
"alesha, menurutmu kita enaknya makan dimana? "
tawar danang seraya menoleh ke arahku.
"saya ikut bapak saja" jawabku diiringi senyuman seraya membalas menatap ke arahnya.
"baiklah" danang kembali menatap datar jalanan yang tidak terlalu macet.
Disepanjang perjalanan tak ada obrolan yang memperlihatkan bahwa hubungan kami begitu akrab lebih dari sebatas partner kerja.
Hanya ada obrolan tentang pekerjaan dan sedikit tawa yang kami selipkan disela-sela obrolan kami berdua.
Tibalah kami di salah satu restoran ternama di ibu kota. Seperti yang tadi danang lakukan, ia kembali membukakan pintu mobil untukku sesaat setelah ia turun lebih dulu.
"terimakasih pak"
"heem" danang menutup pintu mobil itu kemudian berjalan masuk kedalam restoran.
"alesha, ayo masuk" langkah danang terhenti tatkala melihat aku memilih berjalan di belakang nya.
"iya pak, saya juga mengikuti langkah bapak kok" sahutku.
"kenapa kamu mengikuti langkahku, ayo sini jalan beriringan denganku. Kamu fikir kita kereta jalannya harus depan belakang"
Danang menarik tanganku agar aku berdiri dan berjalan mensejajarinya.
Aku segera menarik tanganku yang berada dalam genggamannya, karena aku takut mas denis memasang mata-mata dimanapun aku berada.
"apa mas denis akan seperhatian itu padaku? kenapa aku pede sekali" gumamku memaki naluri yang begitu takut karena statusku yang masih bersuami.
Danang pun melepas genggamannya setelah melihat responku tak begitu senang akan tindakannya. Kami pun berjalan masuk kedalam restoran memilih tempat yang nyaman untuk berbincang.
Danang lebih dulu memilih makanan yang akan ia pesan setelah seorang pelayan memberikan daftar menu pada kami. Setelah itu, aku pun ikut memesan beberapa makanan dan minuman.
Selang beberapa menit, pramusajipun mulai membawakan pesanan kami dan aku mulai melahapkan karena sudah ku tekankan sejak tadi perutku memang sudah terasa sangat lapar .
"Alesha"
Aku mendongakan kepalaku memandang wajah danang yang duduk berhadapan denganku.
"ya pak" jawabku.
"kalau diluar jam kantor, jangan panggil pak dong. Panggil danang aja"
"hem baik pak, eh .. baik danang"
Sekilas kulihat danang tersenyum, sedangkan aku memilih untuk melanjutkan kegiatan makanku daripada meladeni percakapan penuh basa basi itu.
"alesha, apa kamu sudah bersuami? "
Pertanyaan danang membuat aktifitas makanku terhenti karena harus berfikir keras jawaban seperti apa yang akan aku berikan.
"kalo aku jawab sudah, terus nanti danang tanya siapa nama suamiku ? suami kamu bekerja dimana? waduh bisa mati aku"
batinku bermonolog sendiri.
Mati yang aku maksud disini bukan karena danang yang akan melakukan hal kriminal padaku. Melainkan mas denis yang bisa saja akan mengutuk ku lebih dari sekedar menjadi batu andai aku tak menuruti perintahnya.
"alesha... " panggilan danang mengejutkan lamunanku dan kembali menatapnya.
"iya danang? "
"kamu kenapa malah bengong? Aku tanya apa kamu sudah bersuami? "
Danang ternyata tak jengah dan kembali mempertanyakan pertanyaan horor yang membuatku terpaksa harus menelan salivaku berat.
Aku menggeleng dengan dua sudut bibir yang ku tarik paksa agar danang tak curiga.
Danang menghela nafas lega.
"syukurlah" ucap danang lirih namun masih terdengar jelas di telingaku yang masih begitu normal.
"syukur atas apa? " tanyaku membuat danang berdalih menjadi salah tingkah.
"ehmm itu, syukur karena sudah pasti aku aman tak akan ada yang marah karena mengajakmu makan siang seperti ini"
Danang tertawa kecil namun dari raut wajahnya tak dapat ia pungkiri bahwa ia merasa kebingungan akan jawabannya sendiri.
