I'm Just A Doll

I'm Just A Doll
part 14



Aku kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Baru saja selesai mandi, ku dengar dering handphone ku berbunyi.


"nomor siapa ini ??" gumamku lirih saat terdapat panggilan masuk dari nomor baru yang tak tersimpan di kontak handphone ku.


"hallo.. Ini siapa?" tanya ku setelah menggeser tombol hijau yang tertera dilayar handphone itu.


"apa kamu tak menyimpan nomor handphone ku !!!" pekikan suara barito itu terdengar memekik di gendang telinga, hingga terpaksa harus ku jauh kan handphone itu dari indera pendengaran ku.


"bukankah ini pertama kalinya dia menghubungiku !" gerutuku didalam hati.


"owh, ada apa mas ?" tanyaku berusaha meredam emosi yang sebenarnya ingin sekali aku memaki lelaki dibalik panggilan ini.


" antarkan berkas di dalam map berwarna cokelat yang berada di atas meja kerjaku !" titahnya.


"baiklah" sahutku lalu mematikan panggilan itu begitu saja. Mungkin mas denis akan merasa kesal. Namun bukankah itu hal yang biasa ia lakukan saat menelpon seseorang.


" map yang mana? Di atas meja ini ada tiga map berwarna cokelat" gumamku lirih sambil memilah map yang mana yang harus ku bawa.


Aku kembali menghubungi mas denis untuk memastikan apakah semuanya harus ku bawa atau salah satu dari ketiga nya saja.


"ada apa?" mas denis terlihat kesal setelah tadi panggilannya ku matikan sepihak.


"terima panggilan video nya. Ini map nya yang mana yang harus aku antar?"


Mas denis menerima panggilan video dariku. Kulihat rautnya seketika berubah saat ia melihatku. Jakunnya naik turun seolah menelan saliva nya berkali-kali. Bahkan aku tak menyadari jika saat ini aku masih memakai kimono mandi yang memperlihatkan belahan dada ku yang hampir menyembul keluar dari pembungkusnya.


"yang mana?" tanyaku mengubah kamera depan menjadi kamera belakang agar mas denis dapat melihat map yang mana yang harus ku bawa.


"yang itu, yang ada tulisannya 'indah perkasa group' " titahnya.


"baiklah"


"segera, jangan pakai lama !" titahnya seolah tak melihat bahwa aku belum melakukan persiapan apa-apa.


"iya"


Aku segera bergegas mempersiapkan diri sebelum tanduk mas denis semakin panjang saat aku tiba di kantornya.


Aku memesan taksi online dan segera meluncur ke kantor mas denis sekarang juga. Untunglah, mas denis sudah siaga membagikan lokasi dimana kantornya berada.


"terimakasih pak"


Aku setengah berlari agar tak terlambat mengantarkan map penting itu untuk suamiku.


"eehh mbak mau apa?" tanya seorang satpam saat aku menerobos masuk tanpa meminta izin dulu dengannya.


Ku fikir istri seorang presdir di perusahaan ini tak perlu meminta izin lagi jika harus mendatangi suaminya sendiri.


"saya mau mengantar map ini untuk mas denis" jawabku menunjukkan map yang berada di satu tanganku.


"apa mbak sebelum nya sudah membuat janji?" pertanyaan satpam ini benar-benar menghambat perjalananku.


"huuhhh kenapa dikantor ini ribet sekali !" umpatku kesal.


Aku mencoba menghubungi mas denis namun tak kunjung ia terima panggilan itu.


"kemana sih mas denis !!" umpatku semakin kesal.


Aku mencoba menghubunginya berkali-kali namun tak kunjung mendapatkan jawaban.


"massss .... !!!" pekikku memanggil lelaki yang sedang berjalan dengan dikawal oleh beberapa orang di sekelilingnya.


aku melambaikan map yang ku pegang ke arah nya. Mas denis pun berjalan mendekatiku yang seperti sedang di intorgasi oleh satpam ini.


