jadi dapat lebih mudah gerakannya"
ini kaki apa motor ya kenapa aku minta untuk di beri pelumas hihi
Alesha cekikikan sendiri didalam hati.
Namun sepertinya mas denis terlihat mencerna ucapanku dan segera mencari pelumas yang aku minta agar pijakan tangan yang hendak memijit kakiku bisa sedikit licin.
"oh okee ada minyak zaitun" gumam denis
Mas denis segera bangkit untuk mengambil minyak zaitun milikku yang berada diatas meja rias.
"aaaawww sakit mas "
pekik ku semakin kencang saat kakiku terhempas begitu saja ketika mas denis beranjak dari duduknya untuk mengambil minyak zaitun yang akan ia jadikan minyak urut.
Dibalik pintu kamar, bik tuti mendengar beberapa kali teriakan dari dalam.
Entah darurat apa yang terjadi hingga membuat bik tuti penasaran.
Bik tuti sengaja menempelkan telinganya pada pintu kamar kedua majikannya, untuk memastikan kecurigaan yang sejak tadi menghantui fikirannya.
Bik tuti membekap mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangan saat suara rintihan yang bik tuti kira mirip seperti ******* yang keluar dari mulut alesha itu adalah bukti nyata bahwa mereka berdua sedang bercinta.
"astagaa, tuh kan benar mereka lagi enak enak. Lalu mengapa tuan menekan bel darurat, apakah tuan sengaja ingin memamerkan kemesraan mereka denganku? yaAmpun tuan denis memang ada-ada saja"
gumam bik tuti sedikit berani untuk mengumpat majikannya sendiri.
Bik tuti mengurungkan niatnya yang semula ingin mengetuk pintu. ia mondar mandir di depan pintu kamar entah harus bagaimana
apa aku gak akan menggangu tuan kalau aku ketuk pintu sekarang?
Bik tuti kesana kemari layaknya setrika rusak. Hatinya merasa dilema bagaikan buah simalakama karena ulah majikannya. Berkali-kali tangannya terayun hendak mengetuk pintu namun segera ia tarik kembali.
astaga kenapa jadi begini??
gumam bik tuti panik dan di hantui rasa bingung yang menjalar di hati dan otaknya.
.
.
"astaga kemana sih bik tuti kenapa lama sekali? "
umpat denis karena sudah menunggu kedatangan bik tuti cukup lama.
"mungkin bik tuti sudah tidur mas" jawab alesha.
"mana mungkin bik tuti tidur jam segini"
"ya kan bisa saja mas, memang mas selalu mengawasi jam berapa bik tuti tidur"
Terlihat mas denis menghela nafas panjang.
"kamu tunggu disini sebentar!"
untuk kedua kalinya mas denis menghempaskan kembali kakiku yang berada di atas pangkuannya disaat dia hendak bangkit dari tempat duduknya.
"awwwwhhh... astaga mas, kamu gak bisa tak sedikit saja melakukan sesuatu itu dengan hati-hati dan penuh kelembutan! " umpat alesha yang sudah tak bisa menahan kekesalannya untuk yang kedua kali.
"sudahlah, jangan manja"
Mas denis berlalu meninggalkanku berjalan menuju pintu.
ceklek
"astaga bik, kenapa malah mondar mandir disini kaya setrika rusak! "
Deretan kalimat suara bariton itu seketika membuat bik tuti yang semula sedang bingung berjalan kesana kemari menjadi tersentak dan terkejut karena kedatangan majikannya yang tiba-tiba keluar dari dalam kamar
"ma.. maaf tuan" jawab bik tuti tergagap.
"saya fikir tuan dan nyonya sedang..."
bik tuti menahan ucapannya.
"sedang apa?!!" bentak denis dengan suara yang meninggi. Denis benar-benar marah karena orang yang sejak tadi ia tunggu ternyata malah tertahan diluar kamar nya.
"sedang enak-enak, eh.. " sahut bik tuti cepat karena keceplosan. Tersadar akan ucapannya yang semakin ngawur bik tuti pun menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Denis memijat pelipis matanya. Entah ada angin dari mana hingga assistennya bisa mengira bahwa mereka sedang melakukan enak-enak didalam sana.
"maaf tuan" bik tuti menundukkan kepalanya karena melihat gelagat yang tidak mengenakkan dari air muka majikannya itu.
Lagi-lagi denis harus menarik nafas panjang agar bisa meredam amarahnya.
"cepat panggilkan tukang pijat sekarang"
Titah denis dengan nada datar.
"baik tuan, apakah tuan akan di pijat? "
"bukan saya! tapi alesha. Oiya, tolong pilihkan tukang pijat wanita "
"baik tuan"
Tanpa banyak bicara bik tuti segera turun menuju lantai dasar dan segera menghubungi tukang pijat khusus andalan keluarga mahendra.