Aku menghela nafas panjang dan kembali melanjutkan makanku yang tertunda karena pertanyaan horor semacam itu.
uhuuk
uhuukk
uhukk
"minum sha" Danang menyodorkan gelas berisi minuman pesananku agar lebih mendekat. Segera ku raih gelas itu lalu menghabiskan minumannya sampai tandas.
"kamu pelan-pelan dong sha kalau makan. Sampe keselek gitu" Danang kembali terkekeh.
"maaf pak, mari makan"
tawarku lalu kembali menatap makanan yang masih sedikit lagi hampir ku habiskan andai pertanyaan danang tadi tak membuatku tersedak.
"pertanyaamu itu loh nang yang udah bikin aku keselek bukan karena aku makannya gak pelan-pelan. kenapa pertanyaan kamu dari tadi udah lebih-lebih dari keadaan kantong kalo lagi tanggal tua. Horor dan miris sekali" batinku.
"kok pak lagi, kan sudah ku bilang kalau di luar jam kantor panggil danang saja"
"baik danang"
sahutku semakin ingin kembali ke kantor dan menyelesaikan makan siang ini. Karena firasatku mengatakan bahwa danang sengaja mengajakku makan diluar bukan hanya karena ia ingin menepati janjinya, melainkan karena ia akan menginterogasiku seperti penjahat yang baru saja tertangkap basah.
"maaf ya sha kalau tadi bertanya tentang denis" ucap danang.
uhuukk
uhuukk
"astaga,, kok keselek lagi sih sha ini minum lagi"
Danang menyodorkan gelas minumannya ke arahku dan aku minum setengahnya saja.
"astaga bisa kenyang karena minum kalo begini ceritanya" batinku semakin murka.
"iya gak apa-apa nang" jawabku.
"gak seharusnya aku bertanya tentang denis padamu, karena kamu kan pegawai baru di kantor"
Aku tersenyum menanggapi perkataannya. Sebenarnya danang memang sengaja menanyakan hal itu untuk memastikan apakah aku telah bergabung ke dalam grup khusus penggemar denis di kantor mereka. Karena di kantor itu,ku dengar-dengar memang sudah ada grup chat khusus pegawai wanita penggemar CEO muda yang tampan dan kaya raya pemilik perusahaan dimana tempat mereka bekerja yaitu denis mahendra.
"iya nang, lagian bukankah aku belum pernah bertemu lelaki yang tadi kamu sebutkan namanya" jawabku sengaja enggan menyebut nama lelaki kanebo kering yang sudah memintaku untuk tidak menyebut namanya.
"denis" jelas danang.
"iya denis"
"maaf mas, mau tak mau terpaksa harus ku sebut juga nama mu yaitu denisss! " batinku.
"denis itu CEO perusahaan sha, biasanya dia akan melakukan kunjungan pemeriksaan satu bulan sekali. Tapi terkadang ia hanya meminja assistennya saja yang datang"
"heem" sahutku yang malas sekali menanggapi perkataan danang.
"yasudah sha, segerakan makannya kita kembali ke kantor "
"punya ku sudah habis loh, bukannya punyamu tuh yang masih banyak? " Aku melirik ke arah piringnya yang masih menumpuk makan.
"hee aku sudah kenyang sha"
"kenyang dengan semua pertanyaan konyol dan horormu itu. Pertanyaan-pertanyaan yang sejak tadi mencekik leherku untuk menjawabnya" umpatku dalam hati yang penuh dusta karena saat ini yang sedang ku perlihatkan hanya sebuah senyuman saja seolah aku tak keberatan dengan semua pertanyaannya.
Danang membayar nota bill pembayaran ke kasir.
"syukurlah sekarang hidupku serba mewah. Andai saja aku masih seperti dulu. Mungkin sudah ku minta bungkus saja semua sisa makanan ini"
Aku terkekeh mengingat betapa memprihatinkannya hidupku saat itu.
"Alesha, kamu mau nambah? "
Aku seketika menoleh ke sumber suara dibelakangku. Pertanyaan itu terlontar karena danang melihatku sedang mengaduk-ngaduk sisa makanan di piringnya.
"astaga.. sejak kapan danang di sini"
"enggak nang, aku udah kenyang. Ayo kembali ke kantor" ajakku lalu bangkit meninggalkan tempat duduk itu.
.
.