"untung kamu datang tepat waktu !! Lagian kenapa kamu malah diam disini !" mas denis meraih map yang berada ditanganku.


"aku di tahan oleh satpam ini !" aku melotot ke arah satpam yang berdiri didekatku.


"dia istri saya. Tak seharusnya kamu perlakukan dia seperti itu !! Ambil gajihmu bulan ini dan silahkan pergi !!"


Mas denis berkata dengan datar tanpa menatap satpam yang kini sudah memasang wajah memelas itu.


"mas...." aku menahan lengan mas denis tak menyangka jika saat dia memecat satpam ini sekarang juga. Karena kesalahannya yang tak ia sengaja, mas denis sampai sekejam itu memberi keputusan untuk memecatnya.


"biarlah ! seharusnya dia belajar untuk mengenali siapa saja orang yang berada dihidupku. Hingga kejadian seperti ini tak terulang kembali !!" mas denis menarik lenganku meninggalkan satpam itu.


"jar, antar dia keruanganku " mas denis melepaskan tangannya saat menyuruh seseorang untuk mengantarku ke ruang kerjanya.


"baik tuan"


aku terheran saat semua orang yang berada disini seolah selalu menuruti apa saja yang di perintahkan mas denis.


"kamu tunggu aku diruang kerja, aku ada meeting" ucapnya yang berlalu meninggalkan ku bersama seorang lelaki yang seusianya.


"ayo nona saya antar anda keruangan tuan denis" dengan ramah lelaki itu mengajakku pergi dari sana.


"apakah anda mas fajar?" tanyaku saat berjalan bersama nya.


"benar nona. Saya fajar assisten pribadi tuan denis" jawabnya dengan sopan. Terlihat dengan jelas bahwa fajar sangat menghargai saya sebagai istri bos besarnya.


"apakah kamu sudah lama bekerja dengan mas denis?"


"sudah nona. Saya sudah bekerja sekitar sepuluh tahun"


kami mulai memasuki lift, ku lihat fajar menekan tombol angka di lantai dua puluh dua.


"hmm... Berarti anda tau tentang siapa wanita masalalu mas denis yang pernah singgah dihidupnya?"


tanyaku yang entah mendapat angin dari mana kini aku ingin mencari tau tentang hal itu.


Mas fajar hanya tersenyum "kita sudah sampai nona. Mari.."


Mas fajar membuka pintu ruangan besar dan mewah itu.


"anda sebaiknya menunggu disini. Saya akan kembali mengikuti meeting bersama tuan denis"


Mas fajar lalu pergi setelah ia menutup pintu ruangan itu secara perlahan.


Aku menarik nafas dalam, tak tau harus berbuat apa diruangan sebesar ini.


Aku memilih duduk di sofa yang berada diruangan kerja ini. Hanya memainkan benda pipih yang sejak tadi ku simpan dalam tas ku sebagai penghilang jenuh karena menunggu.


Aku berjalan mendekat ke arah bingkai foto yang banyak berjejer di dekat meja kerja nya.


kini aku merasa tertarik untuk memperhatikan foto itu satu persatu setelah merasa bosan memainkan benda pipih itu.


"tampan ..." gumam ku melihat sebuah foto mas denis saat muda dulu. Sepertinya saat itu ia masih berusia belasan tahun.


aku memperhatikan lebih teliti satu persatu foto yang terpajang disana.


sesekali aku terkekeh kala melihat foto kecil mas denis yang memang sudah memiliki paras tampan sejak dulu.


"ini siapa?" aku memegang sebuah foto wanita muda cantik sedang tertawa lepas ketika tubuhnya tersapu penghujung ombak disebuah pantai yang begitu indah.


Baru saja aku hendak melihat petunjuk lain yang mungkin tertulis di belakang bingkai foto itu. Pintu ruang kerja ini tiba-tiba terbuka.


"kamu sedang apa?"


suara mas denis membuatku terkejut dan langsung menaruh foto itu kembali ke tempatnya.


.


.